Langsung ke konten utama

𝐖𝐢𝐬𝐮𝐝𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐝𝐚𝐧𝐚 𝐒𝐓𝐈𝐒 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐂𝐢𝐭𝐚-𝐂𝐢𝐭𝐚 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐞𝐥𝐦𝐚 𝐆𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐛𝐝𝐢

Dr. Falah Sabirin M.A.Hum

Oleh: LaR.

Ada peristiwa yang tidak hanya layak dikenang sebagai sebuah agenda seremonial, tetapi juga pantas dicatat sebagai bagian dari sejarah panjang sebuah perjuangan. Wisuda Perdana Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Al-Syaikh Abdul Wahid adalah salah satunya. Di balik senyum para wisudawan, di balik gema takbir dan ucapan selamat yang mengalun di aula, tersimpan kisah panjang tentang doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan, pengabdian yang tidak mengenal lelah, serta cita-cita besar yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Dalam laporan Ketua STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, Dr. Falah Sabirin, Lc., M.A.Hum., terpancar rasa syukur yang begitu mendalam. Bukan sekadar rasa bangga karena berhasil meluluskan angkatan pertama, tetapi rasa haru karena dapat menyaksikan sebuah mimpi yang dahulu tampak jauh kini berdiri nyata di hadapan mata.

Wisuda perdana ini bukan hanya tentang mahasiswa yang berhasil meraih gelar sarjana. Lebih dari itu, ia adalah bukti bahwa benih yang ditanam dengan kesabaran akhirnya tumbuh menjadi pohon yang mulai berbuah. Sebuah perjalanan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.

Beliau mengingatkan bahwa segala capaian ini merupakan nikmat Allah SWT yang wajib disyukuri. Sebab, tidak ada keberhasilan yang lahir dari kekuatan manusia semata. Ada pertolongan Allah yang selalu menyertai setiap langkah, setiap ikhtiar, dan setiap tetes keringat yang jatuh di jalan perjuangan.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia." Pesan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan STIS Al-Syaikh Abdul Wahid adalah hasil kerja bersama. Tidak mungkin sebuah lembaga tumbuh tanpa orang-orang yang mengabdikan tenaga, pikiran, dan waktunya dengan penuh keikhlasan.

Wisuda ini juga menjadi cerminan perjuangan para pendahulu. Nama H. Muh. Sabirin, pendiri Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, kembali disebut dengan penuh penghormatan. Beliau pernah menanamkan keyakinan bahwa pendidikan adalah investasi terbesar untuk masa depan umat. Apa yang hari ini berdiri megah bukanlah hasil kerja sehari atau setahun, melainkan buah dari pengabdian panjang yang dimulai sejak pondok ini dirintis pada tahun 1993.

Perjalanan itu kemudian melahirkan STIS Al-Syaikh Abdul Wahid pada tahun 2019. Sebuah langkah besar yang memperluas cakrawala perjuangan pondok, menghadirkan pendidikan tinggi berbasis syariah sebagai jawaban atas kebutuhan zaman. Dari pesantren lahirlah perguruan tinggi; dari pendidikan dasar keagamaan tumbuh pusat pengembangan ilmu syariah yang semakin kokoh.

Dr. Falah Sabirin juga menyampaikan bahwa stabilitas dan perkembangan lembaga ini tidak terlepas dari bimbingan dan kepemimpinan KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., M.A. Dengan ketenangan, kebijaksanaan, dan komitmennya, beliau terus menjaga arah perjuangan agar tetap berada pada rel nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan pengabdian.

Sebuah lembaga pendidikan tidak akan tumbuh sendirian. Ia membutuhkan tangan-tangan yang saling menguatkan. Karena itu, rasa terima kasih juga disampaikan kepada berbagai mitra yang telah membersamai perjalanan STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, di antaranya Kementerian Agama, Bank Muamalat, BPRS Bahteramas (BPRS BNS), serta Pemerintah Kota Baubau. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam memperkuat langkah kampus menuju masa depan.

Di balik megahnya panggung wisuda, terdapat banyak wajah yang mungkin tidak berdiri di depan kamera, tetapi justru menjadi fondasi kokoh keberhasilan acara. Panitia bekerja tanpa banyak sorotan. Nama-nama seperti Ustad Mutawali, Ustad Usman, Ustad Bahtiar, Ustad Marjuki, serta seluruh panitia lainnya adalah bagian dari "tangan-tangan sunyi" yang memastikan setiap rangkaian kegiatan berjalan dengan baik. Mereka mengajarkan bahwa pengabdian tidak selalu membutuhkan panggung; kadang justru lahir dari kesediaan bekerja di balik layar.


Dalam laporannya, Ketua STIS kembali menegaskan arah besar lembaga melalui visi kampus, yaitu menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah yang unggul, strategis, dan terdepan dalam pengembangan ilmu syariah. Visi itu bukan sekadar rangkaian kata yang terpajang di dinding kampus, melainkan kompas yang akan mengarahkan setiap langkah, setiap program, dan setiap cita-cita sivitas akademika.

Beliau juga mengutip pesan yang begitu terkenal dalam tradisi Islam:

"Utlubul 'ilma minal mahdi ilal lahdi."

Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat.

Kalimat itu mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir dari proses belajar. Justru sejak hari inilah perjalanan ilmu yang sesungguhnya dimulai. Gelar sarjana hanyalah pintu pertama menuju samudra ilmu yang jauh lebih luas.

Pesan yang tidak kalah penting disampaikan kepada para wisudawan. Jagalah nama baik almamater. Di dada kalian kini melekat nama STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, sebuah nama yang diambil dari ulama besar yang dihormati masyarakat. Nama itu bukan sekadar identitas akademik, melainkan amanah moral yang harus dijaga dengan akhlak, integritas, dan karya nyata.

Karena sesungguhnya masyarakat tidak hanya melihat ijazah yang dimiliki seseorang, tetapi juga melihat bagaimana ilmunya menjelma menjadi kejujuran, pelayanan, kepedulian, dan manfaat bagi sesama.

Wisuda perdana ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar prosesi akademik. Ia adalah tonggak sejarah. Sebuah penanda bahwa perjuangan panjang para pendiri mulai memperlihatkan buahnya. Dari pondok yang dahulu dibangun dengan segala keterbatasan, kini lahir para sarjana yang diharapkan menjadi cahaya bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.

Semoga langkah ini terus berlanjut. Dari satu angkatan lahir angkatan berikutnya. Dari satu generasi tumbuh generasi-generasi baru yang lebih unggul. Sebab sebuah lembaga pendidikan tidak diukur dari megahnya bangunan, melainkan dari manusia-manusia yang dilahirkannya.

Dan hari itu, di aula STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, sejarah kembali menuliskan satu kalimat indah: cita-cita besar para pendiri tidak berhenti menjadi mimpi, tetapi telah menjelma menjadi kenyataan yang terus melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi untuk umat


Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...