![]() |
| Bingkai Pelita Santriwati |
Di ruangan yang dipenuhi saf-saf santriwati itu, waktu seakan melambat. Nafas ditahan, hati dibuka. Ada getar yang sulit dijelaskan, sebab pertemuan ini bukan hanya pertemuan fisik, melainkan perjumpaan rasa, pikiran, dan nilai kehidupan.
Hadir dua sosok yang telah lama berjalan di jalur pengabdian: KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., MA, pimpinan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, dan Dr. Saifuddin Asrori, M.Si, Kepala Pusat Rumah Jurnal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Keduanya datang membawa bukan sekadar materi, melainkan pengalaman hidup yang telah matang oleh ujian dan kesabaran.
![]() |
| Bingkai Inspirasi: (Dari Kanan) Ketua STIS Saw Dr. Falah Sabirin, Pimp. Pondok Saw KH. Abdul Rasyid Sabirin, Dr. Saifuddin Asrori, Direktur KMI Ustad Jamhur Baeda |
KH. Abdul Rasyid Sabirin memulai dengan suara tenang, namun berwibawa. Tatapannya lembut, seolah ingin memeluk setiap santriwati dengan doa. Beliau tidak berbicara tinggi, tetapi menyentuh dasar hati.
“Menjadi santriwati,” ucap beliau, “bukan sekadar belajar di pesantren. Ini adalah proses panjang menjadi manusia yang utuh—yang kuat jiwanya, bersih niatnya, dan lurus langkahnya.”
Beliau mengajak santriwati memaknai bertahan. Bertahan bukan berarti pasrah, tetapi memilih setia pada proses, meski lelah, meski rindu rumah, meski kadang ingin menyerah. Pondok, kata beliau, adalah tempat Allah mengajarkan makna sabar dalam bentuk yang paling nyata.
“Kalau hari ini kalian merasa berat, jangan takut. Berat itu tanda kalian sedang ditempa,” lanjutnya. “Besi tidak akan kuat tanpa panas. Jiwa tidak akan matang tanpa ujian.”
Kalimat-kalimat itu jatuh perlahan, seperti hujan tipis di tanah kering. Beberapa santriwati menunduk, sebagian lainnya mengusap mata. Bukan karena sedih, tetapi karena merasa dipahami.
Beliau menegaskan bahwa disiplin pondok bukan untuk mengekang, melainkan membebaskan—membebaskan santri dari kebiasaan malas, dari hidup tanpa arah, dari ketergantungan pada kenyamanan semu.
“Kelak,” ujar beliau lagi, “dunia akan menuntut kalian lebih keras daripada pondok ini. Maka bersyukurlah jika hari ini kalian dilatih dengan disiplin, adab, dan tanggung jawab.”
Suasana masjid semakin khusyuk. Kata-kata itu terasa seperti pesan ayah kepada anak-anaknya—tegas, penuh cinta, dan sarat harap.
Giliran Dr. Saifuddin Asrori, M.Si melanjutkan. Beliau membuka dengan kisah sederhana tentang perjalanan hidupnya. Tentang jatuh bangun, tentang proses panjang menuntut ilmu, tentang kegagalan yang justru membentuk keteguhan.
“Tidak ada orang besar yang lahir tanpa luka,” ucapnya pelan namun mengena. “Dan tidak ada keberhasilan yang datang tanpa kesediaan untuk bertahan.”
Beliau mengajak santriwati untuk bermimpi besar, namun tetap berpijak pada nilai. Menjadi perempuan berilmu, berakhlak, dan berdaya saing. Bukan sekadar pandai berbicara, tetapi mampu memberi manfaat.
“Ilmu,” katanya, “akan mengangkat derajat kalian. Tapi akhlaklah yang akan menjaga kalian tetap mulia.”
Beliau juga menyinggung pentingnya membaca, menulis, dan berpikir kritis, bahkan sejak di bangku pondok. Dunia hari ini, katanya, bukan hanya membutuhkan orang baik, tetapi orang baik yang berilmu dan mampu menyampaikan gagasannya dengan benar.
“Santriwati jangan takut bermimpi menjadi apa pun,” tambahnya. “Guru, dosen, peneliti, pemimpin, ibu pendidik, atau penggerak umat. Asal niatnya lurus dan prosesnya dijalani dengan sungguh-sungguh.”
Masjid itu kembali hening. Namun kali ini, hening yang penuh tekad. Seperti benih yang baru saja ditanam, disiram, dan ditutup dengan doa.
Pertemuan itu bukan hanya berbagi kata, tetapi berbagi energi kehidupan. Tentang bagaimana bertahan dalam pendidikan pondok, bagaimana memelihara niat ketika lelah, dan bagaimana menjadikan setiap hari sebagai ladang pahala.
Di akhir pertemuan, para santriwati keluar dari masjid dengan langkah yang sama, tetapi jiwa yang berbeda. Ada cahaya kecil yang menyala di mata mereka—cahaya keyakinan bahwa bertahan hari ini adalah bekal untuk masa depan.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya




Komentar
Posting Komentar