Langsung ke konten utama

𝐃𝐢 𝐒𝐚𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐫𝐢𝐬𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐫𝐚𝐩𝐚𝐧: 𝐊𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐏𝐚𝐫𝐚 𝐏𝐞𝐧𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐝𝐚𝐛𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐠𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐧𝐭𝐞𝐧𝐠 𝐈𝐥𝐦𝐮 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐞𝐭𝐚𝐡𝐮𝐚𝐧


Bingkai Kebersamaan: (Dari Kanan) KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., M.A., Dr. KH. Nur Raufin Sanusi Baco, M.Si., Hj. Ratna, M.Pd.

Oleh: LAR
(Penggiat Literasi)
Minggu, 12 Juli 2026- Ada pemandangan yang begitu indah pada Wisuda Perdana STIS Al-Syaikh Abdul Wahid. Bukan hanya deretan toga hitam yang dikenakan para wisudawan, bukan pula kilatan kamera yang mengabadikan senyum bahagia mereka. Lebih dari itu, ada satu bingkai yang menyimpan makna jauh lebih dalam: duduk berdampingan para tokoh yang selama ini menjadi penjaga arah perjalanan lembaga.

Di barisan kehormatan tampak Ketua Yayasan Pendidikan Nurul Huda, KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., M.A., Kopertais Wilayah VIII, Dr. KH. Nur Raufin Sanusi Baco, M.Si., Anggota DPRD Kota Baubau Hj. Ratna, M.Pd., bersama para tamu undangan, dosen, dan pemangku kepentingan lainnya. Mereka hadir bukan sekadar menjadi saksi sebuah wisuda, melainkan ikut mengukuhkan lahirnya babak baru perjalanan pendidikan Islam di Kepulauan Buton

Suasana aula dipenuhi rasa syukur. Di balik senyum para wisudawan, tersembunyi perjalanan panjang yang tidak selalu mudah. Ada air mata orang tua yang diam-diam menjadi doa. Ada kesabaran para dosen yang mengubah keraguan menjadi keyakinan. Ada pengorbanan para pengelola kampus yang bekerja siang dan malam agar cita-cita besar para pendiri tetap hidup.

Wisuda perdana ini bukanlah peristiwa yang lahir dalam semalam. Ia adalah buah dari benih yang ditanam puluhan tahun silam oleh almarhum H. Muhammad Sabirin, pendiri Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Beliau pernah bermimpi agar Kepulauan Buton memiliki lembaga pendidikan yang mampu melahirkan kader-kader umat, kader bangsa, sekaligus pewaris ilmu yang berakhlak. Hari itu, mimpi tersebut seakan berdiri nyata di hadapan semua yang hadir.

Dalam kesempatan itu, KH. Abdul Rasyid Sabirin tampak menyaksikan prosesi wisuda dengan wajah penuh rasa syukur. Di pundaknya kini terletak amanah besar untuk melanjutkan estafet perjuangan yang diwariskan sang ayahanda. Baginya, pondok pesantren dan STIS Al-Syaikh Abdul Wahid bukan hanya institusi pendidikan, tetapi benteng peradaban; tempat ilmu dipelajari, akhlak ditempa, dan pengabdian dilahirkan.

Sementara itu, kehadiran Dr. KH. Nur Raufin Sanusi Baco, M.Si. sebagai perwakilan Kopertais membawa pesan yang sangat mendalam. Beliau mengingatkan bahwa kemajuan sebuah perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa atau megahnya bangunan, tetapi dari mutu tata kelola, budaya akademik, kedisiplinan administrasi, kualitas dosen, serta konsistensi menjaga standar pendidikan tinggi. Kampus yang baik adalah kampus yang terus belajar memperbaiki diri, karena ilmu hanya akan tumbuh di tempat yang mencintai perbaikan.

Di sisi lain, Hj. Ratna, M.Pd., sebagai Anggota DPRD Kota Baubau sekaligus bagian dari keluarga besar pondok, menjadi simbol bahwa alumni dan tokoh masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam menguatkan lembaga pendidikan. Pendidikan tidak dapat berjalan sendiri. Ia membutuhkan dukungan pemerintah, masyarakat, alumni, dan seluruh elemen yang memiliki kepedulian terhadap masa depan generasi muda.

Saya memandangi mereka satu per satu. Dalam diam, saya seperti melihat sebuah mata rantai yang saling menguatkan. Ada ulama yang menjaga nilai-nilai keislaman. Ada akademisi yang mengembangkan tradisi keilmuan. Ada pemerintah yang membuka ruang kolaborasi. Ada wakil rakyat yang memperjuangkan kebijakan pendidikan. Semuanya berada dalam satu barisan yang sama: membangun benteng ilmu pengetahuan. Saya kemudian teringat sebuah pepatah Arab:
"Al-'ilmu yahrasuka wa anta tahrusu al-mâl."
Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta harus engkau jaga.

