Langsung ke konten utama

𝐌𝐞𝐦𝐛𝐚𝐤𝐚𝐫 𝐒𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭, 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐞𝐦𝐩𝐮𝐭 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐧: 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐏𝐚𝐤 𝐊𝐚𝐬𝐦𝐚𝐧, 𝐒𝐚𝐧𝐠 𝐖𝐚𝐤𝐢𝐥 𝐔𝐦𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐆𝐞𝐫𝐛𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧𝐭𝐫𝐞𝐧


Kasman Sos.I Anggota DPRD Buteng
Periode 2024-2029

Oleh: La Rudi
(Alumni Permata Angk.3 Ponpes Saw)

Dalam setiap generasi, selalu ada satu sosok yang hadir bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk menjadi penanda arah, penunjuk jalan, dan pemantik semangat. Seperti bintang yang bersinar di langit malam, ia tidak meminta dilihat, namun cahayanya tetap menuntun langkah-langkah kecil yang sedang mencari makna. Sosok itu, dalam keluarga besar IKPS SAW, kini menjelma dalam pribadi sederhana yang kini duduk di kursi legislatif Buton Tengah: Pak Kasman Sos.I.

Ia bukan siapa-siapa, kecuali bagi mereka yang tahu betapa sunyinya perjuangan seorang santri. Ia bukan tokoh besar di layar kaca, tapi di mata para alumni Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, ia adalah kabar baik dari lorong-lorong kesabaran, usaha, dan ketekunan yang berbuah nyata.

Pak Kasman—alumni pondok yang kini menoreh sejarah sebagai anggota DPRD Buton Tengah 2024–2029 dari Partai Nasdem—bukan hanya seorang politisi. Ia adalah representasi dari harapan para alumni, simbol bahwa dari ruang-ruang halaqah, dari lantunan ayat-ayat, dari senyapnya malam di atas sajadah, bisa tumbuh pemimpin umat yang berjiwa ala Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, berpikir untuk rakyat, dan bertindak untuk perubahan.

Dari Pondok Menuju Parlemen

Siapa yang menyangka, seorang santri yang pernah ikut merasakan sempitnya kamar, kerasnya disiplin, dan hangatnya ukhuwwah di bawah atap pesantren, kini duduk di ruang musyawarah rakyat? Ini bukan sekadar tentang kekuasaan, ini tentang pembuktian. Bahwa pondok adalah tempat lahirnya pejuang, bukan hanya penghafal kitab; tempat ditempa bukan hanya logika, tapi juga nurani dan tekad baja.

Pak Kasman adalah cermin. Dalam dirinya, kita bisa melihat bagaimana bekal pesantren tidak membuat seseorang kaku dalam dunia modern, justru menjadi dasar yang kokoh dalam mengarungi ombak zaman. Di tengah kehidupan yang pragmatis, ia membawa nur nilai-nilai luhur pesantren: jujur, adil, merakyat, dan amanah.

Menyalakan Asa, Membangkitkan Daya

Jejaknya bukan untuk ditiru bulat-bulat, tetapi untuk menyala dalam dada kita masing-masing. Bahwa kita, alumni IKPS SAW, bukan sekadar penonton dalam panggung masyarakat. Kita adalah pemain, yang harus tampil dengan gagah, dengan nilai, dengan kontribusi.

Mengikuti jejak Pak Kasman berarti berani tampil dari balik tembok pondok dan mulai membuktikan bahwa alumni punya daya gerak yang luar biasa. Jangan malu dengan latar santri, karena hari ini bangsa butuh pemimpin yang lahir dari kerendahan hati, bukan kesombongan gelar. Butuh orang-orang yang terbiasa hidup dalam kekurangan, agar tidak lupa daratan saat memegang kekuasaan.

Dalam moment pembukaan IKPS SAW Cup III, beliau menyampaikan betapa pentingnya kegiatan alumni untuk menguatkan jiwa sportif, silaturahmi, dan solidaritas. Kata-kata itu bukan retorika, tapi potret dari niat suci untuk menjaga api kebersamaan tetap menyala. Sosoknya seakan berkata, “Jika saya bisa, kalian pun bisa. Tapi kalian harus mulai sekarang, mulai dari komunitas kecil, mulai dari diri sendiri.

Menjaga Kompas, Mengokohkan Barisan

Apa yang dilakukan Pak Kasman bukan hanya pencapaian pribadi, tapi panggilan untuk kita semua. Agar IKPS SAW tidak hanya ramai saat reuni, tapi juga hidup dalam kontribusi nyata. Agar kita tidak hanya bangga pada pondok di masa lalu, tapi ikut serta membesarkannya di masa depan.

