Langsung ke konten utama

(2) 𝐁𝐞𝐫𝐩𝐢𝐤𝐢𝐫, 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚, 𝐝𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐫𝐭𝐢𝐧𝐝𝐚𝐤 𝐀𝐥𝐚 𝐀𝐥𝐮𝐦𝐧𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝

 

La Rudi S.Hum., M.Pd
Alumni Permata Angk.3 Ponpes Saw
Hidup adalah perjalanan panjang yang tidak hanya menuntut akal untuk berpikir, tetapi juga hati untuk merasa dan raga untuk bertindak. Sebagai alumni Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, kita telah ditempa dengan nilai-nilai yang membentuk cara kita memandang dunia, merasakan kehidupan, dan mengambil keputusan. Kita tidak hanya belajar dari lembaran kitab dan bangku kelas, tetapi juga dari interaksi sehari-hari di antara santri, dari keteladanan para ustaz, dan dari pengalaman hidup yang mengajarkan makna perjuangan sejati.
Pondok adalah kawah candradimuka yang mengasah kita dalam tiga aspek utama: berpikir dengan jernih, merasa dengan hati yang tulus, dan bertindak dengan penuh tanggung jawab. Dari dalamnya kita melangkah ke dunia luar, membawa warisan keilmuan dan nilai-nilai moral yang kita selama bertahun-tahun di dalam asrama, di bawah teduhnya masjid, dan di tengah kebersamaan yang penuh makna.

Berpikir: Tajamnya Akal, Luasnya Wawasan

Di pesantren, kita belajar bahwa ilmu bukan sekedar hafalan, tetapi pemahaman yang mendalam. Kita belajar dan mengajar untuk tidak hanya membaca, tetapi juga memikirkan makna di balik setiap ayat, setiap hadits, dan setiap untaian hikmah dari para ulama.

Berpikir ala alumni Al-Syaikh Abdul Wahid bukan sekadar berpikir biasa, namun berpikir dengan tajam dan luas. Kita terbiasa bertanya, menggali makna, dan tidak mudah puas dengan jawaban instan. Diskusi dan musyawarah menjadi bagian dari kehidupan kita. Perbedaan pendapat bukanlah alasan untuk pecah, tetapi jalan untuk memperkaya pemahaman.

Pondok telah mengajarkan kita bahwa berpikir kritis bukanlah sekadar menentang atau memikirkan segala hal, tetapi bagaimana kita mampu memahami persoalan dari berbagai sudut pandang dan menemukan solusi yang bijaksana. Kita belajar dan mengajar untuk berpikir secara sistematis, memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, serta tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang menyebarkan.

Seorang alumni tidak boleh berpikir meremehkan, tidak boleh mudah mengemukakan pendapat tanpa verifikasi, dan tidak boleh menjadi bagian dari mereka yang hanya mengulang-ulang sesuatu tanpa memahami esensinya. Kita diajarkan untuk memeriksa, membandingkan, dan mengambil keputusan berdasarkan ilmu, bukan emosi semata.

Merasa: Lembutnya Hati, Tajamnya Nurani

Ilmu tanpa kelembutan hati hanya akan menjadi kesombongan. Itulah alasannya di pesantren, kita tidak hanya mengajar untuk berpikir, tetapi juga untuk merasa.

Merasa dalam arti memahami kondisi orang lain, memiliki empati yang dalam, dan mampu menempatkan diri dengan bijak dalam setiap situasi. Kita belajar dan mengajar bahwa Islam bukan hanya tentang kebenaran dan kesalahan dalam hukum, tetapi juga tentang bagaimana kita berinteraksi dengan sesama manusia melalui adab dan akhlak yang mulia.

Pesantren mendidik kita untuk memiliki kepekaan sosial. Kita terbiasa melihat dan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan, berbagi makanan di dapur umum, saling membantu dalam tugas, dan belajar bersama dalam suka maupun duka. Dari sini kita memahami bahwa manusia bukan sekadar individu yang berjalan sendiri, tetapi bagian dari komunitas yang saling menguatkan.

Merasa juga berarti memiliki hubungan yang kuat dengan Allah. Setiap tahajud yang kita jalani, setiap doa yang kita panjatkan, dan setiap dzikir yang kita lantunkan, mengajarkan kita bahwa kehidupan ini lebih besar dari sekedar kepentingan pribadi. Ada tanggung jawab yang harus kita emban, ada misi yang harus kita jalankan, dan ada amanah yang harus kita jaga.

