Langsung ke konten utama

𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐁𝐞𝐫𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧: 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢𝐰𝐚𝐭𝐢

 

Oleh: LaR
(Penggiat Literasi)

Pukul 14.00 siang Jumat 26 Desember 2025, matahari berdiri tegak di langit Sulaa. Cahayanya jatuh lembut di pelataran Masjid Pondok Pesantren Putri Al-Syaikh Abdul Wahid, seolah ikut menjadi saksi perjumpaan yang tak biasa. Masjid itu hari ini bukan sekadar ruang ibadah, melainkan ruang peneguhan jiwa—tempat harapan disulam, mimpi ditegaskan, dan keteguhan dirawat.

Bingkai Pelita Santriwati 

Di ruangan yang dipenuhi saf-saf santriwati itu, waktu seakan melambat. Nafas ditahan, hati dibuka. Ada getar yang sulit dijelaskan, sebab pertemuan ini bukan hanya pertemuan fisik, melainkan perjumpaan rasa, pikiran, dan nilai kehidupan.

Hadir dua sosok yang telah lama berjalan di jalur pengabdian: KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., MA, pimpinan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, dan Dr. Saifuddin Asrori, M.Si, Kepala Pusat Rumah Jurnal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Keduanya datang membawa bukan sekadar materi, melainkan pengalaman hidup yang telah matang oleh ujian dan kesabaran.

Bingkai Inspirasi: (Dari Kanan) Ketua STIS Saw Dr. Falah Sabirin, Pimp. Pondok Saw KH. Abdul Rasyid Sabirin, Dr. Saifuddin Asrori, Direktur KMI Ustad Jamhur Baeda

KH. Abdul Rasyid Sabirin memulai dengan suara tenang, namun berwibawa. Tatapannya lembut, seolah ingin memeluk setiap santriwati dengan doa. Beliau tidak berbicara tinggi, tetapi menyentuh dasar hati.

“Menjadi santriwati,” ucap beliau, “bukan sekadar belajar di pesantren. Ini adalah proses panjang menjadi manusia yang utuh—yang kuat jiwanya, bersih niatnya, dan lurus langkahnya.”

Beliau mengajak santriwati memaknai bertahan. Bertahan bukan berarti pasrah, tetapi memilih setia pada proses, meski lelah, meski rindu rumah, meski kadang ingin menyerah. Pondok, kata beliau, adalah tempat Allah mengajarkan makna sabar dalam bentuk yang paling nyata.

“Kalau hari ini kalian merasa berat, jangan takut. Berat itu tanda kalian sedang ditempa,” lanjutnya. “Besi tidak akan kuat tanpa panas. Jiwa tidak akan matang tanpa ujian.”

Kalimat-kalimat itu jatuh perlahan, seperti hujan tipis di tanah kering. Beberapa santriwati menunduk, sebagian lainnya mengusap mata. Bukan karena sedih, tetapi karena merasa dipahami.

Beliau menegaskan bahwa disiplin pondok bukan untuk mengekang, melainkan membebaskan—membebaskan santri dari kebiasaan malas, dari hidup tanpa arah, dari ketergantungan pada kenyamanan semu.

“Kelak,” ujar beliau lagi, “dunia akan menuntut kalian lebih keras daripada pondok ini. Maka bersyukurlah jika hari ini kalian dilatih dengan disiplin, adab, dan tanggung jawab.”

Suasana masjid semakin khusyuk. Kata-kata itu terasa seperti pesan ayah kepada anak-anaknya—tegas, penuh cinta, dan sarat harap.

Giliran Dr. Saifuddin Asrori, M.Si melanjutkan. Beliau membuka dengan kisah sederhana tentang perjalanan hidupnya. Tentang jatuh bangun, tentang proses panjang menuntut ilmu, tentang kegagalan yang justru membentuk keteguhan.

“Tidak ada orang besar yang lahir tanpa luka,” ucapnya pelan namun mengena. “Dan tidak ada keberhasilan yang datang tanpa kesediaan untuk bertahan.”

Beliau mengajak santriwati untuk bermimpi besar, namun tetap berpijak pada nilai. Menjadi perempuan berilmu, berakhlak, dan berdaya saing. Bukan sekadar pandai berbicara, tetapi mampu memberi manfaat.

“Ilmu,” katanya, “akan mengangkat derajat kalian. Tapi akhlaklah yang akan menjaga kalian tetap mulia.”

Beliau juga menyinggung pentingnya membaca, menulis, dan berpikir kritis, bahkan sejak di bangku pondok. Dunia hari ini, katanya, bukan hanya membutuhkan orang baik, tetapi orang baik yang berilmu dan mampu menyampaikan gagasannya dengan benar.

“Santriwati jangan takut bermimpi menjadi apa pun,” tambahnya. “Guru, dosen, peneliti, pemimpin, ibu pendidik, atau penggerak umat. Asal niatnya lurus dan prosesnya dijalani dengan sungguh-sungguh.”

Masjid itu kembali hening. Namun kali ini, hening yang penuh tekad. Seperti benih yang baru saja ditanam, disiram, dan ditutup dengan doa.

