Langsung ke konten utama

𝐒𝐭𝐲𝐥𝐞 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐡𝐮𝐧𝐢 𝐆𝐮𝐛𝐮𝐤 𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐃𝐞𝐩𝐚𝐧: 𝐒𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐀𝐝𝐚 𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠𝐧𝐲𝐚, 𝐀𝐝𝐚 𝐈𝐝𝐞𝐧𝐲𝐚, 𝐀𝐝𝐚 𝐊𝐚𝐫𝐲𝐚𝐧𝐲𝐚

Bingkai Gerak Membara Di Gubuk IKPS (20/08/2028)
Oleh: LAR

Ada sesuatu yang menarik dari gubuk sekretariat IKPS. Ia sederhana, tetapi selalu punya cara untuk menghadirkan cerita. Bangku-bangku kecilnya seakan menjadi saksi bahwa persaudaraan tidak membutuhkan ruang yang megah. Cukup ada kemauan untuk datang, duduk, berbincang, dan berbagi pikiran.

Di antara para penghuni gubuk itu, tampak Ustad Bahtiar dan Ustad Ichank—dua sosok dengan gaya, karakter, dan zamannya masing-masing. Mereka seperti cover boy dari sebuah cerita panjang tentang alumni: pernah menjadi bagian dari masa lalu, hidup di masa kini, sekaligus ikut menatap masa depan.

Setiap masa ada orangnya. Setiap orang membawa idenya. Dan setiap ide menunggu diwujudkan menjadi karya.

Generasi perdana memiliki cerita perjuangannya sendiri. Mereka hadir ketika banyak hal masih dirintis, ketika semangat lebih besar daripada fasilitas, ketika mimpi tentang masa depan belum memiliki bentuk yang jelas. Mereka belajar bahwa pesantren bukan sekadar tempat menuntut ilmu, tetapi tempat menempa keteguhan.

Generasi kini datang dengan tantangan yang berbeda. Dunia berubah begitu cepat. Teknologi bergerak, informasi berlari, dan kebutuhan masyarakat semakin kompleks. Karena itu, alumni tidak cukup hanya mengenang masa lalu. Alumni harus mampu membaca zaman dan menghadirkan gagasan baru.

Di sinilah gubuk itu menjadi menarik.

Percakapan tentang masa lalu bisa bertemu dengan gagasan masa depan. Cerita para senior bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda. Pengalaman bisa menjadi bahan bakar inovasi. Dan tawa sederhana bisa menjadi perekat persaudaraan.

Ustad Bahtiar, Ustad Ichank, dan para penghuni gubuk lainnya bukan sekadar cover boy dalam sebuah foto. Mereka adalah bagian dari wajah perjalanan IKPS—wajah yang menunjukkan bahwa alumni terus tumbuh, bergerak, dan mencari bentuk pengabdian baru.

Dulu kita belajar bersama di pondok. Kini kita berkarya di tempat masing-masing. Kelak, semoga karya-karya itu kembali bertemu di tempat yang sama: untuk memberi manfaat bagi umat, pesantren, daerah, dan generasi yang akan datang.

Sebab alumni bukanlah mereka yang hanya pernah tinggal di pondok. Alumni adalah mereka yang membawa nilai-nilai pondok dalam perjalanan hidupnya.

Ada yang membawa ilmu.

Ada yang membawa pengalaman.

Ada yang membawa jaringan.

Ada yang membawa gagasan.

Dan ada pula yang mungkin hanya mampu membawa tenaga dan waktu.

Semuanya berharga, selama diarahkan untuk kebaikan.

Gubuk IKPS akhirnya bukan sekadar tempat berteduh dari panas dan hujan. Ia menjadi ruang kecil tempat masa lalu berdialog dengan masa depan. Di sana, generasi perdana dan generasi kini bisa duduk sejajar, bertukar cerita, bahkan berbeda pandangan tanpa kehilangan rasa persaudaraan.

Mungkin suatu hari nanti, penghuni gubuk hari ini akan menjadi cerita bagi generasi berikutnya.

Dan ketika mereka datang, semoga mereka berkata:

"Di tempat sederhana ini, pernah ada orang-orang yang bermimpi besar. Mereka tidak hanya berbicara tentang masa depan, tetapi mulai mengerjakannya."

Karena pada akhirnya, sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang paling banyak berbicara.

Sejarah ditulis oleh mereka yang berani berbuat.

Maka mari terus menghidupkan gubuk ini dengan gagasan, persahabatan, humor, ilmu, dan karya.

Setiap masa ada orangnya.
Setiap orang ada eranya.
Setiap era melahirkan idenya.
Dan setiap ide akan menemukan maknanya ketika diwujudkan menjadi karya.

Dari gubuk kecil inilah, semoga lahir langkah-langkah besar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...