Langsung ke konten utama

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧: 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐀𝐛𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐚𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡, 𝐌𝐀

La Ode Ibrahim S.Pd.I., M.Pd
Alumni Perdana Ponpes SAW

Di tengah riuh rendah zaman yang kerap memisahkan manusia dalam sekat-sekat individualisme, KH. Muh. Syaharuddin Saleh, MA, hadir sebagai sosok yang menyalakan obor kebersamaan. Dalam keheningan pikiran yang ke dalam, beliau melahirkan gagasan besar tentang silaturahmi sebagai jembatan yang tidak hanya menghubungkan manusia, tetapi juga mengisyaratkan hati dan memperkuat iman. Pemikiran beliau ini tidak hanya menjadi teori yang mengisi kitab, tetapi diterjemahkan dalam langkah-langkah nyata melalui pembentukan Ikatan Keluarga Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid (IKPA) pada tahun 2000.


Di mata beliau, silaturahmi bukan sekedar bertemu atau berbicara. Ia adalah seni menyambung hati, membangun jembatan kasih sayang, dan menciptakan ruang di mana manusia bisa saling mendukung. Gagasan ini disampaikan pada saat saya ditunjuk sebagai ketua pertama IKPA. Ini dasar memahami silaturahmi sebagai pilar utama dalam membangun kebersamaan di tengah dinamika kehidupan para alumni pondok pesantren.

Silaturahmi: Menghidupkan Jiwa di Tengah Kesendirian

KH. Muh. Syaharuddin Saleh, MA, kerap mengatakan bahwa silaturahmi adalah napas kehidupan. Dalam setiap pertemuan, beliau menekankan bahwa kebersamaan adalah penawar bagi kesepian yang sering kali menggerogoti jiwa manusia. Menurut beliau, dunia ini terlalu luas untuk dilalui sendirian, dan perjalanan hidup hanya akan bermakna ketika kita memiliki tangan-tangan yang saling mengasihi.

Dalam ceramah-ceramahnya, beliau sering mengutip ayat Al-Qur'an, “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi” (QS. An-Nisa: 1 ). Ayat ini menjadi landasan filosofis bagi setiap langkah yang beliau ambil dalam membangun kebersamaan di pesantren, yang kemudian diterjemahkan menjadi semangat organisasi IKPA.

Menghidupkan Gagasan dalam Tindakan

Ketika KH. Muh. Syaharuddin Saleh, MA, menunjuk Saya sebagai ketua pertama IKPA, beliau tidak hanya memberikan kepercayaan, tetapi juga menitipkan amanah besar: menjaga nyala api silaturahmi. Saya memaknai ini dengan kesederhanaan dan keteguhan, dan coba memahami pesan ini dengan sangat mendalam.

Dalam satu dekade kepemimpinan saya (2000-2010), saya berusaha tidak hanya menjadi sosok organisatoris, tetapi juga penjaga keharmonisan.  bahwa silaturahmi bukan hanya tentang pertemuan tahunan, tetapi juga tentang menciptakan ruang-ruang kecil di mana setiap anggota merasa dihargai dan diakui. Upaya menghidupkan gagasan KH. Muh. Syaharuddin Saleh, MA, melalui program-program sederhana namun bermakna, seperti pertemuan tahunan di bulan Ramadhan dan kegiatan olahraga seperti futsal dan sepak bola.

Silaturahmi adalah kekuatan yang mampu mengikis ego dan menghapus sekat-sekat perbedaan. Sedangkan kebersamaan adalah tentang bagaimana kita belajar menerima satu sama lain, bukan mencari kesempurnaan di dalamnya.