Kita butuh banyak "Pak Kasman" lainnya. Kita butuh guru yang sabar menebar ilmu. Kita butuh pengusaha yang mengangkat ekonomi umat. Kita butuh relawan yang mendampingi masyarakat terpinggir. Dan ya, kita butuh politisi berjiwa pesantren yang memperjuangkan suara orang kecil.

Tapi semua itu harus dimulai dari kesadaran untuk membenahi diri dan menyumbang waktu, pikiran, dan tenaga bagi organisasi IKPS SAW. Kita tidak bisa membangun pondok dan bangsa hanya dengan nostalgia. Kita perlu barisan alumni yang bergerak, bukan hanya berbicara.

Saatnya Berani Melompat

Langit tidak memberi tempat bagi mereka yang takut mencoba. Sebab bintang-bintang itu hanya terlihat oleh mereka yang berani menengadah dan berjalan. Maka, wahai para alumni IKPS SAW, inilah waktunya kita menengok jejak Pak Kasman dan bertanya pada diri sendiri: kapan aku akan mengambil peranku?

Tidak semua dari kita harus menjadi anggota dewan. Tapi setiap dari kita bisa menjadi bagian dari gerakan perubahan. Bisa dalam bentuk kontribusi kecil untuk pondok, ide-ide segar untuk organisasi, atau doa tulus di setiap sujud.

Ingatlah, pondok telah memberi kita fondasi. Kini, saatnya kita bangun menara peradaban itu bersama-sama. Jika satu alumni bisa duduk di kursi DPRD, maka sepuluh alumni bisa membangun kota. Jika satu alumni bisa menggugah dengan keteladanan, maka seribu alumni bisa mengubah sejarah.

Mari kita jaga bara ini. Mari kita kobarkan nyala semangat. Karena dari pondok kecil di Kota Baubau, lahir jiwa-jiwa besar yang akan mewarnai masa depan. IKPS SAW, terdepan dan tercepat!. 

Semoga Menginspirasi!

Komentar

  1. Seharusnya masukan biografi singktx ust dan penyebutan pak kyknya kurang sreg ust kita baca

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐦𝐚 𝐈𝐧𝐝𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭𝐢

Oleh : LAR (Sang Pengelana Pendidikan)   Pagi itu, Minggu, 29 Juni 2025, jam menunjukkan pukul 06.30 ketika udara Liabuku masih segar, seperti baru dicuci oleh hujan rintik-rintik yang reda beberapa saat sebelumnya. Kabut tipis menyelimut bukit-bukit kecil di kejauhan, seakan menyambut hangat pagi yang penuh harapan. Di sebuah sudut pondok yang sederhana namun bermakna—Wisma Indrajati, Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku—terjadi pertemuan kecil, namun sarat makna. Kami duduk berhadapan dalam suasana santai, tak ada podium, tak ada protokol. Hanya segelas kopi hangat, semangkuk geroncong, dan tuli-tuli, yang panasnya masih mengepul, beberapa bungkus nasi kuning, dan tawa-tawa ringan yang kadang pecah menembus diam. Saya, Ustad Riyan Ahmad, dan Ustad Roni, dan  menjadi pendengar setia dalam perbincangan yang membuka tabir masa depan, dan menyusul  Ustad Falah Sabirin yang keberadaannya tidak sampai selesai, karena harus segera menghadiri rapat di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid...

𝐌𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐧: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝 𝐅𝐚𝐢𝐬𝐚𝐥 𝐈𝐬𝐥𝐚𝐦𝐲

Oleh: LaR (Sang Pengelana Pendidikan) Rabu pagi, 2 Juli 2025. Langit Baubau seperti baru saja terbasuh doa, awan bergumpal pelan dan angin bergerak dengan langkah halus. Hari ini, saya menuju Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku, setelah beberapa hari hanya menjadi niat yang tertahan oleh kesibukan. Hari ini, niat itu mengeras menjadi langkah. Saya ingin menyambangi seorang guru, ustad, sahabat, sekaligus pemikir pendidikan yang dalam—Ustad Faisal Islamy, M.Pd., (Pimpinan Pondok Al-Amanah Liabuku) Dari rumah, saya sempat menyimak siaran langsung apel pembukaan tahun ajaran baru KMI Ponpes Al-Amanah melalui Facebook. Ada denyut semangat di wajah-wajah santri baru, dan di tengah kesibukan itu, saya melangkah masuk ke kantor guru. Sepatu saya lepas, adab seorang murid. Di ruang itu, aroma kopi dan kitab bersatu dalam kesunyian yang bermakna. Saya melihat Ustad Muiz dan Ustad Faisal. Kami bersalaman, bukan hanya karena tradisi, tapi karena hormat yang lahir dari hati. Tak lama, saya duduk di...

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...