Langsung ke konten utama

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐚𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐋𝐞𝐧𝐭𝐞𝐫𝐚 𝐝𝐢 𝐓𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐙𝐚𝐦𝐚𝐧: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐛𝐝𝐢𝐚𝐧 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳 𝐑𝐚𝐦𝐬𝐮𝐥 𝐇𝐚𝐬𝐚𝐧

Ustadz Ramsul Hasan S.Pd., M.Pd.I

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd
(Dosen STKIP Pelnus Buton)

Di antara deretan nama yang tertulis dalam lembar sejarah Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, tersebutlah satu nama yang tak sekadar menyala—tapi menyulut obor semangat bagi generasi setelahnya. Ia bukan hanya santri, bukan pula sekadar pengajar, tetapi penjaga bara perjuangan, pengusung nilai, dan penyuluh jalan pendidikan di tengah tantangan zaman. Dialah Ustadz Ramsul Hasan, M.Pd.I., alumni angkatan ke-5, santri kelahiran 7 Juli 1985, yang jejak langkahnya menjadi tapak cahaya di lorong waktu dunia pesantren.

Sejak masa nyantrinya, Ustadz Ramsul Hasan telah menunjukkan sikap takzim dan dedikasi yang luar biasa kepada ilmu dan guru. Nama KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. —Pimpinan  kedua Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid— bukan hanya tinggal dalam silsilah sanad keilmuan, tapi membekas dalam sulur darah pengabdian Ustadz Ramsul. Ketika Almarhum mendirikan Pondok Pesantren Al-Amanah di Liabuku pada tahun 2000, Ustadz Ramsul tidak hanya melihat itu sebagai ekspansi dakwah, melainkan panggilan suci untuk mengabdikan diri.

Ia mengikuti jejak gurunya dengan langkah pasti, bukan hanya sebagai murid yang mengerti, tapi sebagai anak panah yang menancap pada sasaran perjuangan. Di bawah cahaya amanah dan api cita-cita almarhum gurunya, Ustadz Ramsul hadir bukan hanya sebagai tenaga pengajar, tapi sebagai ruh yang menghidupkan kembali semangat pengembangan pesantren.

Merawat Warisan, Menggerakkan Inovasi

Tak cukup hanya menjaga tradisi, Ustadz Ramsul memilih jalan yang lebih menantang—mempertemukan warisan dengan inovasi. Ia tidak puas hanya dengan menjadi penyampai ilmu, tapi bertekad menjadi penyambung zaman. Di tengah dinamika zaman digital, ia menjadi pionir pendidikan berbasis teknologi di lingkungan pesantren. Di tangan dinginnya, pendidikan agama tidak hanya bersuara dalam pengajian, tapi juga berbicara dalam kode-kode aplikasi dan skema pembelajaran digital.

Ia mengadakan pelatihan di berbagai tempat, dari ruang kelas sederhana hingga aula pertemuan besar. Ia mengajarkan bahwa dunia pesantren tidak harus tertinggal, bahwa santri bisa setara bahkan melampaui dalam dunia digital, selama semangat belajar terus menyala dan bimbingan nilai tetap menjadi tiang utama.

Guru yang Menginspirasi, Pemuda yang Memantik Asa

Di Kota Baubau, nama Ustadz Ramsul tak asing lagi bagi kalangan pendidik, pelajar, maupun komunitas dakwah. Ia bukan hanya dikenal sebagai pengajar di Pondok Pesantren Al-Amanah, tetapi juga sebagai pelatih pendidikan digital, narasumber seminar, dan pengisi pelatihan guru. Tapi lebih dari itu, ia dikenal karena satu hal yang paling penting: ketulusan.

Ketulusan yang membuatnya tak silau dengan gemerlap dunia luar pondok. Ketulusan yang menjadikan dirinya tetap berada di sisi pesantren, ketika banyak yang memilih jalur praktis. Ketulusan yang menjadikannya sosok yang mampu menghidupkan semangat santri, bahwa ilmu tidak boleh berhenti hanya pada bangku kelas, tapi harus merambah hingga dunia nyata.

Pijakan Nilai, Langkah Menuju Zaman

Ustadz Ramsul Hasan mengajarkan bahwa menjadi alumni bukanlah titik akhir dari perjalanan, tapi awal dari perjuangan. Ia menjelma simbol bahwa santri bisa menjadi pelita zaman—bahwa pengabdian bukan berarti terjebak di masa lalu, tapi justru berarti menyalakan masa depan.

Ia adalah bukti bahwa nilai-nilai pondok bukanlah sekadar memori, tapi bahan bakar untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah teladan, bahwa ilmu tidak hanya diwariskan, tapi diperjuangkan. Bahwa apa yang dipelajari di bawah naungan langit pesantren, dapat menjadi peta untuk menavigasi perubahan dunia.

