Langsung ke konten utama

𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚: 𝐊𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐏𝐞𝐫𝐝𝐚𝐧𝐚 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝

Alumni Perdana.
La Ode Ibrahim Berkisah:

14 Mei 2025: Jam 22.00 Di Kediamannya Kilo 5

Oleh: La Rudi
(Alumni Permata Angk.3 Ponpes Saw)

Pada suatu siang di tahun 1993, matahari menggantung tenang di atas langit Kota Baubau. Di sudut perkampungan, di sebuah rumah sederhana, seorang remaja kampung menatap selembar kalender yang dibentangkan oleh Pak Rusdin, seorang anggota DPRD asal Masaloka-Mawasangka. Bukan tanggal atau kata mutiara yang menarik perhatian remaja itu, melainkan gambar ayam yang terpampang gagah di lembaran kalender. Pak Rusdin berkata pelan, "Sekolah di pondok itu enak." Dalam hati La Ode Ibrahim berbisik, enak berarti makanannya enak... seperti ayam ini...

Seperti riak kecil yang akan menjelma ombak besar, kata-kata sederhana itu mengantar La Ode Ibrahim menapaki jalan panjang penuh liku—jalan menjadi santri perdana Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Bersama dua temannya, Basmin dan Tamsuri, mereka bertiga memulai perjalanan sunyi yang kelak menjadi obor bagi ratusan bahkan ribuan santri setelahnya. Seminggu pertama mereka menginap di rumah Pak Rusdin, hingga akhirnya berpindah ke pondok yang kala itu masih berupa Gedung Makkah dengan tiga ruang: ruang satu untuk gudang penyimpanan material bangunan, dan ruang dua tempat tidur santri dan ruang tiga untuk kelas.

Ruang 2 itu sederhana, tapi di dalamnya hidup semangat yang menyala. Demikian pula ruang tiga untuk kelas. Di sanalah suara mutholaah pertama bergema dari mulut para santri. Lii Ya Dani... Yumna wa Yusro... kalimat-kalimat itu terdengar seperti mantera yang membuka gerbang cahaya. Ustadz Jamhur Baeda menjadi guru pertama, wajahnya sabar tapi tegas. Pelajaran kedua datang dari Ustadz Ruslan Daud yang mengajar khot, kaligrafi indah yang menghiasi papan nama pondok dan kaleng-kaleng di sudut kelas. Orangnya keras, merokok, tapi disiplin.

Gedung Makkah bukanlah bangunan megah seperti sekarang. Di sekelilingnya rawa-rawa dan pohon manggopa menyelimuti, menghadirkan sunyi malam yang diisi suara-suara babi hutan. Fasilitas jauh dari kata layak. Buang air besar dan kecil dilakukan bersama-sama di Wc darurat yang dikelilingi semak-semak dan rawa-rawa, dengan hati yang was-was. Tidak ada WC, tidak ada air mengalir. Mandi pun harus menumpang di sumur warga, antre menggunakan timba.

Namun justru di situlah makna sesungguhnya tertempa. Ketangguhan lahir bukan dari fasilitas, tapi dari jiwa-jiwa yang rela ditempa. Santri bukan hanya belajar nahwu-shorof, tapi juga membangun pondok dengan tangan sendiri. Batu dikumpulkan malam hari dari pantai yang saat ini dibangun Umna Rijoli dan pinggir jembatan batu, disusun untuk menimbun halaman dan jalan berlumpur. Lorong menuju pondok belum disemen, maka kaki-kaki mereka menyatu dengan tanah, membekas dalam sejarah.

La Ode Ibrahim masih ingat betul, banyak santri yang datang dan pergi. Ada yang hanya bertahan sehari, ada pula yang bertahan seumur hidup. Yang bertahan bukanlah yang paling pintar, tapi yang paling tabah. Seperti Mashur, santri lugu dari desa, yang awalnya hendak dikirim ke Jawa, namun takdir membawanya ke Bataraguru karena pertemuan tak terduga antara ayahnya dan Haji Sabirin di Jembatan Batu.

Makan pun jadi cerita tersendiri. Tiga kali sehari, tapi bukan dimasak di dapur pondok, melainkan oleh Haji Sabirin dan istrinya di Toko Tiga, Kelurahan Wale. Makanan diantar menggunakan jasa tukang becak, menjadi simbol kasih sayang di tengah keterbatasan. Uang bulanan? Hanya Rp. 22.500. Tapi nilainya tak sebanding dengan semangat yang mereka tumbuhkan.

Para ustadz saat itu tinggal di luar. Ustadz Ismail datang dari Waara, hanya mengajar lalu pulang. Kantor belum ada, ruang guru pun nihil. Tapi para ustadz punya satu kesamaan: semangat menanam ilmu. Mereka adalah lulusan pesantren dari Jawa—Gontor, Arissalah, Ngabar—yang membawa angin peradaban ke tanah Buton.

Santri perdana mengenal disiplin dari kedisiplinan ustadz. Mengenal keberanian dari pidato malam hari, yang dilakukan di ruang tidur sendiri. Mereka tidur di ruang yang sama tempat mereka berlatih pidato, mencampur antara dunia mimpi dan dunia dakwah.

Kalimat-kalimat motivasi dalam bahasa Inggris terpampang di dinding: May Come, May Go, But We Are Going Forever. Dan satu lagi yang membekas: You Can If You Think You Can and Do. Barangkali itulah mantra kesuksesan mereka. Keyakinan dan tindakan. Dua sayap yang membawa mereka terbang, meski dari sarang yang sederhana.

