Langsung ke konten utama

Postingan

𝐃𝐢 𝐒𝐢𝐦𝐩𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐖𝐚𝐤𝐭𝐮: 𝐓𝐞𝐦𝐮 𝐊𝐚𝐰𝐚𝐧, 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢, 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐇𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐁𝐞𝐫𝐛𝐞𝐝𝐚

  Oleh : LaR (Penggiat Literasi) Simpangan Pasar Karya Nugraha malam itu (Selasa/30/01/2025) tampak biasa saja. Lalu lintas berjalan seperti biasa, pedagang melipat lapak, suara kendaraan bersahut-sahutan dengan teriakan penjual yang ingin menghabiskan dagangan. Namun bagi kami, simpangan itu bukan sekadar pertemuan jalan. Ia menjelma menjadi simpangan waktu , tempat kenangan lama berbelok dan menyapa masa kini . Di titik itulah kami bertemu kembali—kawan lama, sesama santri Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, sekitar tahun 1995. Waktu telah membawa kami ke jalan hidup yang berbeda, namun satu hal tetap sama: jejak kepesantrenan yang tertanam dalam diri . Pak Abdullah berdiri dengan senyum yang tenang. Kini ia mengabdi sebagai PNS di Pengadilan Negeri Kota Baubau. Wajahnya memancarkan keteduhan, seperti seseorang yang terbiasa menimbang kata dan perkara, memahami bahwa keadilan bukan sekadar bunyi palu, melainkan keberanian menjaga nurani. Di balik seragam dinasnya, saya masi...
Postingan terbaru

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐫𝐤𝐚𝐡: 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤, 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚

  Oleh: LaR (Penggiat Literasi) Liabuku, 26 Desember 2025. Malam turun perlahan di Pondok Modern Al-Amanah. Udara terasa sejuk, seolah ikut menenangkan hati yang bersiap menyambut perjumpaan istimewa. Jam menunjukkan 19.30 , ketika keluarga besar Pondok Modern Al-Amanah—pimpinan, ustadz dan ustadzah, santri dan santriwati—berhimpun dalam satu ruang rasa: silaturahmi Bukan silaturahmi biasa. Malam itu, pondok menerima kehadiran Dr. Saifuddin Asrori, M.Si , seorang pendidik, peneliti, dan pengabdi ilmu, yang kembali menyapa tanah pengabdian setelah puluhan tahun berlalu. Waktu memang berjalan, tetapi kenangan dan nilai tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk dipanggil kembali. Penyambutan berlangsung hangat, penuh keakraban. Senyum bersahut-sahutan, salaman mengalir tanpa jarak. Seolah pondok ini adalah rumah yang selalu membuka pintu, tak peduli berapa lama seseorang pergi. Di hadapan santri dan santriwati, tampak Pimpinan Pondok Al-Amanah Liabuku, Ustad Faisal Isla...

𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐁𝐞𝐫𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧: 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢𝐰𝐚𝐭𝐢

  Oleh: LaR (Penggiat Literasi) Pukul 14.00 siang Jumat 26 Desember 2025 , matahari berdiri tegak di langit Sulaa. Cahayanya jatuh lembut di pelataran Masjid Pondok Pesantren Putri Al-Syaikh Abdul Wahid , seolah ikut menjadi saksi perjumpaan yang tak biasa. Masjid itu hari ini bukan sekadar ruang ibadah, melainkan ruang peneguhan jiwa —tempat harapan disulam, mimpi ditegaskan, dan keteguhan dirawat. Bingkai Pelita Santriwati   Di ruangan yang dipenuhi saf-saf santriwati itu, waktu seakan melambat. Nafas ditahan, hati dibuka. Ada getar yang sulit dijelaskan, sebab pertemuan ini bukan hanya pertemuan fisik, melainkan perjumpaan rasa, pikiran, dan nilai kehidupan . Hadir dua sosok yang telah lama berjalan di jalur pengabdian: KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., MA , pimpinan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, dan Dr. Saifuddin Asrori, M.Si , Kepala Pusat Rumah Jurnal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Keduanya datang membawa bukan sekadar materi, melainkan pengalaman hidup yang ...

𝐌𝐞𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠 𝐙𝐚𝐦𝐚𝐧

  Catatan dari Workshop Pendampingan Jurnal Berbasis OJS di STIS Al-Syaikh Abdul Wahid Pagi itu, Jumat 26 Desember 2025,  aula Kampus STIS Al-Syaikh Abdul Wahid tidak sekadar menjadi ruang pertemuan. Ia berubah menjadi medan perenungan, tempat gagasan-gagasan disemai, dan niat-niat baik dirapalkan dengan penuh kesadaran. Jam menunjukkan pukul 09.00 , saat WORKSHOP Pendampingan Jurnal Berbasis OJS: “Optimalkan Kemampuan Menulis di Jurnal Ilmiah” resmi dimulai. Hadir sebagai narasumber utama Dr. Saifuddin Asrori, M.Si , Kepala Pusat Rumah Jurnal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta —seorang akademisi yang bukan hanya memahami teknis jurnal ilmiah, tetapi juga merasakan denyut keilmuan sebagai jalan pengabdian. Kehadiran beliau di STIS SAW terasa seperti kepulangan seorang sahabat lama yang membawa oleh-oleh intelektual: pengalaman, keteguhan, dan visi. Workshop ini bukan sekadar agenda akademik. Ia adalah ikhtiar kolektif —upaya sungguh-sungguh untuk menumbuhkan budaya menulis ...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...

𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐋𝐚𝐲𝐚𝐫 𝐊𝐞𝐜𝐢𝐥 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐣𝐮 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐡 𝐁𝐞𝐬𝐚𝐫

Dr. Rasid, S.Sos.I., M.Ud. Dosen UIN Jakarta Bersama: LaR Bincang Pagi Alumni, Menjemput Produktivitas dan Masa Depan Jam menunjukkan pukul 08.00 pagi . Matahari belum sepenuhnya meninggalkan sisa-sisa embun, dan pagi masih menyimpan keheningan yang jujur. Di antara kesibukan yang perlahan bangkit, sebuah panggilan WhatsApp Video Call masuk ke layar ponsel saya. Di sana tampak wajah Pak Doktor Rasid , dari Jakarta—jauh secara jarak, namun terasa dekat secara batin dan gagasan. Obrolan kami singkat, tapi padat. Ringkas, namun bernas. Seperti secangkir kopi hitam tanpa gula—pahit, tapi menyadarkan. Dengan nada tenang namun penuh tekanan makna, beliau membuka percakapan: “Kita ini alumni, jangan hanya jadi penonton. Jangan berhenti di konsumsi. Kita harus produktif , dan lebih dari itu— inovatif .” Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghantam kesadaran. Produktif, bukan konsumtif. Mencipta, bukan hanya menikmati. Bergerak, bukan sekadar mengeluh. Bahkan peluang kecil, katanya, jika d...

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...