𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐃𝐫. 𝐇𝐮𝐠𝐮𝐚, 𝐌.𝐋𝐢𝐧𝐠 (𝐖𝐚𝐠𝐮𝐛 𝐒𝐮𝐥𝐭𝐫𝐚): 𝐌𝐞𝐦𝐚𝐡𝐚𝐭 𝐉𝐢𝐰𝐚 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐡𝐚𝐭 𝐝𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐮𝐝𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐝𝐚𝐧𝐚 𝐒𝐓𝐈𝐒 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝
![]() |
| Bingkai Pesan: 𝐃𝐫. 𝐇𝐮𝐠𝐮𝐚, 𝐌.𝐋𝐢𝐧𝐠 |
Pemandu Pengetahuan
Di tengah suasana yang khidmat, hadir Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Dr. Hugua, M.Ling., yang memberikan sambutan penuh inspirasi. Beliau tidak hanya berbicara kepada para wisudawan, tetapi juga menitipkan arah bagi masa depan pendidikan tinggi Islam di Kepulauan Buton dan Sulawesi Tenggara.
Beliau mengingatkan bahwa perguruan tinggi bukan sekadar tempat mencetak sarjana. Kampus adalah ruang lahirnya manusia yang utuh—manusia yang memiliki pengetahuan, amal, spiritualitas, kesehatan jasmani dan rohani, serta keterampilan hidup. Semua unsur itu harus berjalan beriringan. Ilmu tanpa amal akan kehilangan makna. Amal tanpa ilmu mudah kehilangan arah. Spiritualitas tanpa kepedulian sosial akan terasa hampa, sedangkan keterampilan tanpa akhlak dapat kehilangan keberkahan.
Dalam pandangan beliau, lulusan STIS Al-Syaikh Abdul Wahid harus menjadi pemandu kehidupan, bukan sekadar pencari pekerjaan. Mereka diharapkan mampu menjadi cahaya yang menerangi keluarga, masyarakat, dan bangsa melalui ilmu yang diamalkan dengan penuh keikhlasan.
Beliau juga menekankan bahwa kecerdasan sejati bukan hanya lahir dari kemampuan akademik, tetapi juga dari keluasan hati dalam memperlakukan sesama.
"Hormatilah yang lebih tua, sayangilah yang lebih muda, muliakan orang tua, hargailah saudara dan sahabat," demikian pesan yang mengalir lembut namun menggetarkan hati.
Kalimat itu mengingatkan bahwa adab merupakan fondasi utama ilmu. Gelar akademik akan kehilangan nilainya apabila tidak dibingkai dengan akhlak yang mulia. Sebaliknya, ilmu yang dipadukan dengan rasa hormat, kasih sayang, dan kepedulian akan melahirkan pemimpin yang dicintai masyarakat.
Beliau juga mengajak para wisudawan untuk terus mengembangkan skill atau keterampilan. Dunia saat ini berubah sangat cepat. Perubahan teknologi, ekonomi digital, kecerdasan buatan, dan transformasi sosial menuntut setiap lulusan untuk terus belajar sepanjang hayat. Ijazah bukanlah tanda bahwa proses belajar telah selesai, melainkan bukti bahwa perjalanan belajar yang sesungguhnya baru dimulai.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, lanjut beliau, memandang perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam membangun sumber daya manusia yang unggul. Daerah membutuhkan generasi yang mampu mengelola potensi kelautan, pertanian, ekonomi syariah, pariwisata, budaya, dan berbagai kekayaan lokal dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan inovasi.
Sulawesi Tenggara dianugerahi laut yang luas, pulau-pulau yang indah, budaya yang kaya, dan masyarakat yang religius. Semua itu merupakan modal besar untuk membangun peradaban. Namun, kekayaan alam hanya akan menjadi cerita apabila tidak dikelola oleh sumber daya manusia yang berilmu, berintegritas, dan memiliki semangat pengabdian.
Karena itu, beliau berharap STIS Al-Syaikh Abdul Wahid terus tumbuh menjadi pusat lahirnya para ulama, akademisi, peneliti, praktisi ekonomi syariah, hakim, advokat, pendidik, dan pemimpin yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
Suasana aula terasa semakin hidup ketika para wisudawan menyimak setiap kalimat yang disampaikan. Tidak sedikit yang mencatat, sebagian mengangguk pelan, sementara yang lain larut dalam renungan. Sebab mereka menyadari bahwa hari itu bukan hanya menerima ijazah, tetapi juga menerima amanah.
Wisuda sejatinya bukan garis akhir dari perjalanan pendidikan. Ia adalah pintu gerbang menuju pengabdian yang lebih luas. Kampus telah mengajarkan teori, para dosen telah menanamkan ilmu, para guru telah memberi teladan, dan orang tua telah mengiringi langkah dengan doa. Kini saatnya semua bekal itu diterjemahkan menjadi karya nyata di tengah masyarakat.
Pesan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara seolah menjadi kompas bagi para lulusan: "Jadilah pribadi yang terus belajar, memperbaiki diri, menjaga kesehatan jasmani dan ruhani, memperkuat spiritualitas, mengasah keterampilan, serta membangun hubungan yang penuh kasih dengan sesama manusia."
Di penghujung acara, langit Baubau tampak cerah, seakan ikut menyaksikan lahirnya generasi baru yang siap menapaki perjalanan panjang. Mereka membawa nama baik almamater, nama besar Al-Syaikh Abdul Wahid, dan doa dari para guru yang telah membimbing mereka dengan penuh kesabaran.
Karena pada akhirnya, sebuah kampus tidak dikenang hanya karena gedung-gedungnya yang megah atau jumlah lulusannya yang banyak. Sebuah kampus akan hidup dalam sejarah ketika para alumninya menjadi manusia yang menghadirkan manfaat, menebarkan ilmu, menjaga akhlak, merawat persaudaraan, dan mengabdikan dirinya bagi agama, masyarakat, daerah, dan bangsa.
Itulah makna terdalam dari wisuda perdana STIS Al-Syaikh Abdul Wahid: bukan sekadar merayakan keberhasilan akademik, tetapi meneguhkan tekad untuk melahirkan generasi yang memadukan pengetahuan, amal, spiritualitas, kesehatan, keterampilan, dan kasih sayang sebagai bekal membangun peradaban yang lebih bermartabat.
Semoga sambutan yang mengalir pada momentum wisuda perdana ini menjadi energi yang terus hidup dalam langkah para lulusan STIS Al-Syaikh Abdul Wahid. Sebab ilmu akan menemukan kemuliaannya ketika bertemu dengan akhlak, pengabdian, dan keberanian untuk memberi manfaat bagi sesama.


Komentar
Posting Komentar