Alumni Al-Syaikh Abdul Wahid tidak hanya berpikir dengan akalnya, tetapi juga merasa dengan hati. Kita tidak sekedar mencari kebenaran, tetapi juga membawa kebaikan. Kita tidak sekadar menyampaikan ilmu, tetapi juga menyampaikannya dengan cara yang lembut dan bijaksana.

Bertindak: Langkah Nyata, Tanggung Jawab Besar

Ilmu dan empati tidak ada artinya jika tidak diiringi dengan tindakan. Inilah yang membedakan alumni pesantren dengan mereka yang hanya memiliki teori tetapi tidak berani bergerak.

Di pondok, kita diajarkan untuk disiplin, tangguh, dan tidak mudah menyerah. Dari bangun sebelum subuh hingga tidur kembali di malam hari, setiap detik di pondok adalah latihan untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Kita terbiasa hidup mandiri, menyelesaikan masalah sendiri, dan menghadapi setiap tantangan dengan kepala tegak.

Bertindak ala alumni Al-Syaikh Abdul Wahid bermakna tidak hanya berbicara tentang perubahan, namun juga menjadi bagian dari perubahan itu. Jika ada ketidakadilan, kita tidak boleh diam. Jika ada kesederhanaan, kita harus membawa cahaya ilmu. Jika ada perpecahan, kita harus menjadi jembatan yang menyatukan.

Kita tidak boleh menjadi generasi yang hanya bisa mengeluh tanpa solusi. Kita harus berani mengambil langkah, berani menghadapi risiko, dan berani memperjuangkan kebenaran meskipun sendirian.

Dunia saat ini membutuhkan lebih banyak alumni pesantren yang tidak hanya berwawasan luas, tetapi juga berani mengambil tindakan. Kita tidak boleh hanya duduk di menara gading ilmu, tetapi harus turun ke masyarakat, membaur, dan memberikan kontribusi nyata.

Bertindak juga berarti mengamalkan ilmu yang kita miliki. Jika kita memahami Al-Qur'an, maka kita harus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita belajar tentang keadilan, maka kita harus menjadi contoh dalam menerapkan keadilan. Jika kita mengajarkan tentang keikhlasan, maka kita harus berbuat tanpa mengharapkan pujian manusia.

Menjadi Alumni yang Mencerahkan

Sebagai alumni Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, kami memikul tanggung jawab besar. Kita adalah cerminan dari nilai-nilai yang telah diajarkan kepada kita. Setiap langkah kita adalah representasi dari pondok tempat kita belajar.

Berpikir, merasa, dan bertindak adalah tiga elemen yang harus selalu kita jaga dalam setiap aspek kehidupan. Kita tidak boleh hanya berpikir tanpa merasa, karena itu akan menjadikan kita dingin dan jauh dari kemanusiaan. Kita juga tidak boleh hanya merasa tanpa berpikir, karena itu akan menjadikan kita lemah dan mudah terombang-ambing. Dan yang terpenting, kita tidak boleh hanya berpikir dan merasa tanpa bertindak, karena hal itu akan menjadikan kita menjadi pribadi yang pasif dan tidak memberikan manfaat bagi umat.

Penutup: Cahaya yang Tak Boleh Padam

Dunia membutuhkan lebih banyak alumni pesantren yang berpikir cerdas, merasa dengan hati yang bersih, dan bertindak dengan keberanian. Kita harus menjadi bagian dari solusi, bukan hanya sekedar mengamati yang mengkritik tanpa kontribusi.

Sama seperti matahari yang tidak pernah lelah bersinar, kita harus terus mengeluarkan jalan kebenaran. sama seperti bulan yang bersinar di kegelapan malam, kita harus menjadi cahaya bagi mereka yang mencari arah.

Di mana pun kita berada, kita adalah alumni Al-Syaikh Abdul Wahid. Kita adalah penerus para ulama, para pemikir, dan para pejuang yang membawa kebaikan bagi dunia.

Maka, mari kita terus berpikir, merasa, dan bertindak dengan nilai-nilai yang telah kita bawa dari pondok. Karena dunia menunggu langkah kita, dan perubahan besar selalu dimulai dari mereka yang berani mengambil langkah pertama. SALAM PROGRESS!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...