Langsung ke konten utama

𝐒𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐏𝐞𝐭𝐚 𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐣𝐮 𝐒𝐓𝐈𝐒 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐔𝐧𝐠𝐠𝐮𝐥.

Komisaris Utama Bank Syariah Nasional,
Prof. Dr. H. Bahrullah Akbar, M.B.A., CIPM

Oleh: LaR
(Penggiat Literasi)
Minggu, 12 Juli 2026 bukan sekadar hari wisuda perdana bagi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Al-Syaikh Abdul Wahid. Hari itu menjadi ruang perjumpaan antara mimpi dan kenyataan, antara perjuangan para pendiri dan harapan generasi penerus. Aula kampus dipenuhi wajah-wajah yang memancarkan syukur. Para wisudawan mengenakan toga kebanggaan, para dosen memancarkan senyum haru, dan para tamu undangan hadir membawa doa serta harapan untuk masa depan lembaga yang sedang bertumbuh.

Di tengah rangkaian acara, suasana menjadi semakin hidup ketika Komisaris Utama Bank Syariah Nasional, Prof. Dr. H. Bahrullah Akbar, M.B.A., CIPM., menyampaikan orasi ilmiahnya. Beliau tidak memulai dengan bahasa yang kaku sebagaimana lazimnya pidato akademik. Sebaliknya, beliau membuka dengan pantun yang menghangatkan suasana.

"Pagi Cerah di Pantai Kamali, Ombak Berbisik Membawa Harapan. Salam Hormat Saya Awali, Semoga Orasi Ini Membawa Kemaslahatan. 

Pulau Buton Tempat Memancing Ikan, jangan lupa membawa pancing. Salam Hormat Kepada Hadirin Sekalian, Assalamu'alaikum Wr.Wb."

Pantun sederhana itu langsung mengundang senyum para hadirin. Namun di balik gurauan tersebut tersimpan filosofi yang mendalam. Laut yang luas tidak akan menghasilkan apa-apa bagi orang yang datang tanpa pancing. Begitu pula dunia ilmu pengetahuan. Kesempatan terbentang di mana-mana, tetapi hanya mereka yang menyiapkan diri, membangun kemampuan, dan berani bertindak yang akan memperoleh hasil terbaik.

Beliau kemudian mengajak seluruh civitas akademika STIS Al-Syaikh Abdul Wahid untuk tidak puas hanya menjadi perguruan tinggi yang meluluskan sarjana. Kampus harus tumbuh menjadi laboratorium pemikiran, tempat lahirnya ide-ide besar yang mampu menjawab persoalan umat.

Menurut beliau, masa depan kampus harus dibangun di atas fondasi inovasi. Sudah saatnya STIS memiliki Pusat Riset dan Inovasi Ekonomi Islam, yang menjadi rumah bagi para dosen dan mahasiswa dalam mengembangkan penelitian yang aplikatif dan menjawab kebutuhan masyarakat. Di sana, ilmu tidak berhenti sebagai teori di ruang kelas, tetapi hadir sebagai solusi nyata bagi persoalan ekonomi syariah yang terus berkembang.

Beliau juga menawarkan gagasan tentang pentingnya membangun Pusat Inkubasi Kewirausahaan Syariah. Kampus tidak hanya menghasilkan pencari kerja, tetapi juga melahirkan pencipta lapangan pekerjaan. Mahasiswa perlu dibekali keberanian membangun usaha yang berlandaskan nilai-nilai syariah, sehingga ilmu yang dipelajari mampu menghadirkan kesejahteraan sekaligus keberkahan.

Tak kalah penting adalah pembentukan Pusat Literasi dan Ekonomi Islam yang inklusif dan adaptif. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca buku, tetapi kemampuan membaca zaman. Dunia berubah begitu cepat. Teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, hingga perubahan pola transaksi menuntut perguruan tinggi Islam untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Beliau mengingatkan bahwa setiap cita-cita besar harus diterjemahkan ke dalam langkah-langkah yang terukur.

"Tentukan target, susun timeline, dan disiplin terhadap waktu," pesannya.

