Langsung ke konten utama

𝐒𝐞𝐤𝐫𝐞𝐭𝐚𝐫𝐢𝐚𝐭 𝐈𝐊𝐏𝐒: 𝐊𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐊𝐞𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐦𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐧 𝐓𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧-𝐓𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐀𝐥𝐮𝐦𝐧𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬 𝐒𝐞𝐣𝐚𝐫𝐚𝐡

Nuansa Baru Sekretariat IKPS.
Merah Darahmu

Oleh: LAR

17 Agustus 2026, sore sekitar pukul 17.00. Di sebuah sudut area Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, Bataraguru, suasana sore itu terasa berbeda. Bukan karena ada panggung megah, bukan pula karena ada seremoni dengan pakaian kebesaran. Justru yang tampak adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana: tangan-tangan yang bekerja, keringat yang jatuh, dan hati yang kembali dipertemukan oleh sebuah rumah bersama—Sekretariat Ikatan Keluarga Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid (IKPS).


Sekretariat itu sedang direnovasi.

Ada yang mencat dinding. Ada yang mengangkat pasir. Ada yang mengaduk bahan bangunan. Ada yang membersihkan ruangan. Ada yang mengukur dan memperbaiki bagian-bagian yang mulai rapuh. Sementara yang lain duduk sejenak, berbincang, bertukar cerita, dan sesekali tertawa.

Di tengah kesibukan itu hadir Ketua IKPS, Ustad Syukur Haniru, bersama anggota dan Ketua Majelis Pembina IKPS Ustad Laode Ibrahim. Tidak ada jarak antara yang memimpin dan yang bekerja. Semua melebur dalam satu suasana: kita adalah keluarga.

Menariknya, di antara suara sekop, gesekan kuas, dan langkah kaki, terdengar pula obrolan tentang negeri ini. Ada yang berbicara tentang korupsi, tentang bagaimana kekuasaan seharusnya menjadi amanah, tentang mengapa pembangunan tidak cukup hanya dengan gedung-gedung yang berdiri, tetapi juga membutuhkan manusia yang memiliki integritas.

Begitulah suasana alumni.

Tangan bekerja, pikiran berjalan.

Mungkin inilah salah satu makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Setelah bangsa ini merdeka dari penjajahan, perjuangan berikutnya adalah membebaskan diri dari kemalasan, ketidakpedulian, keserakahan, dan kebiasaan menyerahkan segala sesuatu kepada orang lain.

Renovasi sekretariat IKPS mungkin terlihat kecil. Hanya sebuah ruangan. Hanya dinding yang dicat. Hanya pasir yang dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi dari pekerjaan sederhana itu tersimpan pesan besar: sebuah organisasi akan hidup ketika orang-orang di dalamnya bersedia memberi sesuatu, bukan hanya menunggu mendapatkan sesuatu.

Alumni tidak cukup hanya berkumpul ketika ada acara besar.

Alumni perlu hadir ketika ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Alumni perlu berpikir ketika ada persoalan yang harus dipecahkan.

Alumni perlu bergerak ketika ada perubahan yang harus dimulai.

Dan sore itu, semua itu terlihat dalam bentuk yang sederhana.

Sekretariat bukan sekadar bangunan tempat menyimpan dokumen organisasi. Ia adalah rumah gagasan. Di sana kelak mungkin lahir program-program alumni, diskusi pendidikan, kegiatan sosial, penguatan jaringan, pengembangan usaha, kegiatan keagamaan, hingga gagasan-gagasan yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Dindingnya boleh sederhana, tetapi cita-citanya jangan sederhana.

Sebab sebuah rumah kecil bisa menjadi tempat lahirnya gagasan besar.

Di tempat itu pula kita belajar bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dengan modal besar. Kadang ia dimulai dari seember pasir, sebatang kuas, beberapa orang yang mau bekerja, dan hati yang memiliki kepedulian.

Ada filosofi yang indah dari kegiatan sore itu: yang membangun bukan hanya semen dan pasir, tetapi juga rasa memiliki.

Ketika seseorang mengangkat pasir, ia sebenarnya sedang mengangkat sebagian beban bersama. Ketika seseorang mengecat dinding, ia sedang memberi warna baru kepada ruang kebersamaan. Ketika seseorang membersihkan ruangan, ia sedang menyiapkan tempat agar gagasan-gagasan baru dapat tumbuh.

Dan ketika para alumni berbincang tentang korupsi, pendidikan, kehidupan, dan masa depan, sesungguhnya mereka sedang membangun sesuatu yang tidak terlihat oleh mata: kesadaran.

Kemerdekaan yang dirayakan pada 17 Agustus akhirnya menemukan maknanya di sini.

Bendera mungkin berkibar di berbagai penjuru negeri. Tetapi kemerdekaan harus pula berkibar di dalam diri manusia—menjadi keberanian untuk jujur, bekerja, berbagi, dan bertanggung jawab.

IKPS pun demikian.

Organisasi alumni bukan sekadar nama yang tercetak di papan sekretariat. IKPS adalah simpul silaturahmi dari orang-orang yang pernah ditempa oleh guru, pernah belajar di ruang yang sama, pernah menjalani disiplin pesantren, dan pernah menerima nasihat yang mungkin baru terasa maknanya setelah bertahun-tahun kemudian.

Waktu boleh memisahkan tempat tinggal.

Profesi boleh berbeda.

Usia boleh bertambah.

Tetapi ada satu hal yang seharusnya tetap: rasa memiliki terhadap almamater dan persaudaraan.

Sore itu, sekretariat IKPS menjadi saksi bahwa persaudaraan tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus dikerjakan.

Sebab persaudaraan yang hanya hidup dalam kata-kata akan mudah layu. Tetapi persaudaraan yang dirawat dengan tindakan akan tumbuh menjadi pohon rindang, tempat banyak orang berteduh.

Semoga sekretariat ini kelak bukan hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi menjadi dapur gagasan alumni. Tempat lahirnya program-program yang bermanfaat. Tempat bertemunya pengalaman para senior dengan energi generasi muda. Tempat alumni berbagi peluang, ilmu, jaringan, dan kepedulian.

Dari Bataraguru, semoga tumbuh gelombang kebaikan yang bergerak ke berbagai penjuru.

Dan kelak, ketika kita melihat sekretariat itu telah berdiri lebih baik, jangan hanya ingat warna catnya. Ingatlah tangan-tangan yang pernah bekerja di sore 17 Agustus 2026.

Ingatlah keringat yang pernah jatuh.

Ingatlah obrolan yang pernah menghidupkan pikiran.

Ingatlah tawa yang pernah menghangatkan persaudaraan.

Sebab bangunan mungkin akan berubah dimakan zaman, tetapi jejak kebersamaan akan tinggal lebih lama daripada tembok yang kita bangun.

Hari itu kita tidak hanya merenovasi sekretariat.

Kita sedang merenovasi kembali semangat alumni.

Kita sedang memperbaiki ruang tempat gagasan bertemu.

Kita sedang mengecat ulang warna persaudaraan.

Dan yang paling penting, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa setelah menjadi alumni, perjuangan belum selesai.

Dulu kita belajar di pondok.
Hari ini kita kembali untuk memberi.
Besok, semoga apa yang kita lakukan menjadi amal yang terus mengalir.

Karena pada akhirnya, yang paling berharga dari sebuah perjalanan bukanlah seberapa tinggi kita berdiri, melainkan seberapa banyak tangan yang pernah kita ulurkan untuk membantu orang lain berdiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...