Langsung ke konten utama

๐Œ๐ž๐ง๐š๐ง๐š๐ฆ ๐Š๐ž๐›๐š๐ข๐ค๐š๐ง ๐๐ข ๐–๐š๐๐ข๐š๐›๐ž๐ซ๐จ: ๐Š๐Š๐ ๐’๐“๐ˆ๐’ ๐’๐€๐–

Bingkai Menambang Kebaikan
 Cinta Nabi Muhammad

Oleh : LaR

Minggu, 30 Agustus 2026, Desa Wadiabero kembali menjadi ruang perjumpaan antara ilmu, pengabdian, dan cinta kepada Rasulullah ๏ทบ. Di Gedung Serba Guna Desa Wadiabero, mahasiswa KKN STIS Al-Syaikh Abdul Wahid hadir dan ikut membersamai sebuah kegiatan yang mengajak masyarakat meneladani sosok agung Nabi Muhammad ๏ทบ.

Sejatinya, kegiatan ini direncanakan berlangsung di Masjid Nurul Jadid Wadiabero. Namun, masjid yang diharapkan menjadi rumah ibadah sekaligus pusat kegiatan umat itu masih dalam tahap pembangunan. Belum sempurna dindingnya, belum selesai ruangnya, tetapi semangat masyarakat untuk menghidupkan nilai-nilai agama tidak boleh menunggu sempurnanya sebuah bangunan.

Sebab, rumah bagi kebaikan bukan hanya berdinding dan beratap. Ia bisa tumbuh di mana saja, selama hati manusia menjadi tempat bersemayamnya niat yang baik.

Di tengah kegiatan, para mahasiswa turut mengambil bagian. Mereka tidak sekadar datang sebagai peserta KKN yang menjalankan program, tetapi hadir sebagai bagian dari masyarakat. Kebersamaan itu terasa ketika lantunan lagu dan shalawat menggema, memantik kerinduan kepada Rasulullah ๏ทบ—sosok yang namanya selalu menghadirkan keteduhan bagi hati yang mencintainya.

Ada sesuatu yang indah ketika generasi muda duduk bersama para tetua kampung, menyatukan suara dan rasa. Di sana, ilmu kampus bertemu dengan kearifan desa. Buku-buku yang dipelajari mahasiswa menemukan maknanya dalam kehidupan nyata. Pengabdian tidak lagi sekadar program dalam lembar kerja, tetapi berubah menjadi perjumpaan hati dengan masyarakat.

Wadiabero memiliki sejarah panjang tentang kebaikan. Para pendahulu, tokoh agama dan pemuka masyarakat telah menanam benih-benih kehidupan religius yang terus dirawat dari generasi ke generasi. Mereka mungkin tidak meninggalkan gedung-gedung megah, tetapi meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga: keteladanan.

Temu Ketua STIS, DPL, Mahasiswa dan Kepala Desa Wadiabero (22/08/2026)

Hari ini, mahasiswa KKN STIS SAW datang bukan untuk menggantikan jejak para pendahulu, melainkan untuk melanjutkan dan memperpanjangnya.

Karena begitulah sejatinya pengabdian. Kita tidak selalu harus menjadi orang pertama yang menanam pohon; terkadang tugas kita adalah merawat pohon yang ditanam oleh orang-orang sebelum kita agar kelak generasi berikutnya dapat berteduh di bawah rindangnya.

Masjid Nurul Jadid yang masih dibangun menjadi simbol bahwa sebuah peradaban memang membutuhkan waktu. Batu demi batu disusun, sedikit demi sedikit disempurnakan. Demikian pula masyarakat. Pendidikan, agama, kebersamaan, dan kepedulian harus dibangun dengan kesabaran.

KKN bukan hanya tentang hadir di desa, menyelesaikan kegiatan, lalu pulang membawa laporan. KKN adalah kesempatan untuk meninggalkan jejak kebaikan—meski kecil, tetapi terasa. Sebuah sapaan, sebuah bantuan, sebuah gagasan, sebuah kebersamaan, bahkan sebuah doa, bisa menjadi benih yang tumbuh jauh setelah mahasiswa meninggalkan Wadiabero.

