Langsung ke konten utama

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026)

Oleh: LaR

"Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan."

Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran

Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. *Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd.* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ketukan purba—sebuah undangan rahasia untuk masuk ke dalam palung diri yang paling sunyi, tempat di mana peperangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Di luar, sapi dan kambing kurban berdiri dengan takzim, seolah-olah mereka telah paham akan takdir indah yang menanti: menjadi wasilah bagi sebuah ibadah yang agung. Pisau-pisau baja berkilau keperakan di bawah siraman matahari pagi, tali-tali diletakkan rapi, dan pelepah pisang telah dihamparkan di atas tanah. Namun, di balik riuhnya persiapan fisik yang kasat mata itu, komunitas **Gerak Jemari** bersama kawan-kawan sealumni di Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid sedang menyiapkan altar yang lain. Sebuah altar maknawi di dalam dada, di mana pisau-pisau kesadaran sedang diasah tajam untuk melakukan sebuah operasi besar: **menyembelih pikiran negatif, membasuh hati yang kotor, dan memutus urat nadi tindakan yang sia-sia.**

Hari ini, kita tidak sedang terjebak dalam ritus jagal massal yang kering tanpa makna. Kita sedang berdiri di atas tanah tempat kita dahulu menimba ilmu, mengeja bait-bait sastra langit tentang kepatuhan mutlak Nabi Ibrahim dan keikhlasan paripurna Nabi Ismail. Pertemuan hari ini adalah sebuah deklarasi gila dari kawan-kawan Gerak Jemari: bahwa kurban terbaik tahun ini adalah menumbangkan berhala ego kita sendiri di hadapan Sang Khalik.

Dialektika Pisau dan Kepala: Gerak Jemari Menyembelih Pikiran Negatif

Ketika jarum jam merambat naik, jemari kawan-kawan mulai bergerak. Ada getaran halus saat tangan-tangan itu menyentuh leher hewan sembelihan, atau sekadar saat saling menjabat tangan kawan lama dalam dekapan ukhuwah. Jemari—yang selama setahun ini mungkin lelah oleh urusan duniawi—kini bertransformasi menjadi simbol ketajaman. Gerak jemari yang menekan bilah pisau pada urat nadi hewan kurban sejatinya adalah isyarat radikal untuk **menyembelih pikiran-pikiran negatif** yang selama ini bersarang di dalam tempurung kepala kita.

Mari kita jujur pada sunyinya halaman pondok ini. Sepanjang tahun, otak kita kerap menjadi ladang subur bagi tumbuhnya ilalang *suuzon* (buruk sangka). Kita sering kali berprasangka buruk pada skenario yang Tuhan tuliskan, mencurigai niat sesama kawan, dan memelihara ketakutan-ketakutan semu (anxiety) tentang hari esok yang belum tentu kita temui. Kita membiarkan pikiran kita menjadi sinis, melihat dunia dengan kacamata yang keruh oleh kabut keputusasaan.

Di momen Idul Adha 1447 H ini, di bawah naungan kalimat *Bismillahi Allahu Akbar*, ketika Gerak Jemari Kita Kawan bergerak memutus jalan napas hewan kurban, bayangkan kita sedang menekan pisau yang sama pada leher ketakutan-ketakutan kita.

 * Sembelihlah pikiran bahwa rezeki kita akan sempit jika kita berbagi.

 * Sembelihlah prasangka bahwa kawan kita yang lebih sukses menganggap kita rendah.

 * Potonglah urat nadi kesombongan intelektual yang membuat kita merasa lebih tahu dari takdir-Nya.

Biarkan darah ilusi negatif itu mengalir kering di atas tanah Bataraguru, menguap bersama angin, dan menyisakan ruang kepala yang lapang. Kepala yang kini hanya diisi oleh jernihnya *khusnuzon* (baik sangka) dan kemerdekaan berpikir yang bersumber dari iman yang kokoh.

Membasuh Kalbu: Mengiris Penyakit di Hati yang Kotor

Pertemuan kawan-kawan di Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid bukanlah reuni biasa yang diisi dengan tawa basa-basi dan pamer pencapaian lahiriah. Jika pertemuan ini hanya sebatas itu, maka kita telah gagal menghirup udara spiritual pondok ini. Hati adalah ruang singgasana tempat niat bertakhta, namun sayangnya, singgasana itu sering kali berdebu, berlumpur, dan dipenuhi oleh monster-monster tak kasat mata.

