Langsung ke konten utama

𝐀𝐥-𝐌𝐮𝐟𝐫𝐚𝐝𝐚𝐭 𝐏𝐚𝐠𝐢: 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐢𝐧𝐚𝐫𝐢 𝐇𝐚𝐫𝐢 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢


Oleh: La Rudi

( Alumni Permata Angk. 3 Ponpes Saw) 

Fajar masih muda ketika suara lantunan doa dan dzikir menggema di langit Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Udara pagi yang sejuk menyusup ke dalam dada, membawa kesejukan yang tak hanya meresap ke tubuh, tetapi juga ke dalam jiwa. Pagi ini berbeda, istimewa, dan penuh makna.

Di dalam Masjid Al-Amin, para alumni berkumpul dalam lingkaran-lingkaran kecil. Mereka menatap dengan penuh antusias, menanti momen berharga yang telah menjadi tradisi di pondok ini: pemberian kosa kata (al-mufradat) Bahasa Arab dan Inggris di pagi hari.

Suasana ini bukan sekadar rutinitas. Ini adalah gerbang menuju cakrawala ilmu yang lebih luas. Sebuah tradisi yang mengajarkan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga mahkota seorang santri.

Meniti Fajar dengan Al-Mufradat

"Kullu Jamatan."
Ucapkan Bersama-sama. 
"Mughozil"
Makhnahu, Kajili-jili.
Disampaikan Ustad Sairul dan diikuti para alumni peserta Santri Sehari. Momen pagi ini mengingatkan kembali akan sebuah kejadian ditahun 90 an lalu, ketika santri melafazkan kata "Labanii, Labanun, Liwaaun." Dengan penuh semangat. Ini mengandung makna bahwa belajar adalah bagian dari ibadah. Maka, sebelum hari dimulai dengan kesibukan, sebelum langkah-langkah kaki sibuk berlari mengejar mimpi, santri memulai dengan menambah perbendaharaan kata.

"Today’s vocabulary is…" suara seorang ustadz memecah kesunyian pagi.

Para santri serentak membuka catatan kecil mereka. Mata mereka berbinar, bersiap menerima setiap kata yang akan mereka hafalkan dan amalkan sepanjang hari.

"Optimistic! Artinya?"

"Optimis!" jawab para santri serempak.

Begitulah pagi di Pondok Al-Syaikh Abdul Wahid. Seperti tetesan embun yang membasahi bumi, setiap kata yang dihafalkan adalah tetesan ilmu yang menyuburkan akal dan jiwa.

Bahasa: Mahkota Seorang Santri

Dalam tradisi pesantren, bahasa bukan hanya pelajaran, tetapi juga identitas. Seorang santri harus fasih berbicara dalam dua bahasa dunia: Bahasa Arab sebagai bahasa wahyu dan Bahasa Inggris sebagai bahasa global.

"Santri yang menguasai bahasa, akan menguasai dunia," ucap H. Sairul, dalam pemberian mufradat pagi itu.

Bahasa Arab membawa santri lebih dekat dengan Al-Qur’an, memahami maknanya tanpa sekat. Bahasa ini adalah bahasa para ulama, bahasa ilmu, dan bahasa yang membawa keberkahan.

Sementara Bahasa Inggris adalah jembatan santri untuk berdialog dengan dunia. Dunia yang terus berubah menuntut santri untuk tak hanya paham kitab kuning, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan dunia luar.

"Kalian harus berbicara dengan dunia, bukan hanya dengan kitab," lanjut H. Sairul, memberikan dorongan kepada para alumni peserta Santri Sehari untuk lebih berani menggunakan bahasa asing dalam keseharian.

Menghafal, Meresapi, Mengamalkan

Pagi terus berjalan. Kata demi kata dihafal, diulang, diresapi. Tidak hanya dihafalkan di atas kertas, tetapi juga diamalkan dalam percakapan sehari-hari.

Di sudut halaman masjid, seorang alumni berbincang dengan temannya, mencoba menggunakan kosa kata yang baru saja mereka dapatkan.

"You must be optimistic, Akhi. Laa takhof!" kata seorang alumni sambil tersenyum.

"Aiwaa! Let’s practice more!" balas temannya dengan penuh antusias.

Percakapan sederhana, tetapi penuh makna. Di sinilah tradisi ini menemukan tujuannya: menanamkan keberanian dalam berbicara, menghidupkan bahasa, dan menjadikannya bagian dari kehidupan.

Santri Sehari, Ilmu Seumur Hidup

Santri Sehari bukan hanya tentang kembali merasakan kehidupan pesantren. Ini adalah momen untuk merenungi makna menjadi santri, memaknai kembali perjalanan ilmu, dan memperbarui tekad untuk terus belajar.

"Kosa kata pagi ini mungkin hanya dua, tapi jika kalian terus menambahnya setiap hari, dalam setahun kalian akan memiliki ribuan kosa kata baru," ujar H. Sairul, memberikan motivasi kepada alumni peserta Santri Sehari.

