Langsung ke konten utama

šŒšžš§ššš©ššš¤ š‰šžš£ššš¤ š’šžš£ššš«ššš” šˆšŠšš€/šˆšŠšš’ š’š€š–: š’šžš›š®ššš” š–ššš«š¢š¬ššš§ š’š¢š„ššš­š®š«ššš”š¦š¢ š²ššš§š  š“ššš¤ š‹šžš¤ššš§š  šØš„šžš” š–ššš¤š­š®

La Rudi S.Hum., M.Pd
Alumni Permata Angk.3 Ponpes Saw

Bayangkan šš–ššŠšš•ššŠšš– šš‚ššŽšš—šš’šš— šŸ·šŸŗ š™¹ššžšš—šš’ Tahun 2000, di ššššŽšš›ššŠššœ šš›ššžšš–ššŠšš‘ šš”ššŽšššš’ššŠšš–ššŠšš— Pšš’šš–šš™šš’šš—ššŠšš— Pondok Pesantren š™°šš•-šš‚šš¢ššŠšš’šš”šš‘ š™°šš‹ššššžšš• šš†ššŠšš‘šš’šš yang penuh semilir angin ššœššŽšš™šš˜šš’-ššœššŽšš™šš˜šš’. 

Foto: Rumah Kediaman Pimpinan Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid, KH.Muh. Syaharuddin Saleh, MA.,
1995-2005
Sejarah tengah mencatat sebuah peristiwa yang akan meninggalkan jejak panjang dalam bingkai kebersamaan. Dihadapan para santri dan keluarga besar Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lahirlah sebuah organisasi bernama Ikatan Keluarga Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid (IKPA). Dengan doa dan harapan yang dilantunkan, organisasi ini dipimpin oleh saudara La Ode Ibrahim, yang ditunjuk langsung oleh KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. Sejarah baru dimulai, menjahit waktu dengan kebersamaan dan cita-cita luhur. Kala itu, KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA., menyatakan bahwa IKPA bukan sekedar organisasi. Ia adalah rumah bagi jiwa-jiwa yang pernah ditempa di pesantren, tempat di mana nilai-nilai Islam diajarkan, dan persaudaraan dikuatkan. IKPA ruang menjadi tempat mereka yang pernah berjalan di lorong-lorong pesantren itu tidak kehilangan pijakan, bahkan ketika telah melangkah ke kehidupan di luar pondok.
La Ode Ibrahim S.Pd.I., M.Pd: Alumni Perdana Ponpes Saw dan Mantan Ketua IKPA 2020-2010

Jejak La Ode Ibrahim: Satu Dekade yang Bermakna (2000-2010)

Di bawah kepemimpinan La Ode Ibrahim, IKPA menjadi lebih dari sekedar nama organisasi. La Ode Ibrahim membawa nilai-nilai yang diterimanya sebagai santri menjadi fondasi utama dalam menjalankan organisasi ini. Ketokohan beliau tercermin dari keteguhan dan dedikasinya dalam mempererat hubungan keluarga besar pesantren. Sejak awal, ia tidak hanya sekedar pemimpin, tetapi juga penjaga keharmonisan, memastikan bahwa semangat silaturahmi terus berkobar di hati setiap anggota.

Silaturahmi Tahunan: Sebuah Tradisi Tak Tergantikan

Setiap bulan Ramadhan, IKPA mengadakan pertemuan akbar tahunan. Momen ini bukan sekadar agenda formal, namun juga menjadi saat di mana kenangan lama dihidupkan kembali. Para alumni—yang kini menyandang beragam gelar dan profesi—kembali berkumpul dengan kerinduan mendalam, berbagi cerita tentang masa lalu di pondok dan tantangan hidup setelahnya. Dalam suasana yang penuh kehangatan ini, semangat silaturahmi menjadi nyata.

Kegiatan Olahraga: Membina Kebugaran, Merawat Solidaritas

Di masa kepemimpinan La Ode Ibrahim, kegiatan olahraga seperti sepak bola dan futsal menjadi salah satu cara untuk merawat persaudaraan. Melalui aktivitas ini, IKPA tidak hanya memfasilitasi para anggotanya untuk menjaga kebugaran fisik, tetapi juga menciptakan ruang interaksi yang santai namun tetap bermakna. Lapangan menjadi saksi dari tawa, kerja sama, dan semangat kompetitif yang sehat.

Membangun Landasan Organisasi: Dasar yang Mengukuhkan Masa Depan

Salah satu pencapaian besar di masa kepemimpinan La Ode Ibrahim adalah perumusan anggaran dasar dan rumah tangga (AD/RT) organisasi. Dengan pedoman ini, IKPA memiliki arah yang jelas dalam menjalankan setiap kegiatannya. KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA., selaku pimpinan pondok, juga memberikan panduan agar setiap aktivitas organisasi tetap berlandaskan nilai-nilai Islam. AD/RT ini menjadi pijakan yang kokoh, menjadikan IKPA/IKPS sebagai organisasi yang terorganisasi dengan baik, tanpa kehilangan sentuhan spiritual yang menjadi akar dari keberadaannya.

Kilau IKPA/IKPS: Memaknai Ulang Kebersamaan

IKPA, yang kelak berganti nama menjadi IKPS SAW, bukanlah organisasi yang semata-mata berdiri untuk menjaga koneksi di antara alumninya. Ia adalah bentangan tali ukhuwah yang menjangkau lintas generasi. Singkatnya, organisasi ini menjadi refleksi dari bagaimana pondok pesantren mampu membangun ikatan umat manusia yang kuat, meskipun mereka tersebar ke berbagai penjuru.

Semangat yang dibawa oleh La Ode Ibrahim di dekade awal itu mengilhami perjalanan panjang IKPS hingga kini. Jiwa kebersamaan yang ia tanamkan, bersama visi luhur dari KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA., telah menjadikan IKPA lebih dari sekedar nama—ia adalah simbol kebersamaan yang diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Kesimpulan: IKPS SAW sebagai Lentera Peradaban

Jejak La Ode Ibrahim dan cikal bakal IKPA tidak akan pernah pudar. Dalam waktu sepuluh tahun penuh tantangan, IKPA mampu bertahan dan berkembang, menjadi simbol peradaban kecil yang mengedepankan ukhuwah. Dalam ruang-ruang organisasi yang ia pimpin, kita menemukan nilai-nilai yang melampaui sekadar silaturahmi: kebersamaan yang berpadu dengan cita-cita luhur membangun generasi beriman dan bertakwa.

Sejarah IKPA/IKPS SAW adalah kisah tentang sebuah mimpi yang tumbuh dari tanah Buton, disirami dengan nilai-nilai Islam, dan kini menjadi mata air yang terus menghidupkan semangat kebersamaan di antara para alumni. Organisasi ini mengajarkan kita semua bahwa kebersamaan bukan hanya soal kehadiran fisik, tetapi tentang hati yang selalu terpaut—meskipun waktu dan jarak berpisah. IKPS SAW adalah bukti bahwa silaturahmi, jika dihidupkan dengan ikhlas, akan selalu menjadi warisan abadi yang mencapai masa depan. šš‚š™°š™»š™°š™¼ š™æššš™¾š™¶ššš™“šš‚šš‚! 

Komentar