Langsung ke konten utama

𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐆𝐮𝐛𝐮𝐤 𝐈𝐊𝐏𝐒, 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐞𝐦𝐚𝐢 𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐏𝐫𝐨𝐝𝐮𝐤𝐭𝐢𝐟 𝐝𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐧𝐟𝐚𝐚𝐭

Bingkai Silaturahmi Produktif

Oleh: LAR

Ada tempat yang dibangun dengan semen dan batu. Ada pula tempat yang dibangun dengan kenangan, persahabatan, dan doa. Gubuk IKPS mungkin sederhana bentuknya, tetapi di sanalah sebuah gagasan besar sedang dirawat: bagaimana alumni Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid tetap memiliki ruang untuk bertemu, berbincang, berpikir, dan berbuat bersama.

Pagi tadi, Selasa 25 Agustus 2026, jam 06.00 itu, kediaman saya di Bataraguru, kedatangan Ketua IKPS, Saudara Syukur Haniru. Pertemuan sederhana berubah menjadi obrolan panjang tentang masa depan gubuk IKPS, tentang para alumni yang pernah menimba ilmu di Pondok Al-Syaikh Abdul Wahid, tentang siapa saja yang kelak menjadi penghuni dan penggerak gubuk, serta tentang apa yang seharusnya diperbuat oleh sebuah organisasi alumni.

Kami berbincang bukan sekadar tentang bangunan.

Kami berbicara tentang masa depan.

Gubuk IKPS jangan hanya menjadi tempat duduk santai, minum kopi, bercanda, dan mengenang masa lalu. Lebih dari itu, gubuk harus menjadi ruang tumbuhnya gagasan. Tempat alumni bertukar pikiran, menyusun program, membangun jaringan, dan melahirkan kegiatan yang memberi manfaat.

Sebab, alumni tidak boleh hanya menjadi orang-orang yang pernah belajar bersama. Alumni harus menjadi orang-orang yang tetap belajar bersama dan bekerja bersama.

Dari percakapan itu lahir sebuah harapan: IKPS harus mampu memberi dampak positif bagi warganya, bagi Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, bagi STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, dan tentu saja bagi masyarakat luas.

Silaturahmi tidak cukup hanya dengan saling menyapa. Silaturahmi harus naik kelas menjadi silaturahmi produktif—silaturahmi yang melahirkan ide, ide yang melahirkan tindakan, dan tindakan yang menghadirkan kemanfaatan.

Bukankah ilmu yang pernah kita dapatkan di pondok adalah amanah?

Bukankah persaudaraan yang tumbuh di antara alumni adalah kekayaan yang tidak ternilai?

Dan bukankah sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi manfaat bagi sesamanya?

Karena itu, gubuk IKPS harus menjadi rumah kecil bagi cita-cita besar. Di sana, generasi pertama dapat berbagi pengalaman kepada generasi kini. Generasi kini dapat menyiapkan jalan bagi generasi yang akan datang. Setiap masa memiliki orangnya, setiap orang memiliki eranya, dan setiap era semestinya meninggalkan karya.

Percakapan bersama Ketua IKPS itu kemudian menemukan momentumnya melalui pesan di WA Group IKPS. Sebuah undangan sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam:

UNDANGAN SYUKURAN & DO’A BERSAMA SEKRETARIAT IKPS

Seluruh keluarga besar IKPS (Ikatan Alumni Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid) diundang untuk hadir dalam acara Syukuran & Do’a Bersama Sekretariat IKPS, insyaAllah dilaksanakan:

📅 Selasa, 25 Agustus 2026
🕡 18.30 WITA – selesai
📍 Pondok Pesantren Modern Putra Al-Syaikh Abdul Wahid

Acara akan dirangkaikan dengan salat Isya berjamaah di Masjid Al-Amin Al-Syaikh Abdul Wahid.

InsyaAllah turut hadir Pimpinan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., MA., serta Ketua STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, Dr. Falah Sabirin, MA.Hum. Ketua Majelis Pertimbangan IKPS Laode Ibrahim M.Pd

Maka syukuran ini bukan hanya tentang meresmikan sebuah ruang. Ia adalah doa agar ruang kecil itu kelak menjadi tempat lahirnya banyak kebaikan.

Dari gubuk yang sederhana, semoga lahir pembicaraan yang bermanfaat.
Dari pembicaraan, lahir gagasan.
Dari gagasan, lahir gerakan.
Dan dari gerakan, lahir manfaat bagi banyak orang.

Gubuk IKPS boleh sederhana, tetapi mimpi di dalamnya jangan pernah sederhana.

Sebab pondok telah mengajarkan kita bahwa hidup bukan sekadar tentang apa yang kita dapatkan, tetapi tentang apa yang mampu kita berikan.

Mari menjadikan gubuk ini sebagai rumah silaturahmi, rumah gagasan, rumah persaudaraan, dan rumah pengabdian.

Semoga setiap langkah menuju gubuk IKPS menjadi langkah menuju kebaikan. Setiap percakapan menjadi ilmu. Setiap pertemuan menjadi berkah. Dan setiap niat baik menjadi amal yang terus mengalir, bahkan ketika kelak nama kita hanya tinggal kenangan.

Karena sebuah bangunan mungkin akan lapuk dimakan waktu, tetapi persaudaraan yang dirawat dengan keikhlasan akan tetap hidup—dari generasi ke generasi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...