Di dalam ruang gelap hati kita, sering kali bersemayam "hewan-hewan ternak" maknawi yang jauh lebih liar dan berbahaya daripada sapi yang meronta di lapangan pondok. Ada domba *hasad* (iri dengki) yang selalu mengembik tak puas melihat rumput keberhasilan tetangga yang tampak lebih hijau. Ada serigala *riya* (pamer) yang selalu melolong di media sosial, meminta makan berupa pujian dan validasi atas setiap kebajikan kecil yang kita lakukan. Dan ada unta *takabur* (sombong) yang mendongakkan lehernya dengan angkuh, merasa diri paling saleh, paling pintar, atau paling berjasa di dalam komunitas.

Ketika gerak jemari kawan-kawan mengalirkan pisau tajam untuk memutus *hulqum* (saluran napas) dan *usus* (saluran makanan) hewan sembelihan, di saat itulah sebuah proklamasi batin harus diikrarkan: kita sedang merobek urat nadi kesombongan kita sendiri.

Membasuh hati yang kotor membutuhkan keberanian yang luar biasa, keberanian yang diwariskan oleh Ibrahim AS ketika ia harus mengayunkan bilah tajam ke leher belahan jiwanya. Ini adalah bentuk penyerahan total (total submission). Ketika ego-ego kecil itu tumbang dan darah penyakit hati itu dialirkan keluar, maka yang tersisa di serambi Al-Syaikh Abdul Wahid pagi ini adalah hati yang selamat (qalbun salim). Sebuah hati yang bening, yang memandang kawan lama dengan tatapan kasih sayang yang utuh, tanpa sekat-sekat persaingan duniawi.

Memutus Rantai Kesia-siaan: Mengubah Gerakan Menjadi Karya Manfaat

Mari kita renungkan dengan mendalam: berapa banyak energi dan waktu yang kita buang demi hal-hal yang tidak memiliki bobot di hadapan keabadian? Manusia di era modern ini—termasuk kita—sering kali terjebak dalam lingkaran setan (tindakan yang sia-sia). Jemari kita lebih sering sibuk menggeser layar gawai tanpa arah (doom scrolling), mengetik komentar penuh sinisme, membagikan informasi yang belum tentu sahih, atau terjebak dalam obrolan-obrolan kosong yang membakar habis pahala kebaikan laksana api melahap kayu kering.

Di momen kurban Idul Adha 1447 H ini, gerak jemari kawan-kawan komunitas harus mengalami metamorfosis spiritual. Jemari yang tadinya lincah memproduksi kesia-siaan, kini dipaksa mencengkeram erat tali kebajikan, memegang pisau perjuangan, dan merajut kembali simpul-simpul silaturahmi yang sempat mengendur.

Ketika tubuh hewan kurban itu akhirnya terkulai di atas tanah, dan napas terakhirnya berembus perlahan menuju langit, sebuah sentakan kesadaran memukul dada kita: *kematian itu begitu dekat, begitu instan, dan begitu mutlak.* Hewan itu telah menuntaskan takdir tertingginya di bumi, menjadi jembatan takwa bagi manusia. Lalu, bagaimana dengan hidup kita? Jika esok pagi giliran napas kita yang dihentikan oleh Malaikat Maut, apakah lembaran sejarah kita hanya akan dipenuhi oleh catatan tindakan sia-sia yang tak meninggalkan bekas bagi sesama?

Oleh karena itu, giat Gerak Jemari di Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid hari ini adalah sebuah momentum untuk memutus mata rantai kesia-siaan tersebut. Kita ubah obrolan reuni yang biasanya berisi pamer kemewahan menjadi diskusi solutif tentang bagaimana alumni pondok bisa menjadi tiang penyangga bagi masyarakat yang sedang kesusahan. Kita ubah jemari yang gemar mengkritik tanpa solusi menjadi jemari yang lincah memotong daging kurban, membungkusnya dengan rapi, lalu mengantarkannya ke pintu-pintu rumah fakir miskin di pelosok Bataraguru dengan penuh takzim. Itulah transformasi sejati: mengubah darah kurban menjadi untaian makna dan karya nyata.

Menjadi Ibrahim di Tanah Bataraguru

Matahari Idul Adha 1447 Hijriah kini telah tegak lurus di atas kepala. Aroma tanah yang basah bercampur dengan kehangatan sisa-sisa pembersihan di halaman pondok. Di sudut-sudut selasar Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, tawa pelan kawan-kawan terdengar renyah, berbaur dengan kepulan asap dari tungku-tungku yang mulai membakar daging kurban. Ada rasa lelah yang menggelayut di pundak, namun ada binar kebahagiaan yang tak mampu disembunyikan dari sepasang mata kawan-kawan Gerak Jemari. Kegembiraan hari ini bukan karena kita berhasil melaksanakan sebuah acara dengan sukses, melainkan karena ada sesuatu yang 'mati' di dalam diri kita, dan ada sesuatu yang baru saja 'dilahirkan kembali'.

