Langsung ke konten utama

𝐈𝐣𝐚𝐳𝐚𝐡 𝐁𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐃𝐢𝐠𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦, 𝐈𝐥𝐦𝐮 𝐇𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐞𝐥𝐦𝐚 𝐌𝐚𝐧𝐟𝐚𝐚𝐭

Bingkai Pengetahuan: (Dari Kiri) Rahman, Muh. Ilham Saleh, Ziaddin

Oleh LaR

Jumat, 10 Juli 2026. Sore itu, langit di atas Kampus STIS Al-Syaikh Abdul Wahid tampak lebih teduh dari biasanya. Angin berembus perlahan, seakan ikut mengantar satu fase kehidupan yang telah selesai dilalui. Di ruang-ruang ujian yang sejak pagi dipenuhi ketegangan, kini perlahan berubah menjadi ruang penuh senyum, pelukan, dan ucapan syukur.

Muh. Ilham Saleh, Rahman, dan Ziaddin akhirnya menyelesaikan ujian skripsi sekaligus mengikuti yudisium. Sebuah perjalanan panjang yang tidak lahir dalam semalam. Di balik toga yang kelak dikenakan, ada malam-malam yang dipenuhi doa, ada lembar-lembar buku yang dibaca hingga larut, ada revisi yang berkali-kali diperbaiki, serta ada air mata yang diam-diam jatuh karena lelah.

Hari itu bukan sekadar penanda berakhirnya masa kuliah. Hari itu adalah awal perjalanan baru.

Ijazah memang penting. Ia menjadi pintu untuk memasuki banyak kesempatan. Namun, lebih penting daripada selembar ijazah adalah ilmu yang menetap dalam jiwa dan berubah menjadi manfaat bagi sesama. Sebab sejarah selalu mengajarkan bahwa masyarakat tidak hanya bertanya, "Apa gelarmu?" tetapi lebih sering merasakan, "Apa manfaat kehadiranmu?"

Sebagai lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Al-Syaikh Abdul Wahid, mereka memikul amanah yang lebih besar daripada sekadar menyandang gelar sarjana. Amanah itu adalah menjaga nilai-nilai keilmuan, akhlak, dan pengabdian yang selama ini ditanamkan oleh para guru di pesantren dan kampus.

Bukankah pohon yang baik bukan diukur dari tingginya batang, melainkan dari buah yang dinikmati banyak orang? Begitu pula ilmu. Nilainya bukan terletak pada sertifikat yang dibingkai di dinding rumah, melainkan pada kemampuan menghadirkan solusi, menebarkan keadilan, menguatkan umat, dan menjadi cahaya di tengah masyarakat.

Melihat Muh. Ilham Saleh, Rahman, dan Ziaddin berdiri dengan wajah penuh syukur, saya teringat sebuah pelajaran sederhana: keberhasilan bukanlah garis akhir. Ia hanyalah anak tangga menuju tanggung jawab yang lebih besar.

Besok, mereka akan kembali ke tengah masyarakat. Ada yang menjadi pendidik, ada yang menjadi penggerak dakwah, ada yang mengabdi di lembaga, ada pula yang membangun usaha. Apa pun jalan yang dipilih, semoga ilmu yang diperoleh tidak berhenti menjadi hafalan, tetapi menjelma amal yang menghidupkan.

Sebab hakikat pendidikan bukan sekadar melahirkan orang yang pandai berbicara, tetapi melahirkan pribadi yang mampu menghadirkan ketenangan, kejujuran, dan harapan di mana pun ia berada.

Selamat kepada Muh. Ilham Saleh, Rahman, dan Ziaddin, dan mahasiswa yang diyudisium. Hari ini kalian menggenggam ijazah, tetapi mulai esok masyarakat akan menunggu karya, keteladanan, dan pengabdian kalian.

Semoga langkah-langkah kecil yang dimulai dari Kampus STIS Al-Syaikh Abdul Wahid terus menjelma jejak besar yang menerangi zaman. Sebab ilmu yang sejati tidak pernah selesai di ruang munaqasyah. Ia justru baru benar-benar dimulai ketika seseorang kembali ke tengah kehidupan, mengubah pengetahuan menjadi pengabdian, dan menjadikan setiap langkah sebagai ibadah.

Selamat menapaki jalan baru, para sarjana. Teruslah belajar, teruslah mengabdi, dan teruslah menebarkan manfaat. Karena pada akhirnya, bukan seberapa tinggi gelar yang kita sandang yang akan dikenang, melainkan seberapa banyak hati yang kita sentuh dan kehidupan yang kita jadikan lebih baik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...