Langsung ke konten utama

๐’๐ž๐ง๐ข ๐๐ž๐ซ๐ค๐จ๐ฆ๐ฎ๐ง๐ข๐ค๐š๐ฌ๐ข ๐’๐š๐ง๐  ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐›๐๐ข: ๐ƒ๐š๐ซ๐ข ๐†๐จ๐ง๐ญ๐จ๐ซ, ๐€๐ฅ-๐’๐ฒ๐š๐ข๐ค๐ก ๐€๐›๐๐ฎ๐ฅ ๐–๐š๐ก๐ข๐, ๐ก๐ข๐ง๐ ๐ ๐š ๐€๐ฅ-๐€๐ฆ๐š๐ง๐š๐ก

Bingkai Komunikasi: (Dari Kiri) 
 Ustad Faisal Islamy (
Pimpinan Pondok Al-Amanah)
dan Ustad Suddin Aly

Oleh: LaR

Minggu, 2 Agustus 2026, di tengah semarak Khutbatul Arsy Pondok Modern Al-Amanah Liabuku, ada sebuah pemandangan sederhana yang sesungguhnya menyimpan pelajaran besar: dua insan berdiri, berbincang, saling mendengar, dan bertukar pikiran.

Tidak ada mimbar tinggi. Tidak ada mikrofon. Tidak ada tepuk tangan. Hanya percakapan yang mengalir—namun dari percakapan seperti itulah sering kali lahir gagasan, semangat, bahkan arah perjalanan sebuah pengabdian.

Inilah seni berkomunikasi ala seorang ustad pengabdi.

Ia ditempa oleh tradisi pendidikan Pondok Modern Gontor, pernah tumbuh dalam lingkungan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, kemudian mengabdikan diri di Pondok Pesantren Al-Amanah. Tiga ruang pendidikan, tiga pengalaman, tetapi satu napas: ilmu, adab, pengabdian dan persaudaraan.

Komunikasi bagi seorang pendidik bukan sekadar bagaimana berbicara, tetapi bagaimana membuka hati sebelum membuka kata-kata. Mendengar sebelum menjawab. Memahami sebelum menilai. Dan menyampaikan gagasan tanpa membuat orang lain merasa direndahkan. Barangkali itulah salah satu warisan terpenting pendidikan pesantren.

Di pesantren, seorang santri tidak hanya belajar bagaimana menyampaikan pendapat, tetapi juga belajar kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan. Ia belajar bahwa ilmu tanpa adab dapat kehilangan cahaya, sementara kata-kata yang disampaikan dengan ketulusan dapat mengetuk pintu hati yang paling dalam.

Pada momen Khutbatul Arsy, komunikasi semacam ini menjadi semakin penting. Para pendidik sedang berhadapan dengan generasi baru—anak-anak yang kelak akan menjadi guru, pemimpin, pengusaha, ulama, birokrat, dan penggerak masyarakat.

Mereka tidak hanya membutuhkan pelajaran di dalam kelas. Mereka membutuhkan teladan yang hidup di hadapan mata mereka.

Cara seorang ustad menyapa.
Cara ia berdiskusi.
Cara ia berbeda pendapat.
Cara ia menghargai orang lain.
Bahkan cara ia tersenyum ketika berbicara.

Semuanya adalah pendidikan.

Seorang guru sebenarnya sedang mengajar bahkan ketika ia merasa tidak sedang mengajar.

Percakapan di halaman pondok pun menjadi semacam kelas terbuka. Dari sana lahir gagasan tentang bagaimana pendidikan harus terus bergerak, bagaimana alumni dapat mengambil peran, bagaimana pesantren menjaga nilai sambil membaca perubahan zaman, dan bagaimana generasi muda dipersiapkan agar tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.

Gontor mengajarkan disiplin dan kemandirian. Al-Syaikh Abdul Wahid mewariskan nilai perjuangan dan pengabdian. Al-Amanah menjadi ruang untuk meneruskan ikhtiar itu kepada generasi berikutnya.

