(Penggiat Literasi)
Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda. Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna.
Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30, lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, melainkan membawa kesungguhan dan amanah kenangan.
Dari kejauhan tampak sosoknya: kaos biru, celana abu-abu, sederhana, bersahaja, tanpa jarak. Ustad Saifuddin Asrori, kembali menjejakkan kaki di Baubau setelah sekian lama. Kota ini pernah menjadi rumah pengabdian beliau pada 1996–1997, saat menjalani tugas sebagai guru pengabdian Gontor di Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Hampir tiga puluh tahun berlalu. Waktu memang dapat menjauhkan tubuh, tetapi tak pernah benar-benar menghapus rasa.
Kami menjemput beliau dengan mobil Fortuner, dikemudikan oleh Ustad Falah, Ketua STIS SAW. Bersama kami turut Ustad Ahlan dan Ustad Iwan. Mobil melaju perlahan, seolah memberi ruang bagi ingatan untuk menyusul satu per satu.
“Masih ingat jalan ini, Ustad? Betoambari,” tanya saya, memecah hening.
Beliau tersenyum. “Masih ingat. Tiga puluh tahun lalu,” jawabnya pelan, namun mantap. Jawaban itu sederhana, tetapi mengandung gema panjang tentang kesetiaan ingatan. Jalanan boleh berubah, bangunan boleh bertambah, tetapi jejak pengabdian tak pernah pudar dari hati seorang guru.
Kami melintas menuju arah Pantai Nirwana, lalu singgah sebentar di kediaman Ustad Jamhur Baeda, Direktur KMI Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid. Di sepanjang perjalanan, Ustad Falah bercerita tentang wajah Baubau hari ini—tentang perubahan kota, geliat pendidikan, dan dinamika masyarakat. Sesekali, nama-nama lama disebut: angkatan perdana, pasca perdana, permata. Nama-nama itu bukan sekadar sebutan angkatan, melainkan penanda fase perjuangan sebuah pondok yang tumbuh dari keterbatasan menuju harapan.
Mobil kemudian bergerak menuju Pantai Kotamara. Kami singgah sebentar untuk sarapan pagi. Di meja makan sederhana itu, nostalgia terasa lebih hangat. Bukan hanya soal makanan, tetapi tentang kisah-kisah lama yang perlahan muncul kembali ke permukaan.
“Awal pengabdian itu penuh tantangan,” ujar beliau. “Banyak ujian. Tapi justru di situ saya belajar mengembangkan diri. Taat aturan, disiplin, dan belajar memahami karakter santri.”
Kalimat itu seperti cermin. Bahwa menjadi guru bukan soal memberi tahu, melainkan soal menempa diri. Pondok bukan hanya tempat mengajar, tetapi ruang untuk dilatih oleh keadaan, oleh keterbatasan, oleh tanggung jawab.
Siang bergulir ke sore. Malam pun datang dengan tenang. Pukul 21.00, silaturahmi berlanjut dan terasa semakin dalam. Pertemuan berlangsung di Masjid Al-Amin, lalu dilanjutkan dengan ngopi-ngopi sederhana di depan kediaman Ustad Ridwan. Di sanalah rasa benar-benar menemukan rumahnya.
Cerita-cerita lama mengalir tanpa paksaan. Ada kisah lucu yang membuat tawa pecah tanpa rencana. Ada cerita kocak yang mengingatkan kami bahwa guru pun manusia biasa. Ada pula kisah sedih—tentang beratnya proses mendidik, tentang kegelisahan menghadapi santri, tentang rasa lelah yang kadang harus disimpan sendiri.
Namun semua itu menjadi jamuan hangat. Tawa dan haru duduk berdampingan. Keseriusan berpadu dengan canda. Di sanalah saya merasakan bahwa silaturahmi bukan hanya menyambung tangan, tetapi menyambung rasa dan pikiran.
Pembicaraan bergerak dari dunia pendidikan ke peta gerakan sosial, dari ruang kelas ke realitas masyarakat. Kami berbincang tentang bagaimana seorang pendidik seharusnya hadir—bukan hanya di depan papan tulis, tetapi juga di tengah umat. Tentang pentingnya alumni menjaga jejaring, menjaga nilai, dan terus memberi manfaat, sekecil apa pun perannya.
“Pondok ini,” kata beliau suatu ketika, “telah mengajarkan saya arti sebuah perjuangan. Bukan perjuangan untuk dikenal, tapi perjuangan untuk bertahan dalam kebaikan.”
Kalimat itu seperti penutup yang sempurna. Ia tidak menggurui, tidak meninggi, tetapi menancap perlahan di hati.
Malam semakin larut. Namun tak seorang pun merasa ingin segera pulang. Sebab pertemuan seperti ini jarang terjadi. Ia bukan hanya temu raga, tetapi temu jiwa. Di antara gelas saraba, angin malam, dan cahaya lampu sederhana, kami belajar satu hal penting: bahwa silaturahmi adalah energi sunyi yang menjaga peradaban tetap bernapas.
Dan ketika akhirnya kami berpisah, saya sadar—hari ini bukan sekadar tanggal di kalender. Ia adalah penanda bahwa rasa, pemikiran, dan pengabdian masih punya rumah yang sama: hati yang mau terbuka, dan langkah yang mau menyambung.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya










Komentar
Posting Komentar