Semoga kehadiran mahasiswa STIS SAW di Wadiabero menjadi bagian dari keberkahan kampung. Semoga ilmu yang mereka bawa menjadi cahaya, tenaga yang mereka berikan menjadi amal, dan kebersamaan yang mereka bangun menjadi tali yang terus terhubung.

Wadiabero tidak hanya menjadi tempat mahasiswa menjalankan KKN. Ia menjadi halaman tempat ilmu belajar merendah, pengabdian belajar mencintai, dan generasi muda belajar bahwa kebaikan selalu menemukan jalan pulangnya.

Sebab pada akhirnya, yang kita tinggalkan bukanlah seberapa lama kita berada di sebuah tempat, melainkan seberapa banyak kebaikan yang tetap hidup setelah kita pergi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

๐Œ๐ž๐ซ๐š๐ฆ๐ฎ ๐Š๐ž๐›๐ž๐ซ๐ฌ๐š๐ฆ๐š๐š๐ง, ๐Œ๐ž๐ง๐š๐ญ๐š ๐‹๐š๐ง๐ ๐ค๐š๐ก: ๐’๐ฒ๐ฎ๐ค๐ฎ๐ซ๐š๐ง ๐’๐ž๐ค๐ซ๐ž๐ญ๐š๐ซ๐ข๐š๐ญ ๐ˆ๐Š๐๐’

Bingkai Persamaan Gerak Alumni ( The Secret Of Movement Oleh : LaR Selasa, 25 Agustus 2026, pukul 20.00 WITA.  Malam terasa dingin. Hembusan angin bergerak perlahan di antara bangunan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Lampu-lampu terang menerangi wajah-wajah yang datang dengan senyum dan optimisme. Di tempat sederhana itu, keluarga besar IKPS berkumpul dalam sebuah momentum yang mungkin tampak kecil, tetapi sesungguhnya menyimpan harapan besar: syukuran Sekretariat IKPS. Malam itu bukan sekadar tentang sebuah ruangan yang kini memiliki nama. Ia adalah simbol bahwa alumni sedang belajar kembali untuk menemukan formula kebersamaan—bagaimana menyatukan gagasan, merawat komunikasi, dan terus menata langkah agar IKPS semakin bermanfaat. Di tengah suasana yang hangat itu, para alumni duduk bersama. Ada yang telah lama meninggalkan bangku pondok, ada yang masih aktif mendampingi kegiatan, dan ada pula yang datang membawa semangat baru. Wajah boleh berubah dimakan usia, tetapi rasa p...

๐๐จ๐ง๐ฉ๐ž๐ฌ ๐€๐ฅ-๐€๐ฆ๐š๐ง๐š๐ก: ๐‰๐ž๐ฃ๐š๐ค ๐‰๐ฎ๐š๐ง๐  ๐€๐ฅ๐ฆ๐š๐ซ๐ก๐ฎ๐ฆ ๐Š๐‡. ๐Œ๐ฎ๐ก. ๐’๐ฒ๐š๐ก๐ซ๐ฎ๐๐๐ข๐ง ๐’๐š๐ฅ๐ž๐ก

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​๐Š๐ฅ๐ข๐ฆ๐š๐ค๐ฌ ๐’๐ฉ๐ข๐ซ๐ข๐ญ๐ฎ๐š๐ฅ ๐๐ข ๐€๐ฅ-๐’๐ฒ๐š๐ข๐ค๐ก ๐€๐›๐๐ฎ๐ฅ ๐–๐š๐ก๐ข๐: ๐Š๐š๐ฅ๐š ๐‰๐ž๐ฆ๐š๐ซ๐ข ๐Œ๐ž๐ฆ๐จ๐ญ๐จ๐ง๐  ๐”๐ซ๐š๐ญ ๐๐š๐๐ข ๐‡๐š๐ฌ๐ซ๐š๐ญ ๐ƒ๐ฎ๐ง๐ข๐š๐ฐ๐ข

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...