Bingkai Pemikiran: (Dari Kiri)
Dr. Rasid Amiruddin, S.Sos.I., M.Ud.
Dr. Hugua, M.Lingk
Oleh: LaR
Minggu, 12 Juli 2026, Sebuah wisuda memang selalu ditandai dengan toga, ijazah, senyum, dan foto bersama. Namun, sesungguhnya wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Di balik gemuruh tepuk tangan dan kilatan kamera pada Wisuda Perdana STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, ada satu pemandangan yang mungkin tidak semua orang sempat memperhatikannya. Sebuah perbincangan singkat, tetapi sarat makna.
Di sela-sela acara, Dr. Rasid Amiruddin, S.Sos.I., M.Ud. (Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Alumni Ponpes Saw) berbincang hangat dengan Dr. Hugua, M.Lingk., Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara. Tidak ada podium. Tidak ada mikrofon. Hanya percakapan sederhana yang mengalir sebagaimana dua insan yang sama-sama mencintai ilmu, pengabdian, dan masa depan generasi.
Saya memperhatikan dari dekat. Sesekali mereka tersenyum, sesekali wajah mereka tampak serius. Di tengah riuh para wisudawan yang saling mengabadikan momen, mereka justru sedang membicarakan sesuatu yang lebih panjang usianya daripada sebuah seremoni: bagaimana menyiapkan masa depan.
Pembicaraan mereka berputar pada tiga kata yang tampak sederhana, tetapi menjadi fondasi peradaban: amal, spiritual, dan kesehatan.
Ilmu, kata mereka, akan kehilangan cahaya apabila tidak melahirkan amal. Amal akan kehilangan arah apabila tidak dipandu spiritualitas. Dan keduanya akan sulit diwujudkan apabila manusia mengabaikan kesehatan jasmani maupun rohani.
Betapa indahnya ketika ilmu tidak berhenti menjadi hafalan, tetapi menjelma menjadi tindakan.
Betapa agungnya ketika ibadah tidak hanya selesai di sajadah, tetapi hidup dalam kejujuran, pelayanan, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama.
Betapa pentingnya kesehatan, sebab tubuh yang kuat adalah kendaraan bagi lahirnya karya-karya besar.
Percakapan itu kemudian mengalir menuju STIS Al-Syaikh Abdul Wahid. Kampus yang baru melahirkan wisudawan perdananya kini sedang menulis babak baru sejarahnya.
"Perjalanan baru saja dimulai," kira-kira itulah pesan yang dapat ditangkap dari perbincangan mereka.
Sebuah perguruan tinggi tidak cukup hanya meluluskan sarjana. Ia harus melahirkan manusia yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Sarjana syariah bukan hanya memahami hukum, tetapi juga mampu menjadi jembatan keadilan.
Sarjana syariah bukan hanya pandai berbicara tentang ekonomi Islam, tetapi mampu menggerakkan ekonomi umat.
Sarjana syariah bukan hanya memahami kitab, tetapi mampu membaca realitas zaman.
Dr. Rasid Amiruddin menekankan pentingnya penguatan tradisi akademik dan riset. Kampus harus menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan besar yang menjawab kebutuhan masyarakat. Sebab ilmu yang hanya tersimpan di rak perpustakaan ibarat benih yang tidak pernah ditanam.
Sementara itu, Dr. Hugua melihat bahwa pembangunan daerah membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter, spiritualitas, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Peradaban, menurut mereka, tidak dibangun oleh gedung yang tinggi, melainkan oleh manusia-manusia yang memiliki visi tinggi.
Percakapan mereka mengingatkan saya pada satu kenyataan sederhana: kemajuan sebuah lembaga tidak pernah lahir dari satu orang. Ia lahir dari perjumpaan ide, dari keberanian berdiskusi, dari kesediaan mendengar, dan dari kerendahan hati untuk terus belajar.
Hari itu saya melihat dua doktor tidak sedang berlomba menunjukkan siapa yang paling hebat. Mereka justru saling melengkapi pandangan, saling menguatkan gagasan, dan sama-sama memikirkan bagaimana STIS Al-Syaikh Abdul Wahid dapat terus tumbuh menjadi kampus yang unggul, terpercaya, dan memberi manfaat luas bagi umat.
Di tengah derasnya perubahan zaman, kampus membutuhkan lebih banyak ruang dialog seperti itu. Ruang di mana ilmu bertemu pengalaman. Ruang di mana pemimpin bertemu akademisi. Ruang di mana gagasan tidak berhenti menjadi wacana, tetapi berubah menjadi peta jalan pembangunan.
Wisuda perdana telah selesai. Toga akan disimpan. Sertifikat akan dibingkai. Foto-foto akan memenuhi media sosial.
Namun sesungguhnya yang paling penting bukanlah apa yang dibawa pulang di tangan, melainkan apa yang dibawa pulang di dalam pikiran dan hati.
Semoga percakapan sederhana antara Dr. Rasid Amiruddin dan Dr. Hugua menjadi simbol bahwa masa depan STIS Al-Syaikh Abdul Wahid tidak hanya dibangun oleh ruang kuliah, tetapi juga oleh budaya berdialog, berpikir, dan bekerja sama.
Sebab sejarah besar selalu dimulai dari percakapan-percakapan kecil yang dipenuhi keikhlasan.
Dan sebagaimana ombak yang terus menyapa pesisir Kepulauan Buton tanpa pernah lelah, demikian pula ilmu harus terus bergerak—mengalir menjadi amal, menguat menjadi spiritualitas, dan tumbuh menjadi keberkahan bagi masyarakat.
Itulah hakikat seorang pemandu pengetahuan: bukan sekadar mengajar untuk hari ini, tetapi menyalakan cahaya yang akan menerangi generasi-generasi yang belum lahir.


Komentar
Posting Komentar