Langsung ke konten utama

𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐢𝐦𝐩𝐢 𝐒𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐲𝐚𝐡 𝐋𝐚𝐡𝐢𝐫 𝐂𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐝𝐚𝐛𝐚𝐧: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐏𝐨𝐧𝐝𝐨𝐤 𝐝𝐚𝐧 𝐒𝐓𝐈𝐒 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝

Bingkai Terinspirasi:
Ketua Yayasan Pendidikan Nurul Huda STIS
Al-Syaikh Abdul Wahid
 

Wisuda perdana Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Al-Syaikh Abdul Wahid (Minggu, 12/07/2026) bukan sekadar seremoni akademik. Ia adalah peristiwa sejarah yang memperlihatkan bagaimana sebuah mimpi sederhana, yang dahulu hanya bersemayam di hati seorang ayah, perlahan menjelma menjadi cahaya yang menerangi generasi. Di balik toga yang dikenakan para wisudawan, ada doa yang tak pernah putus, ada air mata perjuangan, ada pengabdian yang panjang, dan ada cita-cita besar yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dalam sambutannya pada Wisuda Perdana STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, Ketua Yayasan Pendidikan Nurul Huda, KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., M.A., mengajak seluruh hadirin untuk kembali membuka lembaran sejarah lahirnya lembaga ini. Beliau menegaskan bahwa STIS Al-Syaikh Abdul Wahid tidak dapat dipisahkan dari rahim yang melahirkannya, yaitu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Keduanya ibarat akar dan batang pohon; saling menguatkan, saling menghidupi, dan sama-sama bertumbuh demi kemaslahatan umat.

Beliau kemudian mengisahkan sosok ayahandanya, H. Muh. Sabirin, pendiri Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Seorang lelaki sederhana yang hanya mengenyam pendidikan formal hingga Sekolah Dasar, tetapi memiliki semangat belajar yang luar biasa. Di sela kesibukannya sebagai pedagang, beliau tidak pernah berhenti menimba ilmu agama kepada para ulama seperti KH. Abdul Syukur, KH. Assari, dan KH. Kaimuddin. Baginya, ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan cahaya yang menuntun langkah kehidupan.

Salah satu kenangan yang paling membekas terjadi ketika KH. Abdul Rasyid Sabirin masih menempuh pendidikan di Pondok Modern Gontor, Ponorogo. Saat berkunjung menjenguk putranya, H. Muh. Sabirin menyampaikan sebuah kalimat sederhana yang kemudian mengubah arah sejarah.

"Nak, saya ingin membuat pesantren."

Kalimat itu begitu singkat, tetapi mengandung samudra harapan. Sang putra mengaku sempat terkejut. Baginya, mendirikan pesantren bukanlah pekerjaan ringan. Dibutuhkan ilmu, pengalaman, sumber daya, dan biaya yang besar. Namun di balik keterbatasan pendidikan formal, sang ayah memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat: keyakinan kepada Allah dan keberanian untuk bermimpi demi umat.

Waktu kemudian membuktikan bahwa mimpi yang disandarkan kepada Allah tidak pernah sia-sia. Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid berdiri dan terus berkembang, melahirkan ribuan alumni yang mengabdi di berbagai bidang kehidupan. Sebagian menjadi guru, dosen, birokrat, pengusaha, dai, peneliti, hingga pemimpin masyarakat. Mereka adalah buah dari pohon yang ditanam dengan kesabaran.

Setelah menyelesaikan studi magister sekitar tahun 2013–2014 dan mengajar di Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan), KH. Abdul Rasyid Sabirin kembali melihat bahwa perjuangan belum selesai. Alumni pesantren membutuhkan ruang yang lebih luas untuk mengaktualisasikan ilmu dan pengabdiannya. Dari sinilah lahir gagasan untuk mendirikan perguruan tinggi.

Maka pada tahun 2019, STIS Al-Syaikh Abdul Wahid resmi dibuka. Sebuah langkah yang melanjutkan cita-cita besar pendiri pondok: menghadirkan lembaga pendidikan tinggi yang menjadi wadah pengembangan ilmu syariah sekaligus pusat pembinaan karakter Islami.

Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa keberadaan pondok pesantren dan STIS bukan semata-mata untuk mencetak lulusan bergelar. Lebih dari itu, keduanya adalah wadah aktualisasi keilmuan, penguatan nilai-nilai keislaman, serta jalan untuk semakin mengenal Allah dalam setiap langkah kehidupan.

Ilmu yang dipelajari di ruang kuliah dan di ruang-ruang pesantren harus mampu menghadirkan Allah dalam setiap keputusan, dalam setiap kebijakan, dan dalam setiap bentuk pengabdian kepada masyarakat. Sebab ilmu tanpa nilai ketuhanan hanya akan melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah.

Beliau juga mengingatkan bahwa perjuangan para pendahulu telah meletakkan fondasi yang kokoh bagi perkembangan Islam di Kepulauan Buton dan Indonesia. Tugas generasi hari ini bukan sekadar menikmati hasilnya, tetapi menjaga, merawat, dan mengembangkannya agar terus memberi manfaat bagi umat.

Wisuda perdana ini menjadi penanda bahwa estafet perjuangan itu terus berjalan. Tongkat pengabdian berpindah dari tangan para pendiri kepada generasi muda yang hari ini mengenakan toga. Gelar sarjana bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Di penghujung sambutannya, tersirat sebuah pesan yang begitu dalam: bangunan megah dapat didirikan dengan batu dan semen, tetapi peradaban hanya dapat dibangun oleh manusia-manusia yang berilmu, berakhlak, dan memiliki hati yang selalu terhubung kepada Allah.

Mungkin benar, mimpi besar tidak selalu lahir dari orang-orang yang memiliki segalanya. Kadang ia tumbuh dari seorang pedagang sederhana yang tekun mengaji kepada para ulama. Dari doa seorang ayah yang tak pernah lelah memikirkan masa depan umat. Dari keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan paling mulia untuk mengubah zaman.

Hari ini, mimpi itu telah menjelma menjadi kenyataan. Pondok berdiri tegak. Kampus tumbuh berkembang. Wisudawan lahir silih berganti. Namun sesungguhnya, perjuangan belum selesai. Sebab cita-cita para pendiri bukan hanya membangun lembaga, melainkan membangun manusia yang mampu menjadi cahaya bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.

Karena sejatinya, sebuah pesantren tidak hanya melahirkan alumni. Ia melahirkan penjaga peradaban.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...