Langsung ke konten utama

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd
(Penggiat Literasi) 

Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan—KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA., pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007).

Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok, melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu.

Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan.
Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau:
Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu.

Empat kata itu adalah pintu bagi siapa pun yang ingin memahami sosok beliau lebih dalam.
Sang Pengabdi—karena seluruh hidupnya diwakafkan untuk umat.
Sang Pembelajar—karena ia tidak pernah berhenti mencari makna di balik setiap ilmu.
Sang Periset—karena ia menggali hikmah dari realitas dan menuliskannya dalam tindakan.
Dan Sang Pelintas Waktu—karena nilai-nilainya menembus batas generasi dan zaman.

Buku biografi “Al-Amanah: Jejak Juang KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA” lahir dari untaian kisah keluarga, sahabat, dan santri beliau—orang-orang yang setia mendampingi dalam suka dan duka.

Buku ini bukan sekadar kumpulan cerita, melainkan peta spiritual dari perjalanan panjang seorang ulama yang menyalakan cahaya di tengah gelapnya zaman.

Dalam proses penulisan, saya merasa seolah berjalan bersisian dengan beliau.
Saya menemukan kesederhanaannya yang memikat.
Saya menemukan kesungguhannya yang tenang.
Saya menemukan cintanya kepada ilmu yang begitu dalam—hingga setiap kata yang keluar dari lisannya menjadi nasihat abadi.

Dan saya pun sadar: beliau bukan hanya mendidik santri, tetapi mendidik kehidupan.

Malam pra-launching ini menjadi ruang syukur bagi kita semua.

Saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Pimpinan Pondok, Ustadz Faisal Islamy, yang telah memelihara bara perjuangan itu agar tetap menyala.
Kepada Ustadzah Hj. Nurmarlina Sabirin, pendamping hidup dan saksi utama perjuangan beliau, yang kisah cintanya dengan almarhum menjadi pelajaran abadi tentang kesetiaan, ilmu, dan doa.
Kepada KH. Ahmad Karim, Ustadz Amir Karim, Ustadz Suddin Aly, Ustadz Ramsul Hasan, dan Badan Wakaf Pondok Pesantren Al-Amanah, yang setia menjaga lembaga ini seperti menjaga warisan suci.

Saya juga menghaturkan penghargaan mendalam kepada Ustadz Jafar Karim, Ustadz Muh. Hasanuddin, Ustadz Husni Desi, Ustadz Ilham Saleh, serta seluruh ustadz-ustadzah Pondok Al-Amanah yang setiap hari menyalakan kembali semangat Al-Amanah dalam hati para santri.

Dan malam itu, hadir pula sosok yang menambah makna bagi seluruh rangkaian acara:
Dr. H. Rahmat Haniru, Lc., MA., seorang akademisi, da’i, dan alumni yang turut menghidupkan suasana dengan hikmah yang menyejukkan.
Beliau berbicara lembut namun dalam, membawa hikmah kehidupan yang mengingatkan kita bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, tapi cahaya yang harus menyinari.
Kehadirannya malam itu bukan hanya sebagai tamu kehormatan, tapi sebagai penyambung hikmah antara masa lalu dan masa kini—antara guru dan murid, antara nilai dan amalan.

Suasana menjadi syahdu. Setiap kalimat yang beliau ucapkan terasa seperti lanjutan pesan Abah Syaharuddin sendiri: bahwa ilmu yang sejati adalah yang membuat seseorang semakin rendah hati, semakin dekat dengan Allah, dan semakin besar kasihnya kepada sesama.

Saya juga menyampaikan terima kasih kepada KH. Rasyid Sabirin, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, serta Dr. Falah Sabirin Ketua STIS SAW dan rekan-rekan Alumni IKPS SAW, yang dengan penuh kehangatan telah berbagi kisah dan kenangan tentang almarhum.
Dari cerita-cerita itulah biografi ini hidup.
Setiap kenangan menjadi untaian doa, dan setiap kesaksian menjadi bukti bahwa perjuangan beliau telah menumbuhkan banyak pohon ilmu dan kebaikan di tanah Buton.

Ketika saya berdiri di atas panggung malam itu, pandangan saya tertuju pada layar besar di belakang—menampilkan wajah beliau dalam balutan senyum yang tenang.
Saya menunduk, lalu berbisik dalam hati:

“Terima kasih, Abah. Engkau telah menuntun kami untuk mengabdi tanpa pamrih, belajar tanpa henti, dan berjuang tanpa lelah.”

Engkau mengajarkan bahwa menjadi guru bukanlah tentang berdiri di depan, tetapi berjalan bersama murid menuju cahaya.
Engkau menegaskan bahwa ilmu bukan untuk kebanggaan, tetapi untuk kebermanfaatan.
Dan engkau menunjukkan bahwa pengabdian bukan sekadar profesi, melainkan ibadah yang menghidupkan.

Buku ini saya persembahkan bukan hanya untuk mengenang, tetapi untuk menghidupkan kembali semangat beliau.
Kepada para santri dan santriwati Pondok Al-Amanah, bacalah kisah ini bukan hanya dengan mata, tetapi dengan hati.
Karena di setiap paragrafnya, ada doa yang disematkan, ada makna yang disampaikan, ada nilai yang harus dijaga.

Dari sebuah kamar kecil di Tomba, beliau membangun pondok yang kini menaungi ratusan santri.
Dari kehidupan yang sederhana, beliau melahirkan sistem pendidikan yang melampaui zamannya.
Dan dari cintanya kepada ilmu, beliau menumbuhkan generasi yang menjadikan akhlak sebagai mahkota.

