Oleh LaR
Muh. Ilham Saleh, Rahman, dan Ziaddin akhirnya menyelesaikan ujian skripsi sekaligus mengikuti yudisium. Sebuah perjalanan panjang yang tidak lahir dalam semalam. Di balik toga yang kelak dikenakan, ada malam-malam yang dipenuhi doa, ada lembar-lembar buku yang dibaca hingga larut, ada revisi yang berkali-kali diperbaiki, serta ada air mata yang diam-diam jatuh karena lelah.
Hari itu bukan sekadar penanda berakhirnya masa kuliah. Hari itu adalah awal perjalanan baru.
Ijazah memang penting. Ia menjadi pintu untuk memasuki banyak kesempatan. Namun, lebih penting daripada selembar ijazah adalah ilmu yang menetap dalam jiwa dan berubah menjadi manfaat bagi sesama. Sebab sejarah selalu mengajarkan bahwa masyarakat tidak hanya bertanya, "Apa gelarmu?" tetapi lebih sering merasakan, "Apa manfaat kehadiranmu?"
Sebagai lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Al-Syaikh Abdul Wahid, mereka memikul amanah yang lebih besar daripada sekadar menyandang gelar sarjana. Amanah itu adalah menjaga nilai-nilai keilmuan, akhlak, dan pengabdian yang selama ini ditanamkan oleh para guru di pesantren dan kampus.
Bukankah pohon yang baik bukan diukur dari tingginya batang, melainkan dari buah yang dinikmati banyak orang? Begitu pula ilmu. Nilainya bukan terletak pada sertifikat yang dibingkai di dinding rumah, melainkan pada kemampuan menghadirkan solusi, menebarkan keadilan, menguatkan umat, dan menjadi cahaya di tengah masyarakat.
Melihat Muh. Ilham Saleh, Rahman, dan Ziaddin berdiri dengan wajah penuh syukur, saya teringat sebuah pelajaran sederhana: keberhasilan bukanlah garis akhir. Ia hanyalah anak tangga menuju tanggung jawab yang lebih besar.
Besok, mereka akan kembali ke tengah masyarakat. Ada yang menjadi pendidik, ada yang menjadi penggerak dakwah, ada yang mengabdi di lembaga, ada pula yang membangun usaha. Apa pun jalan yang dipilih, semoga ilmu yang diperoleh tidak berhenti menjadi hafalan, tetapi menjelma amal yang menghidupkan.
Sebab hakikat pendidikan bukan sekadar melahirkan orang yang pandai berbicara, tetapi melahirkan pribadi yang mampu menghadirkan ketenangan, kejujuran, dan harapan di mana pun ia berada.
Selamat kepada Muh. Ilham Saleh, Rahman, dan Ziaddin, dan mahasiswa yang diyudisium. Hari ini kalian menggenggam ijazah, tetapi mulai esok masyarakat akan menunggu karya, keteladanan, dan pengabdian kalian.
Semoga langkah-langkah kecil yang dimulai dari Kampus STIS Al-Syaikh Abdul Wahid terus menjelma jejak besar yang menerangi zaman. Sebab ilmu yang sejati tidak pernah selesai di ruang munaqasyah. Ia justru baru benar-benar dimulai ketika seseorang kembali ke tengah kehidupan, mengubah pengetahuan menjadi pengabdian, dan menjadikan setiap langkah sebagai ibadah.
Selamat menapaki jalan baru, para sarjana. Teruslah belajar, teruslah mengabdi, dan teruslah menebarkan manfaat. Karena pada akhirnya, bukan seberapa tinggi gelar yang kita sandang yang akan dikenang, melainkan seberapa banyak hati yang kita sentuh dan kehidupan yang kita jadikan lebih baik


Komentar
Posting Komentar