Langsung ke konten utama

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR
(Penggiat Literasi
)

Kamis, 25 Desember 2025. Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43. Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu.

Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda. Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna.

Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30, lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, melainkan membawa kesungguhan dan amanah kenangan.

Dari kejauhan tampak sosoknya: kaos biru, celana abu-abu, sederhana, bersahaja, tanpa jarak. Ustad Saifuddin Asrori, kembali menjejakkan kaki di Baubau setelah sekian lama. Kota ini pernah menjadi rumah pengabdian beliau pada 1996–1997, saat menjalani tugas sebagai guru pengabdian Gontor di Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Hampir tiga puluh tahun berlalu. Waktu memang dapat menjauhkan tubuh, tetapi tak pernah benar-benar menghapus rasa.

Kami menjemput beliau dengan mobil Fortuner, dikemudikan oleh Ustad Falah, Ketua STIS SAW. Bersama kami turut Ustad Ahlan dan Ustad Iwan. Mobil melaju perlahan, seolah memberi ruang bagi ingatan untuk menyusul satu per satu.

“Masih ingat jalan ini, Ustad? Betoambari,” tanya saya, memecah hening.

Beliau tersenyum. “Masih ingat. Tiga puluh tahun lalu,” jawabnya pelan, namun mantap. Jawaban itu sederhana, tetapi mengandung gema panjang tentang kesetiaan ingatan. Jalanan boleh berubah, bangunan boleh bertambah, tetapi jejak pengabdian tak pernah pudar dari hati seorang guru.

Kami melintas menuju arah Pantai Nirwana, lalu singgah sebentar di kediaman Ustad Jamhur Baeda, Direktur KMI Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid. Di sepanjang perjalanan, Ustad Falah bercerita tentang wajah Baubau hari ini—tentang perubahan kota, geliat pendidikan, dan dinamika masyarakat. Sesekali, nama-nama lama disebut: angkatan perdana, pasca perdana, permata. Nama-nama itu bukan sekadar sebutan angkatan, melainkan penanda fase perjuangan sebuah pondok yang tumbuh dari keterbatasan menuju harapan.

Mobil kemudian bergerak menuju Pantai Kotamara. Kami singgah sebentar untuk sarapan pagi. Di meja makan sederhana itu, nostalgia terasa lebih hangat. Bukan hanya soal makanan, tetapi tentang kisah-kisah lama yang perlahan muncul kembali ke permukaan.

“Awal pengabdian itu penuh tantangan,” ujar beliau. “Banyak ujian. Tapi justru di situ saya belajar mengembangkan diri. Taat aturan, disiplin, dan belajar memahami karakter santri.”

Kalimat itu seperti cermin. Bahwa menjadi guru bukan soal memberi tahu, melainkan soal menempa diri. Pondok bukan hanya tempat mengajar, tetapi ruang untuk dilatih oleh keadaan, oleh keterbatasan, oleh tanggung jawab.



Siang bergulir ke sore. Malam pun datang dengan tenang. Pukul 21.00, silaturahmi berlanjut dan terasa semakin dalam. Pertemuan berlangsung di Masjid Al-Amin, lalu dilanjutkan dengan ngopi-ngopi sederhana di depan kediaman Ustad Ridwan. Di sanalah rasa benar-benar menemukan rumahnya.

V

Cerita-cerita lama mengalir tanpa paksaan. Ada kisah lucu yang membuat tawa pecah tanpa rencana. Ada cerita kocak yang mengingatkan kami bahwa guru pun manusia biasa. Ada pula kisah sedih—tentang beratnya proses mendidik, tentang kegelisahan menghadapi santri, tentang rasa lelah yang kadang harus disimpan sendiri.

Namun semua itu menjadi jamuan hangat. Tawa dan haru duduk berdampingan. Keseriusan berpadu dengan canda. Di sanalah saya merasakan bahwa silaturahmi bukan hanya menyambung tangan, tetapi menyambung rasa dan pikiran.