Saya tutup kata malam itu dengan kalimat yang saya ucapkan sambil menatap wajah beliau di layar:

“Terima kasih, ya Allah, telah menghadirkan sosok guru yang mengajarkan kami tentang hidup dan pengabdian.
Terima kasih telah mengirimkan Sang Pembawa Pesan Kebaikan—guru, sahabat seperjuangan, dan orang tua kami.
Perjuanganmu tak akan sia-sia, Abah.
Setiap huruf yang kau ajarkan telah menjadi cahaya yang menuntun kami melangkah di jalan kebenaran.”

Liabuku, 8 November 2025.
Pukul 20.00 malam.
Malam itu, langit seperti tersenyum.
Cahaya hijau panggung menyala lembut, menyelimuti seluruh santri, para ustadz, dan alumni yang hadir.
Dan dalam keheningan yang penuh makna itu, kita semua tahu—Abah Syaharuddin tak benar-benar pergi.
Beliau hanya berpindah tempat:
dari mimbar ke ingatan, dari langkah ke legenda, dari bumi ke surga.
Namun nilai dan perjuangannya, akan terus hidup dalam setiap jiwa yang menegakkan amanah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐦𝐚 𝐈𝐧𝐝𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭𝐢

Oleh : LAR (Sang Pengelana Pendidikan)   Pagi itu, Minggu, 29 Juni 2025, jam menunjukkan pukul 06.30 ketika udara Liabuku masih segar, seperti baru dicuci oleh hujan rintik-rintik yang reda beberapa saat sebelumnya. Kabut tipis menyelimut bukit-bukit kecil di kejauhan, seakan menyambut hangat pagi yang penuh harapan. Di sebuah sudut pondok yang sederhana namun bermakna—Wisma Indrajati, Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku—terjadi pertemuan kecil, namun sarat makna. Kami duduk berhadapan dalam suasana santai, tak ada podium, tak ada protokol. Hanya segelas kopi hangat, semangkuk geroncong, dan tuli-tuli, yang panasnya masih mengepul, beberapa bungkus nasi kuning, dan tawa-tawa ringan yang kadang pecah menembus diam. Saya, Ustad Riyan Ahmad, dan Ustad Roni, dan  menjadi pendengar setia dalam perbincangan yang membuka tabir masa depan, dan menyusul  Ustad Falah Sabirin yang keberadaannya tidak sampai selesai, karena harus segera menghadiri rapat di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid...

𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐓𝐢𝐦𝐮𝐫: 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐛𝐮𝐬 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐀𝐥-𝐀𝐳𝐡𝐚𝐫

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Alumni Permata Angk. 3 Ponpes Saw) Di antara deru ombak Buton dan sunyi malam Baubau yang mendalam, kabar bahagia menyelinap ke relung hati para pencinta ilmu: lima bintang kecil dari timur, santri-santriwati Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, kini bersiap terbang jauh ke negeri para ulama — Mesir, tanah Al-Azhar yang agung. Alhamdulillah , kelima anak negeri ini — Almawaddah dari Baubau, Fegita dari Siomou, Azhar dari Talaga Buton Tengah, Ld. Fahriansyah dari Lasalimu, dan Ilham dari Lombe Buton Tengah — telah membuktikan bahwa mimpi yang disulam dengan doa dan kerja keras mampu mengalahkan ketatnya seleksi nasional. Mereka lolos sebagai penerima beasiswa Kementerian Agama RI tahun 2025 dan diterima di Universitas Al-Azhar Kairo, institusi pendidikan Islam tertua dan termasyhur di dunia. Bukan jalan lapang yang mereka lalui. Sebaliknya, medan itu terjal dan berliku. Seleksi yang diikuti lebih dari 2.800 peserta dari seluruh Indonesia dilaksanakan de...

𝐏𝐎𝐑𝐒𝐀: 𝐒𝐞𝐩𝐚𝐤 𝐁𝐨𝐥𝐚, 𝐃𝐚𝐤𝐰𝐚𝐡, 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐝𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐁𝐮𝐭𝐨𝐧

Foto: Tim Sepakbola Porsa Berlaga Di Lakudo Buton Tengah (Sumber Koleksi Ustadz Junaidin (Abangk)) Oleh: La Rudi (Dosen STKIP Pelnus Buton ) Ada masa ketika dakwah tak selalu hadir lewat podium dan mimbar. Ada masa ketika pesan suci tak hanya bergema lewat kitab dan khutbah. Pada penghujung milenium lalu, di pelosok tanah Buton, suara dakwah justru menggema di tengah lapangan sepak bola berdebu, ketika peluit dibunyikan dan sorak penonton mengalun dalam antusias yang menggetarkan. Di sanalah Porsa —Persatuan Sepakbola Al-Syaikh Abdul Wahid—berdiri bukan sekadar sebagai klub olahraga, tetapi sebagai wajah muda dari sebuah pondok pesantren yang ingin dikenal, diterima, dan dicintai oleh masyarakat. Tahun 1999, adalah era ketika banyak orang belum mengenal betul nama Al-Syaikh Abdul Wahid. Pondok masih muda, fasilitas sederhana, dan lembaga ini berjalan dalam keterbatasan. Namun di balik kesederhanaan itu, ada semangat membara yang tumbuh dalam dada para santri dan para ustaznya: semang...