Langsung ke konten utama

𝐆𝐨𝐝𝐡𝐞-𝐆𝐨𝐝𝐡𝐞 𝐈𝐊𝐏𝐒: 𝐑𝐮𝐦𝐚𝐡 𝐊𝐞𝐜𝐢𝐥 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢, 𝐆𝐚𝐠𝐚𝐬𝐚𝐧, 𝐝𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐫𝐤𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐮𝐦𝐧𝐢

Bingkai Nyata Dedikasimu
Oleh: LAR

Ada kabar sederhana, tetapi terasa hangat bagi keluarga besar Ikatan Keluarga Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid (IKPS).

Godhe-godhe di samping Sekretariat IKPS akhirnya selesai (Jum'at 21/08/2026).

Bangunan kecil itu mungkin tidak megah. Tidak pula berdiri dengan kemewahan. Namun di balik kesederhanaannya, ada sesuatu yang jauh lebih berharga: semangat kebersamaan para alumni yang ingin menyediakan ruang untuk bertemu, berbincang, bertukar pikiran, dan merawat silaturahmi.

“Godhe-godhe sudah jadi,” demikian ajakan Ketua IKPS, Ustad Syukur Haniru.

Sebuah ajakan sederhana untuk datang, duduk bersama, menikmati suasana, berbagi cerita, dan menghidupkan kembali ruang-ruang persaudaraan.

Di tempat inilah nantinya mungkin kita akan menemukan banyak cerita. Ada alumni yang datang membawa pengalaman dari tempat kerjanya. Ada yang membawa gagasan tentang pendidikan. Ada yang berbicara tentang kehidupan sosial. Ada yang membahas peluang usaha. Ada yang sekadar datang untuk melepas rindu kepada kawan lama.

Dan mungkin ada pula yang datang tanpa membawa apa-apa, kecuali senyum dan kenangan.

Bukankah terkadang secangkir kopi dan sebuah bangku sederhana mampu mempertemukan hati yang telah lama berjauhan?

Godhe-godhe ini bukan sekadar tempat duduk.

Ia adalah ruang kecil untuk pikiran-pikiran besar.

Di sinilah gagasan bisa tumbuh dari obrolan sederhana. Dari percakapan santai, mungkin lahir kegiatan sosial. Dari diskusi kecil, mungkin muncul program alumni. Dari pertemuan beberapa orang, mungkin terbuka jaringan yang memberi manfaat kepada banyak orang.

Dan mungkin ada pula yang datang tanpa membawa apa-apa, kecuali senyum dan kenangan.

Bukankah terkadang secangkir kopi dan sebuah bangku sederhana mampu mempertemukan hati yang telah lama berjauhan?

Godhe-godhe ini bukan sekadar tempat duduk.

Ia adalah ruang kecil untuk pikiran-pikiran besar.

Di sinilah gagasan bisa tumbuh dari obrolan sederhana. Dari percakapan santai, mungkin lahir kegiatan sosial. Dari diskusi kecil, mungkin muncul program alumni. Dari pertemuan beberapa orang, mungkin terbuka jaringan yang memberi manfaat kepada banyak orang.

Sebab sejarah sering kali tidak lahir dari ruang-ruang besar. Kadang sejarah justru tumbuh dari tempat sederhana, dari percakapan yang tidak direncanakan, dari orang-orang yang duduk melingkar sambil bertukar pikiran.

Godhe-godhe menjadi rumah kedua bagi kebersamaan alumni.

Setelah sekian lama masing-masing berjalan dengan profesi, kesibukan, keluarga dan tanggung jawabnya, tempat seperti ini menjadi pengingat bahwa kita pernah tumbuh dari akar yang sama.

Pernah belajar bersama.

Pernah dimarahi guru yang sama.

Pernah menjalani disiplin pesantren.

Pernah duduk di ruang kelas yang sederhana.

Pernah menghafal pelajaran, belajar mengaji, berorganisasi, bermain, bercanda, bahkan mungkin pernah mendapatkan nasihat yang dahulu terasa biasa, tetapi hari ini baru kita pahami maknanya.