Pembicaraan bergerak dari dunia pendidikan ke peta gerakan sosial, dari ruang kelas ke realitas masyarakat. Kami berbincang tentang bagaimana seorang pendidik seharusnya hadir—bukan hanya di depan papan tulis, tetapi juga di tengah umat. Tentang pentingnya alumni menjaga jejaring, menjaga nilai, dan terus memberi manfaat, sekecil apa pun perannya.

“Pondok ini,” kata beliau suatu ketika, “telah mengajarkan saya arti sebuah perjuangan. Bukan perjuangan untuk dikenal, tapi perjuangan untuk bertahan dalam kebaikan.”

Kalimat itu seperti penutup yang sempurna. Ia tidak menggurui, tidak meninggi, tetapi menancap perlahan di hati.

Malam semakin larut. Namun tak seorang pun merasa ingin segera pulang. Sebab pertemuan seperti ini jarang terjadi. Ia bukan hanya temu raga, tetapi temu jiwa. Di antara gelas saraba, angin malam, dan cahaya lampu sederhana, kami belajar satu hal penting: bahwa silaturahmi adalah energi sunyi yang menjaga peradaban tetap bernapas.

Dan ketika akhirnya kami berpisah, saya sadar—hari ini bukan sekadar tanggal di kalender. Ia adalah penanda bahwa rasa, pemikiran, dan pengabdian masih punya rumah yang sama: hati yang mau terbuka, dan langkah yang mau menyambung.

Silaturahmi ini pun menjadi pengingat:
bahwa guru boleh pergi jauh,
waktu boleh berlalu panjang,
tetapi nilai—
akan selalu pulang,
pada mereka yang setia merawatnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐫𝐚𝐦𝐮 𝐊𝐞𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧, 𝐌𝐞𝐧𝐚𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐡: 𝐒𝐲𝐮𝐤𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐫𝐞𝐭𝐚𝐫𝐢𝐚𝐭 𝐈𝐊𝐏𝐒

Bingkai Persamaan Gerak Alumni ( The Secret Of Movement Oleh : LaR Selasa, 25 Agustus 2026, pukul 20.00 WITA.  Malam terasa dingin. Hembusan angin bergerak perlahan di antara bangunan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Lampu-lampu terang menerangi wajah-wajah yang datang dengan senyum dan optimisme. Di tempat sederhana itu, keluarga besar IKPS berkumpul dalam sebuah momentum yang mungkin tampak kecil, tetapi sesungguhnya menyimpan harapan besar: syukuran Sekretariat IKPS. Malam itu bukan sekadar tentang sebuah ruangan yang kini memiliki nama. Ia adalah simbol bahwa alumni sedang belajar kembali untuk menemukan formula kebersamaan—bagaimana menyatukan gagasan, merawat komunikasi, dan terus menata langkah agar IKPS semakin bermanfaat. Di tengah suasana yang hangat itu, para alumni duduk bersama. Ada yang telah lama meninggalkan bangku pondok, ada yang masih aktif mendampingi kegiatan, dan ada pula yang datang membawa semangat baru. Wajah boleh berubah dimakan usia, tetapi rasa p...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐛𝐝𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐁𝐚𝐫𝐢𝐬𝐚𝐧, 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐢𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐆𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢

Oleh: LaR Liabuku, Minggu, 2 Agustus 2026.  Pagi itu matahari bersinar terang di bumi Liabuku. Di lapangan Pondok Pesantren Modern Al-Amanah, barisan santri dan santriwati berdiri rapi. Mereka datang dari berbagai daerah, membawa bahasa, kebiasaan, dan cerita keluarga masing-masing. Namun di tempat ini, mereka dipertemukan oleh satu cita-cita : menuntut ilmu, membentuk akhlak, dan mempersiapkan diri menjadi generasi masa depan. Momen Khutbatul Arsy—pekan perkenalan santri dan santriwati baru— bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah pintu pertama menuju kehidupan pesantren. Di sinilah anak-anak belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang diketahui, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bersikap, berjalan dalam aturan, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Di tengah barisan itu tampak para pengabdi. Mereka berdiri dengan penuh perhatian, memeriksa kerapian konsulat santri dan santriwati dari berbagai daerah. Tidak sekadar melihat barisan...