Karena sejatinya, belajar bahasa bukan tentang seberapa banyak kata yang dihafal dalam sehari, tetapi seberapa konsisten kita dalam menambah ilmu setiap hari.

Pagi ini, alumni peserta Santri Sehari menutup sesi dengan doa. Hati mereka penuh dengan semangat baru, tekad mereka lebih kuat dari sebelumnya.

Matahari pun mulai meninggi. Tapi cahaya yang menyinari hati mereka lebih terang dari sinar pagi.
Karena mereka tahu, ilmu yang ditanam hari ini akan menjadi cahaya yang menerangi langkah-langkah mereka di masa depan. Salam Progress!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐦𝐚 𝐈𝐧𝐝𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭𝐢

Oleh : LAR (Sang Pengelana Pendidikan)   Pagi itu, Minggu, 29 Juni 2025, jam menunjukkan pukul 06.30 ketika udara Liabuku masih segar, seperti baru dicuci oleh hujan rintik-rintik yang reda beberapa saat sebelumnya. Kabut tipis menyelimut bukit-bukit kecil di kejauhan, seakan menyambut hangat pagi yang penuh harapan. Di sebuah sudut pondok yang sederhana namun bermakna—Wisma Indrajati, Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku—terjadi pertemuan kecil, namun sarat makna. Kami duduk berhadapan dalam suasana santai, tak ada podium, tak ada protokol. Hanya segelas kopi hangat, semangkuk geroncong, dan tuli-tuli, yang panasnya masih mengepul, beberapa bungkus nasi kuning, dan tawa-tawa ringan yang kadang pecah menembus diam. Saya, Ustad Riyan Ahmad, dan Ustad Roni, dan  menjadi pendengar setia dalam perbincangan yang membuka tabir masa depan, dan menyusul  Ustad Falah Sabirin yang keberadaannya tidak sampai selesai, karena harus segera menghadiri rapat di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid...

𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐓𝐢𝐦𝐮𝐫: 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐛𝐮𝐬 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐀𝐥-𝐀𝐳𝐡𝐚𝐫

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Alumni Permata Angk. 3 Ponpes Saw) Di antara deru ombak Buton dan sunyi malam Baubau yang mendalam, kabar bahagia menyelinap ke relung hati para pencinta ilmu: lima bintang kecil dari timur, santri-santriwati Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, kini bersiap terbang jauh ke negeri para ulama — Mesir, tanah Al-Azhar yang agung. Alhamdulillah , kelima anak negeri ini — Almawaddah dari Baubau, Fegita dari Siomou, Azhar dari Talaga Buton Tengah, Ld. Fahriansyah dari Lasalimu, dan Ilham dari Lombe Buton Tengah — telah membuktikan bahwa mimpi yang disulam dengan doa dan kerja keras mampu mengalahkan ketatnya seleksi nasional. Mereka lolos sebagai penerima beasiswa Kementerian Agama RI tahun 2025 dan diterima di Universitas Al-Azhar Kairo, institusi pendidikan Islam tertua dan termasyhur di dunia. Bukan jalan lapang yang mereka lalui. Sebaliknya, medan itu terjal dan berliku. Seleksi yang diikuti lebih dari 2.800 peserta dari seluruh Indonesia dilaksanakan de...

𝐏𝐎𝐑𝐒𝐀: 𝐒𝐞𝐩𝐚𝐤 𝐁𝐨𝐥𝐚, 𝐃𝐚𝐤𝐰𝐚𝐡, 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐝𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐁𝐮𝐭𝐨𝐧

Foto: Tim Sepakbola Porsa Berlaga Di Lakudo Buton Tengah (Sumber Koleksi Ustadz Junaidin (Abangk)) Oleh: La Rudi (Dosen STKIP Pelnus Buton ) Ada masa ketika dakwah tak selalu hadir lewat podium dan mimbar. Ada masa ketika pesan suci tak hanya bergema lewat kitab dan khutbah. Pada penghujung milenium lalu, di pelosok tanah Buton, suara dakwah justru menggema di tengah lapangan sepak bola berdebu, ketika peluit dibunyikan dan sorak penonton mengalun dalam antusias yang menggetarkan. Di sanalah Porsa —Persatuan Sepakbola Al-Syaikh Abdul Wahid—berdiri bukan sekadar sebagai klub olahraga, tetapi sebagai wajah muda dari sebuah pondok pesantren yang ingin dikenal, diterima, dan dicintai oleh masyarakat. Tahun 1999, adalah era ketika banyak orang belum mengenal betul nama Al-Syaikh Abdul Wahid. Pondok masih muda, fasilitas sederhana, dan lembaga ini berjalan dalam keterbatasan. Namun di balik kesederhanaan itu, ada semangat membara yang tumbuh dalam dada para santri dan para ustaznya: semang...