Kebersamaan: Pilar Utama dalam Meniti Kehidupan

Pemikiran KH. Muh. Syaharuddin Saleh, MA, tentang kebersamaan tidak hanya relevan untuk masa lalu, tetapi juga menjadi pelajaran penting bagi kita hari ini. Beliau melihat kebersamaan sebagai cermin dari ajaran Islam yang menekankan pentingnya ukhuwah. Dalam kebersamaan, manusia tidak hanya saling mendukung, tetapi juga saling menguatkan.
Bagi KH. Muh. Syaharuddin Saleh, MA, kebersamaan bukan berarti menghilangkan perbedaan, tapi belajar untuk hidup berdampingan di dalamnya. Inilah nilai yang beliau tanamkan kepada para santri, yang kemudian menjadi fondasi bagi setiap langkah organisasi IKPA.
Ketika Saya memimpin IKPA, nilai kebersamaan ini diwujudkan dalam berbagai kegiatan yang sederhana namun penuh makna. Lapangan futsal menjadi tempat di mana tawa dan peluh menyatu, mempererat hubungan yang pernah terjalin di pondok pesantren. Sementara itu, pertemuan Ramadhan menjadi momen sakral di mana kenangan lama dihidupkan kembali, mengingatkan setiap alumni pada nilai-nilai yang mereka pelajari di pondok.
Silaturahmi dan Kebersamaan: Warisan yang Abadi

Pemikiran KH. Muh. Syaharuddin Saleh, MA, tentang silaturahmi dan kebersamaan adalah warisan yang tak lekang oleh waktu. Dalam setiap untaian kata dan langkah yang beliau ambil, tergambar dengan jelas visi besar tentang bagaimana manusia seharusnya hidup: saling mendukung, saling menguatkan, dan saling mengingatkan.

Pemikiran ini adalah cahaya yang mendorong setiap tindakan sebagai ketua IKPA dalam satu dekade kepemimpinan, ini juga berhasil mewujudkan gagasan besar dalam langkah-langkah kecil yang membawa dampak besar.

Kesimpulan: Cahaya yang Tak Pernah Padam

Silaturahmi dan kebersamaan, seperti yang diajarkan oleh KH. Muh. Syaharuddin Saleh, MA., adalah cahaya yang tak pernah padam. Ia adalah cahaya yang menuntun manusia keluar dari kegelapan kesendirian, menuju ruang di mana kasih sayang dan persaudaraan menjadi nyata.

Dunia ini mungkin akan terus berubah, namun nilai-nilai yang mereka tanamkan akan selalu relevan. Dalam setiap pertemuan, dalam setiap genggaman tangan, dan dalam setiap senyuman, kami menemukan warisan mereka: bahwa hidup ini akan selalu lebih indah ketika kita berjalan bersama.

Dan kini, apakah kita siap melanjutkan jejak mereka, menjaga api silaturahmi tetap menyala, dan memastikan kebersamaan menjadi pilar utama dalam kehidupan kita?.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

𝐌𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐧: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝 𝐅𝐚𝐢𝐬𝐚𝐥 𝐈𝐬𝐥𝐚𝐦𝐲

Oleh: LaR (Sang Pengelana Pendidikan) Rabu pagi, 2 Juli 2025. Langit Baubau seperti baru saja terbasuh doa, awan bergumpal pelan dan angin bergerak dengan langkah halus. Hari ini, saya menuju Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku, setelah beberapa hari hanya menjadi niat yang tertahan oleh kesibukan. Hari ini, niat itu mengeras menjadi langkah. Saya ingin menyambangi seorang guru, ustad, sahabat, sekaligus pemikir pendidikan yang dalam—Ustad Faisal Islamy, M.Pd., (Pimpinan Pondok Al-Amanah Liabuku) Dari rumah, saya sempat menyimak siaran langsung apel pembukaan tahun ajaran baru KMI Ponpes Al-Amanah melalui Facebook. Ada denyut semangat di wajah-wajah santri baru, dan di tengah kesibukan itu, saya melangkah masuk ke kantor guru. Sepatu saya lepas, adab seorang murid. Di ruang itu, aroma kopi dan kitab bersatu dalam kesunyian yang bermakna. Saya melihat Ustad Muiz dan Ustad Faisal. Kami bersalaman, bukan hanya karena tradisi, tapi karena hormat yang lahir dari hati. Tak lama, saya duduk di...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...