Langsung ke konten utama

𝐌𝐞𝐧𝐲𝐚𝐥𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐈𝐥𝐦𝐮, 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐠𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐒𝐓𝐈𝐒 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐃𝐞𝐩𝐚𝐧 𝐔𝐦𝐚𝐭

 Oleh: LaR
(Penggiat Literasi)

Jumat, 10 Juli 2026 menjadi salah satu hari yang sarat makna dalam perjalanan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Al-Syaikh Abdul Wahid. Sejak pukul 13.30 hingga 20.00 WITA, Aula Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Hari itu bukan sekadar pembukaan Ujian Komprehensif dan Munaqasyah (Skripsi) bagi mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) dan Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhsiyyah). Lebih dari itu, hari tersebut menjadi momentum untuk mengingat kembali mimpi besar para pendiri, sekaligus meneguhkan arah perjalanan lembaga menuju masa depan yang lebih kokoh.

Di hadapan para dosen, mahasiswa, dan tamu undangan, hadir Ketua Yayasan Pendidikan Islam Nurul Huda, KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., M.A., Ketua STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, Dr. Falah Sabirin, M.A.Hum., Wakil Ketua I Arsyid Saleh, M.Pd., Wakil Ketua II H. Sairul, M.A., Ketua LPM Syarifuddin, S.E., M.Pd., serta perwakilan Kopertais, dan hadir pula Dr. Rasid Amiruddin, S.So.I., M.Ud, (selalu satu penggagas berdirinya STIS SAW).

Suasana aula terasa khidmat. Di balik deretan kursi dan meja ujian, sesungguhnya sedang dibangun sebuah peradaban. Sebab perguruan tinggi bukan hanya tempat melahirkan sarjana, melainkan tempat membentuk cara berpikir, memperhalus akhlak, dan menyiapkan generasi yang mampu menjawab persoalan umat dengan ilmu dan kebijaksanaan.

Dalam sambutannya, Dr. Falah Sabirin mengajak seluruh hadirin menoleh sejenak ke belakang, mengenang awal berdirinya STIS Al-Syaikh Abdul Wahid pada tahun 2019. Perjalanan itu, menurut beliau, bukanlah perjalanan yang mudah.

"Di awal pendirian, kampus ini sempat kehilangan jejak. Kami belum tahu harus berkomunikasi dengan siapa. Surat keputusan pendirian sudah ada, tetapi penerimaan mahasiswa belum bisa berjalan. Semuanya dimulai perlahan. Namun justru dari langkah-langkah kecil itulah kekuatan besar mulai tumbuh."

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan pelajaran yang dalam. Hampir semua lembaga besar lahir dari perjuangan yang sunyi. Tidak ada bangunan megah yang berdiri tanpa pondasi yang kuat. Tidak ada pohon yang menjulang tanpa akar yang terlebih dahulu menghujam ke dalam tanah.

Beliau kemudian mengenang sosok almarhum H. Muh. Sabirin, tokoh yang menjadi penggerak lahirnya perguruan tinggi ini. Sebuah kalimat beliau kembali dihidupkan di tengah forum.

"Saya saja yang lulusan SD bisa mendirikan pesantren. Masa kalian yang sudah saya sekolahkan sampai magister tidak bisa mendirikan perguruan tinggi."

Kalimat itu bukan sekadar motivasi. Ia adalah cambuk yang membangunkan kesadaran. Pendidikan bukan hanya tentang memperoleh gelar, tetapi tentang keberanian mewujudkan cita-cita menjadi karya nyata.

Dr. Falah bahkan menyampaikan bahwa sejak awal beliau memiliki keyakinan, lembaga ini sejatinya layak berkembang menjadi sebuah institut. Namun, sebagaimana pohon yang tumbuh secara alami, setiap tahap memiliki waktunya sendiri. Yang terpenting bukanlah seberapa cepat bertumbuh, melainkan seberapa kuat akar yang dibangun.

