Langsung ke konten utama

𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐑𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐊𝐞𝐫𝐣𝐚 𝐇𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐑𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐇𝐚𝐭𝐢: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐛𝐝𝐢𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐈𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡


Oleh: LaR
(Penggiat Literasi)

Pagi itu, Sabtu, 1 November 2025, suasana di Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku seperti biasa, sibuk tapi damai. Langit menggantungkan awan tipis di atas atap pondok, sementara suara santri melantunkan hafalan di kejauhan menjadi irama latar yang menenangkan. Di tengah kesibukan yang berlapis, saya menyempatkan diri berkunjung ke ruang kerja Ustad Ramsul Hasan, M.Pd., sosok yang sudah dua puluh lima tahun lamanya menambatkan hidupnya di pondok ini—dalam diam, dalam ketulusan, dalam pengabdian yang jarang disorot tapi selalu terasa maknanya.

Ruang kerjanya sederhana, tapi penuh makna. Di meja kayu itu, bertumpuk buku-buku pendidikan, laptop, tablet terbuka dengan layar berisi file laporan.. Dari matanya, tampak kelelahan, tapi juga ada cahaya semangat yang tak pernah padam. Ia baru saja menyiapkan laporan kegiatan dan materi ajar, sekaligus mempersiapkan pelatihan yang akan dibawakannya siang ini di SMP 17 Baubau. Di sela-sela aktivitas itu, ia masih sempat tersenyum dan berkata pelan,

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Itu yang terus saya pegang dalam bekerja, mengajar, dan mengabdi.”

Kalimat sederhana itu seperti petir kecil yang menyambar kesadaran saya. Ia tidak hanya mengutip sabda Nabi, tapi juga menyalakan cermin dari hidupnya sendiri. Dua puluh lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk tetap teguh di jalur pendidikan. Ia menanamkan ilmu, mendidik generasi, membangun sistem, hingga merancang digitalisasi data pondok. Ia bukan sekadar guru—ia adalah penjaga bara semangat yang memastikan api pengabdian tak pernah padam di Pondok Pesantren Al-Amanah.

Saya masih ingat cerita beliau tentang pengalamannya berbagi pengetahuan Dapodik (Data Pokok Pendidikan) di Hotel Galaxy Inn, di hadapan para kepala sekolah dan operator Dapodik se-Kota Baubau. Baginya, teknologi bukan musuh, tapi mitra yang harus dikuasai agar dunia pesantren bisa menembus batas-batas lama. “Kita harus adaptif,” katanya lembut. “Kalau kita ingin pesantren maju, maka harus berani masuk ke dunia digital, bukan hanya bertahan di zona nyaman.”

Kata-kata itu menegaskan satu hal: pengabdian yang sejati tak hanya diukur dari lamanya waktu, tapi dari seberapa banyak manfaat yang bisa mengalir dari tangan dan pikiran seseorang.

Keluar dari ruang kerjanya, langkah saya terhenti sejenak di depan kelas. Dari kejauhan terlihat Ustad Adnan Arsyad, duduk santai di bangku panjang, memandangi halaman pondok yang teduh. Ia tampak menunggu bel bunyi jam keempat, sementara di tangannya tergenggam buku catatan kecil berisi rencana pelajaran hari ini. Wajahnya teduh, seolah menyimpan ribuan kisah pengabdian yang tak pernah diucapkan. Saya sempat menyapanya, dan dalam senyum singkatnya, saya menangkap satu makna: ketenangan adalah tanda keikhlasan.

Siang harinya, saya berpindah ke ruang pimpinan pondok. Di sana sudah duduk Ustad Faisal Islamy, M.Pd, pimpinan Pondok Al-Amanah, bersama Ustad Heppy Candrayana, M.Ikom—seorang motivator nasional, MC Istana Negara, dan TV Voice Over yang tengah berkunjung untuk berbagi inspirasi kepada santri-santriwati Al-Amanah, besok, Minggu 2 November 2025. Di sela obrolan santai, terselip guratan makna yang mengalir lembut, seperti aliran sungai yang membawa kesegaran ke setiap tepinya.

