Simpangan Pasar Karya Nugraha malam itu (Selasa/30/01/2025) tampak biasa saja. Lalu lintas berjalan seperti biasa, pedagang melipat lapak, suara kendaraan bersahut-sahutan dengan teriakan penjual yang ingin menghabiskan dagangan. Namun bagi kami, simpangan itu bukan sekadar pertemuan jalan. Ia menjelma menjadi simpangan waktu, tempat kenangan lama berbelok dan menyapa masa kini.
Di titik itulah kami bertemu kembali—kawan lama, sesama santri Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, sekitar tahun 1995. Waktu telah membawa kami ke jalan hidup yang berbeda, namun satu hal tetap sama: jejak kepesantrenan yang tertanam dalam diri.
Pak Abdullah berdiri dengan senyum yang tenang. Kini ia mengabdi sebagai PNS di Pengadilan Negeri Kota Baubau. Wajahnya memancarkan keteduhan, seperti seseorang yang terbiasa menimbang kata dan perkara, memahami bahwa keadilan bukan sekadar bunyi palu, melainkan keberanian menjaga nurani. Di balik seragam dinasnya, saya masih melihat santri lama itu—yang dulu duduk bersila di lantai pondok, mendengarkan nasihat ustadz tentang kejujuran, amanah, dan tanggung jawab hidup.
Di sampingnya, Pak Hamzah Husein—guru PNS yang mengabdi di SMA Kabaena. Raut wajahnya penuh semangat, seperti seorang pendidik yang tak lelah menanam harap di ladang ilmu. Ia bercerita tentang murid-muridnya, tentang keterbatasan yang tak pernah memadamkan tekad, tentang bagaimana ilmu harus disampaikan dengan hati, bukan sekadar kurikulum. Dalam setiap kalimatnya, terasa jelas bahwa pondok telah mengajarkannya satu hal penting: mengajar adalah ibadah panjang.
Dan saya sendiri—kini menjalani jalan sebagai dosen di STKIP Pelnus Buton. Di ruang kelas, saya sering menemukan bayangan masa lalu: papan tulis sederhana di pondok, suara ustadz yang tegas namun penuh kasih, serta pelajaran hidup yang tak tertulis di buku. Menjadi dosen bukan sekadar profesi, melainkan kelanjutan dari amanah yang dulu ditanamkan di pesantren—menyambung ilmu, merawat akal, dan menjaga adab.
Kami bertiga berdiri di simpangan itu, berbincang tanpa tergesa. Percakapan mengalir seperti sungai kecil yang menemukan kembali hulunya. Kami tertawa mengenang masa-masa menjadi santri: disiplin yang keras, hukuman yang mendidik, dan kebersamaan yang tak tergantikan. Ada cerita tentang bangun sebelum subuh, tentang belajar dalam keterbatasan, tentang mimpi-mimpi sederhana yang kala itu belum tahu akan dibawa ke mana oleh takdir.
Waktu telah mengubah banyak hal. Rambut mulai memutih, tubuh tak lagi sekuat dulu. Namun nilai-nilai pondok tetap utuh, berdiam di relung hati. Kami menyadari bahwa pondok tidak mencetak manusia seragam, melainkan manusia yang siap berjalan di jalannya masing-masing, dengan bekal adab dan keberanian.
Pak Abdullah menegakkan keadilan di ruang sidang. Pak Hamzah menyalakan cahaya ilmu di ruang kelas SMA, di Kabaena. Saya berikhtiar mendidik generasi muda di kampus. Jalan kami berbeda, tetapi arah kami sama: mengabdi.
Di simpangan Pasar Karya Nugraha itu, kami belajar kembali bahwa pertemuan bukanlah kebetulan. Ia adalah cara Tuhan mengingatkan bahwa persahabatan yang dibangun atas dasar nilai akan selalu menemukan jalannya untuk bertemu. Bahwa silaturahmi adalah energi yang memperpanjang umur kebaikan, meneguhkan langkah, dan melapangkan dada.
Ketika malam makin menanjak, kami pun berpisah. Namun perpisahan itu tidak terasa hampa. Ada keyakinan yang tumbuh pelan-pelan: kami tidak pernah benar-benar berpisah, sebab nilai yang sama telah menyatukan kami sejak lama. Pondok telah selesai mendidik kami secara fisik, tetapi pendidikannya terus hidup dalam setiap keputusan yang kami ambil.
Simpangan Pasar Karya Nugraha kembali menjadi simpangan biasa. Kendaraan berlalu, suara bising menelan sunyi. Namun bagi kami, tempat itu telah berubah menjadi penanda sejarah kecil—bahwa persahabatan, ilmu, dan pengabdian akan selalu menemukan cara untuk saling menyapa, kapan pun dan di mana pun.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya


Komentar
Posting Komentar