Di tengah rangkaian acara, suasana menjadi semakin hidup ketika Komisaris Utama Bank Syariah Nasional, Prof. Dr. H. Bahrullah Akbar, M.B.A., CIPM., menyampaikan orasi ilmiahnya. Beliau tidak memulai dengan bahasa yang kaku sebagaimana lazimnya pidato akademik. Sebaliknya, beliau membuka dengan pantun yang menghangatkan suasana.
"Pagi Cerah di Pantai Kamali, Ombak Berbisik Membawa Harapan. Salam Hormat Saya Awali, Semoga Orasi Ini Membawa Kemaslahatan.
Pulau Buton Tempat Memancing Ikan, jangan lupa membawa pancing. Salam Hormat Kepada Hadirin Sekalian, Assalamu'alaikum Wr.Wb."
Pantun sederhana itu langsung mengundang senyum para hadirin. Namun di balik gurauan tersebut tersimpan filosofi yang mendalam. Laut yang luas tidak akan menghasilkan apa-apa bagi orang yang datang tanpa pancing. Begitu pula dunia ilmu pengetahuan. Kesempatan terbentang di mana-mana, tetapi hanya mereka yang menyiapkan diri, membangun kemampuan, dan berani bertindak yang akan memperoleh hasil terbaik.
Beliau kemudian mengajak seluruh civitas akademika STIS Al-Syaikh Abdul Wahid untuk tidak puas hanya menjadi perguruan tinggi yang meluluskan sarjana. Kampus harus tumbuh menjadi laboratorium pemikiran, tempat lahirnya ide-ide besar yang mampu menjawab persoalan umat.
Menurut beliau, masa depan kampus harus dibangun di atas fondasi inovasi. Sudah saatnya STIS memiliki Pusat Riset dan Inovasi Ekonomi Islam, yang menjadi rumah bagi para dosen dan mahasiswa dalam mengembangkan penelitian yang aplikatif dan menjawab kebutuhan masyarakat. Di sana, ilmu tidak berhenti sebagai teori di ruang kelas, tetapi hadir sebagai solusi nyata bagi persoalan ekonomi syariah yang terus berkembang.
Beliau juga menawarkan gagasan tentang pentingnya membangun Pusat Inkubasi Kewirausahaan Syariah. Kampus tidak hanya menghasilkan pencari kerja, tetapi juga melahirkan pencipta lapangan pekerjaan. Mahasiswa perlu dibekali keberanian membangun usaha yang berlandaskan nilai-nilai syariah, sehingga ilmu yang dipelajari mampu menghadirkan kesejahteraan sekaligus keberkahan.
Tak kalah penting adalah pembentukan Pusat Literasi dan Ekonomi Islam yang inklusif dan adaptif. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca buku, tetapi kemampuan membaca zaman. Dunia berubah begitu cepat. Teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, hingga perubahan pola transaksi menuntut perguruan tinggi Islam untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Beliau mengingatkan bahwa setiap cita-cita besar harus diterjemahkan ke dalam langkah-langkah yang terukur.
"Tentukan target, susun timeline, dan disiplin terhadap waktu," pesannya.
Sebuah lembaga yang besar tidak lahir dari rencana yang hanya indah di atas kertas, melainkan dari konsistensi melaksanakan setiap tahapan yang telah dirancang. Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun, seluruh komponen kampus harus bergerak menuju tujuan yang sama.
Beliau juga menekankan pentingnya memahami proses bisnis lembaga dari A sampai Z. Setiap unsur harus mengetahui tugas pokok dan fungsi masing-masing. Tidak boleh ada pekerjaan yang berjalan tanpa arah. Semua harus memiliki job description yang jelas sehingga setiap energi yang dikeluarkan benar-benar memberikan dampak bagi kemajuan lembaga.
Namun, dari sekian banyak gagasan yang beliau sampaikan, ada satu kalimat yang terasa begitu membekas di hati para peserta.
"Jangan pernah berhenti belajar. Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, dan jadikan setiap orang sebagai guru."
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat luas. Pendidikan sejatinya tidak dibatasi oleh ruang kelas. Pengalaman adalah guru yang tidak pernah berhenti mengajar. Keberhasilan maupun kegagalan sama-sama menyimpan pelajaran. Orang tua, sahabat, masyarakat, bahkan anak kecil sekalipun dapat menjadi guru apabila kita memiliki kerendahan hati untuk belajar.
Beliau mengingatkan bahwa keterampilan paling penting bukan hanya membaca buku, tetapi membaca pengalaman. Banyak orang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi gagal mengambil hikmah dari perjalanan hidupnya. Sebaliknya, ada orang yang sederhana namun menjadi bijaksana karena mampu menjadikan setiap peristiwa sebagai pelajaran.
Dalam bagian akhir orasinya, beliau mengulas tentang transformasi ekonomi syariah di Indonesia. Menurutnya, ekonomi syariah bukan lagi sekadar alternatif, melainkan telah menjadi salah satu sektor strategis yang terus berkembang. Perbankan syariah, industri halal, keuangan sosial Islam, zakat, wakaf produktif, hingga ekonomi digital berbasis syariah membuka peluang yang sangat besar bagi generasi muda.
Di sinilah peran STIS Al-Syaikh Abdul Wahid menjadi sangat penting. Kampus ini harus mampu melahirkan lulusan yang bukan hanya memahami teori hukum Islam dan ekonomi syariah, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata. Dunia membutuhkan sarjana yang mampu menjadi peneliti, praktisi, konsultan, akademisi, pengusaha, sekaligus agen perubahan yang membawa nilai-nilai Islam ke tengah dinamika masyarakat modern.
Orasi ilmiah itu terasa seperti sebuah kado intelektual bagi wisuda perdana STIS Al-Syaikh Abdul Wahid. Bukan hadiah yang dibungkus pita, melainkan peta jalan yang menunjukkan arah perjalanan kampus ke depan. Sebuah kompas yang mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah gedung yang berdiri atau banyaknya lulusan yang dihasilkan, tetapi dari seberapa besar manfaat ilmu yang dipancarkan kepada masyarakat.
Ketika acara berakhir, para wisudawan membawa pulang ijazah sebagai tanda kelulusan. Namun lebih dari itu, mereka membawa amanah besar untuk terus belajar, berkarya, dan mengabdi. Demikian pula STIS Al-Syaikh Abdul Wahid. Wisuda perdana bukanlah garis akhir, melainkan langkah pertama menuju cita-cita yang lebih besar.
Semoga kampus ini terus tumbuh menjadi pusat keilmuan Islam yang unggul, rumah bagi lahirnya para pemikir, peneliti, wirausahawan, dan pemimpin yang berintegritas. Sebab peradaban tidak dibangun oleh mereka yang sekadar pandai berbicara, tetapi oleh orang-orang yang berani memadukan ilmu, amal, inovasi, dan keteladanan.
Karena pada akhirnya, kampus yang hebat bukanlah kampus yang hanya dikenang oleh sejarah, melainkan kampus yang terus menulis sejarah melalui karya, pengabdian, dan cahaya ilmu yang menerangi kehidupan umat dari generasi ke generasi.


Komentar
Posting Komentar