Langsung ke konten utama

𝐌𝐞𝐥𝐨𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐌𝐞𝐧𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐏𝐞𝐥𝐮𝐚𝐧𝐠: 𝐁𝐨𝐥𝐚 𝐁𝐚𝐬𝐤𝐞𝐭 𝐝𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐊𝐞𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐁𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐢 𝐏𝐎𝐑𝐒𝐀


Oleh: Hamid Munir
(Pemerhati Santri Kota Baubau)

Di sebuah halaman yang tak luas, di bawah langit senja yang temaram, terdengar dentuman bola memantul. Suaranya tidak nyaring, tapi cukup menggetarkan jiwa yang punya cita. Di antara bangunan asrama, masjid, dan ruang kelas, lapangan basket menjadi tempat di mana keringat bercucuran, semangat digembleng, dan mimpi-mimpi kecil mulai tumbuh dari debu tanah yang bersahaja. Inilah kisah tentang bola basket dan semangat kebersamaan santri dalam bingkai PORSA—Persatuan Olahraga Al-Syaikh Abdul Wahid.

Melatih Jiwa dalam Putaran Bola

Tidak semua pesantren memiliki lapangan basket, apalagi yang rapi dan mewah. Tapi di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid, keterbatasan tidak pernah menjadi penghalang. Justru dari keterbatasan itulah tumbuh kekuatan: keberanian untuk melompat lebih tinggi, keuletan untuk menembus ring, dan solidaritas yang dipupuk lewat kerja tim.

Bola basket tidak sekadar olahraga. Ia menjadi wadah untuk menyalurkan energi muda, mengekspresikan keteguhan, dan menjalin komunikasi non-verbal di antara para santri. Sebab di dalam satu pertandingan, tidak ada yang lebih penting dari kerja sama. Tidak ada yang menonjol tanpa tim. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan. Persis seperti nilai-nilai yang diajarkan di pondok: kebersamaan, pengorbanan, dan keikhlasan.

PORSA: Lebih dari Sekadar Klub Olahraga

Nama PORSA memang lahir dari rahim pondok ini. Tapi ia bukan hanya organisasi kegiatan. Ia adalah napas kedua bagi para santri yang ingin melatih diri bukan hanya dalam belajar kitab dan bahasa, tapi juga dalam ketangkasan jasmani, keteguhan hati, dan kecerdikan strategi.

Dalam pertandingan basket, seorang santri belajar membaca peluang. Ia belajar mengambil keputusan dalam hitungan detik. Ia belajar bangkit setelah jatuh. Ia belajar memberi bantuan, bukan hanya mencetak angka. Semua ini adalah pelajaran hidup, yang tak selalu diajarkan di kelas, tapi bisa diperoleh di lapangan.

Keterbatasan Adalah Batu Loncatan

Lapangan seadanya, ring yang goyah, bola yang tak selalu bundar sempurna—semua itu tak menyurutkan semangat. Bahkan dari sana, muncul mental baja. Anak-anak pondok yang terbiasa menyesuaikan diri dengan kondisi, tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan tidak manja.

Mereka berlatih di pagi buta sebelum pelajaran dimulai, atau di sore hari saat bayang-bayang pepohonan mulai memanjang. Mereka bermain bukan untuk popularitas, tapi karena cinta. Karena di balik setiap lemparan bola, ada harapan yang mengawang tinggi.

Mereka tahu, mereka tak punya fasilitas canggih seperti sekolah kota besar. Tapi mereka punya tekad, yang bisa menjebol segala keterbatasan.

Melompat Menangkap Peluang

Bola basket adalah olahraga lompatan. Bukan hanya secara fisik, tapi juga simbolis. Di lapangan itu, santri belajar melompat—melewati batas rasa minder, melewati kekangan kondisi, dan berani menangkap peluang yang ada.

Ketika ada undangan dari sekolah luar untuk pertandingan persahabatan, mereka menyambutnya dengan antusias. Saat ada wacana mengadakan kompetisi antar kelas atau antar alumni, mereka siap bergerak. Mereka tidak sekadar ingin menang, tapi ingin menunjukkan bahwa pesantren bukan sekadar tempat tahfidz, tapi juga pusat potensi yang multidimensi.

Menguatkan Kebersamaan, Menyalakan Api Perubahan

PORSA bukan hanya milik santri hari ini. Ia menjadi kebanggaan alumni. Dari sini, muncul banyak kisah: alumni yang pernah membela pondok dalam kompetisi antar pelajar, yang kini menjadi guru, dosen, pengusaha, atau tokoh masyarakat. Mereka membawa semangat PORSA ke mana pun mereka pergi. Karena mereka tahu, di sinilah karakter mereka dibentuk.

PORSA juga menjadi ruang temu lintas angkatan. Alumni datang kembali untuk bermain, menyapa adik-adik kelas, atau sekadar menyeka rindu. Dalam satu pertandingan, satu pelukan, satu selebrasi kecil, ada ikatan yang kembali dirajut. Ada semangat yang kembali dinyalakan.

Menjadikan Lapangan Sebagai Madrasah Kehidupan

Lapangan basket, bagi kita, bukan hanya tempat bermain. Ia adalah madrasah terbuka, di mana para santri belajar tentang kehidupan dalam bentuk yang lebih nyata. Bahwa hidup adalah tentang strategi, keberanian mengambil peluang, menghormati lawan, dan bekerja sama dalam satu tim.

Dan dari PORSA, santri Al-Syaikh Abdul Wahid belajar menjadi pribadi yang utuh. Tidak hanya kuat secara ruhani, tapi juga sehat jasmani, cerdas emosi, dan luas wawasan.

Akhirnya: Kita Adalah Tim

Maka mari kita jaga api ini. Jangan biarkan ring kosong, jangan biarkan bola mengempis tanpa pantulan. Karena setiap pantulan adalah denyut semangat, dan setiap lemparan adalah wujud harapan.

PORSA adalah kita. Kita adalah tim. Dan dalam tim, tak ada yang ditinggalkan. Semua ikut berlari. Semua bersorak untuk kemenangan bersama. Sebab di pesantren ini, bola basket bukan hanya olahraga. Ia adalah lambang kebersamaan yang terus dibina dan dikuatkan, dalam diam, dalam peluh, dalam tekad untuk terus melompat dan menangkap setiap peluang. Semoga Menginspirasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...