![]() |
| Bingkai Terinspirasi: Ketua Yayasan Pendidikan Nurul Huda STIS Al-Syaikh Abdul Wahid |
Dalam sambutannya pada Wisuda Perdana STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, Ketua Yayasan Pendidikan Nurul Huda, KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., M.A., mengajak seluruh hadirin untuk kembali membuka lembaran sejarah lahirnya lembaga ini. Beliau menegaskan bahwa STIS Al-Syaikh Abdul Wahid tidak dapat dipisahkan dari rahim yang melahirkannya, yaitu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Keduanya ibarat akar dan batang pohon; saling menguatkan, saling menghidupi, dan sama-sama bertumbuh demi kemaslahatan umat.
Beliau kemudian mengisahkan sosok ayahandanya, H. Muh. Sabirin, pendiri Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Seorang lelaki sederhana yang hanya mengenyam pendidikan formal hingga Sekolah Dasar, tetapi memiliki semangat belajar yang luar biasa. Di sela kesibukannya sebagai pedagang, beliau tidak pernah berhenti menimba ilmu agama kepada para ulama seperti KH. Abdul Syukur, KH. Assari, dan KH. Kaimuddin. Baginya, ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan cahaya yang menuntun langkah kehidupan.
Salah satu kenangan yang paling membekas terjadi ketika KH. Abdul Rasyid Sabirin masih menempuh pendidikan di Pondok Modern Gontor, Ponorogo. Saat berkunjung menjenguk putranya, H. Muh. Sabirin menyampaikan sebuah kalimat sederhana yang kemudian mengubah arah sejarah.
"Nak, saya ingin membuat pesantren."
Kalimat itu begitu singkat, tetapi mengandung samudra harapan. Sang putra mengaku sempat terkejut. Baginya, mendirikan pesantren bukanlah pekerjaan ringan. Dibutuhkan ilmu, pengalaman, sumber daya, dan biaya yang besar. Namun di balik keterbatasan pendidikan formal, sang ayah memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat: keyakinan kepada Allah dan keberanian untuk bermimpi demi umat.
Waktu kemudian membuktikan bahwa mimpi yang disandarkan kepada Allah tidak pernah sia-sia. Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid berdiri dan terus berkembang, melahirkan ribuan alumni yang mengabdi di berbagai bidang kehidupan. Sebagian menjadi guru, dosen, birokrat, pengusaha, dai, peneliti, hingga pemimpin masyarakat. Mereka adalah buah dari pohon yang ditanam dengan kesabaran.
Setelah menyelesaikan studi magister sekitar tahun 2013–2014 dan mengajar di Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan), KH. Abdul Rasyid Sabirin kembali melihat bahwa perjuangan belum selesai. Alumni pesantren membutuhkan ruang yang lebih luas untuk mengaktualisasikan ilmu dan pengabdiannya. Dari sinilah lahir gagasan untuk mendirikan perguruan tinggi.
Maka pada tahun 2019, STIS Al-Syaikh Abdul Wahid resmi dibuka. Sebuah langkah yang melanjutkan cita-cita besar pendiri pondok: menghadirkan lembaga pendidikan tinggi yang menjadi wadah pengembangan ilmu syariah sekaligus pusat pembinaan karakter Islami.
Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa keberadaan pondok pesantren dan STIS bukan semata-mata untuk mencetak lulusan bergelar. Lebih dari itu, keduanya adalah wadah aktualisasi keilmuan, penguatan nilai-nilai keislaman, serta jalan untuk semakin mengenal Allah dalam setiap langkah kehidupan.
Ilmu yang dipelajari di ruang kuliah dan di ruang-ruang pesantren harus mampu menghadirkan Allah dalam setiap keputusan, dalam setiap kebijakan, dan dalam setiap bentuk pengabdian kepada masyarakat. Sebab ilmu tanpa nilai ketuhanan hanya akan melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah.
Beliau juga mengingatkan bahwa perjuangan para pendahulu telah meletakkan fondasi yang kokoh bagi perkembangan Islam di Kepulauan Buton dan Indonesia. Tugas generasi hari ini bukan sekadar menikmati hasilnya, tetapi menjaga, merawat, dan mengembangkannya agar terus memberi manfaat bagi umat.
Wisuda perdana ini menjadi penanda bahwa estafet perjuangan itu terus berjalan. Tongkat pengabdian berpindah dari tangan para pendiri kepada generasi muda yang hari ini mengenakan toga. Gelar sarjana bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk menjadi manusia yang bermanfaat.
Di penghujung sambutannya, tersirat sebuah pesan yang begitu dalam: bangunan megah dapat didirikan dengan batu dan semen, tetapi peradaban hanya dapat dibangun oleh manusia-manusia yang berilmu, berakhlak, dan memiliki hati yang selalu terhubung kepada Allah.
Mungkin benar, mimpi besar tidak selalu lahir dari orang-orang yang memiliki segalanya. Kadang ia tumbuh dari seorang pedagang sederhana yang tekun mengaji kepada para ulama. Dari doa seorang ayah yang tak pernah lelah memikirkan masa depan umat. Dari keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan paling mulia untuk mengubah zaman.
Hari ini, mimpi itu telah menjelma menjadi kenyataan. Pondok berdiri tegak. Kampus tumbuh berkembang. Wisudawan lahir silih berganti. Namun sesungguhnya, perjuangan belum selesai. Sebab cita-cita para pendiri bukan hanya membangun lembaga, melainkan membangun manusia yang mampu menjadi cahaya bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.
Karena sejatinya, sebuah pesantren tidak hanya melahirkan alumni. Ia melahirkan penjaga peradaban.


Komentar
Posting Komentar