Langsung ke konten utama

Postingan

𝐌𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐝𝐡𝐞-𝐆𝐨𝐝𝐡𝐞: 𝐁𝐞𝐫𝐟𝐚𝐧𝐭𝐚𝐬𝐢

Oleh: LaR Malam ini, jam 12.30  saya memilih tidur di godhe-godhe , di samping sekretariat IKPS. Sebuah tempat sederhana di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid, yang mungkin bagi orang lain hanya cukup untuk duduk, berbincang, atau melepas lelah. Tetapi bagi saya, malam ini godhe-godhe terasa seperti sebuah ruang kecil yang menyimpan pintu besar menuju masa lalu. Udara malam cukup dingin. Saya mengenakan baju kos, kemudian jaket, dan kaos kaki untuk menahan dingin yang perlahan merayap dari tanah. Tidak ada kasur yang empuk. Saya hanya beralaskan tempat sederhana, dengan sebuah bantal di kepala yang ditawarkan oleh Ustad Ziadin. Awalnya Ustad Ziadin meminta saya tidur di dalam sekretariat. Tetapi saya menyampaikan, “Malam ini di sini saja.” Entah mengapa, saya ingin merasakan malam ini apa adanya. Saya ingin mendengar suara angin. Saya ingin merasakan dinginnya malam. Saya ingin mendengar suara santri yang berjaga. Dan benar, dalam kesunyian malam, terdengar suara santri penjaga malam. Se...
Postingan terbaru

𝐌𝐞𝐧𝐚𝐧𝐚𝐦 𝐊𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐖𝐚𝐝𝐢𝐚𝐛𝐞𝐫𝐨: 𝐊𝐊𝐍 𝐒𝐓𝐈𝐒 𝐒𝐀𝐖

Bingkai Menambang Kebaikan  Cinta Nabi Muhammad Oleh : LaR Minggu, 30 Agustus 2026, Desa Wadiabero kembali menjadi ruang perjumpaan antara ilmu, pengabdian, dan cinta kepada Rasulullah ﷺ. Di Gedung Serba Guna Desa Wadiabero, mahasiswa KKN STIS Al-Syaikh Abdul Wahid hadir dan ikut membersamai sebuah kegiatan yang mengajak masyarakat meneladani sosok agung Nabi Muhammad ﷺ. Sejatinya, kegiatan ini direncanakan berlangsung di Masjid Nurul Jadid Wadiabero. Namun, masjid yang diharapkan menjadi rumah ibadah sekaligus pusat kegiatan umat itu masih dalam tahap pembangunan. Belum sempurna dindingnya, belum selesai ruangnya, tetapi semangat masyarakat untuk menghidupkan nilai-nilai agama tidak boleh menunggu sempurnanya sebuah bangunan. Sebab, rumah bagi kebaikan bukan hanya berdinding dan beratap. Ia bisa tumbuh di mana saja, selama hati manusia menjadi tempat bersemayamnya niat yang baik. Di tengah kegiatan, para mahasiswa turut mengambil bagian. Mereka tidak sekadar datang sebagai peserta...

𝐒𝐞𝐧𝐢 𝐁𝐞𝐫𝐤𝐨𝐦𝐮𝐧𝐢𝐤𝐚𝐬𝐢 𝐒𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐛𝐝𝐢: 𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐆𝐨𝐧𝐭𝐨𝐫, 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝, 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡

Bingkai Komunikasi: (Dari Kiri)   Ustad Faisal Islamy ( Pimpinan Pondok Al-Amanah) dan Ustad Suddin Aly Oleh: LaR Minggu, 2 Agustus 2026 , di tengah semarak Khutbatul Arsy Pondok Modern Al-Amanah Liabuku, ada sebuah pemandangan sederhana yang sesungguhnya menyimpan pelajaran besar: dua insan berdiri, berbincang, saling mendengar, dan bertukar pikiran. Tidak ada mimbar tinggi. Tidak ada mikrofon. Tidak ada tepuk tangan. Hanya percakapan yang mengalir—namun dari percakapan seperti itulah sering kali lahir gagasan, semangat, bahkan arah perjalanan sebuah pengabdian. Inilah seni berkomunikasi ala seorang ustad pengabdi . Ia ditempa oleh tradisi pendidikan Pondok Modern Gontor , pernah tumbuh dalam lingkungan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid , kemudian mengabdikan diri di Pondok Pesantren Al-Amanah . Tiga ruang pendidikan, tiga pengalaman, tetapi satu napas: ilmu, adab, pengabdian dan persaudaraan. Komunikasi bagi seorang pendidik bukan sekadar bagaimana berbicara, teta...

𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐚𝐫𝐢𝐧𝐠𝐚𝐧, 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐛𝐝𝐢𝐚𝐧

  Bingkai Sangat Pemgabdiam Ustad Mashur (Elmeicho) Oleh: LaR Minggu, 2 Agustus 2026.  Di bawah langit Liabuku yang biru, di tengah riuh Khutbatul Arsy dan barisan santri yang sedang menapaki awal perjalanan pendidikannya, tampak sosok Ustad Mashur—Elmeicho , seorang pengabdi di Pondok Pesantren Al-Amanah. Berdiri di antara para pendidik dan pengasuh, ia seperti mengingatkan kita bahwa pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga tempat merawat mata rantai kebaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ustad Mashur adalah bagian dari perjalanan panjang itu. Sebagai alumni Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid , ia pernah merasakan bagaimana pendidikan pesantren menempa seseorang: mengajarkan ilmu, membangun kedisiplinan, menanamkan adab, dan yang tidak kalah penting—mengajarkan arti pengabdian. Kini, ilmu dan pengalaman itu menemukan ruang pengabdiannya di Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku . Ada sebuah kalimat yang terasa tepat untuk menggambarkan perjalanan...

𝐒𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐛𝐝𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐁𝐚𝐫𝐢𝐬𝐚𝐧, 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐢𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐆𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢

Oleh: LaR Liabuku, Minggu, 2 Agustus 2026.  Pagi itu matahari bersinar terang di bumi Liabuku. Di lapangan Pondok Pesantren Modern Al-Amanah, barisan santri dan santriwati berdiri rapi. Mereka datang dari berbagai daerah, membawa bahasa, kebiasaan, dan cerita keluarga masing-masing. Namun di tempat ini, mereka dipertemukan oleh satu cita-cita : menuntut ilmu, membentuk akhlak, dan mempersiapkan diri menjadi generasi masa depan. Momen Khutbatul Arsy—pekan perkenalan santri dan santriwati baru— bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah pintu pertama menuju kehidupan pesantren. Di sinilah anak-anak belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang diketahui, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bersikap, berjalan dalam aturan, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Di tengah barisan itu tampak para pengabdi. Mereka berdiri dengan penuh perhatian, memeriksa kerapian konsulat santri dan santriwati dari berbagai daerah. Tidak sekadar melihat barisan...

𝐌𝐞𝐫𝐚𝐦𝐮 𝐊𝐞𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧, 𝐌𝐞𝐧𝐚𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐡: 𝐒𝐲𝐮𝐤𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐫𝐞𝐭𝐚𝐫𝐢𝐚𝐭 𝐈𝐊𝐏𝐒

Bingkai Persamaan Gerak Alumni ( The Secret Of Movement Oleh : LaR Selasa, 25 Agustus 2026, pukul 20.00 WITA.  Malam terasa dingin. Hembusan angin bergerak perlahan di antara bangunan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Lampu-lampu terang menerangi wajah-wajah yang datang dengan senyum dan optimisme. Di tempat sederhana itu, keluarga besar IKPS berkumpul dalam sebuah momentum yang mungkin tampak kecil, tetapi sesungguhnya menyimpan harapan besar: syukuran Sekretariat IKPS. Malam itu bukan sekadar tentang sebuah ruangan yang kini memiliki nama. Ia adalah simbol bahwa alumni sedang belajar kembali untuk menemukan formula kebersamaan—bagaimana menyatukan gagasan, merawat komunikasi, dan terus menata langkah agar IKPS semakin bermanfaat. Di tengah suasana yang hangat itu, para alumni duduk bersama. Ada yang telah lama meninggalkan bangku pondok, ada yang masih aktif mendampingi kegiatan, dan ada pula yang datang membawa semangat baru. Wajah boleh berubah dimakan usia, tetapi rasa p...

𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐆𝐮𝐛𝐮𝐤 𝐈𝐊𝐏𝐒, 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐞𝐦𝐚𝐢 𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐏𝐫𝐨𝐝𝐮𝐤𝐭𝐢𝐟 𝐝𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐧𝐟𝐚𝐚𝐭

Bingkai Silaturahmi Produktif Oleh: LAR Ada tempat yang dibangun dengan semen dan batu. Ada pula tempat yang dibangun dengan kenangan, persahabatan, dan doa. Gubuk IKPS mungkin sederhana bentuknya, tetapi di sanalah sebuah gagasan besar sedang dirawat: bagaimana alumni Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid tetap memiliki ruang untuk bertemu, berbincang, berpikir, dan berbuat bersama. Pagi tadi, Selasa 25 Agustus 2026, jam 06.00 itu, kediaman  saya  di Bataraguru,  kedatangan Ketua IKPS, Saudara Syukur Haniru . Pertemuan sederhana berubah menjadi obrolan panjang tentang masa depan gubuk IKPS, tentang para alumni yang pernah menimba ilmu di Pondok Al-Syaikh Abdul Wahid, tentang siapa saja yang kelak menjadi penghuni dan penggerak gubuk, serta tentang apa yang seharusnya diperbuat oleh sebuah organisasi alumni. Kami berbincang bukan sekadar tentang bangunan. Kami berbicara tentang masa depan . Gubuk IKPS jangan hanya menjadi tempat duduk santai, minum kopi, bercanda, dan m...