Bait Peneguh Jiwa
"Hormat tertinggi seorang murid bukanlah sekadar mencium punggung tangan gurunya saat bersua, melainkan pada keteguhannya dalam mengamalkan dan merawat setiap jengkal kesalehan yang telah diajarkan tanpa suara. Para kiai dan ustad adalah arsitek jiwa yang bekerja di balik layar peradaban; peluh mereka adalah tinta emas, dan doa-doa mereka di sepertiga malam adalah perisai gaib yang menjaga langkah kita dari marabahaya kebodohan. Rawatlah sanad rasa hormatmu kepada mereka, karena berkahnya ilmu tidak akan pernah sudi singgah ke dalam dada manusia yang melupakan jasa para pemandu jiwanya.".
![]() |
| Bingkai Senyum Bersama: (Dari Kiri) Ust. Faisal Islamy, Ust. Ja'far Karim, Ust. Ismail, Ust. Falah Sabirin |
By LaR
Barisan Senyum dalam Bingkai Abadi
Waktu selalu memiliki cara tersendiri untuk menguji ingatan manusia, namun ia akan luruh bertekuk lutut di hadapan selembar foto yang merawat ketulusan. Seperti yang terpeta dalam foto dokumentasi ini, ada sebuah potret yang bukan sekadar refleksi warna di atas layar digital, melainkan sebuah menara syukur yang menjulang tinggi ke angkasa jiwa. Di sanalah, dalam kemegahan aula yang sarat akan wibawa ilmu, berdiri tegak para guru—sosok-sosok penyala lentera keimanan yang telah lama memahat karakter diri ini di bawah naungan teduh Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid Kota Baubau.
Melihat mereka berdiri sejajar adalah melihat hamparan samudra kearifan yang tak bertepi. Jika ditarik garis pandang dari sebelah kanan gambar, netra kita akan menyapa Ustad Faisal Islamy (Pimpinan Ponpes Al-Amanah Liabuku) yang bersahaja dengan jas hitamnya, disusul oleh figur Ustad Ja'far Karim (Ketua Badan Wakaf Ponpes Al-Amanah) yang mengenakan jas hitam. Bergeser ke arah kanan, tampak Ustad Ismail (Pimpinan Ponpes Al-Munawwarah Waara) berdiri anggun dengan batik bermotif gelap keemasan yang senada dengan kopiah, hingga berujung pada kehangatan tatap Ustad Falah Sabirin (Ketua STIS SAW) di ujung paling kanan foto.
Mereka bukan sekadar pengajar yang mentransfer baris demi baris teks kitab kuning ke dalam papan tulis. Bagi jiwaku, beliau-beliau adalah pemandu wisata pengetahuan yang sejati; musafir ilmu yang menuntun langkah kaki kami yang sempat gamang, mengarungi labirin ketidaktahuan menuju terangnya ufuk makrifat. Senyum yang tersungging di wajah mereka hari ini adalah muara dari peluh doa yang tak pernah putus diketuk di keheningan malam-malam Baubau.
Pertemuan Sanad di Tanah Gontor
Hari ini, semesta mempertemukan jalur-jalur keberkahan itu di sebuah tempat yang sakral bagi dunia kepesantrenan. Berdiri dengan latar belakang layar megah bertuliskan Sarasehan Nasional Kiai Pesantren Ashriyah dan Muballigh Alumni Gontor 2026, kehadiran para ustad di Pondok Modern Darussalam Gontor melambangkan sebuah dialektika spiritual yang teramat dalam. Gontor, dengan sejarahnya yang sewarna emas dalam mencetak kader umat, hari ini menjadi saksi bisu berkumpulnya para pemegang sanad perjuangan dari timur Indonesia.
Ada kehangatan yang menggetarkan dada saat melihat tanda pengenal panitia menggantung di dada mereka. Mereka hadir di sana bukan hanya sebagai perwakilan geografis, melainkan sebagai bukti hidup bahwa benih-benih kebaikan yang dulu disemaikan oleh para pendiri pondok kini telah tumbuh menjadi pohon-pohon rindang di Kota Baubau, yang buah-buah pengetahuannya telah dinikmati oleh ribuan santri.
Melihat jajaran guru-guruku berada di lingkungan Gontor laksana menyaksikan sebuah sungai jernih yang akhirnya kembali bersua dengan mata air utamanya. Langkah kaki mereka di atas tanah Gontor menegaskan satu hal: bahwa perjuangan mendidik manusia tidak pernah mengenal batas wilayah maupun kata usai.
![]() |
| Bingkai Bersama: Ustad Asrori Muzakki dan Ustad Falah Sabirin |
Terima Kasih, Sang Pemandu Jiwa
Malam ini, seiring dengan tersimpannya foto di dalam galeri teratas, bait-bait rasa terima kasihku mengalir murni tanpa sekat retorika. Kepada Ustad Faisal Islamy, Ustad Ja'far Karim, Ustad Ismail, Ustad Asrori Muzakki dan Ustad Falah Sabirin; tidak ada kata yang cukup luas untuk menampung samudra jasa yang telah kalian bentangkan di dalam hidup kami.
Kalian telah mengajarkan kami bahwa ilmu yang sejati tidak diukur dari seberapa fasih lidah mengeja dalil, melainkan dari seberapa membumi karakter kami saat kembali berkiprah di tengah masyarakat. Terima kasih telah menjadi kompas di kala kami kehilangan arah, dan menjadi benteng moral di kala zaman mulai kehilangan nuraninya.
Perjalanan menuntut ilmu ini memang masih membentang panjang, dipenuhi oleh kelokan ujian yang mungkin saja akan menggoyahkan iman. Namun, dengan mengingat binar ketulusan dan senyum berwibawa para guru di altar Gontor hari ini, kami—para santrimu—menolak untuk menjadi kalah. Kami akan terus melangkah, membawa lentera yang pernah kalian nyalakan, menjaganya agar tetap berpijar terang guna menerangi jalan peradaban di masa depan.



Komentar
Posting Komentar