Langsung ke konten utama

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐚𝐤 𝐏𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐔𝐬𝐚𝐧𝐠: 𝐊𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐬𝐚𝐡𝐚𝐛𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐚𝐛𝐝𝐢𝐚𝐧

Bingkai Kebersamaan: (Dari Kanan)
Ust. H. Sholeh Laksana, dan Ust. Suddin Aly
.

Oleh: LAR

Malam perlahan merapat di Kota Baubau. Udara yang sejuk menyelimuti Jalan Ahmad Yani, Lorong Pemadam seolah mengajak siapa saja untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Di sebuah teras rumah yang sederhana, rumah duka, meninggalnya Iptu Irwan, dua sahabat duduk berdampingan. Tak ada panggung megah, tak ada protokol resmi, tak pula mikrofon yang menguatkan suara. Yang ada hanyalah dua hati yang dipertemukan oleh persahabatan, kenangan, dan cita-cita yang belum selesai diperjuangkan.

Usia memang terus bertambah. Rambut yang dahulu hitam kini mulai dihiasi uban. Wajah yang dulu dipenuhi semangat muda kini menyimpan guratan pengalaman. Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah: tali silaturahmi yang tetap terjaga.

Persahabatan sejati memang tidak dihitung dari seberapa sering bertemu, melainkan seberapa kuat doa yang saling dipanjatkan dan seberapa tulus hati tetap saling mengingat.

Mereka pernah menempuh perjalanan yang sama, menimba ilmu di pesantren di Pulau Jawa. Di sana mereka belajar bahwa hidup bukan hanya tentang menjadi pintar, tetapi juga tentang menjadi manusia yang bermanfaat. Mereka ditempa oleh disiplin, dibiasakan bangun sebelum fajar, menghafal pelajaran, menjaga adab kepada guru, dan memahami bahwa keberkahan ilmu lahir dari kerendahan hati.

Bekal itulah yang kemudian mereka bawa pulang ke tanah kelahiran.

Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali dalam jalan pengabdian di Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid dan Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku. Di sana mereka bukan sekadar mengajar. Mereka sedang menanam masa depan. Mereka sedang menyiram benih-benih peradaban melalui ilmu, akhlak, dan keteladanan.

Sesungguhnya menjadi ustaz bukan hanya berdiri di depan kelas lalu menjelaskan pelajaran. Menjadi ustaz berarti menjadi cahaya ketika santri kehilangan arah, menjadi teladan ketika kata-kata tak lagi cukup, dan menjadi pelabuhan ketika hati para santri mencari ketenangan.

Malam itu obrolan mengalir tanpa dibuat-buat. Sesekali terdengar tawa yang pecah mengingat kisah-kisah lucu ketika masih menjadi santri. Kadang suasana berubah hening saat mengenang guru-guru yang telah mendahului menghadap Allah Swt. Setiap nama yang disebut bukan sekadar menghadirkan nostalgia, melainkan menghadirkan rasa syukur atas jejak ilmu yang masih terus hidup hingga hari ini.

Begitulah guru.

Mungkin jasadnya telah renta, bahkan sebagian telah tiada. Namun nasihatnya tetap berjalan di kaki murid-muridnya. Petuahnya tetap hidup dalam keputusan-keputusan yang diambil muridnya. Keteladanannya menjelma menjadi amal yang terus mengalir tanpa henti.

Dalam keheningan malam itu, terasa benar bahwa persahabatan bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi tentang saling menguatkan langkah menuju masa depan.

Sebab usia boleh bertambah, tenaga boleh berkurang, tetapi semangat untuk mengabdi tidak boleh pernah menua.

Pesantren telah mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan menjadi yang paling kaya, melainkan perlombaan menjadi yang paling bermanfaat. Karena itu, ketika dua alumni bertemu, yang mereka bicarakan bukan semata urusan pribadi. Mereka berbincang tentang pendidikan, tentang santri, tentang masa depan pondok, tentang bagaimana ilmu harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bukankah Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya?

Kalimat itu seolah menjadi kompas yang terus mengarahkan langkah para pengabdi pesantren.

Ada sesuatu yang begitu indah ketika melihat para sahabat tetap menjaga silaturahmi setelah sekian puluh tahun. Mereka tidak dipersatukan oleh jabatan, bukan pula oleh kepentingan dunia. Mereka dipersatukan oleh kenangan belajar, oleh doa para guru, dan oleh cita-cita membangun umat melalui pendidikan.

Silaturahmi semacam inilah yang melahirkan energi baru.

Dari sebuah obrolan sederhana dapat lahir gagasan besar. Dari secangkir kopi dapat tumbuh rencana-rencana kebaikan. Dari senyum seorang sahabat lahir semangat yang mungkin telah lama redup.

Karena sesungguhnya, ide-ide besar tidak selalu lahir di ruang rapat yang megah. Kadang ia lahir di beranda rumah, di teras masjid, atau di sudut pondok, ketika hati-hati yang tulus dipertemukan dalam bingkai persaudaraan.

Mereka memahami satu hal: pondok tidak dibangun hanya oleh bangunan yang menjulang tinggi. Pondok dibangun oleh manusia-manusia yang setia menjaga nilai. Oleh para guru yang ikhlas mengajar. Oleh alumni yang tidak pernah memutus hubungan dengan almamaternya. Oleh sahabat-sahabat yang terus saling mengingatkan dalam kebaikan.

Allah Swt. berfirman:

"Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin..." (QS. At-Taubah: 105).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah pengabdian tidak pernah sia-sia. Setiap peluh yang jatuh saat mendidik santri, setiap waktu yang diberikan untuk membina umat, setiap silaturahmi yang dirawat dengan ikhlas, semuanya berada dalam pengawasan Allah dan akan menjadi amal yang terus mengalir.

Malam semakin larut. Jam terus bergerak, tetapi obrolan belum kehilangan maknanya. Sebab yang sedang mereka rawat bukan sekadar percakapan, melainkan persaudaraan yang telah ditempa oleh waktu.

Mereka sadar, suatu hari nanti mungkin mereka tidak lagi duduk bersama seperti malam itu. Namun mereka berharap nilai-nilai yang mereka perjuangkan akan tetap hidup di hati para santri, di ruang-ruang kelas, di mimbar-mimbar dakwah, dan di setiap langkah generasi penerus.

Begitulah hakikat persahabatan para pejuang ilmu.

Mereka tidak meminta dikenang namanya. Mereka hanya ingin perjuangannya tetap berlanjut.

Karena usia hanyalah angka, sedangkan pengabdian adalah warisan.

Dan silaturahmi adalah jembatan yang membuat warisan itu terus menemukan jalan menuju masa depan.

Semoga Allah Swt. senantiasa menjaga persahabatan ini dalam keberkahan, menguatkan langkah para pengabdi di Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid dan Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku, serta menjadikan setiap pertemuan sebagai majelis ilmu yang menumbuhkan cinta, memperpanjang umur dalam kebaikan, melapangkan rezeki, dan melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, serta siap meneruskan estafet perjuangan para guru dan pendahulunya. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...