Kurban di tahun 1447 H ini bukanlah sekadar agenda tahunan yang dicatat dalam laporan pertanggungjawaban organisasi, lalu menguap begitu saja seiring hilangnya aroma panggangan daging di malam hari. Bagi komunitas Gerak Jemari, hari ini adalah sebuah garis demarkasi yang tegas. Batas yang memisahkan antara diri kita yang lama—yang egois, penuh pikiran negatif, berhati keruh, dan gemar menyia-nyiakan waktu—dengan diri kita yang baru, yang keluar dari gerbang pondok dengan jiwa yang lebih jernih dan tangan yang siap berkarya.

Mari kita tatap kembali jemari tangan kita masing-masing. Jemari inilah yang memegang pisau kurban, dan jemari ini pula yang akan memegang pena sejarah kehidupan kita ke depan. Jangan biarkan jemari yang telah disucikan oleh darah takwa hari ini kembali merajut benang-benang kekeruhan di masa depan.

Di tanah bersejarah Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid ini, mari kita berjanji untuk terus menjadi "Ibrahim" bagi diri kita sendiri: sosok yang memiliki keberanian radikal untuk menyembelih apa pun yang paling kita cintai secara buta di dunia ini, demi merengkuh cinta yang agung dan abadi dari Sang Pemilik Semesta. Ketika senja nanti datang menjemput dan kawan-kawan harus kembali ke rumah masing-masing, biarlah halaman pondok ini menjadi saksi bahwa di tempat ini, sekelompok kawan telah berhasil menumbangkan egonya demi berkibarnya panji-panji keikhlasan.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Selamat menggerakkan jemari, selamat menyembelih belenggu batin, dan selamat merayakan lahirnya jiwa yang murni di dalam dekapan persaudaraan sejati.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐦𝐚 𝐈𝐧𝐝𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭𝐢

Oleh : LAR (Sang Pengelana Pendidikan)   Pagi itu, Minggu, 29 Juni 2025, jam menunjukkan pukul 06.30 ketika udara Liabuku masih segar, seperti baru dicuci oleh hujan rintik-rintik yang reda beberapa saat sebelumnya. Kabut tipis menyelimut bukit-bukit kecil di kejauhan, seakan menyambut hangat pagi yang penuh harapan. Di sebuah sudut pondok yang sederhana namun bermakna—Wisma Indrajati, Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku—terjadi pertemuan kecil, namun sarat makna. Kami duduk berhadapan dalam suasana santai, tak ada podium, tak ada protokol. Hanya segelas kopi hangat, semangkuk geroncong, dan tuli-tuli, yang panasnya masih mengepul, beberapa bungkus nasi kuning, dan tawa-tawa ringan yang kadang pecah menembus diam. Saya, Ustad Riyan Ahmad, dan Ustad Roni, dan  menjadi pendengar setia dalam perbincangan yang membuka tabir masa depan, dan menyusul  Ustad Falah Sabirin yang keberadaannya tidak sampai selesai, karena harus segera menghadiri rapat di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid...

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

𝐌𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐧: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝 𝐅𝐚𝐢𝐬𝐚𝐥 𝐈𝐬𝐥𝐚𝐦𝐲

Oleh: LaR (Sang Pengelana Pendidikan) Rabu pagi, 2 Juli 2025. Langit Baubau seperti baru saja terbasuh doa, awan bergumpal pelan dan angin bergerak dengan langkah halus. Hari ini, saya menuju Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku, setelah beberapa hari hanya menjadi niat yang tertahan oleh kesibukan. Hari ini, niat itu mengeras menjadi langkah. Saya ingin menyambangi seorang guru, ustad, sahabat, sekaligus pemikir pendidikan yang dalam—Ustad Faisal Islamy, M.Pd., (Pimpinan Pondok Al-Amanah Liabuku) Dari rumah, saya sempat menyimak siaran langsung apel pembukaan tahun ajaran baru KMI Ponpes Al-Amanah melalui Facebook. Ada denyut semangat di wajah-wajah santri baru, dan di tengah kesibukan itu, saya melangkah masuk ke kantor guru. Sepatu saya lepas, adab seorang murid. Di ruang itu, aroma kopi dan kitab bersatu dalam kesunyian yang bermakna. Saya melihat Ustad Muiz dan Ustad Faisal. Kami bersalaman, bukan hanya karena tradisi, tapi karena hormat yang lahir dari hati. Tak lama, saya duduk di...