Langsung ke konten utama

𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐋𝐚𝐲𝐚𝐫 𝐊𝐞𝐜𝐢𝐥 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐣𝐮 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐡 𝐁𝐞𝐬𝐚𝐫

Dr. Rasid, S.Sos.I., M.Ud.
Dosen UIN Jakarta

Bersama: LaR

Bincang Pagi Alumni, Menjemput Produktivitas dan Masa Depan

Jam menunjukkan pukul 08.00 pagi. Matahari belum sepenuhnya meninggalkan sisa-sisa embun, dan pagi masih menyimpan keheningan yang jujur. Di antara kesibukan yang perlahan bangkit, sebuah panggilan WhatsApp Video Call masuk ke layar ponsel saya. Di sana tampak wajah Pak Doktor Rasid, dari Jakarta—jauh secara jarak, namun terasa dekat secara batin dan gagasan.

Obrolan kami singkat, tapi padat. Ringkas, namun bernas. Seperti secangkir kopi hitam tanpa gula—pahit, tapi menyadarkan.

Dengan nada tenang namun penuh tekanan makna, beliau membuka percakapan:

“Kita ini alumni, jangan hanya jadi penonton. Jangan berhenti di konsumsi. Kita harus produktif, dan lebih dari itu—inovatif.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghantam kesadaran. Produktif, bukan konsumtif. Mencipta, bukan hanya menikmati. Bergerak, bukan sekadar mengeluh. Bahkan peluang kecil, katanya, jika dikelola dengan niat baik dan konsistensi, akan melahirkan manfaat yang luas.

Ia lalu mengingatkan kami pada pesan almarhum KH. Muhammad Syahruddin Saleh, pendiri yang jejak langkahnya masih terasa di setiap sudut ingatan santri:

“Do what you can do. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan.”

Kalimat sederhana, namun mengandung filsafat hidup yang dalam. Tidak menunggu sempurna, tidak menunggu besar. Mulai dari apa yang ada, dari kemampuan yang kita punya hari ini.

Lalu disambung dengan kalimat yang lebih tegas, seperti cambuk kesadaran:

“Jangan takut gagal. Karena yang takut gagal hanyalah pengecut.”

Saya terdiam sejenak. Ada keheningan yang bukan kosong, melainkan penuh gema. Pesan itu seperti membuka kembali lembar-lembar lama perjuangan kami di pondok—saat jatuh bangun, ditegur ustadz, diuji disiplin, dan dipaksa berdiri di atas kaki sendiri.

Pak Doktor Rasid melanjutkan dengan menekankan pentingnya jejaring alumni. Alumni bukan sekadar label masa lalu, tetapi kekuatan masa depan. Jaringan yang dirawat dengan silaturahmi, diperkuat dengan karya, dan dibesarkan dengan kepercayaan.

“Alumni harus saling menguatkan. Kita bisa bersaing dengan siapa pun, asal kita terus belajar dan tidak kehilangan ruh pondok.”

Ia lalu menyampaikan fakta yang membuat dada terasa hangat oleh rasa bangga:
Hari ini, alumni Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid telah memiliki empat orang doktor:

  • Dr. Falah Sabirin, MA.Hum.

  • Dr. Rasid, S.Sos.I., M.Ud.

  • Dr. Rahmat Haniru, Lc., M.Pd.

  • Dr. Safaruddin Yahya, M.Pd.

Bukan untuk bermegah, tapi sebagai penanda bahwa pesantren bukan ruang sempit, melainkan pintu luas menuju peradaban ilmu.

“Saya ini,” katanya sambil tersenyum, “lulusan kelas eksperimen di pondok.”

Kalimat itu terdengar sederhana, namun sarat makna. Kelas eksperimen—tempat nilai-nilai diuji, metode dicoba, mental ditempa. Dan nyatanya, nilai-nilai itu kini tumbuh dan berbuah di dunia nyata, bahkan di kerasnya kehidupan Jakarta.

Ia berkisah bagaimana budaya diskusi, kebiasaan berpikir kritis, dan keberanian mengemukakan gagasan yang ditanamkan di pondok, menjadi bekal berharga dalam dunia akademik dan profesional. Giat berdiskusi. Giat mengembangkan diri. Tidak merasa rendah, tidak pula merasa paling tinggi.

Tak terasa, setengah jam berlalu. Waktu bergerak tanpa permisi, karena obrolan yang jujur memang selalu terasa singkat. Di tengah percakapan, kabar datang: Ustad Falah telah tiba, dan Ustad Iwan mengingatkan kami untuk segera bersiap.

Hari ini bukan hari biasa.

Kami akan menjemput Dr. Saifuddin Asrori, M.Si., di Bandara Betoambari, yang baru tiba dari Jakarta. Sosok istimewa. Guru pengabdian Gontor pertama di Pondok Modern Al-Syaikh Abdul Wahid tahun 1996. Kedatangannya bukan sekadar kunjungan, melainkan bagian dari ikhtiar panjang penguatan tradisi ilmiah.

Rencananya, beliau akan mengisi:

WORKSHOP PENDAMPINGAN JURNAL BERBASIS OJS
“Optimalkan Kemampuan Menulis di Jurnal Ilmiah”

Sebuah tema yang terasa sangat relevan. Menulis bukan hanya soal publikasi, tetapi tentang meninggalkan jejak pemikiran. Tentang bagaimana ilmu tidak berhenti di kepala, tapi mengalir menjadi manfaat bagi banyak orang.

