Langsung ke konten utama

Postingan

𝐏𝐚𝐫𝐚 𝐏𝐞𝐧𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐋𝐞𝐧𝐭𝐞𝐫𝐚: 𝐂𝐚𝐭𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐒𝐲𝐮𝐤𝐮𝐫 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐀𝐥𝐭𝐚𝐫 𝐆𝐨𝐧𝐭𝐨𝐫

Bait Peneguh Jiwa ​"Hormat tertinggi seorang murid bukanlah sekadar mencium punggung tangan gurunya saat bersua, melainkan pada keteguhannya dalam mengamalkan dan merawat setiap jengkal kesalehan yang telah diajarkan tanpa suara. Para kiai dan ustad adalah arsitek jiwa yang bekerja di balik layar peradaban; peluh mereka adalah tinta emas, dan doa-doa mereka di sepertiga malam adalah perisai gaib yang menjaga langkah kita dari marabahaya kebodohan. Rawatlah sanad rasa hormatmu kepada mereka, karena berkahnya ilmu tidak akan pernah sudi singgah ke dalam dada manusia yang melupakan jasa para pemandu jiwanya.". Bingkai Senyum Bersama: (Dari Kiri) Ust. Faisal Islamy, Ust. Ja'far Karim, Ust. Ismail, Ust. Falah Sabirin By LaR Barisan Senyum dalam Bingkai Abadi Waktu selalu memiliki cara tersendiri untuk menguji ingatan manusia, namun ia akan luruh bertekuk lutut di hadapan selembar foto yang merawat ketulusan. Seperti yang terpeta dalam foto dokumentasi ini, ada sebuah potret ya...
Postingan terbaru

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐃𝐢 𝐒𝐢𝐦𝐩𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐖𝐚𝐤𝐭𝐮: 𝐓𝐞𝐦𝐮 𝐊𝐚𝐰𝐚𝐧, 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢, 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐇𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐁𝐞𝐫𝐛𝐞𝐝𝐚

  Oleh : LaR (Penggiat Literasi) Simpangan Pasar Karya Nugraha malam itu (Selasa/30/01/2025) tampak biasa saja. Lalu lintas berjalan seperti biasa, pedagang melipat lapak, suara kendaraan bersahut-sahutan dengan teriakan penjual yang ingin menghabiskan dagangan. Namun bagi kami, simpangan itu bukan sekadar pertemuan jalan. Ia menjelma menjadi simpangan waktu , tempat kenangan lama berbelok dan menyapa masa kini . Di titik itulah kami bertemu kembali—kawan lama, sesama santri Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, sekitar tahun 1995. Waktu telah membawa kami ke jalan hidup yang berbeda, namun satu hal tetap sama: jejak kepesantrenan yang tertanam dalam diri . Pak Abdullah berdiri dengan senyum yang tenang. Kini ia mengabdi sebagai PNS di Pengadilan Negeri Kota Baubau. Wajahnya memancarkan keteduhan, seperti seseorang yang terbiasa menimbang kata dan perkara, memahami bahwa keadilan bukan sekadar bunyi palu, melainkan keberanian menjaga nurani. Di balik seragam dinasnya, saya masi...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐫𝐤𝐚𝐡: 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤, 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚

  Oleh: LaR (Penggiat Literasi) Liabuku, 26 Desember 2025. Malam turun perlahan di Pondok Modern Al-Amanah. Udara terasa sejuk, seolah ikut menenangkan hati yang bersiap menyambut perjumpaan istimewa. Jam menunjukkan 19.30 , ketika keluarga besar Pondok Modern Al-Amanah—pimpinan, ustadz dan ustadzah, santri dan santriwati—berhimpun dalam satu ruang rasa: silaturahmi Bukan silaturahmi biasa. Malam itu, pondok menerima kehadiran Dr. Saifuddin Asrori, M.Si , seorang pendidik, peneliti, dan pengabdi ilmu, yang kembali menyapa tanah pengabdian setelah puluhan tahun berlalu. Waktu memang berjalan, tetapi kenangan dan nilai tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk dipanggil kembali. Penyambutan berlangsung hangat, penuh keakraban. Senyum bersahut-sahutan, salaman mengalir tanpa jarak. Seolah pondok ini adalah rumah yang selalu membuka pintu, tak peduli berapa lama seseorang pergi. Di hadapan santri dan santriwati, tampak Pimpinan Pondok Al-Amanah Liabuku, Ustad Faisal Isla...

𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐁𝐞𝐫𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧: 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢𝐰𝐚𝐭𝐢

  Oleh: LaR (Penggiat Literasi) Pukul 14.00 siang Jumat 26 Desember 2025 , matahari berdiri tegak di langit Sulaa. Cahayanya jatuh lembut di pelataran Masjid Pondok Pesantren Putri Al-Syaikh Abdul Wahid , seolah ikut menjadi saksi perjumpaan yang tak biasa. Masjid itu hari ini bukan sekadar ruang ibadah, melainkan ruang peneguhan jiwa —tempat harapan disulam, mimpi ditegaskan, dan keteguhan dirawat. Bingkai Pelita Santriwati   Di ruangan yang dipenuhi saf-saf santriwati itu, waktu seakan melambat. Nafas ditahan, hati dibuka. Ada getar yang sulit dijelaskan, sebab pertemuan ini bukan hanya pertemuan fisik, melainkan perjumpaan rasa, pikiran, dan nilai kehidupan . Hadir dua sosok yang telah lama berjalan di jalur pengabdian: KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., MA , pimpinan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, dan Dr. Saifuddin Asrori, M.Si , Kepala Pusat Rumah Jurnal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Keduanya datang membawa bukan sekadar materi, melainkan pengalaman hidup yang ...

𝐌𝐞𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠 𝐙𝐚𝐦𝐚𝐧

  Catatan dari Workshop Pendampingan Jurnal Berbasis OJS di STIS Al-Syaikh Abdul Wahid Pagi itu, Jumat 26 Desember 2025,  aula Kampus STIS Al-Syaikh Abdul Wahid tidak sekadar menjadi ruang pertemuan. Ia berubah menjadi medan perenungan, tempat gagasan-gagasan disemai, dan niat-niat baik dirapalkan dengan penuh kesadaran. Jam menunjukkan pukul 09.00 , saat WORKSHOP Pendampingan Jurnal Berbasis OJS: “Optimalkan Kemampuan Menulis di Jurnal Ilmiah” resmi dimulai. Hadir sebagai narasumber utama Dr. Saifuddin Asrori, M.Si , Kepala Pusat Rumah Jurnal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta —seorang akademisi yang bukan hanya memahami teknis jurnal ilmiah, tetapi juga merasakan denyut keilmuan sebagai jalan pengabdian. Kehadiran beliau di STIS SAW terasa seperti kepulangan seorang sahabat lama yang membawa oleh-oleh intelektual: pengalaman, keteguhan, dan visi. Workshop ini bukan sekadar agenda akademik. Ia adalah ikhtiar kolektif —upaya sungguh-sungguh untuk menumbuhkan budaya menulis ...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...