![]() |
| Bingkai Persamaan Gerak Alumni (The Secret Of Movement |
Malam itu bukan sekadar tentang sebuah ruangan yang kini memiliki nama. Ia adalah simbol bahwa alumni sedang belajar kembali untuk menemukan formula kebersamaan—bagaimana menyatukan gagasan, merawat komunikasi, dan terus menata langkah agar IKPS semakin bermanfaat.
Di tengah suasana yang hangat itu, para alumni duduk bersama. Ada yang telah lama meninggalkan bangku pondok, ada yang masih aktif mendampingi kegiatan, dan ada pula yang datang membawa semangat baru. Wajah boleh berubah dimakan usia, tetapi rasa persaudaraan tetap menemukan jalannya.
Acara diawali dengan pembacaan Yasin bersama, kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh Pimpinan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, KH. Abdul Rasyid Sabirin, Lc., MA.
Salah satu petikan doa yang begitu menyentuh hati:
“Ya Allah, jadikanlah kumpulan atau rombongan ini orang yang dirahmati.”
Sederhana kalimatnya, tetapi luas maknanya. Sebab kita tidak hanya ingin berkumpul dalam satu tempat, tetapi berharap setiap pertemuan menjadi rahmat, setiap pembicaraan menjadi ilmu, setiap gagasan menjadi kebaikan, dan setiap langkah menjadi amal.
Malam itu, tempat sederhana tersebut seakan dipenuhi kebahagiaan.
Dalam sambutannya, KH. Abdul Rasyid Sabirin, selaku Ketua Pembina IKPS, tidak hanya berbicara tentang masa kini. Pandangannya jauh menembus masa depan. Ia menyinggung master plan pembangunan gedung STIS Al-Syaikh Abdul Wahid yang direncanakan berdiri di kawasan tersebut.
Gedung tiga tingkat. Ada kantor, ruang kelas, aula, dan berbagai fasilitas yang diharapkan mampu menunjang proses pendidikan.
Bayangan itu seolah memperlihatkan kepada kita bahwa sebuah kawasan pendidikan sedang dipersiapkan untuk tumbuh. Karena itu, kebersamaan menjadi modal yang tidak boleh diabaikan.
Membangun dan menjaga kebersamaan. Saling menguatkan. Bahu-membahu. Menunjang kegiatan pondok dan STIS Al-Syaikh Abdul Wahid.
Sementara itu, Ketua Majelis Pertimbangan IKPS, La Ode Ibrahim, mengingatkan tentang arah organisasi. Apa yang disampaikan oleh kyai, menurutnya, sejalan dengan kebutuhan IKPS ke depan.
Sekretariat bukan sekadar tempat menyimpan berkas.
“Tulisan harus berbicara.”
Harus ada yang standby. Harus ada yang peka ketika melihat sesuatu yang tidak beres. Kebersihan lingkungan harus dijaga. Aturan harus diperhatikan. Komunikasi harus dirawat. Program-program organisasi perlu ditempel dan diketahui bersama.
Sebab organisasi yang hidup bukan organisasi yang hanya memiliki struktur, tetapi organisasi yang memiliki kepedulian.
Ketua IKPS, Syukur Haniru, juga menyampaikan gagasan penting: sekretariat harus difungsikan sebagaimana mestinya dan dihidupkan dengan berbagai kegiatan.
“Dari alumni, untuk alumni.”
Kalimat itu menjadi semacam kompas perjalanan. Sekretariat harus menjadi ruang kerja sama, tempat alumni bertemu, berdiskusi, menyusun program, dan mencari jalan terbaik bagi masa depan IKPS.
Hadir pula Ketua STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, Dr. Falah Sabirin, MA.Hum. Kehadirannya menambah warna pada malam itu. Di tengah suasana syukuran, pikiran kembali diarahkan kepada masa depan: bagaimana pondok, IKPS, dan STIS dapat tumbuh dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Malam semakin larut. Angin tetap berembus. Lampu tetap menyala.
Namun ada sesuatu yang lebih terang dari cahaya lampu: harapan.
Para alumni mungkin belum menemukan seluruh formula yang tepat. Tetapi mereka sedang mencarinya—dengan berdiskusi, mendengar, beradaptasi, dan terus mencoba.
Sebab membangun organisasi tidak seperti menegakkan bangunan dalam sehari. Ia seperti menanam pohon: membutuhkan tanah, air, kesabaran, dan tangan-tangan yang setia merawatnya.
Semoga Sekretariat IKPS menjadi rumah kecil yang melahirkan gagasan-gagasan besar.
Dari malam yang dingin, kita belajar bahwa kebersamaan mampu menghadirkan kehangatan. Dari ruang yang sederhana, kita belajar bahwa masa depan selalu bisa dimulai dari langkah kecil.
Dan malam itu, IKPS kembali meneguhkan satu pesan:
Teruslah berkumpul. Teruslah berpikir. Teruslah bergerak. Karena ketika silaturahmi dirawat dan kebersamaan diramu menjadi kerja nyata, insyaAllah dari tempat sederhana ini akan tumbuh manfaat yang luas bagi alumni, pondok, STIS, dan masyarakat.




Komentar
Posting Komentar