Langsung ke konten utama

๐’๐ข๐ง๐ž๐ซ๐ ๐ข๐ฌ๐ข๐ญ๐š๐ฌ ๐ˆ๐Š๐๐’ ๐’๐€๐– ๐๐š๐ง ๐๐จ๐ง๐๐จ๐ค ๐’๐€๐–: ๐Œ๐ž๐๐š๐ง ๐Œ๐š๐ ๐ง๐ž๐ญ ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐Œ๐ž๐ง๐ ๐ฎ๐š๐ญ๐ค๐š๐ง

Temu Pimpinan Pondok  Saw, Ketua IKPS SAW Terpilih Bahas Pelantikan Pengurus IKPS dan Suksesnya Milad Pondok yang ke-32

By : La Rudi
(Alumni Permata Angk. 3 Ponpes SAW)

Serupa besi yang ditarik oleh magnet, demikian pula hubungan antara IKPS Al-Syaikh Abdul Wahid dan Pondok Al-Syaikh Abdul Wahid. Keduanya memiliki daya tarik yang kuat, bukan hanya karena sejarah yang mengikat, tetapi juga karena visi besar yang sama—mewujudkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya guna bagi umat.

Pada tanggal 14 Maret 2025, sebuah pertemuan penting berlangsung di kediaman KH. Rasyid Sabirin, Lc., MA. Ketua terpilih IKPS SAW bertemu dengan Pimpinan Pondok dalam sebuah diskusi yang sarat makna. Di meja perbincangan, dua agenda besar menjadi fokus utama: pelantikan pengurus IKPS SAW dan suksesnya Milad Pondok yang ke-32.

Ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan momentum bersejarah yang menegaskan pentingnya sinergistas dan penguatan. Sebagaimana disampaikan Dr. Falah Sabirin bahwa "sinergi antara alumni dan pondok harus terus diperkuat. Klo diumpamakan seperti dua kutub magnet yang saling menarik, IKPS SAW dan Pondok SAW harus menjadi satu kekuatan yang tak terpisahkan, saling mendukung, dan saling menguatkan. Olehnya itu IKPS SAW jangan jauh dari medan magnet."

IKPS SAW dan Pondok: Dua Sisi Mata Uang yang Tak Bisa Dipisahkan

IKPS SAW lahir dari rahim Pondok SAW. Setiap alumni adalah bagian dari kisah panjang perjuangan pondok ini. Maka, hubungan antara IKPS dan Pondok bukan sekadar hubungan kelembagaan, tetapi hubungan ruhiyah yang mendalam.

Pondok adalah tempat di mana para alumni dulu menimba ilmu, belajar disiplin, menempa akhlak, dan menceritakan mimpi. Sementara IKPS SAW adalah wadah yang menjadi tempat alumni berkumpul, berbagi, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Dua entitas ini tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Keduanya harus menjadi medan magnet yang saling menarik dan memperkuat, agar kebermanfaatannya semakin luas dan nyata.

Pelantikan Pengurus IKPS SAW: Awal Baru, Semangat Baru

Dalam pertemuan tersebut, pembicaraan tentang pelantikan pengurus IKPS SAW menjadi salah satu agenda utama. Rencananya pelantikan tersebut akan diselanggarakan di Pondok pada tanggal 26 Maret 2025 yang dirangkaikan dengan buka bersama alumni. Pelantikan ini bukan sekedar seremoni pergantian kepengurusan, namun momen penting untuk memperkokoh komitmen alumni dalam membangun gerakan yang lebih besar.

Pengurus yang terpilih bukan hanya mereka yang mengisi struktur organisasi, tetapi mereka yang siap mengemban amanah, bekerja tanpa pamrih, dan membawa semangat perubahan. Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan, tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras.

IKPS SAW harus menjadi wadah yang lebih hidup, lebih aktif, dan lebih berdampak. Para pengurus harus memastikan bahwa alumni benar-benar merasa memiliki, bukan hanya menjadi penonton yang pasif. Program-program yang dirancang harus mampu merangkul seluruh alumni, dari yang baru lulus hingga yang sudah mapan dalam kehidupan.

Tugas ini memang berat, namun jika dijalankan dengan niat yang tulus dan strategi yang matang, maka IKPS SAW akan menjadi organisasi alumni yang disegani, tidak hanya di lingkungan pondok, tetapi juga di tengah masyarakat luas.

Milad Ke-32 Pondok SAW: Merayakan Perjalanan, Membangun Masa Depan

Selain pelantikan pengurus, perbincangan juga fokus pada agenda besar lainnya: Milad ke-32 Pondok SAW.

Tiga puluh dua tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Pada usia ini, Pondok SAW telah melahirkan ribuan alumni yang tersebar di berbagai penjuru. Ada yang menjadi ulama, ada yang menjadi pendidik, ada yang berkiprah di dunia bisnis, ada pula yang bergerak di berbagai bidang lainnya.

