Langsung ke konten utama

𝐉𝐞𝐣𝐚𝐊 𝐊𝐊𝐍 𝐒𝐓𝐈𝐒 𝐒𝐀𝐖: 𝐌𝐚𝐧𝐜𝐢𝐧𝐠 𝐁𝐞𝐫𝐤𝐚𝐡


Oleh : LaR
(PeNgGiAt GeRak JeMaRi)

Jam menunjukkan pukul 15.45. Mentari sore mulai condong ke barat, menyisakan cahaya kuning yang lembut di ufuk langit. Ustad Muh. Ilham Saleh menghubungi saya melalui telepon, suaranya terdengar bersemangat: “Kita ke Batauga sore ini. Ada acara Maulid Nabi bersama mahasiswa KKN STIS SAW. Kita berangkat bersama Ustad Ziadin dan Ustad Abdurohman. Jangan terlambat, mobil sudah siap.”

Perjalanan sore itu seperti mengalirkan cerita sendiri. Dari dalam mobil, jalanan berliku menuju Batauga menjadi saksi obrolan santai kami. Bahasan kami tidak melulu tentang acara yang akan dihadiri, tetapi justru mengalir ke hal-hal sederhana yang menautkan rasa persaudaraan: mancing. Iya, mancing ikan. Obrolan tentang spot-spot rahasia, tentang hasil pancingan yang kadang tak terduga, hingga kisah viral dari Suk@-Suk@ Channel yang sering memamerkan hasil tangkapan lautnya yang wow. Kami tergelak, seakan lelah perjalanan terobati hanya dengan canda, kisah, dan imajinasi tentang ikan-ikan yang seolah sedang menunggu pemancingnya.

Foto: (Dari Kanan) Ust. Ilham, La Rudi, Abdurohman)

Sesampainya di Kelurahan Bandar, Kecamatan Laompo, Kabupaten Buton Selatan, suasana masjid sudah dipenuhi cahaya lampu dan keramaian masyarakat. Malam ini, Masjid Al-Azhar menjadi titik pertemuan: anak-anak binaan, mahasiswa dan dosen, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar. Tema acara itu sederhana namun menggugah: “Memperingati Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Mari Kita Tingkatkan Rasa Cinta dan Mengikuti Sunnah-Sunnah Beliau.”

Bapak Lurah, La Ode Halilu Muminin, SH, membuka acara dengan penuh apresiasi. Dalam ucapannya, ia menekankan bahwa kegiatan seperti ini memperkuat cinta umat pada Nabi, sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa KKN STIS SAW mampu menyatu dengan masyarakat. Kata-katanya sederhana, tapi bertenaga, seperti doa yang terucap dari hati seorang pemimpin yang ingin melihat desanya penuh cahaya.

Puncak acara tiba saat hikmah Maulid disampaikan oleh Dr. Falah Sabirin, MA. Beliau berbicara bukan hanya dengan ilmu, tetapi dengan cinta. Suaranya dalam, tenang, namun meresap ke hati hadirin. “Cinta Nabi adalah poros kehidupan seorang mukmin. Bersandar pada Nabi berarti bersandar pada cahaya. Dan masjid harus menjadi medan magnet, tempat umat bertemu, tempat ide-ide kebaikan lahir, tempat cinta Allah dan Rasul-Nya bersemi.” Kalimat itu bagai peta yang menunjukkan jalan. Ia menegaskan bahwa masjid bukan hanya ruang ibadah, melainkan juga laboratorium kehidupan yang membina generasi, membangun peradaban, dan mengantarkan umat menuju ridho Allah SWT.

Doa penutup dipimpin oleh Ustad Abdul Rohman, Imam Masjid Raya Kota Baubau. Suaranya khusyuk, mengalirkan getar di dada. Doa itu seperti jembatan, menghubungkan kami yang hadir dengan langit. Ada rasa damai, ada rasa syukur, ada keyakinan bahwa setiap langkah kecil ini adalah bagian dari jejak besar umat Nabi.

Acara selesai, namun bukan berarti kebersamaan usai. Kami menuju posko KKN yang letaknya di ujung kampung, di tepi laut. Malam itu, angin laut membawa aroma asin dan suara ombak yang menghantam perlahan ke dinding batu. Mahasiswa dan para dosen berkumpul, makan bersama di atas tikar sederhana. Menu utamanya adalah ikan pari—simbol stamina, kekuatan laut yang hadir di meja makan kami. Ada pula ikan baronang dan katamba, hasil pancingan yang dibawa dengan satu katinting, hasil kolaborasi Ustad Ilham, Ustad Komenk, teman-teman lainnya, serta Suk@-Suk@ Channel.

Foto: Makan Bersama di Posko KKN STIS Saw Bersama Rektor, Dosen dan Mahasiswa

Makan malam itu bukan sekadar makan. Ia adalah simbol persaudaraan. Nasi putih mengepul, ikan pari, katamba, pogo dan baronang yang dibakar dengan sederhana, sambal colo-cola hasil racikan Ustad Ziadin yang pedasnya menyalakan selera—semuanya berpadu dengan tawa, cerita, dan rasa syukur. Kami merasakan kelezatan yang lebih dari sekadar makanan: inilah kelezatan kebersamaan.

Saya termenung sejenak. Dalam hati saya berbisik: “Makasi Ya Allah, sudah membersamai kami dalam balutan kebahagiaan mancing berkah.” Betapa tidak? Dari perjalanan, obrolan, acara Maulid, hingga makan bersama, semuanya seperti dirangkai Allah dalam satu benang merah kebahagiaan. Bahwa hidup ini indah ketika dijalani dengan cinta, kebersamaan, dan pengabdian.

