Pagi datang dengan langkah yang lebih sunyi. Usai malam panjang yang hangat oleh cerita, tawa, dan renungan, waktu kembali menunaikan tugasnya: membawa setiap perjumpaan menuju jeda. Jam menunjukkan 10 pagi, ketika rombongan kecil bersiap mengantar Ustad Saifuddin Asrori kembali ke Jakarta melalui Bandara Betoambari. Langit Baubau tampak cerah, seolah memberi restu pada perjalanan yang akan ditempuh, meski hati masih enggan melepaskan.
Perpisahan selalu memiliki rasa yang ganjil. Ia bukan duka sepenuhnya, namun juga bukan kegembiraan yang utuh. Ada sesuatu yang tertinggal—jejak percakapan, nasihat yang belum sempat dituliskan, dan doa-doa yang berdesakan di dada. Dalam perjalanan menuju bandara, mobil melaju perlahan, seakan memberi waktu bagi setiap kenangan untuk berpamitan.
Turut mengantar dalam rombongan itu Ketua STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, Dr. Falah Sabirin, MA.Hum, Pimpinan Pondok KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., MA, Direktur KMI Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid H. Saleh Laksana, bersama istri Hj. Ratna—yang juga mengemban amanah sebagai Anggota DPRD Kota Baubau periode 2024–2029—serta Ustad Syukur Haniru, dan saya sendiri. Kami bukan sekadar pengantar perjalanan fisik, tetapi saksi sebuah episode silaturahmi yang meninggalkan bekas mendalam dalam ingatan.
Di ruang tunggu Bandara Betoambari, suasana terasa lebih hening. Percakapan menjadi singkat, namun penuh makna. Salaman dilakukan dengan erat, seolah ingin menahan waktu beberapa detik lebih lama. Tatapan mata berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Dalam keheningan itu, terasa jelas bahwa pertemuan beberapa hari ini bukanlah peristiwa biasa—ia adalah penyambung mata rantai pengabdian lintas generasi.
Ustad Saifuddin kembali menyampaikan pesan sederhana namun menghunjam, “Silaturahmi ini jangan berhenti di bandara. Ia harus terus hidup dalam kerja-kerja nyata, dalam menulis, mengajar, mendidik, dan menjaga amanah.” Pesan itu menggema, bukan hanya untuk lembaga, tetapi untuk setiap pribadi yang pernah merasakan didikan pesantren.
Pesawat yang akan membawanya kembali ke Jakarta akhirnya dipanggil. Langkah beliau menuju pintu keberangkatan terasa ringan, namun meninggalkan gema panjang. Kami berdiri sejenak, menyaksikan punggung itu menjauh, sembari menyadari satu hal penting: pengabdian sejati tidak pernah benar-benar berakhir—ia hanya berpindah ruang dan waktu.
Ketika bandara kembali sunyi, kami pun beranjak. Namun pulang kali ini tidak dengan tangan kosong. Kami membawa pulang semangat, ingatan, dan tanggung jawab untuk melanjutkan apa yang telah dirintis. Silaturahmi telah menumbuhkan berkah, perjumpaan telah menyambung cahaya, dan kini tugas kitalah menjaga nyalanya—agar tetap terang di ruang kelas, di masjid, di lembar-lembar tulisan, dan di setiap langkah pengabdian.
Karena pada akhirnya, pondok mengajarkan satu kebenaran yang tak lekang oleh waktu: datang dan pergi adalah sunatullah, tetapi nilai dan perjuangan adalah warisan yang harus terus dihidupkan.
Komentar
Posting Komentar