Langsung ke konten utama

𝐈𝐊𝐏𝐒 𝐒𝐀𝐖 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐥𝐞𝐡𝐚𝐧 𝐒𝐨𝐬𝐢𝐚𝐥: 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐇𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐓𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐢𝐧𝐚𝐫𝐢

IKPS SAW : Meramu Diri Dari Kesalehan Individu
Menuju Kesalehan sosial

By La Rudi

Alumni Permata Angk. 3 Ponpes Saw

Dalam kehidupan, ada dua jenis kesalehan yang harus berjalan beriringan: kesalehan individu dan kesalehan sosial. Kesalehan individu adalah hubungan seorang hamba dengan Tuhannya—ibadah yang khusyuk, doa yang tak putus-putus, dan amal yang ikhlas. Namun, ada satu dimensi lain yang tak boleh terabaikan: kesalehan sosial —bagaimana seorang manusia berbuat baik kepada sesamanya, berkontribusi bagi masyarakat, dan menjadi rahmat bagi semesta.

IKPS SAW, sebagai wadah alumni Pondok Al-Syaikh Abdul Wahid, memiliki peran penting dalam membangun kesalehan sosial. Ia bukan sekadar organisasi yang mempertemukan kembali para alumni, tetapi harus menjadi medan bagi lahirnya amal yang nyata—tempat di mana alumni tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga bergerak bersama untuk memberi manfaat bagi umat.

Sejatinya, kesalehan tidak boleh berhenti di dalam diri sendiri. Ia harus menjelma menjadi kepedulian, menjadi uluran tangan, menjadi solusi bagi mereka yang membutuhkan. IKPS SAW tidak hanya harus menjadi komunitas yang solid, tetapi juga harus menjadi komunitas yang peduli—bukan hanya terhadap anggotanya, tetapi juga terhadap lingkungan sosial yang lebih luas.

Dari Kesalehan Pribadi Menuju Kesalehan Sosial

Setiap alumni Pondok SAW pernah merasakan bagaimana hidup dalam suasana keberkahan—di mana ayat-ayat Al-Qur'an menggema, ilmu menjadi penerang, dan adab menjadi pijakan. Semua itu membentuk kesalehan pribadi yang kuat.

Namun, kesalehan pribadi tanpa kesalehan sosial ibarat pohon tanpa buah. Ia mungkin tampak rindang, tetapi tidak memberikan manfaat yang nyata. Maka, alumni Pondok SAW yang telah ditempa dalam keilmuan dan akhlak harus mampu menerjemahkan kesalehan pribadinya ke dalam aksi sosial yang nyata.

Keselehan sosial dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk:

  1. Membantu Sesama
    Apakah kita peka terhadap kondisi saudara-saudara kita? Siapkah kita mengulurkan tangan ketika ada alumni yang sedang kesulitan? Kesalehan sosial dimulai dari kepekaan dan kepedulian. IKPS SAW harus menjadi wadah yang tanggap terhadap permasalahan anggotanya, baik dalam aspek ekonomi, pendidikan, maupun kehidupan sosial lainnya.

  2. Menyebarkan Ilmu
    Ilmu yang baik adalah ilmu yang diajarkan. Alumni Pondok SAW memiliki banyak keistimewaan dalam bidang keislaman, pendidikan, dan keilmuan lainnya. Maka, menjadi tugas IKPS SAW untuk menjadikan ilmunya sebagai manfaat bagi masyarakat, baik melalui pengajian, seminar, maupun gerakan literasi yang bisa menjangkau banyak orang.

  3. Membangun Kemandirian Ekonomi
    Kesalehan sosial juga mencakup bagaimana kita memberdayakan satu sama lain. IKPS SAW bisa menjadi wadah ekonomi yang kuat, di mana alumni saling mendukung dalam usaha, menciptakan peluang kerja, serta membangun ekosistem ekonomi yang berbasis ukhuwah Islamiyah.