Waktu boleh membawa kita jauh, tetapi kenangan pondok selalu punya jalan untuk memanggil kita pulang.

Karena itu, ketika memasuki Godhe-godhe yang baru selesai ini, ada baiknya kita tidak hanya duduk dan berbincang. Mari kita awali dengan doa, sebagaimana kebiasaan kita ketika memasuki tempat baru.

Semoga tempat ini menjadi tempat yang baik.

Tempat berkumpulnya orang-orang baik.

Tempat lahirnya pikiran-pikiran baik.

Tempat tumbuhnya persaudaraan.

Tempat bertemunya ilmu dan pengalaman.

Dan tempat lahirnya amal-amal yang membawa manfaat.

Ya Allah, berkahilah tempat ini. Jadikan setiap langkah yang menuju ke sini sebagai langkah menuju kebaikan. Jadikan setiap percakapan sebagai ilmu, setiap tawa sebagai penguat persaudaraan, setiap gagasan sebagai jalan manfaat, dan setiap pertemuan sebagai sebab bertambahnya keberkahan.

Amin.

Godhe-godhe ini boleh kecil di mata manusia, tetapi jangan biarkan cita-cita yang lahir di dalamnya menjadi kecil.

Biarkan ia menjadi tempat alumni berpikir, bergerak dan berbagi.

Tempat senior menularkan pengalaman kepada generasi muda.

Tempat generasi muda membawa energi dan inovasi baru.

Tempat kita tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa kita dapatkan dari IKPS?”, tetapi lebih jauh bertanya:

“Apa yang bisa kita berikan untuk IKPS, almamater, masyarakat, dan agama?”

Sebab menjadi alumni bukanlah akhir dari perjalanan.

Alumni adalah babak baru dari sebuah pengabdian.

Dulu pondok memberi kita ilmu.

Hari ini, sudah waktunya kita kembali membawa manfaat.

Maka biarlah Godhe-godhe ini menjadi saksi.

Di bawah atap sederhananya, semoga lahir persahabatan yang semakin erat, gagasan yang semakin kuat, dan amal yang semakin luas.

Godhe-godhe telah selesai dibangun.

Kini giliran kita yang menghidupkannya.

Bukan hanya dengan kehadiran,

tetapi dengan silaturahmi, ilmu, gagasan, kepedulian, dan amal nyata.

Sebab rumah yang paling indah bukanlah rumah yang paling megah, melainkan rumah yang selalu membuka pintu bagi persaudaraan.

Dan semoga Godhe-godhe IKPS menjadi rumah kecil yang pintunya selalu terbuka—untuk rindu, untuk ilmu, untuk cerita, dan terutama untuk keberkahan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...

𝐒𝐢𝐥𝐚𝐭𝐮𝐫𝐚𝐡𝐦𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧

Oleh: LaR (Penggiat Literasi ) Kamis, 25 Desember 2025.  Jam di layar ponsel menunjukkan 10.43 . Sejak semalam, sebuah spanduk digital telah beredar di grup WhatsApp IKPS—pengumuman tentang workshop dan silaturahmi bersama Ustad Saifuddin Asrori . Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya agenda. Namun bagi kami, ia adalah undangan kenangan, panggilan batin, dan pintu untuk menyambung kembali jejak yang sempat tertinggal oleh waktu. Pagi itu, saya berbincang dengan Ilham Saleh dan Ustad Jamhur Baeda . Rencana memancing—yang sedari awal diniatkan sebagai ruang santai untuk menepi dari rutinitas—akhirnya kami undur. Ada tamu yang lebih utama. Ada silaturahmi yang tak bisa ditawar. Sebab dalam hidup, ada perjumpaan yang tidak sekadar menghadirkan wajah, tetapi menghadirkan kembali makna. Hari ini kami menjemput beliau di bandara. Informasi datang cepat: tiba pukul 09.30 , lebih awal dari biasanya. Ketepatan waktu itu seperti isyarat—bahwa orang yang datang bukan sekadar singgah, mela...