Langsung ke konten utama

๐Œ๐ž๐ซ๐ž๐ค๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐Œ๐ž๐ง๐ฒ๐š๐ฅ๐š๐ค๐š๐ง ๐๐ž๐ฅ๐ข๐ญ๐š: ๐๐š๐ซ๐š ๐๐ž๐ซ๐ข๐ง๐ญ๐ข๐ฌ ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐Œ๐ž๐ง๐ฒ๐š๐ค๐ฌ๐ข๐ค๐š๐ง ๐๐ฎ๐š๐ก ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐›๐๐ข๐š๐ง

Bingkai: Mewakili Mereka Yang Bagian dari Perjuang: Ustad Saleh Laksana, Ustad Amaluddin, Ustad Jafar Karim, Hj. Siti Halimah, Pak Munir B., Hj. Nur Marlina S.

Oleh : LAR

Minggu, 12 Juli 2026- Ada pemandangan yang begitu menggetarkan hati pada Wisuda Perdana Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Al-Syaikh Abdul Wahid. Di deretan kursi kehormatan, duduk para guru, ustaz, tokoh masyarakat, dan keluarga besar pondok. Sebagian rambut mereka telah memutih, langkah mereka tak lagi secepat dahulu, tetapi cahaya perjuangan yang terpancar dari wajah-wajah itu tetap menyala. Mereka bukan sekadar tamu undangan. Mereka adalah para perintis, para penanam benih, para pemandu ilmu, etika, dan moral yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid.

Wisuda perdana ini sesungguhnya bukan hanya milik para sarjana yang hari itu mengenakan toga. Ia juga milik mereka yang bertahun-tahun berdiri di depan kelas, membimbing santri membaca Al-Qur'an, mengajarkan kitab, menanamkan disiplin, memperkenalkan adab sebelum ilmu, dan menunjukkan bahwa keteladanan adalah metode pendidikan yang paling abadi.

Di balik setiap lulusan, selalu ada guru yang diam-diam mendoakan. Di balik setiap keberhasilan lembaga, selalu ada pengabdian yang tak banyak diketahui orang. Mereka bekerja tanpa berharap tepuk tangan, tetapi yakin bahwa setiap ilmu yang diajarkan akan terus mengalir menjadi amal jariyah.

Allah SWT berfirman:

"Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin..." (QS. At-Taubah: 105).

Ayat ini seakan hidup dalam perjalanan para guru Pondok Al-Syaikh Abdul Wahid. Mereka memilih jalan sunyi pengabdian. Tidak mengejar kemasyhuran, tetapi mengejar keberkahan. Tidak menghitung berapa banyak yang telah mereka korbankan, tetapi terus bertanya, "Apa lagi yang bisa kami berikan untuk umat?"

Hari itu, ketika prosesi wisuda berlangsung khidmat, wajah-wajah para guru tampak menyimpan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mereka melihat benih yang dahulu ditanam kini mulai berbuah. Berdirinya STIS Al-Syaikh Abdul Wahid dan lahirnya wisudawan angkatan pertama menjadi bukti bahwa perjuangan yang dirintis dari pesantren sederhana telah berkembang menjadi gerakan pendidikan yang memberi harapan baru bagi Kota Baubau dan Kepulauan Buton.

Jejak mereka bukan hanya jejak juang, tetapi juga jejak intelektual. Mereka mengajarkan bahwa ilmu harus terus bertumbuh mengikuti perkembangan zaman. Mereka mendorong lahirnya budaya membaca, berdiskusi, meneliti, dan menulis sebagai bagian dari tradisi keilmuan Islam.

Namun lebih dari itu, mereka meninggalkan jejak spiritual. Mereka mengajarkan bahwa kecerdasan tanpa iman akan kehilangan arah, sementara ilmu tanpa akhlak akan kehilangan makna. Karena itulah, pondok tidak hanya mendidik kepala untuk berpikir, tetapi juga hati untuk tetap tunduk kepada Allah SWT.

Kini estafet itu berada di tangan generasi berikutnya. Para alumni, dosen, mahasiswa, dan santri memikul amanah untuk melanjutkan cita-cita besar para pendahulu. Membangun STIS Al-Syaikh Abdul Wahid sebagai kampus yang unggul, memperkuat riset, melahirkan pemikir-pemikir Islam, sekaligus menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat.

Sebab sejatinya, sebuah lembaga pendidikan tidak dikenang karena megahnya bangunan, tetapi karena besarnya manfaat yang lahir dari orang-orang yang pernah dididiknya.

Semoga para guru dan ustaz yang telah merintis jalan ini senantiasa diberi kesehatan, keberkahan umur, dan pahala yang terus mengalir. Dan bagi mereka yang telah mendahului kita, semoga Allah melapangkan kuburnya, menerima seluruh amal pengabdiannya, serta menjadikan setiap ilmu yang diwariskan sebagai cahaya yang tak pernah padam.

Karena para guru sejati tidak hanya mengajar di ruang kelas. Mereka menanamkan nilai yang kelak tumbuh menjadi peradaban. Dari tangan-tangan merekalah lahir generasi yang siap mengabdi, membangun daerah, dan menerangi Kota Baubau serta Kepulauan Buton dengan ilmu, akhlak, dan keteladanan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐๐จ๐ง๐ฉ๐ž๐ฌ ๐€๐ฅ-๐€๐ฆ๐š๐ง๐š๐ก: ๐‰๐ž๐ฃ๐š๐ค ๐‰๐ฎ๐š๐ง๐  ๐€๐ฅ๐ฆ๐š๐ซ๐ก๐ฎ๐ฆ ๐Š๐‡. ๐Œ๐ฎ๐ก. ๐’๐ฒ๐š๐ก๐ซ๐ฎ๐๐๐ข๐ง ๐’๐š๐ฅ๐ž๐ก

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​๐Š๐ฅ๐ข๐ฆ๐š๐ค๐ฌ ๐’๐ฉ๐ข๐ซ๐ข๐ญ๐ฎ๐š๐ฅ ๐๐ข ๐€๐ฅ-๐’๐ฒ๐š๐ข๐ค๐ก ๐€๐›๐๐ฎ๐ฅ ๐–๐š๐ก๐ข๐: ๐Š๐š๐ฅ๐š ๐‰๐ž๐ฆ๐š๐ซ๐ข ๐Œ๐ž๐ฆ๐จ๐ญ๐จ๐ง๐  ๐”๐ซ๐š๐ญ ๐๐š๐๐ข ๐‡๐š๐ฌ๐ซ๐š๐ญ ๐ƒ๐ฎ๐ง๐ข๐š๐ฐ๐ข

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

๐’๐ข๐ฅ๐š๐ญ๐ฎ๐ซ๐š๐ก๐ฆ๐ข ๐‘๐š๐ฌ๐š ๐๐š๐ง ๐๐ž๐ฆ๐ข๐ค๐ข๐ซ๐š๐ง

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...