Langsung ke konten utama

𝐃𝐢 𝐏𝐨𝐧𝐝𝐨𝐤 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝, 𝐀𝐤𝐮 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐀𝐫𝐭𝐢 𝐊𝐞𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧

 

La Rudi S.Hum., M.Pd
Alumni Permata Angk. 3 Ponpes Saw

Di bawah langit Kota Bau-Bau, di sebuah pondok pesantren yang sederhana namun penuh keberkahan, aku menemukan makna kebersamaan yang sesungguhnya. Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid bukan hanya tempat di mana ilmu agama dan kehidupan mengajar, tetapi juga ruang di mana hati-hati bertemu, jiwa-jiwa terhubung, dan persaudaraan tumbuh tanpa sekat.

Di sinilah saya belajar bahwa kebersamaan bukan sekadar berjalan berdampingan, tetapi juga saling menguatkan dalam perjalanan. Ia adalah udara yang kami hirup setiap hari, embun yang menyejukkan di pagi hari, dan cahaya yang membimbing dalam kegelapan.

Dari Langkah Awal, Aku Menemukan Saudara

Aku masih ingat hari pertama menginjakkan kaki di pondok ini. Langit tampak cerah, tapi hatiku penuh kekhawatiran. Aku meninggalkan rumah, keluarga, dan kenyamanan untuk menempuh perjalanan baru yang tak kutahu bagaimana akhirnya. Namun, sebelum rasa sepi sempat menjalar, saya disambut dengan senyuman hangat dan genggaman tangan erat dari para santri lainnya.

Di sinilah aku belajar bahwa kebersamaan adalah ketika seseorang merasa diterima, bahkan sebelum ia mengenal siapa yang menyambutnya. Tidak ada yang bertanya dari mana saya berasal, siapa orang tuaku, atau seberapa banyak yang saya tahu tentang agama. Yang mereka tanyakan hanyalah, “Sudah makan?” atau “Butuh bantuan angkat barang?” Sebuah sapaan sederhana, tetapi sarat makna.

Sejak hari itu, aku sadar bahwa di pondok ini, aku tidak sendiri. Ada orang-orang yang akan berjalan bersamaku, mengajarkanku, dan menemaniku melewati setiap suka dan duka.

Kebersamaan dalam Sujud dan Doa

Di pondok ini, kami bangun bersama sebelum fajar, saling membangunkan dengan sentuhan lembut atau bisikan pelan agar tidak mengganggu orang lain. Di pagi hari yang dingin, kami melangkah ke masjid dengan mata yang masih terancam, tetapi hati yang penuh keikhlasan.

Sujud kami sejajar, doa kami berpadu, dan lantunan ayat suci menggema dari hati yang sama-sama mencari ridha Allah. Saat itu, saya memahami bahwa kebersamaan bukan hanya ketika kita berbicara atau bercanda, tetapi juga ketika kita diam bersama dalam sujud yang khusyuk, ketika doa-doa kita naik ke langit dalam harmoni yang indah.

Sepiring Makanan, Sejuta Cerita

Di ruang makan pondok, aku menemukan makna berbagi yang sebenarnya. Tidak ada meja makan mewah atau hidangan yang berlimpah. Namun, satu piring nasi yang kami bagi berdua terasa lebih lezat daripada hidangan di rumah.

Di sinilah saya belajar bahwa kebersamaan adalah ketika kita tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga cerita, tawa, dan bahkan air mata. Kami saling menghibur ketika rindu rumah datang menyergap, saling menguatkan ketika hafalan terasa sulit, dan saling mendukung ketika ujian kehidupan datang menghampiri.

Kebersamaan dalam Ilmu dan Perjuangan

Belajar di pondok ini bukan hanya tentang memahami pelajaran di kelas (pelajaran umum dan pelajaran pondok) atau menghafal ayat-ayat suci. Ia juga tentang bagaimana kami saling membantu untuk memahami, saling menyemangati ketika satu di antara kami hampir menyerah, dan saling berbagi catatan ketika ada yang tertinggal dalam pelajaran.

Aku ingat bagaimana kami duduk melingkar di asrama, saling mengoreksi bacaan tajwid, atau berdiskusi hingga jam tidur (pukul pukul 22.00) tentang tafsir ayat yang kami pelajari di kelas. Aku sadar bahwa ilmu yang kudapat bukan hanya berasal dari ustaz dan kyai, tapi juga dari sahabat-sahabat seperjuangan yang tak pernah lelah mengingatkanku.

Di pondok ini, aku belajar bahwa kebersamaan bukan hanya tentang berjalan beriringan, tetapi juga tentang saling menarik ketika ada yang hampir jatuh, dan saling memberi semangat ketika ada yang takut melangkah maju.

Ujian yang Menguatkan Kebersamaan

Namun kebersamaan tidak selalu tentang tawa dan keceriaan. Ada saat-saat di mana kami harus menghadapi cobaan bersama. Seperti ketika listrik padam di malam hari, dan kami harus belajar dengan cahaya lilin yang redup. Atau ketika hujan deras membuat atap asrama bocor, dan kami harus bergotong royong mengatasi masalah bersama.

Tapi dari semua itu, aku belajar bahwa kebersamaan tidak diukur dari seberapa banyak tawa sejati yang kita miliki, tapi seberapa erat kita tetap bertahan ketika ujian datang.

Pulang dengan Hati yang Penuh

Hari demi hari berlalu, dan waktu di pondok semakin mendekati akhir. Aku tahu bahwa suatu saat aku akan meninggalkan tempat ini, melangkah ke dunia luar dengan membawa ilmu dan pengalaman yang kudapat di sini.