Malam itu saya menyadari sesuatu. Bahwa mancing tidak hanya tentang ikan, melainkan tentang kesabaran, tentang menunggu dengan ikhtiar, tentang harapan yang selalu datang bersama ombak. Bahwa Maulid bukan sekadar seremonial, melainkan pengingat bahwa kita adalah umat Nabi yang harus menyalakan cinta dalam amal. Bahwa makan bersama bukan sekadar mengisi perut, melainkan mengikat hati dalam simpul persaudaraan.

Perjalanan ke Batauga ini mengajarkan saya: kebahagiaan sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana. Dalam suara tawa di mobil. Dalam obrolan ringan tentang ikan. Dalam doa yang lirih di masjid desa. Dalam lauk ikan pari yang dimakan bersama di tepi laut. Semua itu adalah berkah yang tak ternilai.

Dan pada akhirnya, Makasih Ya Allah Sudah Membersamai Kami Dalam Balutan Kebahagiaan Mancing Berkah. malam itu menutup cerita dengan satu doa yang terngiang dalam hati: “Ya Allah, jangan pernah lepaskan kami dari genggaman-Mu. Jadikanlah setiap langkah kami berkah. Jadikan kebersamaan ini cahaya. Jadikan cinta kami pada Nabi dan ajarannya sebagai pelita yang menuntun kami dalam gelapnya zaman.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐮𝐥𝐚𝐦 𝐀𝐫𝐚𝐡, 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤: 𝐎𝐛𝐫𝐨𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐦𝐚 𝐈𝐧𝐝𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭𝐢

Oleh : LAR (Sang Pengelana Pendidikan)   Pagi itu, Minggu, 29 Juni 2025, jam menunjukkan pukul 06.30 ketika udara Liabuku masih segar, seperti baru dicuci oleh hujan rintik-rintik yang reda beberapa saat sebelumnya. Kabut tipis menyelimut bukit-bukit kecil di kejauhan, seakan menyambut hangat pagi yang penuh harapan. Di sebuah sudut pondok yang sederhana namun bermakna—Wisma Indrajati, Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku—terjadi pertemuan kecil, namun sarat makna. Kami duduk berhadapan dalam suasana santai, tak ada podium, tak ada protokol. Hanya segelas kopi hangat, semangkuk geroncong, dan tuli-tuli, yang panasnya masih mengepul, beberapa bungkus nasi kuning, dan tawa-tawa ringan yang kadang pecah menembus diam. Saya, Ustad Riyan Ahmad, dan Ustad Roni, dan  menjadi pendengar setia dalam perbincangan yang membuka tabir masa depan, dan menyusul  Ustad Falah Sabirin yang keberadaannya tidak sampai selesai, karena harus segera menghadiri rapat di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid...

𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐓𝐢𝐦𝐮𝐫: 𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐛𝐮𝐬 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭 𝐀𝐥-𝐀𝐳𝐡𝐚𝐫

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Alumni Permata Angk. 3 Ponpes Saw) Di antara deru ombak Buton dan sunyi malam Baubau yang mendalam, kabar bahagia menyelinap ke relung hati para pencinta ilmu: lima bintang kecil dari timur, santri-santriwati Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, kini bersiap terbang jauh ke negeri para ulama — Mesir, tanah Al-Azhar yang agung. Alhamdulillah , kelima anak negeri ini — Almawaddah dari Baubau, Fegita dari Siomou, Azhar dari Talaga Buton Tengah, Ld. Fahriansyah dari Lasalimu, dan Ilham dari Lombe Buton Tengah — telah membuktikan bahwa mimpi yang disulam dengan doa dan kerja keras mampu mengalahkan ketatnya seleksi nasional. Mereka lolos sebagai penerima beasiswa Kementerian Agama RI tahun 2025 dan diterima di Universitas Al-Azhar Kairo, institusi pendidikan Islam tertua dan termasyhur di dunia. Bukan jalan lapang yang mereka lalui. Sebaliknya, medan itu terjal dan berliku. Seleksi yang diikuti lebih dari 2.800 peserta dari seluruh Indonesia dilaksanakan de...

𝐏𝐎𝐑𝐒𝐀: 𝐒𝐞𝐩𝐚𝐤 𝐁𝐨𝐥𝐚, 𝐃𝐚𝐤𝐰𝐚𝐡, 𝐝𝐚𝐧 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐝𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐚𝐡 𝐁𝐮𝐭𝐨𝐧

Foto: Tim Sepakbola Porsa Berlaga Di Lakudo Buton Tengah (Sumber Koleksi Ustadz Junaidin (Abangk)) Oleh: La Rudi (Dosen STKIP Pelnus Buton ) Ada masa ketika dakwah tak selalu hadir lewat podium dan mimbar. Ada masa ketika pesan suci tak hanya bergema lewat kitab dan khutbah. Pada penghujung milenium lalu, di pelosok tanah Buton, suara dakwah justru menggema di tengah lapangan sepak bola berdebu, ketika peluit dibunyikan dan sorak penonton mengalun dalam antusias yang menggetarkan. Di sanalah Porsa —Persatuan Sepakbola Al-Syaikh Abdul Wahid—berdiri bukan sekadar sebagai klub olahraga, tetapi sebagai wajah muda dari sebuah pondok pesantren yang ingin dikenal, diterima, dan dicintai oleh masyarakat. Tahun 1999, adalah era ketika banyak orang belum mengenal betul nama Al-Syaikh Abdul Wahid. Pondok masih muda, fasilitas sederhana, dan lembaga ini berjalan dalam keterbatasan. Namun di balik kesederhanaan itu, ada semangat membara yang tumbuh dalam dada para santri dan para ustaznya: semang...