Langsung ke konten utama

𝐌𝐞𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠 𝐙𝐚𝐦𝐚𝐧

 

Catatan dari Workshop Pendampingan Jurnal Berbasis OJS di STIS Al-Syaikh Abdul Wahid

Pagi itu, Jumat 26 Desember 2025, aula Kampus STIS Al-Syaikh Abdul Wahid tidak sekadar menjadi ruang pertemuan. Ia berubah menjadi medan perenungan, tempat gagasan-gagasan disemai, dan niat-niat baik dirapalkan dengan penuh kesadaran. Jam menunjukkan pukul 09.00, saat WORKSHOP Pendampingan Jurnal Berbasis OJS: “Optimalkan Kemampuan Menulis di Jurnal Ilmiah” resmi dimulai.

Hadir sebagai narasumber utama Dr. Saifuddin Asrori, M.Si, Kepala Pusat Rumah Jurnal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta—seorang akademisi yang bukan hanya memahami teknis jurnal ilmiah, tetapi juga merasakan denyut keilmuan sebagai jalan pengabdian. Kehadiran beliau di STIS SAW terasa seperti kepulangan seorang sahabat lama yang membawa oleh-oleh intelektual: pengalaman, keteguhan, dan visi.

Workshop ini bukan sekadar agenda akademik. Ia adalah ikhtiar kolektif—upaya sungguh-sungguh untuk menumbuhkan budaya menulis di kalangan dosen, memperkuat riset, dan meneguhkan STIS SAW sebagai kampus yang berdaya saing, berakar nilai, dan berpijak pada tradisi ilmiah yang sehat.

Dalam sambutan pengantarnya, Ketua STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, Dr. Falah Sabirin, MA.Hum., menegaskan bahwa menulis jurnal ilmiah bukan sekadar tuntutan administratif atau kewajiban kenaikan jabatan. Menulis adalah cara dosen menjaga api keilmuannya tetap menyala.

“Ilmu,” kira-kira pesan yang tersirat, “akan redup jika tidak ditulis, dan akan mati jika tidak dibagikan.”

Kata-kata itu terasa sederhana, namun mengandung makna dalam. Di tengah derasnya arus informasi, menulis jurnal ilmiah adalah bentuk tanggung jawab moral seorang akademisi: memastikan bahwa pengetahuan yang lahir dari riset tidak berhenti di meja pribadi, tetapi berlayar ke ruang publik, diuji, dikritisi, dan disempurnakan.

Kemudian, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., MA., memberikan motivasi yang menyejukkan sekaligus meneguhkan. Beliau mengingatkan bahwa tradisi pesantren sejak dahulu adalah tradisi ilmu—tradisi mencatat, menghafal, mengkaji, dan menulis.

“Menulis,” seakan beliau menegaskan, “adalah amal jariyah bagi seorang guru. Ia mungkin tak terdengar hari ini, tetapi kelak akan mengetuk pintu-pintu masa depan.”

Motivasi itu menyentuh lapisan batin para dosen yang hadir. Bahwa jurnal ilmiah bukan sekadar produk akademik, melainkan jejak kebaikan—jejak pengabdian yang melampaui ruang dan waktu.

Masuk pada sesi inti, Dr. Saifuddin Asrori menyampaikan materi dengan gaya yang renyah namun padat makna. Ia tidak hanya membahas teknis Open Journal System (OJS)—tentang alur submit, review, revisi, hingga publikasi—tetapi juga mengajak peserta memahami ruh menulis ilmiah.

Menulis jurnal, menurut beliau, adalah proses panjang yang menuntut kesabaran, konsistensi, dan keberanian. Keberanian untuk salah. Keberanian untuk dikritik. Keberanian untuk terus memperbaiki.

“Jangan menunggu tulisan sempurna,” ungkapnya, “karena kesempurnaan itu lahir dari proses.”

Kalimat itu seperti mengetuk kesadaran banyak peserta. Betapa sering gagasan-gagasan baik terhenti di kepala, atau di folder laptop, karena takut belum layak, belum rapi, belum cukup kuat. Padahal, dunia akademik justru hidup dari dialog, dari perbaikan, dari keberanian untuk memulai.

Workshop ini juga menegaskan pentingnya penguatan riset dosen sebagai fondasi kampus yang unggul. Tanpa riset, pengajaran akan kering. Tanpa publikasi, riset akan sunyi. Dan tanpa sistem jurnal yang dikelola dengan baik, karya ilmiah akan kesulitan menemukan jalannya ke pembaca yang lebih luas.

Di sinilah OJS hadir bukan sekadar sebagai platform digital, tetapi sebagai jembatan—menghubungkan gagasan dosen STIS SAW dengan percakapan akademik nasional dan global.

Suasana aula terasa hidup. Diskusi mengalir. Pertanyaan-pertanyaan muncul bukan dari kebingungan semata, tetapi dari keinginan untuk tumbuh. Ada semangat untuk belajar, untuk mencoba, untuk memperbaiki. Di wajah-wajah para dosen, tampak tekad baru: menjadikan menulis sebagai kebiasaan, bukan beban.