  4. Menjadi Pelopor Kebaikan di Masyarakat
    Alumni Pondok SAW tidak boleh menjadi kelompok eksklusif yang hanya memikirkan diri sendiri. Kita harus hadir di tengah masyarakat, membawa solusi, menghapusnya, dan menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin.

IKPS SAW: Cahaya yang Terus Bersinar

Dalam setiap pergerakan sosial, ada dua jenis manusia: mereka yang menyalakan cahaya dan mereka yang hanya menikmati terangnya. IKPS SAW harus memilih untuk menjadi penyalur cahaya , bukan sekedar menikmati keberadaannya.

serupa dengan Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR.Ahmad)

Oleh karena itu, ukuran keberhasilan IKPS SAW bukanlah seberapa banyak anggotanya, tetapi seberapa besar manfaat yang telah diberikan.

Kesalehan sosial bukan hanya soal sedekah, bukan hanya soal infak, tetapi tentang bagaimana kita hadir sebagai bagian dari solusi. Ketika ada anak yatim yang membutuhkan pendidikan, apakah kita bisa membantu? Ketika ada alumni yang kesulitan mencari pekerjaan, apakah kita bisa mencarikannya? Ketika ada saudara yang tertimpa musibah, apakah kita siap berdiri di situ?

Menuju IKPS SAW yang Lebih Berdaya Guna

Agar sinergi ini terus berjalan, ada beberapa hal yang harus dilakukan:

  1. Membentuk Program Sosial Berkelanjutan
    IKPS SAW dapat merancang berbagai program sosial, seperti beasiswa alumni, santunan untuk anggota yang membutuhkan, serta program pemberdayaan ekonomi.

  2. Menjalin Kerja Sama dengan Berbagai Pihak
    Agar berdampak lebih luas, IKPS SAW harus membuka jejaring kerja sama, baik dengan instansi pemerintah, lembaga sosial, maupun dunia usaha yang bisa menjadi mitra dalam program-program sosial.

  3. Membangun Budaya Peduli di Kalangan Alumni
    Kesalehan sosial bukan hanya tanggung jawab pengurus, tetapi harus menjadi budaya di kalangan alumni. Setiap anggota harus memiliki kesadaran untuk saling membantu dan memberi manfaat.

  4. Menghidupkan Forum Kajian dan Diskusi
    Agar kesalehan sosial ini memiliki dasar yang kuat, IKPS SAW perlu mengadakan kajian rutin yang membahas tentang tanggung jawab sosial dalam Islam, serta diskusi yang mendorong implementasi nyata dalam kehidupan.

Penutup: Cahaya Itu Harus Terus Dijaga

IKPS SAW bukan sekedar organisasi alumni biasa. Ia merupakan manifestasi dari keberkahan ilmu yang telah diajarkan di Pondok SAW. Maka, eksistensinya harus lebih dari sekedar kumpul-kumpul nostalgia—ia harus menjadi kekuatan yang nyata dalam membangun umat.

Kesalehan sosial bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia adalah hasil dari kesadaran, kepekaan, dan aksi nyata. Dan IKPS SAW, sebagai wadah alumni Pondok SAW, harus berdiri di garis depan dalam perjuangan ini.

Hari ini, kita mungkin hanya menanam benih. Tetapi kelak, benih itu akan tumbuh menjadi pohon yang rindang, memberikan keteduhan bagi banyak orang.

Sama dengan cahaya yang tak boleh padam, mari kita jaga ritme gerak ini. Mari kita terus berbenah. Mari kita menjadi cahaya yang menyinari, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk sesama.