Semangat itu kemudian diperkuat oleh sambutan Dr. KH. Sanusi Baco, M.Si., yang hadir mewakili Kopertais. Dengan gaya penyampaian yang hangat namun penuh makna, beliau menyampaikan analogi yang langsung mengundang perhatian seluruh peserta.

"Kampus ini sebenarnya cocok menjadi institut. Tetapi pakailah baju sesuai badan. Jangan terlalu kecil hingga sesak dipakai, dan jangan terlalu besar hingga mudah diterbangkan angin."

Analogi tersebut mengandung pesan yang sangat dalam. Sebuah lembaga harus tumbuh sesuai kapasitasnya, sambil terus memperkuat sistem, meningkatkan kualitas tata kelola, dan memperbaiki administrasi akademik secara berkelanjutan.

Beliau mengingatkan pentingnya disiplin dalam mengelola data dan pelaporan. Sebab di era sekarang, kualitas sebuah perguruan tinggi tidak hanya diukur dari proses belajar mengajarnya, tetapi juga dari akuntabilitas, tata kelola, dan integritas administrasinya.

Salah satu kabar menggembirakan yang beliau sampaikan adalah bahwa hingga saat ini telah ada tujuh dosen STIS Al-Syaikh Abdul Wahid yang berhasil memperoleh Sertifikat Pendidik (Serdos). Ini merupakan langkah maju yang menunjukkan meningkatnya kualitas sumber daya manusia kampus.

Beliau juga menjelaskan makna munaqasyah yang sesungguhnya. Munaqasyah bukan sekadar ujian akhir untuk memperoleh tanda tangan dosen penguji. Ia adalah ruang dialog ilmiah, ruang mempertanggungjawabkan hasil penelitian, sekaligus latihan berpikir secara kritis, sistematis, dan bertanggung jawab.

Malam itu, sebanyak 77 mahasiswa bersiap memperoleh hak menyandang gelar sarjana. Namun para pembicara mengingatkan bahwa gelar bukanlah garis akhir.

Mengutip firman Allah SWT,

"Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar: 9).

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu adalah kemuliaan sekaligus amanah. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya kepada masyarakat.

Gelar sarjana bukanlah mahkota kebanggaan yang dipamerkan, melainkan amanah yang harus diwujudkan dalam karya, pengabdian, dan keteladanan. Sarjana syariah dituntut menjadi pribadi yang mampu menghadirkan solusi bagi persoalan umat, menjaga nilai-nilai keadilan, memperkuat ekonomi syariah, membangun keluarga yang kokoh, dan menjadi pelopor lahirnya masyarakat yang berakhlak.

Di penghujung acara, saya memandang satu per satu wajah mahasiswa yang akan memasuki babak baru kehidupannya. Di mata mereka tersimpan harapan. Di tangan mereka tersimpan masa depan. Dan di pundak mereka kini dipikul amanah ilmu yang kelak akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT.

Perjalanan STIS Al-Syaikh Abdul Wahid masih panjang. Namun hari ini membuktikan bahwa langkah-langkah kecil yang dahulu dimulai dengan keterbatasan perlahan berubah menjadi jalan besar yang melahirkan generasi berilmu.

Karena sesungguhnya, sebuah perguruan tinggi tidak diukur hanya dari megahnya gedung atau banyaknya mahasiswa, tetapi dari seberapa banyak cahaya ilmu yang mampu dinyalakannya, dan seberapa besar manfaat yang diberikannya bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Semoga STIS Al-Syaikh Abdul Wahid terus bertumbuh, mengakar kuat pada nilai-nilai Islam, menjulang tinggi dalam mutu akademik, serta melahirkan sarjana-sarjana yang bukan hanya cerdas pikirannya, tetapi juga jernih hatinya, kokoh integritasnya, dan luas pengabdiannya. Sebab ilmu yang sejati bukan hanya mengubah cara seseorang berpikir, tetapi juga mengubah cara ia mengabdi kepada kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...