Jam menunjukkan 09.30. Setelah konfirmasi singkat, kabar datang: beliau telah tiba dan sedang menunggu di depan ruang tunggu bandara.

Saya menutup panggilan dengan Pak Doktor Rasid. Namun sesungguhnya, obrolan itu tidak benar-benar selesai. Ia terus berjalan—di pikiran, di hati, dan di langkah-langkah kami selanjutnya.

Pagi itu saya belajar satu hal penting:
Bahwa bincang-bincang sederhana, jika dilandasi niat baik dan nilai perjuangan, mampu menjelma menjadi kompas kehidupan. Dari layar kecil ponsel, lahir gagasan besar tentang produktivitas, keberanian, dan pengabdian.

Dan saya semakin yakin, alumni pesantren bukanlah bayang-bayang masa lalu. Kami adalah mata air yang terus mengalir, selama nilai-nilai pondok tetap kami jaga:
ikhlas dalam niat, kuat dalam ilmu, dan berani melangkah untuk memberi manfaat.

Di sanalah saya memahami, bahwa perjalanan ini belum usai. Ia baru saja dimulai—dari sebuah panggilan pagi, menuju langkah-langkah nyata yang lebih bermakna. -Cerita Berlanjut

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐦𝐚 𝐈𝐧𝐝𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭𝐢

Oleh : LAR (Sang Pengelana Pendidikan)   Pagi itu, Minggu, 29 Juni 2025, jam menunjukkan pukul 06.30 ketika udara Liabuku masih segar, seperti baru dicuci oleh hujan rintik-rintik yang reda beberapa saat sebelumnya. Kabut tipis menyelimut bukit-bukit kecil di kejauhan, seakan menyambut hangat pagi yang penuh harapan. Di sebuah sudut pondok yang sederhana namun bermakna—Wisma Indrajati, Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku—terjadi pertemuan kecil, namun sarat makna. Kami duduk berhadapan dalam suasana santai, tak ada podium, tak ada protokol. Hanya segelas kopi hangat, semangkuk geroncong, dan tuli-tuli, yang panasnya masih mengepul, beberapa bungkus nasi kuning, dan tawa-tawa ringan yang kadang pecah menembus diam. Saya, Ustad Riyan Ahmad, dan Ustad Roni, dan  menjadi pendengar setia dalam perbincangan yang membuka tabir masa depan, dan menyusul  Ustad Falah Sabirin yang keberadaannya tidak sampai selesai, karena harus segera menghadiri rapat di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid...

𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐓𝐢𝐦𝐮𝐫: 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐛𝐮𝐬 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐀𝐥-𝐀𝐳𝐡𝐚𝐫

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Alumni Permata Angk. 3 Ponpes Saw) Di antara deru ombak Buton dan sunyi malam Baubau yang mendalam, kabar bahagia menyelinap ke relung hati para pencinta ilmu: lima bintang kecil dari timur, santri-santriwati Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, kini bersiap terbang jauh ke negeri para ulama — Mesir, tanah Al-Azhar yang agung. Alhamdulillah , kelima anak negeri ini — Almawaddah dari Baubau, Fegita dari Siomou, Azhar dari Talaga Buton Tengah, Ld. Fahriansyah dari Lasalimu, dan Ilham dari Lombe Buton Tengah — telah membuktikan bahwa mimpi yang disulam dengan doa dan kerja keras mampu mengalahkan ketatnya seleksi nasional. Mereka lolos sebagai penerima beasiswa Kementerian Agama RI tahun 2025 dan diterima di Universitas Al-Azhar Kairo, institusi pendidikan Islam tertua dan termasyhur di dunia. Bukan jalan lapang yang mereka lalui. Sebaliknya, medan itu terjal dan berliku. Seleksi yang diikuti lebih dari 2.800 peserta dari seluruh Indonesia dilaksanakan de...

𝐏𝐎𝐑𝐒𝐀: 𝐒𝐞𝐩𝐚𝐤 𝐁𝐨𝐥𝐚, 𝐃𝐚𝐤𝐰𝐚𝐡, 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐝𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐁𝐮𝐭𝐨𝐧

Foto: Tim Sepakbola Porsa Berlaga Di Lakudo Buton Tengah (Sumber Koleksi Ustadz Junaidin (Abangk)) Oleh: La Rudi (Dosen STKIP Pelnus Buton ) Ada masa ketika dakwah tak selalu hadir lewat podium dan mimbar. Ada masa ketika pesan suci tak hanya bergema lewat kitab dan khutbah. Pada penghujung milenium lalu, di pelosok tanah Buton, suara dakwah justru menggema di tengah lapangan sepak bola berdebu, ketika peluit dibunyikan dan sorak penonton mengalun dalam antusias yang menggetarkan. Di sanalah Porsa —Persatuan Sepakbola Al-Syaikh Abdul Wahid—berdiri bukan sekadar sebagai klub olahraga, tetapi sebagai wajah muda dari sebuah pondok pesantren yang ingin dikenal, diterima, dan dicintai oleh masyarakat. Tahun 1999, adalah era ketika banyak orang belum mengenal betul nama Al-Syaikh Abdul Wahid. Pondok masih muda, fasilitas sederhana, dan lembaga ini berjalan dalam keterbatasan. Namun di balik kesederhanaan itu, ada semangat membara yang tumbuh dalam dada para santri dan para ustaznya: semang...