![]() |
| Nuansa Baru Sekretariat IKPS. Merah Darahmu |
Oleh: LAR
Sekretariat itu sedang direnovasi.
Ada yang mencat dinding. Ada yang mengangkat pasir. Ada yang mengaduk bahan bangunan. Ada yang membersihkan ruangan. Ada yang mengukur dan memperbaiki bagian-bagian yang mulai rapuh. Sementara yang lain duduk sejenak, berbincang, bertukar cerita, dan sesekali tertawa.
Di tengah kesibukan itu hadir Ketua IKPS, Ustad Syukur Haniru, bersama anggota dan Ketua Majelis Pembina IKPS Ustad Laode Ibrahim. Tidak ada jarak antara yang memimpin dan yang bekerja. Semua melebur dalam satu suasana: kita adalah keluarga.
Menariknya, di antara suara sekop, gesekan kuas, dan langkah kaki, terdengar pula obrolan tentang negeri ini. Ada yang berbicara tentang korupsi, tentang bagaimana kekuasaan seharusnya menjadi amanah, tentang mengapa pembangunan tidak cukup hanya dengan gedung-gedung yang berdiri, tetapi juga membutuhkan manusia yang memiliki integritas.
Begitulah suasana alumni.
Tangan bekerja, pikiran berjalan.
Mungkin inilah salah satu makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Setelah bangsa ini merdeka dari penjajahan, perjuangan berikutnya adalah membebaskan diri dari kemalasan, ketidakpedulian, keserakahan, dan kebiasaan menyerahkan segala sesuatu kepada orang lain.
Renovasi sekretariat IKPS mungkin terlihat kecil. Hanya sebuah ruangan. Hanya dinding yang dicat. Hanya pasir yang dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi dari pekerjaan sederhana itu tersimpan pesan besar: sebuah organisasi akan hidup ketika orang-orang di dalamnya bersedia memberi sesuatu, bukan hanya menunggu mendapatkan sesuatu.
Alumni tidak cukup hanya berkumpul ketika ada acara besar.
Alumni perlu hadir ketika ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Alumni perlu berpikir ketika ada persoalan yang harus dipecahkan.
Alumni perlu bergerak ketika ada perubahan yang harus dimulai.
Dan sore itu, semua itu terlihat dalam bentuk yang sederhana.
Sekretariat bukan sekadar bangunan tempat menyimpan dokumen organisasi. Ia adalah rumah gagasan. Di sana kelak mungkin lahir program-program alumni, diskusi pendidikan, kegiatan sosial, penguatan jaringan, pengembangan usaha, kegiatan keagamaan, hingga gagasan-gagasan yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat.
Dindingnya boleh sederhana, tetapi cita-citanya jangan sederhana.
Sebab sebuah rumah kecil bisa menjadi tempat lahirnya gagasan besar.
Di tempat itu pula kita belajar bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dengan modal besar. Kadang ia dimulai dari seember pasir, sebatang kuas, beberapa orang yang mau bekerja, dan hati yang memiliki kepedulian.
Ada filosofi yang indah dari kegiatan sore itu: yang membangun bukan hanya semen dan pasir, tetapi juga rasa memiliki.
Ketika seseorang mengangkat pasir, ia sebenarnya sedang mengangkat sebagian beban bersama. Ketika seseorang mengecat dinding, ia sedang memberi warna baru kepada ruang kebersamaan. Ketika seseorang membersihkan ruangan, ia sedang menyiapkan tempat agar gagasan-gagasan baru dapat tumbuh.
Dan ketika para alumni berbincang tentang korupsi, pendidikan, kehidupan, dan masa depan, sesungguhnya mereka sedang membangun sesuatu yang tidak terlihat oleh mata: kesadaran.
Kemerdekaan yang dirayakan pada 17 Agustus akhirnya menemukan maknanya di sini.
Bendera mungkin berkibar di berbagai penjuru negeri. Tetapi kemerdekaan harus pula berkibar di dalam diri manusia—menjadi keberanian untuk jujur, bekerja, berbagi, dan bertanggung jawab.
IKPS pun demikian.
Organisasi alumni bukan sekadar nama yang tercetak di papan sekretariat. IKPS adalah simpul silaturahmi dari orang-orang yang pernah ditempa oleh guru, pernah belajar di ruang yang sama, pernah menjalani disiplin pesantren, dan pernah menerima nasihat yang mungkin baru terasa maknanya setelah bertahun-tahun kemudian.
Waktu boleh memisahkan tempat tinggal.
Profesi boleh berbeda.
Usia boleh bertambah.
Tetapi ada satu hal yang seharusnya tetap: rasa memiliki terhadap almamater dan persaudaraan.
Sore itu, sekretariat IKPS menjadi saksi bahwa persaudaraan tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus dikerjakan.
Sebab persaudaraan yang hanya hidup dalam kata-kata akan mudah layu. Tetapi persaudaraan yang dirawat dengan tindakan akan tumbuh menjadi pohon rindang, tempat banyak orang berteduh.
Semoga sekretariat ini kelak bukan hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi menjadi dapur gagasan alumni. Tempat lahirnya program-program yang bermanfaat. Tempat bertemunya pengalaman para senior dengan energi generasi muda. Tempat alumni berbagi peluang, ilmu, jaringan, dan kepedulian.
Dari Bataraguru, semoga tumbuh gelombang kebaikan yang bergerak ke berbagai penjuru.
Dan kelak, ketika kita melihat sekretariat itu telah berdiri lebih baik, jangan hanya ingat warna catnya. Ingatlah tangan-tangan yang pernah bekerja di sore 17 Agustus 2026.
Ingatlah keringat yang pernah jatuh.
Ingatlah obrolan yang pernah menghidupkan pikiran.
Ingatlah tawa yang pernah menghangatkan persaudaraan.
Sebab bangunan mungkin akan berubah dimakan zaman, tetapi jejak kebersamaan akan tinggal lebih lama daripada tembok yang kita bangun.
Hari itu kita tidak hanya merenovasi sekretariat.
Kita sedang merenovasi kembali semangat alumni.
Kita sedang memperbaiki ruang tempat gagasan bertemu.
Kita sedang mengecat ulang warna persaudaraan.
Dan yang paling penting, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa setelah menjadi alumni, perjuangan belum selesai.
Karena pada akhirnya, yang paling berharga dari sebuah perjalanan bukanlah seberapa tinggi kita berdiri, melainkan seberapa banyak tangan yang pernah kita ulurkan untuk membantu orang lain berdiri.







Komentar
Posting Komentar