Langsung ke konten utama

𝐖𝐚𝐣𝐚𝐡-𝐖𝐚𝐣𝐚𝐡 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐠𝐞𝐫𝐚𝐤 𝐏𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧: 𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐖𝐢𝐬𝐮𝐝𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐝𝐚𝐧𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐣𝐮 𝐊𝐞𝐛𝐚𝐧𝐠𝐤𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐩𝐮𝐥𝐚𝐮𝐚𝐧 𝐁𝐮𝐭𝐨𝐧

Bingkai Tekad: (Dari Kanan) Harun R, Muammar, Bachtiar, Syarifuddin N, Ld Syaril, Mashur, LaR, Ld Ibrahim, Hasan B, Ahlan

Oleh: LAR

Minggu, 12 Juli 2026-Sebuah foto mampu menghentikan waktu. Ia mengabadikan bukan hanya wajah, tetapi juga harapan. Di tengah kemeriahan Wisuda Perdana Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Al-Syaikh Abdul Wahid, saya berdiri bersama sahabat-sahabat seperjuangan, para alumni yang hari ini mengemban amanah sebagai Ketua dan Pengurus Majelis Pertimbangan dan Pengurus Ikatan Alumni Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid (IKPS).

Di balik senyum yang mengembang, sesungguhnya tersimpan sebuah tekad: siap berkontribusi untuk daerah.

Wisuda hari itu bukan sekadar mengantar mahasiswa menerima gelar sarjana. Lebih dari itu, ia menjadi penanda bahwa Kepulauan Buton sedang menata masa depannya melalui jalan ilmu pengetahuan. Kampus ini tidak hanya melahirkan lulusan, tetapi juga melahirkan harapan baru bagi masyarakat.

Saya memandang wajah-wajah sahabat itu satu per satu. Ada yang menjadi pendidik, ada yang mengabdi di pemerintahan, ada yang bergerak di dunia sosial, ada pula yang aktif membangun masyarakat dari berbagai bidang. Perbedaan profesi bukanlah sekat, melainkan kekuatan. Seperti jari-jari tangan yang memiliki bentuk berbeda, namun ketika menggenggam, mampu melahirkan kekuatan yang luar biasa.

Kami dipersatukan oleh satu ruang yang sama: Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Dari ruang-ruang kelas sederhana itulah kami belajar arti disiplin, keikhlasan, persaudaraan, dan keberanian bermimpi. Hari ini, nilai-nilai itu kembali dipanggil oleh sejarah untuk menjawab tantangan zaman.

Wisuda perdana STIS Al-Syaikh Abdul Wahid menjadi momentum penting bagi IKPS. Bukan hanya untuk memberikan ucapan selamat kepada para wisudawan, tetapi juga untuk meneguhkan komitmen bahwa alumni harus menjadi bagian dari solusi pembangunan daerah. Sebab, sebuah lembaga pendidikan akan semakin kuat apabila alumninya tetap menjaga hubungan, menyumbangkan gagasan, dan menghadirkan karya nyata.

Kami percaya bahwa pembangunan tidak hanya membutuhkan gedung yang megah, tetapi juga manusia-manusia yang memiliki integritas. Daerah tidak hanya memerlukan sumber daya alam, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu mengelola amanah dengan ilmu dan akhlak.

Karena itu, kami ingin menghadirkan wajah baru, motivasi baru, dan inovasi baru dalam dunia pendidikan lokal, khususnya di Kota Baubau dan Kepulauan Buton. Wajah baru yang optimis menghadapi perubahan. Motivasi baru yang menghidupkan semangat belajar sepanjang hayat. Inovasi baru yang lahir dari kolaborasi antara pesantren, kampus, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Di tengah derasnya arus perubahan global, pendidikan tidak boleh berjalan sendiri. Alumni harus hadir sebagai jembatan yang menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat. Pengalaman yang diperoleh di berbagai bidang pekerjaan harus kembali menjadi energi bagi almamater yang telah membesarkan kami.

Saya membayangkan suatu hari nanti, semakin banyak alumni yang menjadi dosen, peneliti, hakim, pengusaha, birokrat, ulama, legislator, maupun pemimpin masyarakat. Namun sehebat apa pun profesi yang diraih, jangan pernah melupakan satu identitas yang paling mulia: kita adalah santri yang dididik untuk memberi manfaat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."

Hadis inilah yang seharusnya menjadi kompas perjalanan setiap alumni. Gelar, jabatan, dan penghargaan hanyalah kendaraan. Tujuan akhirnya tetap sama: menghadirkan manfaat bagi umat.

Foto sederhana yang kami abadikan siang itu mungkin akan menjadi kenangan beberapa tahun mendatang. Namun semoga ia juga menjadi saksi bahwa pada hari itu lahir sebuah tekad bersama: menjaga marwah Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, membesarkan STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, serta menguatkan peran IKPS sebagai rumah besar yang menyatukan gagasan, pengabdian, dan persaudaraan.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang pandai berbicara, tetapi oleh mereka yang berani bergerak. Dan kami berharap, dari wajah-wajah yang berdiri bersama dalam bingkai itu, akan lahir langkah-langkah kecil yang kelak menjelma menjadi perubahan besar bagi Kota Baubau, Kepulauan Buton, dan Indonesia.

Karena sahabat sejati bukan hanya saling mengenang masa lalu, melainkan saling menguatkan untuk membangun masa depan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...