Langsung ke konten utama

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐫𝐤𝐚𝐡: 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤, 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚

 

Oleh: LaR
(Penggiat Literasi)

Liabuku, 26 Desember 2025.
Malam turun perlahan di Pondok Modern Al-Amanah. Udara terasa sejuk, seolah ikut menenangkan hati yang bersiap menyambut perjumpaan istimewa. Jam menunjukkan 19.30, ketika keluarga besar Pondok Modern Al-Amanah—pimpinan, ustadz dan ustadzah, santri dan santriwati—berhimpun dalam satu ruang rasa: silaturahmi

Bukan silaturahmi biasa. Malam itu, pondok menerima kehadiran Dr. Saifuddin Asrori, M.Si, seorang pendidik, peneliti, dan pengabdi ilmu, yang kembali menyapa tanah pengabdian setelah puluhan tahun berlalu. Waktu memang berjalan, tetapi kenangan dan nilai tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk dipanggil kembali.

Penyambutan berlangsung hangat, penuh keakraban. Senyum bersahut-sahutan, salaman mengalir tanpa jarak. Seolah pondok ini adalah rumah yang selalu membuka pintu, tak peduli berapa lama seseorang pergi. Di hadapan santri dan santriwati, tampak Pimpinan Pondok Al-Amanah Liabuku, Ustad Faisal Islamy, M.Pd, bersama Hj. Nurmarlina Sabirin, berdiri sebagai orang tua bagi seluruh keluarga besar pondok—menyambut tamu, menenangkan suasana, dan meneguhkan arah.

Dalam sambutannya, Ustad Faisal Islamy menyampaikan pesan yang sederhana namun sarat makna. Suaranya tenang, namun berwibawa—suara yang lahir dari pengalaman panjang mengelola pendidikan dan merawat jiwa-jiwa muda.

“Anak-anakku, simaklah dengan baik apa yang akan disampaikan. Jadikan ini bekal hidup, bukan hanya selama di pondok, tetapi juga setelah kalian lulus dan kembali ke tengah masyarakat.”

 Pesan itu mengalir seperti amanah. Pondok bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat menyimpan bekal hidup—tentang adab, disiplin, kesungguhan, dan cara memaknai ilmu sebagai jalan pengabdian.

Dalam momen silaturahmi yang sarat makna itu, Ustad Saifuddin Asrori kembali dipertemukan dengan wajah-wajah yang telah lama hidup dalam ingatannya: Ustadzah Hj. Ratna, Hj. Nurmarlina Sabirin, Ustad Jamhur Baeda, dan Ustad Faisal Islamy. Pertemuan itu bukan sekadar temu fisik, melainkan perjumpaan batin yang menghidupkan kembali jejak-jejak pengabdian. Salaman yang hangat, senyum yang tulus, dan percakapan singkat seolah membuka lembaran lama—membawanya kembali pada masa pengabdian pertama yang diutus dari Pondok Modern Gontor, saat perintisan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid masih berjalan dengan segala keterbatasan, namun dipenuhi keberanian, ketulusan, dan keyakinan pada masa depan.

Dengan suara yang sedikit bergetar oleh kenangan, beliau berujar, “Kami datang waktu itu bukan membawa apa-apa, selain niat dan kepercayaan. Tapi dari tempat inilah saya belajar, bahwa pengabdian yang ikhlas akan selalu menemukan jalannya sendiri.” Tiga puluh tahun telah berlalu, tetapi ruh perjuangan itu tak pernah pudar. Ia tetap hidup—menyatu dalam silaturahmi malam itu, mengalir dalam tatapan para santri, dan menegaskan satu keyakinan penting: bahwa pesantren tidak dibangun oleh bangunan semata, melainkan oleh kesetiaan pada nilai, kesabaran dalam proses, dan keberanian untuk terus menyalakan cahaya ilmu lintas zaman.

Sabtu, 27 Desember 2025

Pagi datang dengan langkah yang lebih sunyi. Usai malam panjang yang hangat oleh cerita, tawa, dan renungan, waktu kembali menunaikan tugasnya: membawa setiap perjumpaan menuju jeda. Jam menunjukkan 10 pagi, ketika rombongan kecil bersiap mengantar Ustad Saifuddin Asrori kembali ke Jakarta melalui Bandara Betoambari. Langit Baubau tampak cerah, seolah memberi restu pada perjalanan yang akan ditempuh, meski hati masih enggan melepaskan.

Perpisahan selalu memiliki rasa yang ganjil. Ia bukan duka sepenuhnya, namun juga bukan kegembiraan yang utuh. Ada sesuatu yang tertinggal—jejak percakapan, nasihat yang belum sempat dituliskan, dan doa-doa yang berdesakan di dada. Dalam perjalanan menuju bandara, mobil melaju perlahan, seakan memberi waktu bagi setiap kenangan untuk berpamitan.

Turut mengantar dalam rombongan itu Ketua STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, Dr. Falah Sabirin, MA.Hum, Pimpinan Pondok KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., MA, Direktur KMI Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid H. Saleh Laksana, bersama istri Hj. Ratna—yang juga mengemban amanah sebagai Anggota DPRD Kota Baubau periode 2024–2029—serta Ustad Syukur Haniru, dan saya sendiri. Kami bukan sekadar pengantar perjalanan fisik, tetapi saksi sebuah episode silaturahmi yang meninggalkan bekas mendalam dalam ingatan.

Di ruang tunggu Bandara Betoambari, suasana terasa lebih hening. Percakapan menjadi singkat, namun penuh makna. Salaman dilakukan dengan erat, seolah ingin menahan waktu beberapa detik lebih lama. Tatapan mata berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Dalam keheningan itu, terasa jelas bahwa pertemuan beberapa hari ini bukanlah peristiwa biasa—ia adalah penyambung mata rantai pengabdian lintas generasi.

