![]() |
| Bingkai Kebersamaan: (Dari Kanan) Ust. H. Sholeh Laksana, dan Ust. Suddin Aly. |
Oleh: LAR
Usia memang terus bertambah. Rambut yang dahulu hitam kini mulai dihiasi uban. Wajah yang dulu dipenuhi semangat muda kini menyimpan guratan pengalaman. Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah: tali silaturahmi yang tetap terjaga.
Persahabatan sejati memang tidak dihitung dari seberapa sering bertemu, melainkan seberapa kuat doa yang saling dipanjatkan dan seberapa tulus hati tetap saling mengingat.
Mereka pernah menempuh perjalanan yang sama, menimba ilmu di pesantren di Pulau Jawa. Di sana mereka belajar bahwa hidup bukan hanya tentang menjadi pintar, tetapi juga tentang menjadi manusia yang bermanfaat. Mereka ditempa oleh disiplin, dibiasakan bangun sebelum fajar, menghafal pelajaran, menjaga adab kepada guru, dan memahami bahwa keberkahan ilmu lahir dari kerendahan hati.
Bekal itulah yang kemudian mereka bawa pulang ke tanah kelahiran.
Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali dalam jalan pengabdian di Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid dan Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku. Di sana mereka bukan sekadar mengajar. Mereka sedang menanam masa depan. Mereka sedang menyiram benih-benih peradaban melalui ilmu, akhlak, dan keteladanan.
Sesungguhnya menjadi ustaz bukan hanya berdiri di depan kelas lalu menjelaskan pelajaran. Menjadi ustaz berarti menjadi cahaya ketika santri kehilangan arah, menjadi teladan ketika kata-kata tak lagi cukup, dan menjadi pelabuhan ketika hati para santri mencari ketenangan.
Malam itu obrolan mengalir tanpa dibuat-buat. Sesekali terdengar tawa yang pecah mengingat kisah-kisah lucu ketika masih menjadi santri. Kadang suasana berubah hening saat mengenang guru-guru yang telah mendahului menghadap Allah Swt. Setiap nama yang disebut bukan sekadar menghadirkan nostalgia, melainkan menghadirkan rasa syukur atas jejak ilmu yang masih terus hidup hingga hari ini.
Begitulah guru.
Mungkin jasadnya telah renta, bahkan sebagian telah tiada. Namun nasihatnya tetap berjalan di kaki murid-muridnya. Petuahnya tetap hidup dalam keputusan-keputusan yang diambil muridnya. Keteladanannya menjelma menjadi amal yang terus mengalir tanpa henti.
Dalam keheningan malam itu, terasa benar bahwa persahabatan bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi tentang saling menguatkan langkah menuju masa depan.
Sebab usia boleh bertambah, tenaga boleh berkurang, tetapi semangat untuk mengabdi tidak boleh pernah menua.
Pesantren telah mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan menjadi yang paling kaya, melainkan perlombaan menjadi yang paling bermanfaat. Karena itu, ketika dua alumni bertemu, yang mereka bicarakan bukan semata urusan pribadi. Mereka berbincang tentang pendidikan, tentang santri, tentang masa depan pondok, tentang bagaimana ilmu harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bukankah Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya?
Kalimat itu seolah menjadi kompas yang terus mengarahkan langkah para pengabdi pesantren.
Ada sesuatu yang begitu indah ketika melihat para sahabat tetap menjaga silaturahmi setelah sekian puluh tahun. Mereka tidak dipersatukan oleh jabatan, bukan pula oleh kepentingan dunia. Mereka dipersatukan oleh kenangan belajar, oleh doa para guru, dan oleh cita-cita membangun umat melalui pendidikan.
Silaturahmi semacam inilah yang melahirkan energi baru.
Dari sebuah obrolan sederhana dapat lahir gagasan besar. Dari secangkir kopi dapat tumbuh rencana-rencana kebaikan. Dari senyum seorang sahabat lahir semangat yang mungkin telah lama redup.
Karena sesungguhnya, ide-ide besar tidak selalu lahir di ruang rapat yang megah. Kadang ia lahir di beranda rumah, di teras masjid, atau di sudut pondok, ketika hati-hati yang tulus dipertemukan dalam bingkai persaudaraan.
Mereka memahami satu hal: pondok tidak dibangun hanya oleh bangunan yang menjulang tinggi. Pondok dibangun oleh manusia-manusia yang setia menjaga nilai. Oleh para guru yang ikhlas mengajar. Oleh alumni yang tidak pernah memutus hubungan dengan almamaternya. Oleh sahabat-sahabat yang terus saling mengingatkan dalam kebaikan.
Allah Swt. berfirman:
"Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin..." (QS. At-Taubah: 105).
Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah pengabdian tidak pernah sia-sia. Setiap peluh yang jatuh saat mendidik santri, setiap waktu yang diberikan untuk membina umat, setiap silaturahmi yang dirawat dengan ikhlas, semuanya berada dalam pengawasan Allah dan akan menjadi amal yang terus mengalir.
Malam semakin larut. Jam terus bergerak, tetapi obrolan belum kehilangan maknanya. Sebab yang sedang mereka rawat bukan sekadar percakapan, melainkan persaudaraan yang telah ditempa oleh waktu.
Mereka sadar, suatu hari nanti mungkin mereka tidak lagi duduk bersama seperti malam itu. Namun mereka berharap nilai-nilai yang mereka perjuangkan akan tetap hidup di hati para santri, di ruang-ruang kelas, di mimbar-mimbar dakwah, dan di setiap langkah generasi penerus.
Begitulah hakikat persahabatan para pejuang ilmu.
Mereka tidak meminta dikenang namanya. Mereka hanya ingin perjuangannya tetap berlanjut.
Karena usia hanyalah angka, sedangkan pengabdian adalah warisan.
Dan silaturahmi adalah jembatan yang membuat warisan itu terus menemukan jalan menuju masa depan.
Semoga Allah Swt. senantiasa menjaga persahabatan ini dalam keberkahan, menguatkan langkah para pengabdi di Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid dan Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku, serta menjadikan setiap pertemuan sebagai majelis ilmu yang menumbuhkan cinta, memperpanjang umur dalam kebaikan, melapangkan rezeki, dan melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, serta siap meneruskan estafet perjuangan para guru dan pendahulunya. Aamiin.


Komentar
Posting Komentar