Langsung ke konten utama

𝐏𝐞𝐭𝐚 𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐛𝐝𝐢𝐚𝐧: 𝐊𝐚𝐝𝐨 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐞𝐫𝐢𝐧𝐭𝐚𝐡 𝐊𝐨𝐭𝐚 𝐁𝐚𝐮𝐛𝐚𝐮 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐖𝐢𝐬𝐮𝐝𝐚𝐰𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐫𝐝𝐚𝐧𝐚 𝐒𝐓𝐈𝐒 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝

Bingkai Pesan: Sekda Kota Baubau
La Ode Darussalam S.Sos.I., M.Si

Oleh: LAR

Pada setiap wisuda, ada ijazah yang dibagikan. Namun, pada Wisuda Perdana STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, Minggu, 12 Juli 2026, para wisudawan menerima sesuatu yang lebih berharga daripada selembar kertas akademik: sebuah peta jalan pemikiran untuk mengabdi.

Mewakili Wali Kota Baubau, Sekretaris Daerah Kota Baubau, La Ode Darussalam, S.Sos., M.Si., hadir membawa salam, harapan, dan komitmen Pemerintah Kota Baubau terhadap kemajuan pendidikan tinggi Islam. Kehadirannya bukan sekadar memenuhi undangan seremonial, tetapi menjadi simbol bahwa kampus dan pemerintah adalah dua sahabat yang berjalan beriringan dalam membangun peradaban

Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa lahirnya sarjana-sarjana STIS Al-Syaikh Abdul Wahid merupakan berkah bagi Kota Baubau dan Kepulauan Buton. Kehadiran lulusan Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) dan Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhsiyyah) diharapkan menjadi kekuatan baru dalam memperkokoh penerapan nilai-nilai syariah di tengah masyarakat, sekaligus memberikan solusi atas berbagai persoalan hukum, ekonomi, dan kehidupan keluarga yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Beliau menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh inspirator, narasumber, dosen, pengelola kampus, para orang tua, dan seluruh civitas akademika yang telah mengantarkan lahirnya wisudawan angkatan pertama. Menurutnya, ilmu akan berkembang apabila terus dibagikan, dan sebuah daerah akan maju apabila dipenuhi oleh orang-orang yang rela menyalakan cahaya pengetahuan bagi sesamanya.

"Jadilah pionir."

Pesan singkat itu terasa begitu dalam. Menjadi angkatan pertama bukan sekadar menjadi yang lebih dahulu lulus. Menjadi angkatan pertama berarti memikul amanah untuk membuka jalan, memberikan teladan, dan membuktikan kepada masyarakat bahwa STIS Al-Syaikh Abdul Wahid mampu melahirkan lulusan yang berintegritas, profesional, religius, serta siap mengabdi.

Beliau mengingatkan bahwa mulai hari ini, nama baik kampus bukan lagi hanya berada di pundak para dosen atau pimpinan lembaga, tetapi juga berada di pundak para alumni. Di mana pun mereka bekerja, berbicara, mengambil keputusan, ataupun memberikan pelayanan kepada masyarakat, di situlah sesungguhnya nama STIS Al-Syaikh Abdul Wahid sedang diuji.

Karena itu, integritas menjadi modal yang tidak boleh ditawar. Gelar sarjana bukanlah mahkota untuk dibanggakan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Ilmu tanpa akhlak akan kehilangan arah, sedangkan akhlak yang dipandu ilmu akan melahirkan kemaslahatan bagi banyak orang.

Beliau juga menegaskan bahwa Pemerintah Kota Baubau selalu membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi. Kampus tidak boleh menjadi menara gading yang jauh dari denyut kehidupan masyarakat. Sebaliknya, kampus harus hadir sebagai laboratorium solusi; tempat lahirnya gagasan, riset, inovasi, dan pengabdian yang mampu menjawab kebutuhan daerah.

Sarjana hukum ekonomi syariah diharapkan mampu memperkuat ekosistem ekonomi syariah, mulai dari pengembangan UMKM, koperasi syariah, lembaga keuangan syariah, hingga pemberdayaan ekonomi umat. Sementara itu, lulusan hukum keluarga Islam diharapkan menjadi penyejuk di tengah masyarakat, menghadirkan solusi atas persoalan keluarga, mediasi, pendidikan hukum, dan pembinaan kehidupan sosial yang harmonis.

Kata-kata beliau seakan menjadi kompas yang menunjukkan arah perjalanan para wisudawan. Dunia kerja memang penting, tetapi kebermanfaatan jauh lebih penting. Jabatan bisa datang dan pergi, tetapi kepercayaan masyarakat hanya diberikan kepada mereka yang menjaga integritas dan konsisten dalam pengabdian.

Di balik prosesi wisuda yang berlangsung khidmat, tersimpan harapan besar. Harapan orang tua yang telah mengorbankan tenaga dan doa. Harapan para dosen yang telah menanamkan ilmu dengan penuh kesabaran. Harapan para pendiri pondok dan kampus yang bermimpi menghadirkan pusat pendidikan Islam yang unggul di Kepulauan Buton. Kini, seluruh harapan itu berpindah ke pundak para Alumni.

Wisuda bukanlah garis akhir. Ia hanyalah pintu gerbang memasuki samudra kehidupan yang sesungguhnya. Di luar sana, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang hukum, tetapi juga pribadi yang mampu menghadirkan keadilan. Tidak hanya membutuhkan ahli ekonomi syariah yang memahami teori, tetapi juga mereka yang mampu menghadirkan keberkahan dalam praktik ekonomi umat. 

Angkatan pertama memiliki sejarah yang tidak dimiliki angkatan berikutnya. Mereka akan selalu dikenang sebagai pembuka jalan. Jejak langkah mereka akan menjadi cermin bagi adik-adik tingkat yang akan datang. Jika mereka bekerja dengan jujur, masyarakat akan percaya kepada STIS. Jika mereka mengabdi dengan ikhlas, nama kampus akan semakin harum. Jika mereka terus belajar dan berkarya, maka cita-cita besar k pendiri akan terus hidup melintasi zaman.

Maka, wisuda perdana ini sesungguhnya bukan hanya perayaan keberhasilan akademik. Ia adalah deklarasi lahirnya generasi penggerak. Generasi yang siap menjadi agen perubahan, penjaga nilai-nilai Islam, penguat hukum syariah, pelayan masyarakat, dan duta STIS Al-Syaikh Abdul Wahid di mana pun mereka berada.

Semoga setiap langkah para alumni menjadi jalan pengabdian. Semoga setiap ilmu yang diamalkan menjadi amal jariyah. Dan semoga STIS Al-Syaikh Abdul Wahid terus melahirkan generasi-generasi yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga bijaksana dalam bertindak, rendah hati dalam bersikap, serta menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Sebab sejatinya, kemuliaan seorang sarjana bukan terletak pada toga yang dikenakannya sehari, melainkan pada cahaya ilmu yang terus dipancarkannya sepanjang hayat.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...