Langsung ke konten utama

𝐏𝐚𝐫𝐚 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐡𝐮𝐧𝐢 𝐆𝐮𝐛𝐮𝐤 𝐒𝐞𝐤𝐫𝐞𝐭𝐚𝐫𝐢𝐚𝐭 𝐈𝐊𝐏𝐒: 𝐃𝐢 𝐒𝐢𝐧𝐢 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐀𝐥𝐮𝐦𝐧𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐮𝐦𝐚𝐡

Bingkai Percakapan,
Menata Langkah Bersama (22/08/2026)

Oleh: LAR

Ada tempat yang mungkin sederhana jika dilihat dari bentuknya, tetapi menjadi begitu berarti ketika diisi oleh orang-orang yang memiliki cerita. Gubuk Sekretariat IKPS—demikian kami menyebutnya.

Tidak luas. Tidak mewah. Dindingnya sederhana, bangkunya pun apa adanya. Namun justru di tempat seperti inilah sering kali percakapan paling jujur menemukan ruangnya. Tidak ada jarak antara senior dan junior, tidak ada sekat antara mereka yang sibuk dengan jabatan dan mereka yang datang sekadar melepas penat.

Di samping sekretariat itu, para penghuni gubuk IKPS duduk bersama. Secangkir minuman, sepotong cerita, dan sesekali tawa menjadi teman dalam perjumpaan. Mereka bukan sekadar penghuni sebuah tempat, tetapi penjaga sebuah suasana: suasana persaudaraan alumni.

Ada yang datang membawa cerita pekerjaan. Ada yang berbagi kabar keluarga. Ada yang membicarakan perkembangan pondok. Ada pula yang membawa gagasan tentang bagaimana IKPS bisa terus bergerak dan memberi manfaat.

Kadang pembicaraan begitu serius, membicarakan masa depan. Kadang berubah menjadi candaan sederhana yang membuat tawa pecah. Namun semuanya bermuara pada satu hal: silaturahmi.

Sebab setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku pesantren, masing-masing alumni telah menempuh jalan yang berbeda. Ada yang menjadi guru, dosen, pengusaha, birokrat, dai, pekerja, dan berbagai profesi lainnya. Tetapi ketika kembali duduk di gubuk ini, seolah waktu berhenti sejenak.

Kita kembali menjadi santri.

Kembali menjadi kawan.

Kembali menjadi saudara.

Pesantren telah mempertemukan kita dahulu. IKPS menjaga agar pertemuan itu tidak menjadi kenangan yang selesai.

Gubuk ini akhirnya menjadi semacam ruang pulang. Tempat seseorang bisa datang tanpa harus membawa undangan. Duduk tanpa harus menunggu acara resmi. Berbicara tanpa harus menyusun kata-kata terlalu formal.

Di sinilah terkadang ide besar lahir dari obrolan kecil.

Mungkin hari ini hanya membicarakan kegiatan alumni. Besok menjadi sebuah program sosial. Hari ini hanya membahas keadaan pondok. Esok muncul gagasan untuk membantu pendidikan santri. Hari ini hanya duduk menikmati minuman. Tetapi siapa tahu dari pertemuan sederhana itu Allah membuka jalan bagi sebuah kebaikan yang lebih besar.

Begitulah kehidupan alumni. Bukan hanya tentang siapa yang berhasil setelah keluar dari pondok, tetapi tentang bagaimana keberhasilan itu kembali menjadi manfaat bagi orang lain.

Maka jangan remehkan gubuk kecil ini.

Sebab ukuran sebuah tempat tidak selalu ditentukan oleh luas bangunannya. Nilainya ditentukan oleh berapa banyak hati yang dipertemukan, berapa banyak gagasan yang dilahirkan, dan berapa banyak kebaikan yang berangkat dari dalamnya.

Para penghuni gubuk IKPS mungkin tidak selalu memiliki banyak waktu. Kesibukan pekerjaan dan keluarga terus memanggil. Namun selama masih ada kesempatan untuk duduk bersama, mari kita rawat pertemuan itu.

Karena suatu hari nanti, ketika usia semakin bertambah dan rambut mulai memutih, mungkin kita tidak akan terlalu mengingat berapa banyak rapat yang pernah kita hadiri.

Tetapi kita akan mengingat siapa yang pernah duduk di samping kita, siapa yang pernah membuat kita tertawa, siapa yang pernah berbagi cerita, dan siapa yang tetap hadir ketika persaudaraan membutuhkan tangan untuk menguatkan.

Gubuk ini mungkin hanya sebuah bangunan sederhana di samping pondok Al-Syaikh Abdul Wahid.

Namun semoga ia menjadi rumah kecil bagi kenangan besar.

Tempat alumni bertemu.

Tempat hati dipertautkan.

Tempat gagasan dipertukarkan.

Tempat persaudaraan dirawat.

Dan tempat kebaikan perlahan-lahan menemukan jalannya.

Sebab terkadang, dari sebuah gubuk kecil, Allah menghadirkan cahaya yang menerangi perjalanan banyak orang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐫𝐚𝐦𝐮 𝐊𝐞𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧, 𝐌𝐞𝐧𝐚𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐡: 𝐒𝐲𝐮𝐤𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐫𝐞𝐭𝐚𝐫𝐢𝐚𝐭 𝐈𝐊𝐏𝐒

Bingkai Persamaan Gerak Alumni ( The Secret Of Movement Oleh : LaR Selasa, 25 Agustus 2026, pukul 20.00 WITA.  Malam terasa dingin. Hembusan angin bergerak perlahan di antara bangunan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Lampu-lampu terang menerangi wajah-wajah yang datang dengan senyum dan optimisme. Di tempat sederhana itu, keluarga besar IKPS berkumpul dalam sebuah momentum yang mungkin tampak kecil, tetapi sesungguhnya menyimpan harapan besar: syukuran Sekretariat IKPS. Malam itu bukan sekadar tentang sebuah ruangan yang kini memiliki nama. Ia adalah simbol bahwa alumni sedang belajar kembali untuk menemukan formula kebersamaan—bagaimana menyatukan gagasan, merawat komunikasi, dan terus menata langkah agar IKPS semakin bermanfaat. Di tengah suasana yang hangat itu, para alumni duduk bersama. Ada yang telah lama meninggalkan bangku pondok, ada yang masih aktif mendampingi kegiatan, dan ada pula yang datang membawa semangat baru. Wajah boleh berubah dimakan usia, tetapi rasa p...

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...