![]() |
| Bingkai Tekad: (Dari Kanan) Harun R, Muammar, Bachtiar, Syarifuddin N, Ld Syaril, Mashur, LaR, Ld Ibrahim, Hasan B, Ahlan |
Oleh: LAR
Di balik senyum yang mengembang, sesungguhnya tersimpan sebuah tekad: siap berkontribusi untuk daerah.
Wisuda hari itu bukan sekadar mengantar mahasiswa menerima gelar sarjana. Lebih dari itu, ia menjadi penanda bahwa Kepulauan Buton sedang menata masa depannya melalui jalan ilmu pengetahuan. Kampus ini tidak hanya melahirkan lulusan, tetapi juga melahirkan harapan baru bagi masyarakat.
Saya memandang wajah-wajah sahabat itu satu per satu. Ada yang menjadi pendidik, ada yang mengabdi di pemerintahan, ada yang bergerak di dunia sosial, ada pula yang aktif membangun masyarakat dari berbagai bidang. Perbedaan profesi bukanlah sekat, melainkan kekuatan. Seperti jari-jari tangan yang memiliki bentuk berbeda, namun ketika menggenggam, mampu melahirkan kekuatan yang luar biasa.
Kami dipersatukan oleh satu ruang yang sama: Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Dari ruang-ruang kelas sederhana itulah kami belajar arti disiplin, keikhlasan, persaudaraan, dan keberanian bermimpi. Hari ini, nilai-nilai itu kembali dipanggil oleh sejarah untuk menjawab tantangan zaman.
Wisuda perdana STIS Al-Syaikh Abdul Wahid menjadi momentum penting bagi IKPS. Bukan hanya untuk memberikan ucapan selamat kepada para wisudawan, tetapi juga untuk meneguhkan komitmen bahwa alumni harus menjadi bagian dari solusi pembangunan daerah. Sebab, sebuah lembaga pendidikan akan semakin kuat apabila alumninya tetap menjaga hubungan, menyumbangkan gagasan, dan menghadirkan karya nyata.
Kami percaya bahwa pembangunan tidak hanya membutuhkan gedung yang megah, tetapi juga manusia-manusia yang memiliki integritas. Daerah tidak hanya memerlukan sumber daya alam, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu mengelola amanah dengan ilmu dan akhlak.
Karena itu, kami ingin menghadirkan wajah baru, motivasi baru, dan inovasi baru dalam dunia pendidikan lokal, khususnya di Kota Baubau dan Kepulauan Buton. Wajah baru yang optimis menghadapi perubahan. Motivasi baru yang menghidupkan semangat belajar sepanjang hayat. Inovasi baru yang lahir dari kolaborasi antara pesantren, kampus, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Di tengah derasnya arus perubahan global, pendidikan tidak boleh berjalan sendiri. Alumni harus hadir sebagai jembatan yang menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat. Pengalaman yang diperoleh di berbagai bidang pekerjaan harus kembali menjadi energi bagi almamater yang telah membesarkan kami.
Saya membayangkan suatu hari nanti, semakin banyak alumni yang menjadi dosen, peneliti, hakim, pengusaha, birokrat, ulama, legislator, maupun pemimpin masyarakat. Namun sehebat apa pun profesi yang diraih, jangan pernah melupakan satu identitas yang paling mulia: kita adalah santri yang dididik untuk memberi manfaat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
Hadis inilah yang seharusnya menjadi kompas perjalanan setiap alumni. Gelar, jabatan, dan penghargaan hanyalah kendaraan. Tujuan akhirnya tetap sama: menghadirkan manfaat bagi umat.
Foto sederhana yang kami abadikan siang itu mungkin akan menjadi kenangan beberapa tahun mendatang. Namun semoga ia juga menjadi saksi bahwa pada hari itu lahir sebuah tekad bersama: menjaga marwah Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, membesarkan STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, serta menguatkan peran IKPS sebagai rumah besar yang menyatukan gagasan, pengabdian, dan persaudaraan.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang pandai berbicara, tetapi oleh mereka yang berani bergerak. Dan kami berharap, dari wajah-wajah yang berdiri bersama dalam bingkai itu, akan lahir langkah-langkah kecil yang kelak menjelma menjadi perubahan besar bagi Kota Baubau, Kepulauan Buton, dan Indonesia.
Karena sahabat sejati bukan hanya saling mengenang masa lalu, melainkan saling menguatkan untuk membangun masa depan.


Komentar
Posting Komentar