Milad ini bukan sekedar perayaan, melainkan refleksi atas perjalanan panjang yang telah ditempuh. Ini adalah kesempatan untuk mengenang perjuangan para pendiri, mengingat kembali nilai-nilai yang telah ditanamkan, dan menyusun langkah-langkah strategi untuk masa depan.

IKPS SAW harus mengambil peran aktif dalam menyukseskan milad ini. Bukan hanya sebagai tamu yang hadir, namun sebagai bagian yang ikut andil dalam persiapannya. Momentum ini bisa menjadi ajang untuk memperkuat kebersamaan, membangun jaringan antar alumni, serta menunjukkan kepada dunia bahwa Pondok SAW bukan hanya institusi pendidikan, tetapi juga kawah candradimuka bagi generasi unggul.

Menjadikan Sinergi Ini sebagai Kekuatan Besar

Pondok adalah sumber inspirasi, dan alumni adalah para duta yang membawa cahaya ilmu ke berbagai penjuru. Oleh karena itu, sinergi antara pondok dan IKPS SAW harus terus diperkuat. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga dan mengembangkan hubungan ini:

  1. Membangun Komunikasi yang Intensif
    Hubungan antara pengurus pondok dan IKPS SAW harus terus terjalin dengan baik. Rutinlah berdiskusi, bertukar pikiran, dan merancang program bersama yang dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.

  2. Meningkatkan Peran Alumni dalam Pengembangan Pondok
    Alumni dapat berkontribusi dalam berbagai aspek, mulai dari pembangunan fasilitas, penyediaan beasiswa bagi santri, hingga pengembangan kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.

  3. Menjadikan Pondok sebagai Pusat Pengembangan Alumni
    Pondok bukan hanya tempat bagi santri aktif, tetapi juga harus menjadi tempat di mana alumni bisa terus belajar dan berkembang. Seminar, pelatihan, serta kajian-kajian keislaman bisa menjadi bagian dari sinergi ini.

  4. Menguatkan Jejaring IKPS SAW di Berbagai Sektor
    Dengan kekuatan alumni yang tersebar di berbagai bidang, IKPS SAW dapat menjadi jaringan yang saling mendukung. Mulai dari ekonomi, pendidikan, sosial, hingga dakwah, semua bisa menjadi bagian dari kontribusi alumni bagi umat.

Melangkah Bersama Menuju Masa Depan yang Lebih Cerah

Sinergisitas antara IKPS SAW dan Pondok SAW bukanlah pilihan, tetapi sebuah keharusan. Seperti medan magnet yang saling tarik-menarik, keduanya harus saling menguatkan agar kekuatan ini semakin besar dan dampaknya semakin luas.

Pelantikan pengurus IKPS SAW dan Milad ke-32 Pondok SAW adalah dua momen penting yang harus kita sukseskan bersama. Bukan sekedar seremoni, namun sebagai langkah nyata dalam membangun masa depan yang lebih gemilang.

Hari ini, kita mungkin hanya sedang merencanakan langkah. Tetapi dengan kebersamaan, ketulusan, dan kerja keras, langkah-langkah kecil ini akan menjelma menjadi perjalanan besar yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Semoga Allah memberkahi pondok ini, memberkahi alumninya, dan menjadikan cahaya yang terus bersinar bagi umat. Aamiin. Salam Progress!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐๐จ๐ง๐ฉ๐ž๐ฌ ๐€๐ฅ-๐€๐ฆ๐š๐ง๐š๐ก: ๐‰๐ž๐ฃ๐š๐ค ๐‰๐ฎ๐š๐ง๐  ๐€๐ฅ๐ฆ๐š๐ซ๐ก๐ฎ๐ฆ ๐Š๐‡. ๐Œ๐ฎ๐ก. ๐’๐ฒ๐š๐ก๐ซ๐ฎ๐๐๐ข๐ง ๐’๐š๐ฅ๐ž๐ก

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​๐Š๐ฅ๐ข๐ฆ๐š๐ค๐ฌ ๐’๐ฉ๐ข๐ซ๐ข๐ญ๐ฎ๐š๐ฅ ๐๐ข ๐€๐ฅ-๐’๐ฒ๐š๐ข๐ค๐ก ๐€๐›๐๐ฎ๐ฅ ๐–๐š๐ก๐ข๐: ๐Š๐š๐ฅ๐š ๐‰๐ž๐ฆ๐š๐ซ๐ข ๐Œ๐ž๐ฆ๐จ๐ญ๐จ๐ง๐  ๐”๐ซ๐š๐ญ ๐๐š๐๐ข ๐‡๐š๐ฌ๐ซ๐š๐ญ ๐ƒ๐ฎ๐ง๐ข๐š๐ฐ๐ข

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

๐’๐ข๐ฅ๐š๐ญ๐ฎ๐ซ๐š๐ก๐ฆ๐ข ๐‘๐š๐ฌ๐š ๐๐š๐ง ๐๐ž๐ฆ๐ข๐ค๐ข๐ซ๐š๐ง

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...