Di hadapan para dosen, mahasiswa, dan tamu undangan, hadir Ketua Yayasan Pendidikan Islam Nurul Huda, KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., M.A., Ketua STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, Dr. Falah Sabirin, M.A.Hum., Wakil Ketua I Arsyid Saleh, M.Pd., Wakil Ketua II H. Sairul, M.A., Ketua LPM Syarifuddin, S.E., M.Pd., serta perwakilan Kopertais, dan hadir pula Dr. Rasid Amiruddin, S.So.I., M.Ud, (selalu satu penggagas berdirinya STIS SAW).
Suasana aula terasa khidmat. Di balik deretan kursi dan meja ujian, sesungguhnya sedang dibangun sebuah peradaban. Sebab perguruan tinggi bukan hanya tempat melahirkan sarjana, melainkan tempat membentuk cara berpikir, memperhalus akhlak, dan menyiapkan generasi yang mampu menjawab persoalan umat dengan ilmu dan kebijaksanaan.
Dalam sambutannya, Dr. Falah Sabirin mengajak seluruh hadirin menoleh sejenak ke belakang, mengenang awal berdirinya STIS Al-Syaikh Abdul Wahid pada tahun 2019. Perjalanan itu, menurut beliau, bukanlah perjalanan yang mudah.
"Di awal pendirian, kampus ini sempat kehilangan jejak. Kami belum tahu harus berkomunikasi dengan siapa. Surat keputusan pendirian sudah ada, tetapi penerimaan mahasiswa belum bisa berjalan. Semuanya dimulai perlahan. Namun justru dari langkah-langkah kecil itulah kekuatan besar mulai tumbuh."
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan pelajaran yang dalam. Hampir semua lembaga besar lahir dari perjuangan yang sunyi. Tidak ada bangunan megah yang berdiri tanpa pondasi yang kuat. Tidak ada pohon yang menjulang tanpa akar yang terlebih dahulu menghujam ke dalam tanah.
Beliau kemudian mengenang sosok almarhum H. Muh. Sabirin, tokoh yang menjadi penggerak lahirnya perguruan tinggi ini. Sebuah kalimat beliau kembali dihidupkan di tengah forum.
"Saya saja yang lulusan SD bisa mendirikan pesantren. Masa kalian yang sudah saya sekolahkan sampai magister tidak bisa mendirikan perguruan tinggi."
Kalimat itu bukan sekadar motivasi. Ia adalah cambuk yang membangunkan kesadaran. Pendidikan bukan hanya tentang memperoleh gelar, tetapi tentang keberanian mewujudkan cita-cita menjadi karya nyata.
Dr. Falah bahkan menyampaikan bahwa sejak awal beliau memiliki keyakinan, lembaga ini sejatinya layak berkembang menjadi sebuah institut. Namun, sebagaimana pohon yang tumbuh secara alami, setiap tahap memiliki waktunya sendiri. Yang terpenting bukanlah seberapa cepat bertumbuh, melainkan seberapa kuat akar yang dibangun.
Semangat itu kemudian diperkuat oleh sambutan Dr. KH. Sanusi Baco, M.Si., yang hadir mewakili Kopertais. Dengan gaya penyampaian yang hangat namun penuh makna, beliau menyampaikan analogi yang langsung mengundang perhatian seluruh peserta.
"Kampus ini sebenarnya cocok menjadi institut. Tetapi pakailah baju sesuai badan. Jangan terlalu kecil hingga sesak dipakai, dan jangan terlalu besar hingga mudah diterbangkan angin."
Analogi tersebut mengandung pesan yang sangat dalam. Sebuah lembaga harus tumbuh sesuai kapasitasnya, sambil terus memperkuat sistem, meningkatkan kualitas tata kelola, dan memperbaiki administrasi akademik secara berkelanjutan.
Beliau mengingatkan pentingnya disiplin dalam mengelola data dan pelaporan. Sebab di era sekarang, kualitas sebuah perguruan tinggi tidak hanya diukur dari proses belajar mengajarnya, tetapi juga dari akuntabilitas, tata kelola, dan integritas administrasinya.
Salah satu kabar menggembirakan yang beliau sampaikan adalah bahwa hingga saat ini telah ada tujuh dosen STIS Al-Syaikh Abdul Wahid yang berhasil memperoleh Sertifikat Pendidik (Serdos). Ini merupakan langkah maju yang menunjukkan meningkatnya kualitas sumber daya manusia kampus.
Beliau juga menjelaskan makna munaqasyah yang sesungguhnya. Munaqasyah bukan sekadar ujian akhir untuk memperoleh tanda tangan dosen penguji. Ia adalah ruang dialog ilmiah, ruang mempertanggungjawabkan hasil penelitian, sekaligus latihan berpikir secara kritis, sistematis, dan bertanggung jawab.
Malam itu, sebanyak 77 mahasiswa bersiap memperoleh hak menyandang gelar sarjana. Namun para pembicara mengingatkan bahwa gelar bukanlah garis akhir.
Mengutip firman Allah SWT,
"Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar: 9).
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu adalah kemuliaan sekaligus amanah. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya kepada masyarakat.
Gelar sarjana bukanlah mahkota kebanggaan yang dipamerkan, melainkan amanah yang harus diwujudkan dalam karya, pengabdian, dan keteladanan. Sarjana syariah dituntut menjadi pribadi yang mampu menghadirkan solusi bagi persoalan umat, menjaga nilai-nilai keadilan, memperkuat ekonomi syariah, membangun keluarga yang kokoh, dan menjadi pelopor lahirnya masyarakat yang berakhlak.
Di penghujung acara, saya memandang satu per satu wajah mahasiswa yang akan memasuki babak baru kehidupannya. Di mata mereka tersimpan harapan. Di tangan mereka tersimpan masa depan. Dan di pundak mereka kini dipikul amanah ilmu yang kelak akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT.
Perjalanan STIS Al-Syaikh Abdul Wahid masih panjang. Namun hari ini membuktikan bahwa langkah-langkah kecil yang dahulu dimulai dengan keterbatasan perlahan berubah menjadi jalan besar yang melahirkan generasi berilmu.
Karena sesungguhnya, sebuah perguruan tinggi tidak diukur hanya dari megahnya gedung atau banyaknya mahasiswa, tetapi dari seberapa banyak cahaya ilmu yang mampu dinyalakannya, dan seberapa besar manfaat yang diberikannya bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Semoga STIS Al-Syaikh Abdul Wahid terus bertumbuh, mengakar kuat pada nilai-nilai Islam, menjulang tinggi dalam mutu akademik, serta melahirkan sarjana-sarjana yang bukan hanya cerdas pikirannya, tetapi juga jernih hatinya, kokoh integritasnya, dan luas pengabdiannya. Sebab ilmu yang sejati bukan hanya mengubah cara seseorang berpikir, tetapi juga mengubah cara ia mengabdi kepada kehidupan.




Komentar
Posting Komentar