Langsung ke konten utama

𝐇. 𝐌𝐮𝐡𝐚𝐦𝐦𝐚𝐝 𝐒𝐚𝐛𝐢𝐫𝐢𝐧: 𝐏𝐨𝐭𝐫𝐞𝐭 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐀𝐥-𝐐𝐮𝐫'𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐚𝐥𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐊𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧


La Rudi S.Hum., M.Pd
Alumni Permata Angk. 3 Ponpes Saw

Di bawah langit biru Kota Bau-Bau, di tengah kesibukan seorang pedagang, ada sosok yang dikenal dengan cinta mendalamnya terhadap Al-Qur'an: H. Muhammad Sabirin. Bukan sekadar cinta yang diucapkan, namun cinta yang ditanamkan dalam setiap helaan napas dan derap langkah. Sosok ini menjadi teladan, bahwa menjadikan Al-Qur'an sebagai cahaya hidup bukanlah sekadar rutinitas, melainkan jalan panjang menuju ridha Ilahi.

Bagi H. Muhammad Sabirin, membaca Al-Qur'an adalah pertemuan intim dengan Tuhan, bukan kewajiban yang memberatkan, melainkan kebutuhan jiwa yang menghidupkan. Kebiasaannya membaca Al-Qur'an setiap hari menjadi napas kehidupan, lentera yang berakhirnya jalan perjuangannya, termasuk dalam membangun Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid yang kini menjadi simbol kebangkitan pendidikan Islam di Kota Bau-Bau.
Cinta yang Hidup dalam Ayat-Ayat Suci
Setiap pagi, sebelum mentari mengusik ujung-ujung daun dengan cahayanya, H. Sabirin sudah duduk bersila, Al-Qur'an terbuka di pangkuannya. Bibirnya melantunkan ayat-ayat suci dengan kelembutan yang hanya bisa dihadirkan oleh hati yang benar-benar mencintai. Setiap huruf ia lafalkan penuh khidmat, seolah-olah dunia dan segala hiruk-pikuknya lenyap di bawah rintik-rintik rahmat yang jatuh dari langit.
Kebiasaan membaca Al-Qur'an setiap hari bukan sekadar aktivitas bagi beliau, tetapi wujud dari keyakinannya bahwa hidup harus berlandaskan wahyu Allah. Ayat-ayat yang beliau baca bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk direnungkan, dipahami, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia yang sering melalaikan manusia dari Sang Pencipta, beliau menjadi oase keimanan yang mengingatkan bahwa Al-Qur'an adalah pegangan abadi.
Sumber Kekuatan untuk Berjuang
Al-Qur'an bukan hanya kitab suci bagi H. Sabirin, tetapi juga pelita yang menuntunnya melewati lika-liku kehidupan. Ketika beliau memulai perjuangan membangun Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid pada akhir tahun 1980-an, banyak rintangan yang harus ia hadapi. Dari keterbatasan dana, hingga pandangan skeptis sebagian masyarakat, semua ia dihadapkan dengan ketenangan seorang mukmin sejati.
Dari mana ketenangan itu berasal? Jawabannya ada pada lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang tak pernah lepas dari intimidasi. Dalam setiap kesulitan, ia menemukan jawaban pada kalam Ilahi. Firman Allah dalam surat Ash-Sharh yang berbunyi “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Ash-Sharh: 6) menjadi penyejuk hati ketika ia merasa lelah.
H. Sabirin sering berkata, “Jika kita menjadikan Al-Qur'an sebagai teman, maka tiada ketakutan yang dapat melumpuhkan kita. Sebab, Allah selalu bersama orang-orang yang menjadikan firman-Nya sebagai pegangan hidup.” Kata-katanya bukan hanya nasihat, tetapi janji yang telah ia buktikan dalam setiap jejak perjuangannya.
Mengajarkan Cinta Al-Qur'an kepada Generasi Muda
Cinta H. Sabirin terhadap Al-Qur'an tidak hanya ia buktikan dalam kehidupannya sendiri, tetapi juga ia wariskan kepada generasi muda. Salah satu alasan utama didirikannya Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid adalah untuk mencetak generasi muslim yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki hubungan yang mendalam dengan Al-Qur'an.