Ustad Saifuddin kembali menyampaikan pesan sederhana namun menghunjam, “Silaturahmi ini jangan berhenti di bandara. Ia harus terus hidup dalam kerja-kerja nyata, dalam menulis, mengajar, mendidik, dan menjaga amanah.” Pesan itu menggema, bukan hanya untuk lembaga, tetapi untuk setiap pribadi yang pernah merasakan didikan pesantren.

Pesawat yang akan membawanya kembali ke Jakarta akhirnya dipanggil. Langkah beliau menuju pintu keberangkatan terasa ringan, namun meninggalkan gema panjang. Kami berdiri sejenak, menyaksikan punggung itu menjauh, sembari menyadari satu hal penting: pengabdian sejati tidak pernah benar-benar berakhir—ia hanya berpindah ruang dan waktu.

Ketika bandara kembali sunyi, kami pun beranjak. Namun pulang kali ini tidak dengan tangan kosong. Kami membawa pulang semangat, ingatan, dan tanggung jawab untuk melanjutkan apa yang telah dirintis. Silaturahmi telah menumbuhkan berkah, perjumpaan telah menyambung cahaya, dan kini tugas kitalah menjaga nyalanya—agar tetap terang di ruang kelas, di masjid, di lembar-lembar tulisan, dan di setiap langkah pengabdian.

Karena pada akhirnya, pondok mengajarkan satu kebenaran yang tak lekang oleh waktu: datang dan pergi adalah sunatullah, tetapi nilai dan perjuangan adalah warisan yang harus terus dihidupkan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐦𝐚 𝐈𝐧𝐝𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭𝐢

Oleh : LAR (Sang Pengelana Pendidikan)   Pagi itu, Minggu, 29 Juni 2025, jam menunjukkan pukul 06.30 ketika udara Liabuku masih segar, seperti baru dicuci oleh hujan rintik-rintik yang reda beberapa saat sebelumnya. Kabut tipis menyelimut bukit-bukit kecil di kejauhan, seakan menyambut hangat pagi yang penuh harapan. Di sebuah sudut pondok yang sederhana namun bermakna—Wisma Indrajati, Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku—terjadi pertemuan kecil, namun sarat makna. Kami duduk berhadapan dalam suasana santai, tak ada podium, tak ada protokol. Hanya segelas kopi hangat, semangkuk geroncong, dan tuli-tuli, yang panasnya masih mengepul, beberapa bungkus nasi kuning, dan tawa-tawa ringan yang kadang pecah menembus diam. Saya, Ustad Riyan Ahmad, dan Ustad Roni, dan  menjadi pendengar setia dalam perbincangan yang membuka tabir masa depan, dan menyusul  Ustad Falah Sabirin yang keberadaannya tidak sampai selesai, karena harus segera menghadiri rapat di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid...

𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐓𝐢𝐦𝐮𝐫: 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐛𝐮𝐬 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐀𝐥-𝐀𝐳𝐡𝐚𝐫

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Alumni Permata Angk. 3 Ponpes Saw) Di antara deru ombak Buton dan sunyi malam Baubau yang mendalam, kabar bahagia menyelinap ke relung hati para pencinta ilmu: lima bintang kecil dari timur, santri-santriwati Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, kini bersiap terbang jauh ke negeri para ulama — Mesir, tanah Al-Azhar yang agung. Alhamdulillah , kelima anak negeri ini — Almawaddah dari Baubau, Fegita dari Siomou, Azhar dari Talaga Buton Tengah, Ld. Fahriansyah dari Lasalimu, dan Ilham dari Lombe Buton Tengah — telah membuktikan bahwa mimpi yang disulam dengan doa dan kerja keras mampu mengalahkan ketatnya seleksi nasional. Mereka lolos sebagai penerima beasiswa Kementerian Agama RI tahun 2025 dan diterima di Universitas Al-Azhar Kairo, institusi pendidikan Islam tertua dan termasyhur di dunia. Bukan jalan lapang yang mereka lalui. Sebaliknya, medan itu terjal dan berliku. Seleksi yang diikuti lebih dari 2.800 peserta dari seluruh Indonesia dilaksanakan de...

𝐏𝐎𝐑𝐒𝐀: 𝐒𝐞𝐩𝐚𝐤 𝐁𝐨𝐥𝐚, 𝐃𝐚𝐤𝐰𝐚𝐡, 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐝𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐁𝐮𝐭𝐨𝐧

Foto: Tim Sepakbola Porsa Berlaga Di Lakudo Buton Tengah (Sumber Koleksi Ustadz Junaidin (Abangk)) Oleh: La Rudi (Dosen STKIP Pelnus Buton ) Ada masa ketika dakwah tak selalu hadir lewat podium dan mimbar. Ada masa ketika pesan suci tak hanya bergema lewat kitab dan khutbah. Pada penghujung milenium lalu, di pelosok tanah Buton, suara dakwah justru menggema di tengah lapangan sepak bola berdebu, ketika peluit dibunyikan dan sorak penonton mengalun dalam antusias yang menggetarkan. Di sanalah Porsa —Persatuan Sepakbola Al-Syaikh Abdul Wahid—berdiri bukan sekadar sebagai klub olahraga, tetapi sebagai wajah muda dari sebuah pondok pesantren yang ingin dikenal, diterima, dan dicintai oleh masyarakat. Tahun 1999, adalah era ketika banyak orang belum mengenal betul nama Al-Syaikh Abdul Wahid. Pondok masih muda, fasilitas sederhana, dan lembaga ini berjalan dalam keterbatasan. Namun di balik kesederhanaan itu, ada semangat membara yang tumbuh dalam dada para santri dan para ustaznya: semang...