Sebuah lembaga yang besar tidak lahir dari rencana yang hanya indah di atas kertas, melainkan dari konsistensi melaksanakan setiap tahapan yang telah dirancang. Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun, seluruh komponen kampus harus bergerak menuju tujuan yang sama.

Beliau juga menekankan pentingnya memahami proses bisnis lembaga dari A sampai Z. Setiap unsur harus mengetahui tugas pokok dan fungsi masing-masing. Tidak boleh ada pekerjaan yang berjalan tanpa arah. Semua harus memiliki job description yang jelas sehingga setiap energi yang dikeluarkan benar-benar memberikan dampak bagi kemajuan lembaga.

Namun, dari sekian banyak gagasan yang beliau sampaikan, ada satu kalimat yang terasa begitu membekas di hati para peserta.

"Jangan pernah berhenti belajar. Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, dan jadikan setiap orang sebagai guru."

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat luas. Pendidikan sejatinya tidak dibatasi oleh ruang kelas. Pengalaman adalah guru yang tidak pernah berhenti mengajar. Keberhasilan maupun kegagalan sama-sama menyimpan pelajaran. Orang tua, sahabat, masyarakat, bahkan anak kecil sekalipun dapat menjadi guru apabila kita memiliki kerendahan hati untuk belajar.

Beliau mengingatkan bahwa keterampilan paling penting bukan hanya membaca buku, tetapi membaca pengalaman. Banyak orang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi gagal mengambil hikmah dari perjalanan hidupnya. Sebaliknya, ada orang yang sederhana namun menjadi bijaksana karena mampu menjadikan setiap peristiwa sebagai pelajaran.

Dalam bagian akhir orasinya, beliau mengulas tentang transformasi ekonomi syariah di Indonesia. Menurutnya, ekonomi syariah bukan lagi sekadar alternatif, melainkan telah menjadi salah satu sektor strategis yang terus berkembang. Perbankan syariah, industri halal, keuangan sosial Islam, zakat, wakaf produktif, hingga ekonomi digital berbasis syariah membuka peluang yang sangat besar bagi generasi muda.

Di sinilah peran STIS Al-Syaikh Abdul Wahid menjadi sangat penting. Kampus ini harus mampu melahirkan lulusan yang bukan hanya memahami teori hukum Islam dan ekonomi syariah, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata. Dunia membutuhkan sarjana yang mampu menjadi peneliti, praktisi, konsultan, akademisi, pengusaha, sekaligus agen perubahan yang membawa nilai-nilai Islam ke tengah dinamika masyarakat modern.

Orasi ilmiah itu terasa seperti sebuah kado intelektual bagi wisuda perdana STIS Al-Syaikh Abdul Wahid. Bukan hadiah yang dibungkus pita, melainkan peta jalan yang menunjukkan arah perjalanan kampus ke depan. Sebuah kompas yang mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah gedung yang berdiri atau banyaknya lulusan yang dihasilkan, tetapi dari seberapa besar manfaat ilmu yang dipancarkan kepada masyarakat.

Ketika acara berakhir, para wisudawan membawa pulang ijazah sebagai tanda kelulusan. Namun lebih dari itu, mereka membawa amanah besar untuk terus belajar, berkarya, dan mengabdi. Demikian pula STIS Al-Syaikh Abdul Wahid. Wisuda perdana bukanlah garis akhir, melainkan langkah pertama menuju cita-cita yang lebih besar.

Semoga kampus ini terus tumbuh menjadi pusat keilmuan Islam yang unggul, rumah bagi lahirnya para pemikir, peneliti, wirausahawan, dan pemimpin yang berintegritas. Sebab peradaban tidak dibangun oleh mereka yang sekadar pandai berbicara, tetapi oleh orang-orang yang berani memadukan ilmu, amal, inovasi, dan keteladanan.

Karena pada akhirnya, kampus yang hebat bukanlah kampus yang hanya dikenang oleh sejarah, melainkan kampus yang terus menulis sejarah melalui karya, pengabdian, dan cahaya ilmu yang menerangi kehidupan umat dari generasi ke generasi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...