Di pondok pesantren itu, para santri mengajarkan bahwa membaca Al-Qur'an lebih dari sekedar ritual harian. Mereka diajak untuk menyelami makna di balik setiap ayat, untuk memahami pesan-pesan yang tersirat, dan menjadikannya pedoman dalam menghadapi dinamika kehidupan. Filosofi ini ia wariskan dari dirinya sendiri, sosok yang telah membuktikan bahwa Al-Qur'an adalah sahabat terbaik dalam setiap perjuangan.
H. Sabirin percaya bahwa Al-Qur'an adalah cahaya yang akan membimbing manusia dalam kegelapannya zaman. sama seperti dirinya menemukan jawaban dalam Al-Qur'an, ia berharap generasi selanjutnya juga akan menemukan arah kehidupan mereka di dalamnya.
Jejak Spiritualitas yang Abadi
Apa yang dilakukan H. Sabirin dalam kehidupannya menunjukkan bahwa cinta terhadap Al-Qur'an tidak membutuhkan panggung besar. Cinta itu terpancar dalam tindakan sederhana, seperti meluangkan waktu untuk membaca, memahami, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dari gambarannya, kita belajar bahwa Al-Qur'an bukan sekedar kitab yang disimpan di rak, tetapi harus menjadi pedoman yang menyentuh setiap aspek kehidupan.
Pengaruh kecintaannya terhadap Al-Qur'an begitu terasa. Bukan hanya geografi yang terinspirasi, tetapi juga masyarakat di sekitarnya. Dalam berbagai kesempatan, H. Sabirin sering mengajak orang-orang untuk tidak pernah meninggalkan Al-Qur'an, karena ia percaya bahwa sejauh apapun langkah manusia dari Tuhannya, Al-Qur'an akan selalu menjadi jembatan untuk kembali.
Simfoni Kehidupan yang Harmoni
Kehidupan H. Sabirin adalah contoh dari harmoni yang indah antara dunia dan akhirat. Sebagai seorang pedagang, ia tidak pernah melalaikan kewajibannya sebagai hamba Allah. Sebagai seorang ayah dan pemimpin masyarakat, ia menempatkan Al-Qur'an sebagai prioritas. Di tengah kesibukannya, ia selalu meluangkan waktu untuk bersimpuh di hadapan Al-Qur'an, memuaskan hati dan pikiran kepada Allah.
Ia adalah bukti bahwa mencintai Al-Qur'an tidak berarti meninggalkan dunia, tetapi menjadikan dunia sebagai sarana untuk mendekat kepada-Nya. Dengan melibatkan Al-Qur'an dalam setiap keputusan yang diambil, H. Sabirin mampu menjalani hidup yang penuh berkah, meskipun diwarnai oleh berbagai tantangan.
Menghidupkan Al-Qur'an dalam Kehidupan Kita
Dari kisah H. Sabirin, kita diajak untuk merefleksikan bagaimana peran Al-Qur'an dalam kehidupan kita sehari-hari. Apakah kita sudah menjadikannya sebagai teman? Ataukah ia hanya menjadi penghuni rak yang terlupakan?
H. Sabirin mengajarkan bahwa cinta terhadap Al-Qur'an bukanlah sesuatu yang instan. Ia lahir dari kebiasaan yang konsisten, dari tekad untuk menjadikannya prioritas dalam hidup. Melalui kebiasaan membaca Al-Qur'an setiap hari, ia menunjukkan bahwa cinta itu harus dipupuk dan dijaga, agar terus hidup dan memberi manfaat.
Penutup: Warisan Cinta yang Tak Lekang oleh Waktu
Kini, H. Muhammad Sabirin mungkin telah tiada, tetapi jejak cinta dan pengabdiannya terhadap Al-Qur'an akan selalu hidup dalam kenangan dan hati orang-orang yang pernah mengenalnya. Kisah hidupnya menjadi inspirasi abadi bagi generasi muslim, bahwa dalam segala keterbatasan, cinta terhadap Al-Qur'an mampu membuka jalan menuju kemuliaan.
Semoga jejak H. Sabirin menginspirasi kita untuk lebih mendekat kepada Al-Qur'an, menjadikannya sebagai sahabat setia dalam perjalanan hidup. Sebab, dalam setiap huruf yang dilafalkan, terdapat keberkahan yang tiada bertepi, dan dalam setiap ayat yang direnungkan, terdapat jalan menuju cahaya Ilahi. SALAM PROGRESS!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...