Pertemuan itu bukan hanya berbagi kata, tetapi berbagi energi kehidupan. Tentang bagaimana bertahan dalam pendidikan pondok, bagaimana memelihara niat ketika lelah, dan bagaimana menjadikan setiap hari sebagai ladang pahala.

Di akhir pertemuan, para santriwati keluar dari masjid dengan langkah yang sama, tetapi jiwa yang berbeda. Ada cahaya kecil yang menyala di mata mereka—cahaya keyakinan bahwa bertahan hari ini adalah bekal untuk masa depan.

Dan di sanalah makna pertemuan itu berlabuh:
Menjadi cahaya yang bertahan, meski angin kencang, meski hujan deras.
Karena santriwati sejati tidak hanya belajar untuk hari ini,
tetapi menyiapkan diri untuk menjadi penopang peradaban esok hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐦𝐚 𝐈𝐧𝐝𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭𝐢

Oleh : LAR (Sang Pengelana Pendidikan)   Pagi itu, Minggu, 29 Juni 2025, jam menunjukkan pukul 06.30 ketika udara Liabuku masih segar, seperti baru dicuci oleh hujan rintik-rintik yang reda beberapa saat sebelumnya. Kabut tipis menyelimut bukit-bukit kecil di kejauhan, seakan menyambut hangat pagi yang penuh harapan. Di sebuah sudut pondok yang sederhana namun bermakna—Wisma Indrajati, Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku—terjadi pertemuan kecil, namun sarat makna. Kami duduk berhadapan dalam suasana santai, tak ada podium, tak ada protokol. Hanya segelas kopi hangat, semangkuk geroncong, dan tuli-tuli, yang panasnya masih mengepul, beberapa bungkus nasi kuning, dan tawa-tawa ringan yang kadang pecah menembus diam. Saya, Ustad Riyan Ahmad, dan Ustad Roni, dan  menjadi pendengar setia dalam perbincangan yang membuka tabir masa depan, dan menyusul  Ustad Falah Sabirin yang keberadaannya tidak sampai selesai, karena harus segera menghadiri rapat di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid...

𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐓𝐢𝐦𝐮𝐫: 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐛𝐮𝐬 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐀𝐥-𝐀𝐳𝐡𝐚𝐫

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Alumni Permata Angk. 3 Ponpes Saw) Di antara deru ombak Buton dan sunyi malam Baubau yang mendalam, kabar bahagia menyelinap ke relung hati para pencinta ilmu: lima bintang kecil dari timur, santri-santriwati Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, kini bersiap terbang jauh ke negeri para ulama — Mesir, tanah Al-Azhar yang agung. Alhamdulillah , kelima anak negeri ini — Almawaddah dari Baubau, Fegita dari Siomou, Azhar dari Talaga Buton Tengah, Ld. Fahriansyah dari Lasalimu, dan Ilham dari Lombe Buton Tengah — telah membuktikan bahwa mimpi yang disulam dengan doa dan kerja keras mampu mengalahkan ketatnya seleksi nasional. Mereka lolos sebagai penerima beasiswa Kementerian Agama RI tahun 2025 dan diterima di Universitas Al-Azhar Kairo, institusi pendidikan Islam tertua dan termasyhur di dunia. Bukan jalan lapang yang mereka lalui. Sebaliknya, medan itu terjal dan berliku. Seleksi yang diikuti lebih dari 2.800 peserta dari seluruh Indonesia dilaksanakan de...

𝐏𝐎𝐑𝐒𝐀: 𝐒𝐞𝐩𝐚𝐤 𝐁𝐨𝐥𝐚, 𝐃𝐚𝐤𝐰𝐚𝐡, 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐝𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐁𝐮𝐭𝐨𝐧

Foto: Tim Sepakbola Porsa Berlaga Di Lakudo Buton Tengah (Sumber Koleksi Ustadz Junaidin (Abangk)) Oleh: La Rudi (Dosen STKIP Pelnus Buton ) Ada masa ketika dakwah tak selalu hadir lewat podium dan mimbar. Ada masa ketika pesan suci tak hanya bergema lewat kitab dan khutbah. Pada penghujung milenium lalu, di pelosok tanah Buton, suara dakwah justru menggema di tengah lapangan sepak bola berdebu, ketika peluit dibunyikan dan sorak penonton mengalun dalam antusias yang menggetarkan. Di sanalah Porsa —Persatuan Sepakbola Al-Syaikh Abdul Wahid—berdiri bukan sekadar sebagai klub olahraga, tetapi sebagai wajah muda dari sebuah pondok pesantren yang ingin dikenal, diterima, dan dicintai oleh masyarakat. Tahun 1999, adalah era ketika banyak orang belum mengenal betul nama Al-Syaikh Abdul Wahid. Pondok masih muda, fasilitas sederhana, dan lembaga ini berjalan dalam keterbatasan. Namun di balik kesederhanaan itu, ada semangat membara yang tumbuh dalam dada para santri dan para ustaznya: semang...