Langsung ke konten utama

๐€๐ซ๐ญ๐ข ๐๐ž๐ซ๐ฌ๐š๐ก๐š๐›๐š๐ญ๐š๐ง: ๐Œ๐ž๐ง๐ฒ๐ž๐ฆ๐š๐ข ๐Œ๐š๐ค๐ง๐š ๐ˆ๐๐ฎ๐ฅ ๐€๐๐ก๐š ๐๐ข ๐‡๐š๐ญ๐ข ๐’๐š๐ง๐ญ๐ซ๐ข ๐๐š๐ง ๐€๐ฅ๐ฎ๐ฆ๐ง๐ข

Foto Dari Kanan: Ust. Harun Rijali, La Ode Ibrahim  Haeruddin, Husain Mahfud dan La Rudi

Oleh La Rudi
(Sang Pengelana Pendidikan) 

Di tengah gema takbir yang melambung dari menara masjid dan bergetar di langit-langit hati, Idul Adha datang tak sekadar sebagai hari raya. Ia hadir sebagai tafsir spiritual tentang cinta yang agung, pengorbanan yang tulus, dan kepasrahan yang total kepada kehendak Ilahi. Namun, di balik makna besar itu, ada jalinan lain yang tak kalah luhur: persahabatan. Khususnya, persahabatan ala santri—yang lahir dari lantai musholla, dari barisan shaf-shaf rapat, dari tidur bersama di asrama, dari tawa dan air mata yang mengalir dalam satu ikatan suci: ukhuwah fi sabilillah.

Foto: Dari Kanan Ust. Syarifuddin N, Husein Mahfud

Idul Adha di Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban. Lebih dari itu, ia menjadi momentum menyembelih ego, memotong-motong kesombongan, dan menyajikan keikhlasan dalam nampan persaudaraan. Santri diajarkan untuk tidak hanya belajar fiqih kurban dari kitab, tapi juga merasakannya dalam kehidupan: mengasihi yang lemah, berbagi kepada yang tak punya, dan menyatukan hati dalam kebersamaan.

Saya teringat suatu waktu, ketika menjadi santri di pondok ini, kami para santri sering kali diminta bergotong royong dalam prosesi penyembelihan hewan kurban. Ada yang memegang tali, ada yang menyiapkan pisau, ada yang menguliti, dan ada pula yang sekadar membersihkan darah di lantai. Tidak ada yang merasa lebih penting dari yang lain. Semua bergerak dalam satu irama: keikhlasan. Di sanalah, benih persahabatan tumbuh subur. Persahabatan yang tidak dibangun di atas kepentingan dunia, tapi di atas niat yang murni: lillahi ta'ala.

Sebagai alumni, kami sering mengenang peristiwa itu dalam canda dan cerita, tapi juga dalam hening dan rindu. Di warung kopi, di grup WhatsApp, atau saat reuni, kisah-kisah kurban kembali disulam. Dan dari situ kami belajar, bahwa sahabat sejati bukan yang hadir saat kita jaya, tapi yang tetap ada saat kita harus rela berkurban.

Kurban mengajarkan kita satu hal penting: bahwa cinta yang benar itu memberi, bukan meminta. Dalam persahabatan pun demikian. Seorang sahabat yang baik akan rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kenyamanan demi sahabatnya. Bukan karena mengharap balasan, tapi karena ada cinta yang bersemayam dalam diam. Cinta yang dibungkus dalam doa, dalam perhatian kecil, dan dalam kesetiaan yang tak lekang waktu.

Persahabatan ala santri bukan persahabatan biasa. Ia dipenuhi nilai. Dibalut adab. Diteguhkan oleh sholat berjamaah, dzikir malam, dan munajat panjang di sepertiga malam. Ketika seorang sahabat sedang dalam kesulitan, sahabat lain ikut mendoakan. Ketika satu jatuh, yang lain ikut menopang. Karena bagi santri, ukhuwah adalah ruh yang tak boleh padam.

Idul Adha mengingatkan kita pada kisah agung Nabi Ibrahim dan Ismail. Namun, kisah itu tak sekadar tentang ayah dan anak. Ia juga tentang kepercayaan, kesetiaan, dan kesiapan mengorbankan apa yang paling dicintai demi perintah Allah. Maka dalam persahabatan, kita belajar dari kisah itu. Bahwa ada kalanya kita harus menahan diri, mengalah, dan bahkan rela terluka demi menjaga ikatan suci ini tetap utuh.