Ustad Faisal membuka kisahnya tentang masa-masa belajar di Pondok Modern Gontor, tempat di mana semangat berdikari dan disiplin digembleng sejak dini. “Kami dulu dibiasakan untuk bertanggung jawab terhadap hal kecil,” ujarnya sambil tersenyum mengenang. “Dari merapikan tempat tidur hingga memimpin kegiatan, semuanya mengajarkan makna kepemimpinan.” Ia juga menyinggung satu nama yang membuat matanya berbinar—Kyai Sukri, sosok guru yang baginya bukan hanya pengajar, tapi penanam karakter. “Dari beliau saya belajar bahwa ketegasan bukanlah kekerasan, melainkan cinta yang membentuk.”

Ustad Heppy menyambung kisah itu dengan penuh semangat. Ia bercerita bagaimana kedekatannya dengan para ustadz di masa lalu membentuk kepribadiannya hari ini. “Kalau bukan karena doa dan bimbingan ustadz, mungkin saya takkan bisa berdiri di hadapan ribuan orang dan berbicara dengan percaya diri,” katanya dengan nada penuh syukur. Suaranya bergetar, bukan karena lelah, tapi karena kerinduan terhadap masa-masa belajar yang kini menjadi fondasi kehidupannya.

Saya menyimak obrolan mereka dengan hati yang hangat. Ada canda yang ringan, tawa yang tulus, juga jeda hening yang dalam. Di sela tawa itu, saya menangkap satu pesan penting: kehidupan bukan sekadar berjalan dari waktu ke waktu, tetapi bagaimana kita memaknai setiap langkah, setiap perjumpaan, dan setiap ilmu yang pernah diajarkan guru-guru kita.

Ruang itu mendadak seperti hidup dengan energi yang tak kasatmata. Tiga sosok yang duduk di hadapan saya—Ustad Ramsul, Ustad Faisal, dan Ustad Heppy—bukan hanya individu dengan profesi yang berbeda, tetapi benang-benang yang saling terjalin membentuk kain pengabdian yang indah. Masing-masing menempuh jalan perjuangannya sendiri, namun semua bertemu di satu simpul: keikhlasan untuk mendidik dan menginspirasi.

Saya tertegun sejenak, menatap tumpukan buku dan alat tulis di meja kerja. Di luar, suara santri masih terdengar. Di dalam, cerita-cerita tentang perjuangan, pengabdian, dan keikhlasan berputar di kepala saya seperti simfoni yang lembut tapi kuat.

Saya tersadar bahwa ilmu tidak hidup tanpa pengabdian, dan pengabdian tidak bernyawa tanpa ketulusan. Seperti yang dicontohkan para guru di Al-Amanah, mereka bukan hanya mengajarkan pelajaran, tapi menyalakan kehidupan. Dari ruang kerja kecil, dari obrolan santai, dari senyum sederhana—lahirlah perubahan yang mungkin tak langsung terlihat, tapi kelak akan tumbuh menjadi cahaya yang menerangi banyak generasi.

Siang semakin menampakkan kegagahnnya, dan hati saya terasa makin terang. Di luar, angin menyapa lembut dedaunan. Dalam hati, saya berbisik lirih,

“Terima kasih Ya Allah, telah mempertemukan kami dengan para guru yang tidak hanya mengajar dengan kata, tapi dengan jiwa. Mereka adalah lentera zaman, penjaga cahaya, penebar manfaat. Dari mereka kami belajar, bahwa mengabdi adalah bentuk cinta paling nyata.”

Dan di sanalah saya memahami makna sebenarnya dari perjumpaan hari ini—bahwa setiap obrolan santai bisa menjelma menjadi ruang pembelajaran, setiap kisah guru adalah cermin kehidupan, dan setiap detik yang kita habiskan untuk kebaikan adalah bentuk syukur paling indah yang bisa kita persembahkan kepada-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...