Langsung ke konten utama

๐‰๐š๐ก๐ž, ๐Š๐ž๐ฒ๐š๐ค๐ข๐ง๐š๐ง, ๐๐š๐ง ๐‰๐ž๐ฃ๐š๐ค ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐›๐๐ข๐š๐ง

Oleh: LaR
(Sang Pengelana Pendidikan)

Pagi itu, Rabu 16 Juli 2025, langit  berwarna abu-abu tenang. Awan menggantung rendah seperti menyelimuti bumi dengan kelembutan. Angin berhembus ringan membawa aroma tanah yang baru tersentuh embun. Jam baru menunjukkan angka sepuluh saat saya tiba di kediaman Ustad Dr. Falah Sabirin, seorang tokoh yang tak hanya disegani karena gelar akademiknya, tetapi juga karena kesederhanaan dan ketulusan yang terpancar dari kesehariannya.

Kami duduk di beranda. Tak lama kemudian, ustad menyuguhkan saya segelas minuman berwarna kuning keemasan. "Ini jahe, lemon, dan kunyit," katanya. Hangat terasa di tangan, harum rempahnya menguar menembus indera, dan ketika saya menyesapnya, tubuh seperti disapa oleh energi yang lembut namun kuat. "Biar tubuh tetap fit, kuat," ujar ustad sambil tersenyum, "sekuat keyakinan kita pada kebaikan."

Obrolan kami mengalir seperti sungai kecil yang jernih. Tidak terburu-buru, namun pasti menuju samudra makna. Pusat percakapan kami tertuju pada satu sosok yang telah menjadi poros peradaban ilmu dan nilai di Kepulauan Buton : almarhum KH. Muhammad Syahruddin Saleh, pendiri Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku. Sosok yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai dengan teladan.

Ustad Falah membuka cerita dengan hening sejenak. Matanya menatap jauh, seolah menarik kembali waktu ke dua atau tiga dekade lalu. "Kalau mau bicara tentang perjuangan beliau, kita harus siapkan hati yang lapang," ucapnya. "Karena apa yang dilakukan Almarhum itu bukan sekadar membangun gedung, bukan hanya mengisi kelas dengan pengajaran, tapi menanamkan kehidupan."

Kata-katanya seperti mengetuk kesadaran saya. Kami mulai membahas bagaimana Almarhum KH. Syahruddin Saleh tak pernah separuh hati dalam mengabdikan diri. Ia mencontohkan disiplin dengan laku hidupnya. Ia mengajarkan bahasa Arab dan Inggris bukan semata karena tuntutan zaman, tetapi karena yakin bahwa bahasa adalah jembatan dunia dan akhirat. Ia hadir di tengah santri bukan sebagai atasan yang berjarak, tetapi sebagai ayah yang penuh cinta dan arah.

"Kalau kamu ingat," kata Ustad Falah, "beliau itu selalu datang sebelum waktu, dan pulang setelah semua selesai. Kadang beliau tidur di pondok, bangun pagi-pagi sekali, menghidupkan suasana sebelum subuh dengan dzikir dan doa. Pernah satu waktu, beliau memanggil saya dan berkata, 'Falah, kalau kamu tidak bisa menularkan semangatmu, maka semangatmu akan padam sendiri.' Itu kalimat yang sampai hari ini jadi bahan renungan buat saya."

Kami membahas pula bagaimana ke depan pondok ini seharusnya tetap hidup dengan semangat juang dan nilai pengabdian seperti yang dicontohkan Almarhum. "Pondok bukan hanya tempat belajar," kata ustad, "tapi tempat mendidik karakter, tempat menempa jiwa, tempat menyemai pemimpin. Maka kalau bicara soal masa depan pondok, kita tidak bisa hanya berpikir tentang program, kita harus bicara tentang ruh."

Obrolan kami tidak kering teori. Justru terasa segar oleh kesaksian-kesaksian hidup. Kami sama-sama paham bahwa menjadi ustad di pondok bukan sekadar profesi, melainkan panggilan. Dan panggilan itu, sebagaimana yang dicontohkan oleh Almarhum, menuntut kesungguhan. Totalitas. Ketekunan. Bahkan pengorbanan.

Di tengah percakapan itu, saya mencatat dalam hati bahwa minuman jahe, kunyit, dan lemon itu bukan sekadar suguhan. Ia adalah simbol. Sebuah pelumas perbincangan, penghangat hati, dan penanda bahwa hidup harus dirawat dengan kesederhanaan yang dalam. Suguhan itu seperti energi yang membuka pintu kenangan, dan sekaligus mengantar harapan.

Ustad Falah lalu menutup obrolan kami dengan satu kalimat yang menusuk makna. "Kalau kita ingin pondok ini hidup seratus tahun lagi, maka yang perlu kita jaga bukan hanya bangunannya, tetapi semangat pendirinya. Kita harus warisi bukan hanya sistemnya, tapi jiwanya."

Saya pamit dengan hati yang penuh. Pagi yang tadinya biasa saja, kini terasa seperti diberi pelita. Obrolan kami bukan sekadar cerita. Ia adalah warisan. Tentang bagaimana menjadi pendidik, bagaimana mengabdi, dan bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat.

Terima kasih, Ustad. Atas minuman sehatnya. Atas percakapannya. Dan atas pelajaran hidup yang tak akan habis ditimba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐๐จ๐ง๐ฉ๐ž๐ฌ ๐€๐ฅ-๐€๐ฆ๐š๐ง๐š๐ก: ๐‰๐ž๐ฃ๐š๐ค ๐‰๐ฎ๐š๐ง๐  ๐€๐ฅ๐ฆ๐š๐ซ๐ก๐ฎ๐ฆ ๐Š๐‡. ๐Œ๐ฎ๐ก. ๐’๐ฒ๐š๐ก๐ซ๐ฎ๐๐๐ข๐ง ๐’๐š๐ฅ๐ž๐ก

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​๐Š๐ฅ๐ข๐ฆ๐š๐ค๐ฌ ๐’๐ฉ๐ข๐ซ๐ข๐ญ๐ฎ๐š๐ฅ ๐๐ข ๐€๐ฅ-๐’๐ฒ๐š๐ข๐ค๐ก ๐€๐›๐๐ฎ๐ฅ ๐–๐š๐ก๐ข๐: ๐Š๐š๐ฅ๐š ๐‰๐ž๐ฆ๐š๐ซ๐ข ๐Œ๐ž๐ฆ๐จ๐ญ๐จ๐ง๐  ๐”๐ซ๐š๐ญ ๐๐š๐๐ข ๐‡๐š๐ฌ๐ซ๐š๐ญ ๐ƒ๐ฎ๐ง๐ข๐š๐ฐ๐ข

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

๐’๐ข๐ฅ๐š๐ญ๐ฎ๐ซ๐š๐ก๐ฆ๐ข ๐‘๐š๐ฌ๐š ๐๐š๐ง ๐๐ž๐ฆ๐ข๐ค๐ข๐ซ๐š๐ง

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...