Dalam bingkai kebersamaan itu, saya (LaR) berdiri bersama **Pimpinan Pondok Al-Amanah Liabuku Hj. Nurmarlina Sabirin**, **Dr. Rasyid Amiruddin, M.Fil.**, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta **Ketua STIS Al-Syaikh Abdul Wahid Dr. Falah Sabirin, Lc., M.A.Hum.**. Sebuah foto yang tampak sederhana, namun sesungguhnya menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, pengabdian, dan harapan yang terus bertumbuh.
Di balik senyum yang terlukis, ada ribuan jam pengabdian yang tidak pernah dipublikasikan. Ada malam-malam yang dihabiskan menyusun konsep pendidikan. Ada langkah-langkah sunyi para guru yang lebih memilih bekerja daripada berbicara. Sebab mereka memahami bahwa pendidikan tidak dibangun oleh tepuk tangan, melainkan oleh kesabaran yang terus dirawat setiap hari.
Wisuda perdana ini menjadi penanda bahwa cita-cita para pendiri tidak berhenti pada berdirinya bangunan atau lahirnya sebuah lembaga. Ia terus tumbuh melalui manusia-manusia yang menghidupkan ilmu. Sebab sejatinya, sebuah kampus bukan hanya tempat melahirkan sarjana, tetapi tempat melahirkan manusia yang mampu menjadi cahaya bagi lingkungannya.
Perbincangan yang terjalin di sela-sela kegiatan terasa begitu hangat. Dr. Rasyid Amiruddin banyak berbagi pandangan tentang pentingnya membangun budaya akademik yang kuat, menghidupkan tradisi membaca, berdiskusi, meneliti, dan menulis. Baginya, ilmu akan kehilangan ruh jika berhenti di ruang kelas. Ilmu harus menjelma menjadi solusi bagi masyarakat, menjadi jalan menghadirkan kemaslahatan, dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Di sisi lain, Hj. Nurmarlina Sabirin memancarkan keteduhan seorang pendidik yang memahami bahwa keberhasilan pondok tidak hanya diukur dari banyaknya lulusan, tetapi dari akhlak yang mereka bawa ketika kembali ke tengah masyarakat. Sebab kecerdasan tanpa adab hanya akan melahirkan kegelisahan, sedangkan ilmu yang dipagari akhlak akan menjadi pelita yang menerangi banyak kehidupan.
Ketua STIS Al-Syaikh Abdul Wahid, Dr. Falah Sabirin, menjadi salah satu sosok yang terus menggerakkan roda pengembangan kampus. Di bawah kepemimpinannya, STIS terus menata diri agar menjadi perguruan tinggi syariah yang unggul, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman. Langkah itu tentu bukan perjalanan yang mudah. Namun setiap perjalanan besar selalu dimulai dari keberanian untuk melangkah, meski perlahan.
Saya memandangi wajah-wajah yang hadir hari itu. Ada dosen, guru, pimpinan pondok, orang tua, alumni, mahasiswa, dan para tamu undangan. Semuanya seperti kepingan mozaik yang saling melengkapi. Tidak ada yang merasa paling penting, karena semua menyadari bahwa keberhasilan sebuah lembaga lahir dari kerja bersama.
Pendidikan memang tidak mengenal tokoh tunggal. Ia adalah orkestra besar. Ada yang menjadi dirigen, ada yang meniup seruling, ada yang memukul genderang, ada yang memainkan biola. Jika semua memainkan perannya dengan baik, lahirlah simfoni peradaban yang indah didengar oleh zaman.
Momen wisuda perdana ini juga menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Justru setelah toga dikenakan, perjalanan sesungguhnya baru dimulai. Gelar hanyalah tanda bahwa seseorang telah menyelesaikan satu tahapan belajar, bukan akhir dari pencarian ilmu. Sebab dunia membutuhkan lebih banyak orang yang mampu mengubah ilmu menjadi tindakan nyata.
Di tengah derasnya perubahan zaman, pendidikan membutuhkan kolaborasi. Pondok pesantren, perguruan tinggi, alumni, pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha harus berjalan beriringan. Tidak cukup hanya membangun gedung yang megah; yang lebih penting adalah membangun manusia yang kokoh iman, luas ilmu, dan kuat integritasnya.
Hari itu saya semakin yakin bahwa kekuatan terbesar sebuah lembaga bukan terletak pada fasilitasnya, melainkan pada manusia-manusia yang menjaga nyala cita-cita pendirinya. Selama masih ada orang-orang yang bersedia mengajar dengan ikhlas, belajar tanpa lelah, dan mengabdi tanpa pamrih, selama itu pula cahaya pendidikan akan tetap menyala.
Bingkai kebersamaan ini akhirnya mengajarkan satu hal yang sederhana namun mendalam: **pendidikan yang mencerahkan selalu lahir dari pertemuan hati yang tulus, pikiran yang terbuka, dan langkah yang bersedia berjalan bersama.**
Semoga pertemuan itu bukan hanya menjadi kenangan yang tersimpan dalam foto, tetapi menjadi energi yang terus menggerakkan langkah untuk menghadirkan pendidikan yang lebih bermutu, lebih humanis, dan lebih bermanfaat bagi Kota Baubau, Kepulauan Buton, Indonesia, bahkan dunia.
Karena pada akhirnya, **ilmu yang paling indah bukanlah ilmu yang memenuhi rak-rak perpustakaan, melainkan ilmu yang hidup di tengah masyarakat, menguatkan harapan, menebarkan keberkahan, dan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan manusia menuju ridha Allah Swt.**


Komentar
Posting Komentar