Semoga IKPS SAW terus menjadi wadah kesalehan sosial yang nyata, tempat di mana para alumni tidak hanya sekedar mengenang, tetapi juga bergerak bersama dalam kebaikan. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin. Salam Progress!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐦𝐚 𝐈𝐧𝐝𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭𝐢

Oleh : LAR (Sang Pengelana Pendidikan)   Pagi itu, Minggu, 29 Juni 2025, jam menunjukkan pukul 06.30 ketika udara Liabuku masih segar, seperti baru dicuci oleh hujan rintik-rintik yang reda beberapa saat sebelumnya. Kabut tipis menyelimut bukit-bukit kecil di kejauhan, seakan menyambut hangat pagi yang penuh harapan. Di sebuah sudut pondok yang sederhana namun bermakna—Wisma Indrajati, Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku—terjadi pertemuan kecil, namun sarat makna. Kami duduk berhadapan dalam suasana santai, tak ada podium, tak ada protokol. Hanya segelas kopi hangat, semangkuk geroncong, dan tuli-tuli, yang panasnya masih mengepul, beberapa bungkus nasi kuning, dan tawa-tawa ringan yang kadang pecah menembus diam. Saya, Ustad Riyan Ahmad, dan Ustad Roni, dan  menjadi pendengar setia dalam perbincangan yang membuka tabir masa depan, dan menyusul  Ustad Falah Sabirin yang keberadaannya tidak sampai selesai, karena harus segera menghadiri rapat di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid...

𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐓𝐢𝐦𝐮𝐫: 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐛𝐮𝐬 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐀𝐥-𝐀𝐳𝐡𝐚𝐫

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Alumni Permata Angk. 3 Ponpes Saw) Di antara deru ombak Buton dan sunyi malam Baubau yang mendalam, kabar bahagia menyelinap ke relung hati para pencinta ilmu: lima bintang kecil dari timur, santri-santriwati Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, kini bersiap terbang jauh ke negeri para ulama — Mesir, tanah Al-Azhar yang agung. Alhamdulillah , kelima anak negeri ini — Almawaddah dari Baubau, Fegita dari Siomou, Azhar dari Talaga Buton Tengah, Ld. Fahriansyah dari Lasalimu, dan Ilham dari Lombe Buton Tengah — telah membuktikan bahwa mimpi yang disulam dengan doa dan kerja keras mampu mengalahkan ketatnya seleksi nasional. Mereka lolos sebagai penerima beasiswa Kementerian Agama RI tahun 2025 dan diterima di Universitas Al-Azhar Kairo, institusi pendidikan Islam tertua dan termasyhur di dunia. Bukan jalan lapang yang mereka lalui. Sebaliknya, medan itu terjal dan berliku. Seleksi yang diikuti lebih dari 2.800 peserta dari seluruh Indonesia dilaksanakan de...

𝐏𝐎𝐑𝐒𝐀: 𝐒𝐞𝐩𝐚𝐤 𝐁𝐨𝐥𝐚, 𝐃𝐚𝐤𝐰𝐚𝐡, 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐝𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐁𝐮𝐭𝐨𝐧

Foto: Tim Sepakbola Porsa Berlaga Di Lakudo Buton Tengah (Sumber Koleksi Ustadz Junaidin (Abangk)) Oleh: La Rudi (Dosen STKIP Pelnus Buton ) Ada masa ketika dakwah tak selalu hadir lewat podium dan mimbar. Ada masa ketika pesan suci tak hanya bergema lewat kitab dan khutbah. Pada penghujung milenium lalu, di pelosok tanah Buton, suara dakwah justru menggema di tengah lapangan sepak bola berdebu, ketika peluit dibunyikan dan sorak penonton mengalun dalam antusias yang menggetarkan. Di sanalah Porsa —Persatuan Sepakbola Al-Syaikh Abdul Wahid—berdiri bukan sekadar sebagai klub olahraga, tetapi sebagai wajah muda dari sebuah pondok pesantren yang ingin dikenal, diterima, dan dicintai oleh masyarakat. Tahun 1999, adalah era ketika banyak orang belum mengenal betul nama Al-Syaikh Abdul Wahid. Pondok masih muda, fasilitas sederhana, dan lembaga ini berjalan dalam keterbatasan. Namun di balik kesederhanaan itu, ada semangat membara yang tumbuh dalam dada para santri dan para ustaznya: semang...