๐๐๐ง๐๐ง๐๐ฆ ๐๐๐๐๐ข๐ค๐๐ง ๐๐ข ๐๐๐๐ข๐๐๐๐ซ๐จ: ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐
![]() |
| Bingkai Menambang Kebaikan Cinta Nabi Muhammad |
Oleh : LaR
Sejatinya, kegiatan ini direncanakan berlangsung di Masjid Nurul Jadid Wadiabero. Namun, masjid yang diharapkan menjadi rumah ibadah sekaligus pusat kegiatan umat itu masih dalam tahap pembangunan. Belum sempurna dindingnya, belum selesai ruangnya, tetapi semangat masyarakat untuk menghidupkan nilai-nilai agama tidak boleh menunggu sempurnanya sebuah bangunan.
Sebab, rumah bagi kebaikan bukan hanya berdinding dan beratap. Ia bisa tumbuh di mana saja, selama hati manusia menjadi tempat bersemayamnya niat yang baik.
Di tengah kegiatan, para mahasiswa turut mengambil bagian. Mereka tidak sekadar datang sebagai peserta KKN yang menjalankan program, tetapi hadir sebagai bagian dari masyarakat. Kebersamaan itu terasa ketika lantunan lagu dan shalawat menggema, memantik kerinduan kepada Rasulullah ๏ทบ—sosok yang namanya selalu menghadirkan keteduhan bagi hati yang mencintainya.
Ada sesuatu yang indah ketika generasi muda duduk bersama para tetua kampung, menyatukan suara dan rasa. Di sana, ilmu kampus bertemu dengan kearifan desa. Buku-buku yang dipelajari mahasiswa menemukan maknanya dalam kehidupan nyata. Pengabdian tidak lagi sekadar program dalam lembar kerja, tetapi berubah menjadi perjumpaan hati dengan masyarakat.
Wadiabero memiliki sejarah panjang tentang kebaikan. Para pendahulu, tokoh agama dan pemuka masyarakat telah menanam benih-benih kehidupan religius yang terus dirawat dari generasi ke generasi. Mereka mungkin tidak meninggalkan gedung-gedung megah, tetapi meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga: keteladanan.
![]() |
| Temu Ketua STIS, DPL, Mahasiswa dan Kepala Desa Wadiabero (22/08/2026) |
Hari ini, mahasiswa KKN STIS SAW datang bukan untuk menggantikan jejak para pendahulu, melainkan untuk melanjutkan dan memperpanjangnya.
Karena begitulah sejatinya pengabdian. Kita tidak selalu harus menjadi orang pertama yang menanam pohon; terkadang tugas kita adalah merawat pohon yang ditanam oleh orang-orang sebelum kita agar kelak generasi berikutnya dapat berteduh di bawah rindangnya.
Masjid Nurul Jadid yang masih dibangun menjadi simbol bahwa sebuah peradaban memang membutuhkan waktu. Batu demi batu disusun, sedikit demi sedikit disempurnakan. Demikian pula masyarakat. Pendidikan, agama, kebersamaan, dan kepedulian harus dibangun dengan kesabaran.
KKN bukan hanya tentang hadir di desa, menyelesaikan kegiatan, lalu pulang membawa laporan. KKN adalah kesempatan untuk meninggalkan jejak kebaikan—meski kecil, tetapi terasa. Sebuah sapaan, sebuah bantuan, sebuah gagasan, sebuah kebersamaan, bahkan sebuah doa, bisa menjadi benih yang tumbuh jauh setelah mahasiswa meninggalkan Wadiabero.
Semoga kehadiran mahasiswa STIS SAW di Wadiabero menjadi bagian dari keberkahan kampung. Semoga ilmu yang mereka bawa menjadi cahaya, tenaga yang mereka berikan menjadi amal, dan kebersamaan yang mereka bangun menjadi tali yang terus terhubung.
Wadiabero tidak hanya menjadi tempat mahasiswa menjalankan KKN. Ia menjadi halaman tempat ilmu belajar merendah, pengabdian belajar mencintai, dan generasi muda belajar bahwa kebaikan selalu menemukan jalan pulangnya.
Sebab pada akhirnya, yang kita tinggalkan bukanlah seberapa lama kita berada di sebuah tempat, melainkan seberapa banyak kebaikan yang tetap hidup setelah kita pergi.





Komentar
Posting Komentar