Namun, satu hal yang pasti: kebersamaan yang kutemukan di Pondok Al-Syaikh Abdul Wahid tidak akan pernah hilang. Ia telah menjadi bagian dari diriku, tertanam dalam hati dan pikiranku.

Aku akan selalu mengingat wajah-wajah yang tersenyum di pagi hari, suara lantunan Al-Qur'an yang menyejukkan, dan kehangatan yang kurasakan saat kami duduk bersama di atas tikar sederhana.

Pelajaran Terbesar dari Pondok Ini

Di Pondok Al-Syaikh Abdul Wahid, saya belajar bahwa kebersamaan adalah anugerah. Ia adalah cahaya yang menyinari jalan, pelindung di saat lemah, dan pelipur lara di saat hati gelisah.

Aku belajar bahwa kebersamaan bukan hanya tentang hadir secara fisik, tetapi juga tentang saling memahami, menghargai, dan mendukung.

Dan yang terpenting, aku belajar bahwa dalam kebersamaan, kita tidak hanya menemukan sahabat, tetapi juga keluarga yang dipilih oleh Allah untuk menemani perjalanan hidup kita.

Terima kasih, Pondok Al-Syaikh Abdul Wahid. Kau telah mengajarkanku bahwa hidup ini akan lebih indah jika dijalani bersama. SALAM PROGRESS!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐦𝐚 𝐈𝐧𝐝𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭𝐢

Oleh : LAR (Sang Pengelana Pendidikan)   Pagi itu, Minggu, 29 Juni 2025, jam menunjukkan pukul 06.30 ketika udara Liabuku masih segar, seperti baru dicuci oleh hujan rintik-rintik yang reda beberapa saat sebelumnya. Kabut tipis menyelimut bukit-bukit kecil di kejauhan, seakan menyambut hangat pagi yang penuh harapan. Di sebuah sudut pondok yang sederhana namun bermakna—Wisma Indrajati, Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku—terjadi pertemuan kecil, namun sarat makna. Kami duduk berhadapan dalam suasana santai, tak ada podium, tak ada protokol. Hanya segelas kopi hangat, semangkuk geroncong, dan tuli-tuli, yang panasnya masih mengepul, beberapa bungkus nasi kuning, dan tawa-tawa ringan yang kadang pecah menembus diam. Saya, Ustad Riyan Ahmad, dan Ustad Roni, dan  menjadi pendengar setia dalam perbincangan yang membuka tabir masa depan, dan menyusul  Ustad Falah Sabirin yang keberadaannya tidak sampai selesai, karena harus segera menghadiri rapat di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid...

𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐓𝐢𝐦𝐮𝐫: 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐛𝐮𝐬 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐀𝐥-𝐀𝐳𝐡𝐚𝐫

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Alumni Permata Angk. 3 Ponpes Saw) Di antara deru ombak Buton dan sunyi malam Baubau yang mendalam, kabar bahagia menyelinap ke relung hati para pencinta ilmu: lima bintang kecil dari timur, santri-santriwati Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, kini bersiap terbang jauh ke negeri para ulama — Mesir, tanah Al-Azhar yang agung. Alhamdulillah , kelima anak negeri ini — Almawaddah dari Baubau, Fegita dari Siomou, Azhar dari Talaga Buton Tengah, Ld. Fahriansyah dari Lasalimu, dan Ilham dari Lombe Buton Tengah — telah membuktikan bahwa mimpi yang disulam dengan doa dan kerja keras mampu mengalahkan ketatnya seleksi nasional. Mereka lolos sebagai penerima beasiswa Kementerian Agama RI tahun 2025 dan diterima di Universitas Al-Azhar Kairo, institusi pendidikan Islam tertua dan termasyhur di dunia. Bukan jalan lapang yang mereka lalui. Sebaliknya, medan itu terjal dan berliku. Seleksi yang diikuti lebih dari 2.800 peserta dari seluruh Indonesia dilaksanakan de...

𝐏𝐎𝐑𝐒𝐀: 𝐒𝐞𝐩𝐚𝐤 𝐁𝐨𝐥𝐚, 𝐃𝐚𝐤𝐰𝐚𝐡, 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐝𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐁𝐮𝐭𝐨𝐧

Foto: Tim Sepakbola Porsa Berlaga Di Lakudo Buton Tengah (Sumber Koleksi Ustadz Junaidin (Abangk)) Oleh: La Rudi (Dosen STKIP Pelnus Buton ) Ada masa ketika dakwah tak selalu hadir lewat podium dan mimbar. Ada masa ketika pesan suci tak hanya bergema lewat kitab dan khutbah. Pada penghujung milenium lalu, di pelosok tanah Buton, suara dakwah justru menggema di tengah lapangan sepak bola berdebu, ketika peluit dibunyikan dan sorak penonton mengalun dalam antusias yang menggetarkan. Di sanalah Porsa —Persatuan Sepakbola Al-Syaikh Abdul Wahid—berdiri bukan sekadar sebagai klub olahraga, tetapi sebagai wajah muda dari sebuah pondok pesantren yang ingin dikenal, diterima, dan dicintai oleh masyarakat. Tahun 1999, adalah era ketika banyak orang belum mengenal betul nama Al-Syaikh Abdul Wahid. Pondok masih muda, fasilitas sederhana, dan lembaga ini berjalan dalam keterbatasan. Namun di balik kesederhanaan itu, ada semangat membara yang tumbuh dalam dada para santri dan para ustaznya: semang...