Langsung ke konten utama

𝐊𝐢𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐓𝐢𝐠𝐚 𝐒𝐚𝐮𝐡

Bingkai Sahabat: (Dari Kanan)
Ust. Abd. Muiz, Dik Riyan, LaR.
(Lokasi: Jembatan Pulau Makassar)

Oleh: LaR
(Penggiat Gerak Jemari)
Titian Air dan Panggilan Persaudaraan
Matahari 7 Juni 2026 bergulir dengan kelembutan yang syahdu di atas langit Kota Baubau. Pagi itu, takdir kembali mempertemukan tiga anak manusia yang jiwanya telah lama disepuh oleh didikan yang sama. Saya—LaR, bersama Ustad Abdul Muiz dan Dinda Riyan, melangkah beriringan menuju sebuah perhelatan sakral. Kami bertiga, yang sama-sama dibesarkan di bawah naungan atap sakral yang penuh berkah, Alumni Pondok Al-Syaikh Abdul Wahid, hari ini dipersatukan oleh satu maklumat rindu: menghadiri acara pernikahan buah hati dari Pak La Ampera S.Pd., M.Pd di seberang lautan, Pulau Makassar.
​Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan raga menyeberangi selat, melainkan sebuah kilas balik spiritual yang memboyong ingatan kami pada masa-masa bersahaja di pondok pesantren dahulu. Bau wewangian kitab suci, dengung setoran hafalan di sepertiga malam, dan kesederhanaan hidup yang menempa mental kami, mendadak berputar kembali laksana pita rekaman yang manis. Di atas bentangan jalan, tawa-tawa kecil mulai pecah mengurai kenangan usang yang tak pernah luntur dimakan waktu.
Angin Jembatan Biru dan Rahasia Samudra
​Di pertengahan jalan menuju Pulau Makassar, bentangan Jembatan Biru menyambut langkah kami dengan megah. Di atas strukturnya yang kokoh dan sewarna langit sore itu, kami memutuskan untuk menghentikan laju kendaraan. Kami menepi, berdiri bersandar pada pembatas jembatan, membiarkan diri kami dikepung sepenuhnya oleh alam.

​Tepat di pertengahan Jembatan Biru, semesta seolah sengaja melepaskan seluruh pesonanya. Hempasan angin laut yang kencang datang bertubi-tubi, menerpa wajah, menerbangkan ujung pakaian, dan membawa aroma garam yang khas ke dalam rongga dada. Di bawah kaki kami, air laut Selat Buton bergolak biru tua, memantulkan kilau cahaya mentari yang perlahan mulai condong ke ufuk barat.

​Kami bertiga terdiam untuk beberapa jenang yang khusyuk. Tak ada kata yang meluncur. Ustad Abdul Muiz menatap riak gelombang dengan kedalaman rasa seorang penyeru kebajikan, sementara Dinda Riyan tersenyum tipis membiarkan angin membelai rambutnya, meresapi kebebasan yang disuguhkan alam. Di tempat ini, di atas jembatan yang menghubungkan dua daratan, kami merasa sedang berdiri di atas jembatan kehidupan kami sendiri. Hempasan angin laut yang keras itu tidak membuat kami goyah; ia justru laksana ketukan alam yang membersihkan sisa-sisa penat dan ego keduniawian dari dalam batin kami.
​Epilog: Ikatan Suci Al-Syaikh Abdul Wahid

​Di antara gemuruh suara ombak yang menghantam tiang jembatan, Ustad Abdul Muiz memecah kesunyian dengan suara yang sarat akan ketulusan seorang sahabat. Kami saling menatap, membiarkan sepasang mata kami mengunci satu sama lain. Di pertengahan Jembatan Biru itulah, sebuah ikatan yang tak kasatmata namun teramat kokoh kembali diteguhkan.

​Kami menyadari bahwa persahabatan yang lahir dari rahim Pondok Al-Syaikh Abdul Wahid bukanlah persahabatan musiman yang akan layu saat badai dunia menerpa. Ia adalah persaudaraan iman. Biarpun setelah ini takdir mungkin akan melempar jalan hidup kami ke penjuru angin yang berbeda, raga kami tahu ke mana arah untuk pulang. Di bawah saksi langit Pulau Makassar, kami berjanji untuk saling menjaga, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan tetap menjadi sauh yang kukuh bagi satu sama lain.

​Dengan hati yang kian mantap dan jiwa yang dipenuhi kehangatan persaudaraan, kami kembali melanjutkan langkah menuju kediaman Pak La Ampera. Perjalanan hari itu mungkin akan usai saat malam menjemput, namun cerita tentang tiga gelas jiwa yang teguh berdiri di tengah hempasan angin Jembatan Biru akan abadi, tertulis indah dalam lembaran sejarah hidup kami.

​Petikan Makna
​Persahabatan sejati tidak diikat oleh kesamaan materi atau urusan dunia yang fana, melainkan ditenun oleh kesamaan nilai dan berkah didikan masa lalu. Jangan pernah melepaskan jemari sahabat-sahabat yang bersamamu dalam menuntut ilmu agama, karena di saat dunia ini kian bising dan dipenuhi kepalsuan, merekalah angin sejuk yang akan selalu meluruskan arah langkahmu menuju dermaga keselamatan yang hakiki.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...