![]() |
| Bingkai Ceria: (Tampak Dari Kiri), Ustad Hasan Bahrun, Ustad Bahtiar, LaR, Ustad La Ode Ibrahim, Ustad Harun Rijali. |
Oleh: LaR
Di sudut aula, saya duduk berbincang bersama sahabat-sahabat seperjuangan, sesama alumni Pondok Al-Syaikh Abdul Wahid: Ustad Bahtiar, Ustad La Ode Ibrahim, Ustad Harun Rijali, dan Ustad Hasan Bahrun. Kami tidak sedang menjadi penguji, bukan pula mahasiswa yang diuji. Kami hanya menjadi saksi—saksi perjalanan sebuah lembaga yang dahulu kami kenal hanya dengan bangunan sederhana, kini perlahan melahirkan para sarjana yang siap mengabdi kepada umat.
Obrolan kami mengalir pelan, sebagaimana angin yang menyelinap dari sela-sela jendela aula. Sesekali mata kami tertuju kepada mahasiswa yang keluar-masuk ruang ujian dengan wajah penuh harap. Ada yang tersenyum lega, ada yang masih tampak mengulang jawaban dalam benaknya. Semua sedang belajar bahwa gelar bukanlah hadiah, melainkan buah dari kesabaran, doa, dan kerja keras.
Di tengah percakapan, kami seakan kembali pada masa puluhan tahun silam. Saat masih mengenakan seragam santri, duduk bersila di ruang kelas, menghafal kaidah nahwu dan sharaf, belajar bahasa Arab dan Inggris, serta ditempa oleh disiplin pondok yang terkadang terasa berat, tetapi kini justru kami syukuri. Waktu memang telah membawa kami ke jalan pengabdian yang berbeda-beda, tetapi akar kami tetap sama: Pondok Al-Syaikh Abdul Wahid.
Saya memandang sahabat-sahabat di samping saya. Masing-masing memiliki cerita perjuangan yang berbeda. Ada yang mengabdikan diri di dunia pendidikan, ada yang aktif dalam dakwah dan pembinaan masyarakat, ada yang menekuni bidang pemerintahan dan pelayanan publik. Namun sore itu kami dipersatukan oleh rasa bangga melihat adik-adik kami melanjutkan estafet perjuangan ilmu.
Bukankah sebuah lembaga pendidikan dikatakan hidup ketika ia terus melahirkan generasi? Pohon yang baik tidak hanya berdiri kokoh, tetapi juga terus berbuah. Demikian pula pesantren dan perguruan tinggi. Keberhasilannya tidak diukur dari megahnya gedung, melainkan dari manusia-manusia yang dibentuknya.
Munaqasyah yang kami saksikan bukan sekadar forum mempertahankan skripsi. Ia adalah latihan keberanian berpikir, kemampuan mempertanggungjawabkan ilmu, dan kesiapan memasuki kehidupan yang lebih luas. Di ruang itu, mahasiswa belajar bahwa ilmu harus mampu diuji, dipertanyakan, bahkan dikritik. Sebab ilmu yang kuat adalah ilmu yang sanggup berdiri di atas argumentasi, bukan sekadar hafalan.
Di sela obrolan, Ustad La Ode Ibrahim berucap pelan, "Alhamdulillah, pondok ini terus bergerak."
Kalimat sederhana itu mengandung makna yang dalam. Bergerak berarti hidup. Bergerak berarti tidak berhenti pada romantisme masa lalu. Bergerak berarti terus memperbaiki diri agar mampu menjawab tantangan zaman.
Kami pun berbincang tentang pentingnya peran alumni. Alumni bukan hanya orang yang pernah belajar di sebuah lembaga, tetapi juga duta nilai-nilai yang dibawa ke tengah masyarakat. Ketika alumni bekerja dengan jujur, mengajar dengan ikhlas, memimpin dengan adil, dan melayani dengan amanah, sesungguhnya mereka sedang memperkenalkan wajah pondok kepada dunia.
Di hadapan kami, para mahasiswa mungkin sedang mempersiapkan diri menyandang gelar sarjana. Namun sesungguhnya perjalanan mereka baru saja dimulai. Gelar hanyalah pintu masuk menuju tanggung jawab yang lebih besar. Masyarakat tidak akan bertanya berapa nilai ujian mereka, tetapi bagaimana mereka menggunakan ilmunya untuk menghadirkan solusi, menebarkan kedamaian, dan memberi manfaat.
Saya teringat pesan yang sering kami dengar ketika masih menjadi santri: *"Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah."* Kalimat itu sederhana, tetapi terus hidup hingga hari ini. Sebab hakikat pendidikan bukan hanya menjadikan seseorang cerdas, melainkan menjadikannya berguna.
Menjelang sore, aula masih dipenuhi aktivitas. Para dosen, panitia, dan mahasiswa terus menjalankan tugas masing-masing. Di balik semua itu ada tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak sorotan, tetapi justru menjadi penopang utama perjalanan lembaga. Seperti akar pohon yang tak terlihat, namun darinyalah batang menjadi kokoh dan ranting-ranting mampu menjulang ke langit.
Kami pun menutup obrolan dengan senyum dan doa. Semoga STIS Al-Syaikh Abdul Wahid terus tumbuh menjadi pusat lahirnya sarjana-sarjana yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga kuat dalam akhlak dan pengabdian. Sebab negeri ini tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga membutuhkan manusia yang jujur, amanah, dan mencintai umat.
Hari itu kami tidak sekadar duduk berbincang. Kami sedang menyaksikan sejarah kecil yang kelak akan menjadi sejarah besar. Sebab setiap sarjana yang lahir adalah cahaya baru yang siap menerangi masyarakat. Dan setiap cahaya selalu bermula dari seseorang yang bersedia belajar, ditempa, diuji, lalu mengabdikan dirinya dengan sepenuh hati.
Begitulah kehidupan di pondok: satu generasi menanam, generasi berikutnya memanen, lalu kembali menanam agar cahaya ilmu tidak pernah padam.


Komentar
Posting Komentar