Membakar Semangat IKPS SAW

Bagi teman-teman alumni IKPS SAW, kisah Ustadz Ramsul adalah siraman semangat yang tak boleh padam. Ia menunjukkan bahwa keberhasilan bukan tentang popularitas, tapi tentang kebergunaan. Bahwa menjadi alumni tak cukup hanya hadir dalam reuni atau menjadi penonton, tapi mesti ikut berperan menulis sejarah baru, mengisi kekosongan, mengisi celah, dan menyambung cita-cita luhur pendiri pondok.

Mari kita berkaca dari sosok Ustadz Ramsul Hasan—belajar dari ketekunannya, meniru keberaniannya, dan menyulam pengabdian di jalur yang kita pilih. Tak peduli di mana posisi kita hari ini—apakah di sekolah, di kantor, di ladang, di dunia dakwah, atau politik—selama jiwa kita tetap menyala dengan nilai pondok, maka kita adalah bagian dari pelita itu.

Karena dalam setiap langkah kita yang berlandaskan ilmu, ada jejak Al-Syaikh Abdul Wahid yang terus menjalar dari masa lalu, menuju zaman yang tengah kita bentuk hari ini. Terus Menginspirasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐦𝐚 𝐈𝐧𝐝𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭𝐢

Oleh : LAR (Sang Pengelana Pendidikan)   Pagi itu, Minggu, 29 Juni 2025, jam menunjukkan pukul 06.30 ketika udara Liabuku masih segar, seperti baru dicuci oleh hujan rintik-rintik yang reda beberapa saat sebelumnya. Kabut tipis menyelimut bukit-bukit kecil di kejauhan, seakan menyambut hangat pagi yang penuh harapan. Di sebuah sudut pondok yang sederhana namun bermakna—Wisma Indrajati, Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku—terjadi pertemuan kecil, namun sarat makna. Kami duduk berhadapan dalam suasana santai, tak ada podium, tak ada protokol. Hanya segelas kopi hangat, semangkuk geroncong, dan tuli-tuli, yang panasnya masih mengepul, beberapa bungkus nasi kuning, dan tawa-tawa ringan yang kadang pecah menembus diam. Saya, Ustad Riyan Ahmad, dan Ustad Roni, dan  menjadi pendengar setia dalam perbincangan yang membuka tabir masa depan, dan menyusul  Ustad Falah Sabirin yang keberadaannya tidak sampai selesai, karena harus segera menghadiri rapat di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid...

𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐓𝐢𝐦𝐮𝐫: 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐛𝐮𝐬 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐀𝐥-𝐀𝐳𝐡𝐚𝐫

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Alumni Permata Angk. 3 Ponpes Saw) Di antara deru ombak Buton dan sunyi malam Baubau yang mendalam, kabar bahagia menyelinap ke relung hati para pencinta ilmu: lima bintang kecil dari timur, santri-santriwati Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, kini bersiap terbang jauh ke negeri para ulama — Mesir, tanah Al-Azhar yang agung. Alhamdulillah , kelima anak negeri ini — Almawaddah dari Baubau, Fegita dari Siomou, Azhar dari Talaga Buton Tengah, Ld. Fahriansyah dari Lasalimu, dan Ilham dari Lombe Buton Tengah — telah membuktikan bahwa mimpi yang disulam dengan doa dan kerja keras mampu mengalahkan ketatnya seleksi nasional. Mereka lolos sebagai penerima beasiswa Kementerian Agama RI tahun 2025 dan diterima di Universitas Al-Azhar Kairo, institusi pendidikan Islam tertua dan termasyhur di dunia. Bukan jalan lapang yang mereka lalui. Sebaliknya, medan itu terjal dan berliku. Seleksi yang diikuti lebih dari 2.800 peserta dari seluruh Indonesia dilaksanakan de...

𝐏𝐎𝐑𝐒𝐀: 𝐒𝐞𝐩𝐚𝐤 𝐁𝐨𝐥𝐚, 𝐃𝐚𝐤𝐰𝐚𝐡, 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐝𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐁𝐮𝐭𝐨𝐧

Foto: Tim Sepakbola Porsa Berlaga Di Lakudo Buton Tengah (Sumber Koleksi Ustadz Junaidin (Abangk)) Oleh: La Rudi (Dosen STKIP Pelnus Buton ) Ada masa ketika dakwah tak selalu hadir lewat podium dan mimbar. Ada masa ketika pesan suci tak hanya bergema lewat kitab dan khutbah. Pada penghujung milenium lalu, di pelosok tanah Buton, suara dakwah justru menggema di tengah lapangan sepak bola berdebu, ketika peluit dibunyikan dan sorak penonton mengalun dalam antusias yang menggetarkan. Di sanalah Porsa —Persatuan Sepakbola Al-Syaikh Abdul Wahid—berdiri bukan sekadar sebagai klub olahraga, tetapi sebagai wajah muda dari sebuah pondok pesantren yang ingin dikenal, diterima, dan dicintai oleh masyarakat. Tahun 1999, adalah era ketika banyak orang belum mengenal betul nama Al-Syaikh Abdul Wahid. Pondok masih muda, fasilitas sederhana, dan lembaga ini berjalan dalam keterbatasan. Namun di balik kesederhanaan itu, ada semangat membara yang tumbuh dalam dada para santri dan para ustaznya: semang...