Bingkai Sangat Pemgabdiam Ustad Mashur (Elmeicho) Oleh: LaR Minggu, 2 Agustus 2026. Di bawah langit Liabuku yang biru, di tengah riuh Khutbatul Arsy dan barisan santri yang sedang menapaki awal perjalanan pendidikannya, tampak sosok Ustad Mashur—Elmeicho , seorang pengabdi di Pondok Pesantren Al-Amanah. Berdiri di antara para pendidik dan pengasuh, ia seperti mengingatkan kita bahwa pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga tempat merawat mata rantai kebaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ustad Mashur adalah bagian dari perjalanan panjang itu. Sebagai alumni Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid , ia pernah merasakan bagaimana pendidikan pesantren menempa seseorang: mengajarkan ilmu, membangun kedisiplinan, menanamkan adab, dan yang tidak kalah penting—mengajarkan arti pengabdian. Kini, ilmu dan pengalaman itu menemukan ruang pengabdiannya di Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku . Ada sebuah kalimat yang terasa tepat untuk menggambarkan perjalanan...
Oleh: LaR Liabuku, Minggu, 2 Agustus 2026. Pagi itu matahari bersinar terang di bumi Liabuku. Di lapangan Pondok Pesantren Modern Al-Amanah, barisan santri dan santriwati berdiri rapi. Mereka datang dari berbagai daerah, membawa bahasa, kebiasaan, dan cerita keluarga masing-masing. Namun di tempat ini, mereka dipertemukan oleh satu cita-cita : menuntut ilmu, membentuk akhlak, dan mempersiapkan diri menjadi generasi masa depan. Momen Khutbatul Arsy—pekan perkenalan santri dan santriwati baru— bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah pintu pertama menuju kehidupan pesantren. Di sinilah anak-anak belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang diketahui, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bersikap, berjalan dalam aturan, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Di tengah barisan itu tampak para pengabdi. Mereka berdiri dengan penuh perhatian, memeriksa kerapian konsulat santri dan santriwati dari berbagai daerah. Tidak sekadar melihat barisan...