Workshop ini menjadi penanda bahwa STIS Al-Syaikh Abdul Wahid sedang berjalan ke arah yang jelas. Jalan yang tidak hanya mengejar akreditasi atau angka-angka penilaian, tetapi jalan yang memuliakan ilmu, merawat tradisi, dan menyiapkan generasi akademisi yang tangguh secara intelektual dan kokoh secara moral.

Pada akhirnya, workshop ini mengajarkan satu hal penting:
bahwa menulis adalah cara kita berbicara dengan masa depan.
Bahwa jurnal ilmiah adalah pesan yang kita titipkan kepada zaman.
Dan bahwa dosen, melalui riset dan tulisannya, sedang ikut menyusun peradaban—pelan, sunyi, tetapi pasti.

Dari aula STIS SAW pagi itu, kita belajar:
ilmu harus ditulis agar ia hidup,
dan hidup harus diabdikan agar ia bermakna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐦𝐚 𝐈𝐧𝐝𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭𝐢

Oleh : LAR (Sang Pengelana Pendidikan)   Pagi itu, Minggu, 29 Juni 2025, jam menunjukkan pukul 06.30 ketika udara Liabuku masih segar, seperti baru dicuci oleh hujan rintik-rintik yang reda beberapa saat sebelumnya. Kabut tipis menyelimut bukit-bukit kecil di kejauhan, seakan menyambut hangat pagi yang penuh harapan. Di sebuah sudut pondok yang sederhana namun bermakna—Wisma Indrajati, Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku—terjadi pertemuan kecil, namun sarat makna. Kami duduk berhadapan dalam suasana santai, tak ada podium, tak ada protokol. Hanya segelas kopi hangat, semangkuk geroncong, dan tuli-tuli, yang panasnya masih mengepul, beberapa bungkus nasi kuning, dan tawa-tawa ringan yang kadang pecah menembus diam. Saya, Ustad Riyan Ahmad, dan Ustad Roni, dan  menjadi pendengar setia dalam perbincangan yang membuka tabir masa depan, dan menyusul  Ustad Falah Sabirin yang keberadaannya tidak sampai selesai, karena harus segera menghadiri rapat di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid...

𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐓𝐢𝐦𝐮𝐫: 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐛𝐮𝐬 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐀𝐥-𝐀𝐳𝐡𝐚𝐫

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Alumni Permata Angk. 3 Ponpes Saw) Di antara deru ombak Buton dan sunyi malam Baubau yang mendalam, kabar bahagia menyelinap ke relung hati para pencinta ilmu: lima bintang kecil dari timur, santri-santriwati Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, kini bersiap terbang jauh ke negeri para ulama — Mesir, tanah Al-Azhar yang agung. Alhamdulillah , kelima anak negeri ini — Almawaddah dari Baubau, Fegita dari Siomou, Azhar dari Talaga Buton Tengah, Ld. Fahriansyah dari Lasalimu, dan Ilham dari Lombe Buton Tengah — telah membuktikan bahwa mimpi yang disulam dengan doa dan kerja keras mampu mengalahkan ketatnya seleksi nasional. Mereka lolos sebagai penerima beasiswa Kementerian Agama RI tahun 2025 dan diterima di Universitas Al-Azhar Kairo, institusi pendidikan Islam tertua dan termasyhur di dunia. Bukan jalan lapang yang mereka lalui. Sebaliknya, medan itu terjal dan berliku. Seleksi yang diikuti lebih dari 2.800 peserta dari seluruh Indonesia dilaksanakan de...

𝐏𝐎𝐑𝐒𝐀: 𝐒𝐞𝐩𝐚𝐤 𝐁𝐨𝐥𝐚, 𝐃𝐚𝐤𝐰𝐚𝐡, 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐝𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐁𝐮𝐭𝐨𝐧

Foto: Tim Sepakbola Porsa Berlaga Di Lakudo Buton Tengah (Sumber Koleksi Ustadz Junaidin (Abangk)) Oleh: La Rudi (Dosen STKIP Pelnus Buton ) Ada masa ketika dakwah tak selalu hadir lewat podium dan mimbar. Ada masa ketika pesan suci tak hanya bergema lewat kitab dan khutbah. Pada penghujung milenium lalu, di pelosok tanah Buton, suara dakwah justru menggema di tengah lapangan sepak bola berdebu, ketika peluit dibunyikan dan sorak penonton mengalun dalam antusias yang menggetarkan. Di sanalah Porsa —Persatuan Sepakbola Al-Syaikh Abdul Wahid—berdiri bukan sekadar sebagai klub olahraga, tetapi sebagai wajah muda dari sebuah pondok pesantren yang ingin dikenal, diterima, dan dicintai oleh masyarakat. Tahun 1999, adalah era ketika banyak orang belum mengenal betul nama Al-Syaikh Abdul Wahid. Pondok masih muda, fasilitas sederhana, dan lembaga ini berjalan dalam keterbatasan. Namun di balik kesederhanaan itu, ada semangat membara yang tumbuh dalam dada para santri dan para ustaznya: semang...