Mungkin inilah hakikat berdirinya STIS Al-Syaikh Abdul Wahid. Kampus ini hadir bukan semata-mata untuk mencetak pemegang ijazah, melainkan melahirkan manusia yang memiliki keluasan ilmu, kematangan spiritual, kecerdasan sosial, dan keberanian mengabdi kepada masyarakat.

Benteng ilmu pengetahuan tidak dibangun hanya dengan batu bata dan semen. Ia dibangun oleh keteladanan para guru, keikhlasan para pengelola, kesungguhan mahasiswa, dukungan para alumni, serta doa yang tidak pernah putus dari para orang tua. Semua unsur itu berpadu menjadi pondasi yang kokoh menghadapi perubahan zaman.

Wisudawan angkatan pertama memikul amanah yang tidak ringan. Mereka bukan sekadar lulusan pertama, tetapi penentu reputasi pertama. Setiap langkah mereka di tengah masyarakat akan menjadi cermin kualitas kampus yang telah mendidik mereka. Ketika mereka berlaku jujur, masyarakat akan menghormati almamaternya. Ketika mereka menghadirkan solusi, nama STIS akan semakin dipercaya. Ketika mereka terus belajar dan berkarya, cita-cita besar pendiri pondok akan terus hidup melintasi generasi

Pada akhirnya, saya memahami bahwa duduk bersama para tokoh itu bukan hanya tentang menyaksikan prosesi wisuda. Mereka sedang menjaga sebuah api. Api ilmu yang dahulu dinyalakan dengan kesederhanaan, kini mulai menerangi lebih banyak jalan. Api itu tidak boleh padam. Ia harus terus dijaga oleh setiap generasi, setiap alumni, setiap dosen, dan setiap mahasiswa yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan panjang menuju kemuliaan.

Semoga STIS Al-Syaikh Abdul Wahid terus bertumbuh menjadi benteng ilmu pengetahuan, pusat lahirnya pemikir-pemikir Islam yang moderat. Pada akhirnya, saya memahami bahwa duduk bersama para tokoh itu bukan hanya tentang menyaksikan prosesi wisuda. Mereka sedang menjaga sebuah api. Api ilmu yang dahulu dinyalakan dengan kesederhanaan, kini mulai menerangi lebih banyak jalan. Api itu tidak boleh padam. Ia harus terus dijaga oleh setiap generasi, setiap alumni, setiap dosen, dan setiap mahasiswa yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan panjang menuju kemuliaan.

Semoga STIS Al-Syaikh Abdul Wahid terus bertumbuh menjadi benteng ilmu pengetahuan, pusat lahirnya pemikir-pemikir Islam yang moderat, penegak keadilan, penggerak ekonomi syariah, dan pelayan umat yang berakhlak mulia. Sebab sebuah kampus yang besar bukan hanya dikenang karena gedungnya yang megah, tetapi karena alumni-alumninya mampu menjadi cahaya bagi masyarakat.

Di hari itu, kami tidak hanya menyaksikan sebuah wisuda. Kami sedang menyaksikan sejarah yang mulai menulis babak barunya—sejarah tentang ilmu, pengabdian, dan harapan yang akan terus hidup, menembus zaman dan melintasi peradaban. penegak keadilan, penggerak ekonomi syariah, dan pelayan umat yang berakhlak mulia. Sebab sebuah kampus yang besar bukan hanya dikenang karena gedungnya yang megah, tetapi karena alumni-alumninya mampu menjadi cahaya bagi masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐫𝐚𝐦𝐮 𝐊𝐞𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧, 𝐌𝐞𝐧𝐚𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐡: 𝐒𝐲𝐮𝐤𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐫𝐞𝐭𝐚𝐫𝐢𝐚𝐭 𝐈𝐊𝐏𝐒

Bingkai Persamaan Gerak Alumni ( The Secret Of Movement Oleh : LaR Selasa, 25 Agustus 2026, pukul 20.00 WITA.  Malam terasa dingin. Hembusan angin bergerak perlahan di antara bangunan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Lampu-lampu terang menerangi wajah-wajah yang datang dengan senyum dan optimisme. Di tempat sederhana itu, keluarga besar IKPS berkumpul dalam sebuah momentum yang mungkin tampak kecil, tetapi sesungguhnya menyimpan harapan besar: syukuran Sekretariat IKPS. Malam itu bukan sekadar tentang sebuah ruangan yang kini memiliki nama. Ia adalah simbol bahwa alumni sedang belajar kembali untuk menemukan formula kebersamaan—bagaimana menyatukan gagasan, merawat komunikasi, dan terus menata langkah agar IKPS semakin bermanfaat. Di tengah suasana yang hangat itu, para alumni duduk bersama. Ada yang telah lama meninggalkan bangku pondok, ada yang masih aktif mendampingi kegiatan, dan ada pula yang datang membawa semangat baru. Wajah boleh berubah dimakan usia, tetapi rasa p...

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...