Tiga tempat, satu perjalanan nilai.

Sebab pendidikan tidak pernah benar-benar selesai ketika seseorang meninggalkan bangku sekolah. Ia berlanjut dalam cara kita berbicara, bersikap, bekerja, dan memperlakukan sesama.

Maka foto ini bukan sekadar dokumentasi sebuah pertemuan. Ia seperti sebuah halaman kecil dari buku besar pengabdian.

Di bawah langit Liabuku, dua orang berbincang. Tetapi sesungguhnya, yang sedang berbicara adalah pengalaman, ilmu, persaudaraan, dan masa depan.

Kata-kata boleh selesai di udara, tetapi komunikasi yang lahir dari hati akan tinggal sebagai jejak.

Dan dari jejak-jejak kecil itulah, insyaallah, lahir generasi besar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐Œ๐ž๐ซ๐š๐ฆ๐ฎ ๐Š๐ž๐›๐ž๐ซ๐ฌ๐š๐ฆ๐š๐š๐ง, ๐Œ๐ž๐ง๐š๐ญ๐š ๐‹๐š๐ง๐ ๐ค๐š๐ก: ๐’๐ฒ๐ฎ๐ค๐ฎ๐ซ๐š๐ง ๐’๐ž๐ค๐ซ๐ž๐ญ๐š๐ซ๐ข๐š๐ญ ๐ˆ๐Š๐๐’

Bingkai Persamaan Gerak Alumni ( The Secret Of Movement Oleh : LaR Selasa, 25 Agustus 2026, pukul 20.00 WITA.  Malam terasa dingin. Hembusan angin bergerak perlahan di antara bangunan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Lampu-lampu terang menerangi wajah-wajah yang datang dengan senyum dan optimisme. Di tempat sederhana itu, keluarga besar IKPS berkumpul dalam sebuah momentum yang mungkin tampak kecil, tetapi sesungguhnya menyimpan harapan besar: syukuran Sekretariat IKPS. Malam itu bukan sekadar tentang sebuah ruangan yang kini memiliki nama. Ia adalah simbol bahwa alumni sedang belajar kembali untuk menemukan formula kebersamaan—bagaimana menyatukan gagasan, merawat komunikasi, dan terus menata langkah agar IKPS semakin bermanfaat. Di tengah suasana yang hangat itu, para alumni duduk bersama. Ada yang telah lama meninggalkan bangku pondok, ada yang masih aktif mendampingi kegiatan, dan ada pula yang datang membawa semangat baru. Wajah boleh berubah dimakan usia, tetapi rasa p...

๐๐จ๐ง๐ฉ๐ž๐ฌ ๐€๐ฅ-๐€๐ฆ๐š๐ง๐š๐ก: ๐‰๐ž๐ฃ๐š๐ค ๐‰๐ฎ๐š๐ง๐  ๐€๐ฅ๐ฆ๐š๐ซ๐ก๐ฎ๐ฆ ๐Š๐‡. ๐Œ๐ฎ๐ก. ๐’๐ฒ๐š๐ก๐ซ๐ฎ๐๐๐ข๐ง ๐’๐š๐ฅ๐ž๐ก

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​๐Š๐ฅ๐ข๐ฆ๐š๐ค๐ฌ ๐’๐ฉ๐ข๐ซ๐ข๐ญ๐ฎ๐š๐ฅ ๐๐ข ๐€๐ฅ-๐’๐ฒ๐š๐ข๐ค๐ก ๐€๐›๐๐ฎ๐ฅ ๐–๐š๐ก๐ข๐: ๐Š๐š๐ฅ๐š ๐‰๐ž๐ฆ๐š๐ซ๐ข ๐Œ๐ž๐ฆ๐จ๐ญ๐จ๐ง๐  ๐”๐ซ๐š๐ญ ๐๐š๐๐ข ๐‡๐š๐ฌ๐ซ๐š๐ญ ๐ƒ๐ฎ๐ง๐ข๐š๐ฐ๐ข

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...