Saat ini, ketika kita telah menjadi alumni dan tersebar di berbagai pelosok negeri—ada yang jadi guru, dosen, pegawai, pengusaha, aktivis, atau bahkan petani—momen Idul Adha menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan kembali kenangan lama. Di situlah kita kembali menyadari bahwa persahabatan kita dulu tak pernah lekang. Karena ia dibangun di atas nilai-nilai pondok: kesederhanaan, keikhlasan, disiplin, dan tentu saja pengorbanan.

Di era digital ini, banyak persahabatan tumbuh dalam kepalsuan. Disatukan oleh kepentingan sesaat, dan bubar oleh perbedaan kecil. Tapi persahabatan ala santri adalah pengecualian. Ia dibentuk oleh kebersamaan dalam suka dan duka, oleh doa-doa yang terpanjat diam-diam, oleh tadarus yang bersambung hingga fajar, dan oleh teguran-teguran yang mendewasakan.

Idul Adha mengingatkan kita, bahwa dalam hidup ini, sesuatu yang agung selalu menuntut pengorbanan. Dan sahabat sejati adalah mereka yang tidak lari ketika kita jatuh, tapi yang datang dengan tangan terulur, menyeka luka, dan berkata: "Ayo bangkit, kita pernah belajar sabar dan kuat bersama."

Maka mari kita maknai Idul Adha tahun ini bukan hanya dengan daging yang dibagi, tapi juga dengan cinta yang ditebarkan. Mari kita kenang dan rawat persahabatan yang lahir dari lantai-lantai pesantren, karena ia adalah warisan tak ternilai. Seperti Ibrahim yang rela kehilangan demi taat, seperti Ismail yang ikhlas menerima demi ridha Allah, demikianlah kita—para sahabat sejati, para alumni pondok—siap berkurban demi menjaga makna ukhuwah ini tetap hidup, dalam hati, dalam doa, dan dalam laku keseharian.

Karena bagi kami, kurban sejati bukan hanya terletak pada sembelihan hewan. Tapi dalam keikhlasan hati, dalam kesetiaan pada sahabat, dan dalam kesiapan untuk selalu memberi tanpa pamrih.

Selamat Idul Adha. Semoga persahabatan ini tetap harum sebagaimana harumnya doa-doa santri di malam hari, yang diam-diam memohon agar sahabatnya tetap dalam lindungan dan rahmat Ilahi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐๐จ๐ง๐ฉ๐ž๐ฌ ๐€๐ฅ-๐€๐ฆ๐š๐ง๐š๐ก: ๐‰๐ž๐ฃ๐š๐ค ๐‰๐ฎ๐š๐ง๐  ๐€๐ฅ๐ฆ๐š๐ซ๐ก๐ฎ๐ฆ ๐Š๐‡. ๐Œ๐ฎ๐ก. ๐’๐ฒ๐š๐ก๐ซ๐ฎ๐๐๐ข๐ง ๐’๐š๐ฅ๐ž๐ก

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​๐Š๐ฅ๐ข๐ฆ๐š๐ค๐ฌ ๐’๐ฉ๐ข๐ซ๐ข๐ญ๐ฎ๐š๐ฅ ๐๐ข ๐€๐ฅ-๐’๐ฒ๐š๐ข๐ค๐ก ๐€๐›๐๐ฎ๐ฅ ๐–๐š๐ก๐ข๐: ๐Š๐š๐ฅ๐š ๐‰๐ž๐ฆ๐š๐ซ๐ข ๐Œ๐ž๐ฆ๐จ๐ญ๐จ๐ง๐  ๐”๐ซ๐š๐ญ ๐๐š๐๐ข ๐‡๐š๐ฌ๐ซ๐š๐ญ ๐ƒ๐ฎ๐ง๐ข๐š๐ฐ๐ข

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

๐’๐ข๐ฅ๐š๐ญ๐ฎ๐ซ๐š๐ก๐ฆ๐ข ๐‘๐š๐ฌ๐š ๐๐š๐ง ๐๐ž๐ฆ๐ข๐ค๐ข๐ซ๐š๐ง

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...