Tahun-tahun berlalu. Gedung Makkah kini telah berubah. Santri datang dari berbagai penjuru, fasilitas membaik, kamar mandi dibangun, dapur berdiri sendiri. Tapi satu hal tetap abadi: semangat perdana yang menyala dari kisah La Ode Ibrahim dan kawan-kawan.

Ia bukan sekadar santri pertama. Ia adalah saksi hidup perjuangan pondok yang berdiri bukan di atas marmer, tapi di atas lumpur dan doa. Ia adalah bukti bahwa cahaya bisa membentang dari kalender bergambar ayam—jika diresapi dengan niat suci.

Kini, ketika nama Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid berkibar tinggi di Kota Baubau dan sekitarnya, kisah para perintis seperti La Ode Ibrahim adalah bahan bakar semangat bagi generasi baru. Bahwa keberhasilan tak datang dari fasilitas, tapi dari keberanian untuk bertahan, untuk percaya, untuk terus menimba ilmu di tengah kesulitan.

Dan kepada seluruh santri masa kini, yang berbaris rapi dalam balutan sarung dan semangat, ingatlah selalu: bahwa tempatmu berpijak kini dibangun dengan keringat, air mata, dan batu-batu yang dikumpulkan malam hari oleh para pendahulu. Hormatilah tempat ini seperti kau menghormati masa depanmu. Karena dari sini, dari tanah bernama Bataraguru, cahaya itu akan terus membentang.

La Ode Ibrahim, alumni perdana, telah menoreh sejarah. Kini, giliranmu menyusul jejaknya. Teruslah Menginspirasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐦𝐚 𝐈𝐧𝐝𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭𝐢

Oleh : LAR (Sang Pengelana Pendidikan)   Pagi itu, Minggu, 29 Juni 2025, jam menunjukkan pukul 06.30 ketika udara Liabuku masih segar, seperti baru dicuci oleh hujan rintik-rintik yang reda beberapa saat sebelumnya. Kabut tipis menyelimut bukit-bukit kecil di kejauhan, seakan menyambut hangat pagi yang penuh harapan. Di sebuah sudut pondok yang sederhana namun bermakna—Wisma Indrajati, Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku—terjadi pertemuan kecil, namun sarat makna. Kami duduk berhadapan dalam suasana santai, tak ada podium, tak ada protokol. Hanya segelas kopi hangat, semangkuk geroncong, dan tuli-tuli, yang panasnya masih mengepul, beberapa bungkus nasi kuning, dan tawa-tawa ringan yang kadang pecah menembus diam. Saya, Ustad Riyan Ahmad, dan Ustad Roni, dan  menjadi pendengar setia dalam perbincangan yang membuka tabir masa depan, dan menyusul  Ustad Falah Sabirin yang keberadaannya tidak sampai selesai, karena harus segera menghadiri rapat di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid...

𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐓𝐢𝐦𝐮𝐫: 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐛𝐮𝐬 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐀𝐥-𝐀𝐳𝐡𝐚𝐫

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Alumni Permata Angk. 3 Ponpes Saw) Di antara deru ombak Buton dan sunyi malam Baubau yang mendalam, kabar bahagia menyelinap ke relung hati para pencinta ilmu: lima bintang kecil dari timur, santri-santriwati Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, kini bersiap terbang jauh ke negeri para ulama — Mesir, tanah Al-Azhar yang agung. Alhamdulillah , kelima anak negeri ini — Almawaddah dari Baubau, Fegita dari Siomou, Azhar dari Talaga Buton Tengah, Ld. Fahriansyah dari Lasalimu, dan Ilham dari Lombe Buton Tengah — telah membuktikan bahwa mimpi yang disulam dengan doa dan kerja keras mampu mengalahkan ketatnya seleksi nasional. Mereka lolos sebagai penerima beasiswa Kementerian Agama RI tahun 2025 dan diterima di Universitas Al-Azhar Kairo, institusi pendidikan Islam tertua dan termasyhur di dunia. Bukan jalan lapang yang mereka lalui. Sebaliknya, medan itu terjal dan berliku. Seleksi yang diikuti lebih dari 2.800 peserta dari seluruh Indonesia dilaksanakan de...

𝐏𝐎𝐑𝐒𝐀: 𝐒𝐞𝐩𝐚𝐤 𝐁𝐨𝐥𝐚, 𝐃𝐚𝐤𝐰𝐚𝐡, 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐝𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐁𝐮𝐭𝐨𝐧

Foto: Tim Sepakbola Porsa Berlaga Di Lakudo Buton Tengah (Sumber Koleksi Ustadz Junaidin (Abangk)) Oleh: La Rudi (Dosen STKIP Pelnus Buton ) Ada masa ketika dakwah tak selalu hadir lewat podium dan mimbar. Ada masa ketika pesan suci tak hanya bergema lewat kitab dan khutbah. Pada penghujung milenium lalu, di pelosok tanah Buton, suara dakwah justru menggema di tengah lapangan sepak bola berdebu, ketika peluit dibunyikan dan sorak penonton mengalun dalam antusias yang menggetarkan. Di sanalah Porsa —Persatuan Sepakbola Al-Syaikh Abdul Wahid—berdiri bukan sekadar sebagai klub olahraga, tetapi sebagai wajah muda dari sebuah pondok pesantren yang ingin dikenal, diterima, dan dicintai oleh masyarakat. Tahun 1999, adalah era ketika banyak orang belum mengenal betul nama Al-Syaikh Abdul Wahid. Pondok masih muda, fasilitas sederhana, dan lembaga ini berjalan dalam keterbatasan. Namun di balik kesederhanaan itu, ada semangat membara yang tumbuh dalam dada para santri dan para ustaznya: semang...