๐๐๐ซ๐๐ค๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐๐ง๐ฒ๐๐ฅ๐๐ค๐๐ง ๐๐๐ฅ๐ข๐ญ๐: ๐๐๐ซ๐ ๐๐๐ซ๐ข๐ง๐ญ๐ข๐ฌ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐๐ง๐ฒ๐๐ค๐ฌ๐ข๐ค๐๐ง ๐๐ฎ๐๐ก ๐๐๐ง๐ ๐๐๐๐ข๐๐ง
![]() |
| Bingkai: Mewakili Mereka Yang Bagian dari Perjuang: Ustad Saleh Laksana, Ustad Amaluddin, Ustad Jafar Karim, Hj. Siti Halimah, Pak Munir B., Hj. Nur Marlina S. |
Oleh : LAR
Wisuda perdana ini sesungguhnya bukan hanya milik para sarjana yang hari itu mengenakan toga. Ia juga milik mereka yang bertahun-tahun berdiri di depan kelas, membimbing santri membaca Al-Qur'an, mengajarkan kitab, menanamkan disiplin, memperkenalkan adab sebelum ilmu, dan menunjukkan bahwa keteladanan adalah metode pendidikan yang paling abadi.
Di balik setiap lulusan, selalu ada guru yang diam-diam mendoakan. Di balik setiap keberhasilan lembaga, selalu ada pengabdian yang tak banyak diketahui orang. Mereka bekerja tanpa berharap tepuk tangan, tetapi yakin bahwa setiap ilmu yang diajarkan akan terus mengalir menjadi amal jariyah.
Allah SWT berfirman:
"Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin..." (QS. At-Taubah: 105).
Ayat ini seakan hidup dalam perjalanan para guru Pondok Al-Syaikh Abdul Wahid. Mereka memilih jalan sunyi pengabdian. Tidak mengejar kemasyhuran, tetapi mengejar keberkahan. Tidak menghitung berapa banyak yang telah mereka korbankan, tetapi terus bertanya, "Apa lagi yang bisa kami berikan untuk umat?"
Hari itu, ketika prosesi wisuda berlangsung khidmat, wajah-wajah para guru tampak menyimpan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mereka melihat benih yang dahulu ditanam kini mulai berbuah. Berdirinya STIS Al-Syaikh Abdul Wahid dan lahirnya wisudawan angkatan pertama menjadi bukti bahwa perjuangan yang dirintis dari pesantren sederhana telah berkembang menjadi gerakan pendidikan yang memberi harapan baru bagi Kota Baubau dan Kepulauan Buton.
Jejak mereka bukan hanya jejak juang, tetapi juga jejak intelektual. Mereka mengajarkan bahwa ilmu harus terus bertumbuh mengikuti perkembangan zaman. Mereka mendorong lahirnya budaya membaca, berdiskusi, meneliti, dan menulis sebagai bagian dari tradisi keilmuan Islam.
Namun lebih dari itu, mereka meninggalkan jejak spiritual. Mereka mengajarkan bahwa kecerdasan tanpa iman akan kehilangan arah, sementara ilmu tanpa akhlak akan kehilangan makna. Karena itulah, pondok tidak hanya mendidik kepala untuk berpikir, tetapi juga hati untuk tetap tunduk kepada Allah SWT.
Kini estafet itu berada di tangan generasi berikutnya. Para alumni, dosen, mahasiswa, dan santri memikul amanah untuk melanjutkan cita-cita besar para pendahulu. Membangun STIS Al-Syaikh Abdul Wahid sebagai kampus yang unggul, memperkuat riset, melahirkan pemikir-pemikir Islam, sekaligus menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat.
Sebab sejatinya, sebuah lembaga pendidikan tidak dikenang karena megahnya bangunan, tetapi karena besarnya manfaat yang lahir dari orang-orang yang pernah dididiknya.
Semoga para guru dan ustaz yang telah merintis jalan ini senantiasa diberi kesehatan, keberkahan umur, dan pahala yang terus mengalir. Dan bagi mereka yang telah mendahului kita, semoga Allah melapangkan kuburnya, menerima seluruh amal pengabdiannya, serta menjadikan setiap ilmu yang diwariskan sebagai cahaya yang tak pernah padam.
Karena para guru sejati tidak hanya mengajar di ruang kelas. Mereka menanamkan nilai yang kelak tumbuh menjadi peradaban. Dari tangan-tangan merekalah lahir generasi yang siap mengabdi, membangun daerah, dan menerangi Kota Baubau serta Kepulauan Buton dengan ilmu, akhlak, dan keteladanan.


Komentar
Posting Komentar