Oleh: LaR
Udara malam cukup dingin. Saya mengenakan baju kos, kemudian jaket, dan kaos kaki untuk menahan dingin yang perlahan merayap dari tanah. Tidak ada kasur yang empuk. Saya hanya beralaskan tempat sederhana, dengan sebuah bantal di kepala yang ditawarkan oleh Ustad Ziadin.
Awalnya Ustad Ziadin meminta saya tidur di dalam sekretariat. Tetapi saya menyampaikan, “Malam ini di sini saja.”
Entah mengapa, saya ingin merasakan malam ini apa adanya.
Dan benar, dalam kesunyian malam, terdengar suara santri penjaga malam. Sesekali langkah kaki mereka memecah hening. Suara itu sederhana, tetapi justru menghadirkan sesuatu yang lama hilang: suasana pesantren.
Saya berbaring.
Mata mungkin memandang gelap, tetapi pikiran justru menyalakan cahaya.
Perlahan saya dibawa kembali ke 1993—tahun ketika pertama kali memasuki dunia pondok. Saat itu saya belum tahu seperti apa jalan panjang kehidupan yang akan saya lalui. Saya hanya seorang anak remaja yang datang membawa harapan, rasa ingin tahu, dan mungkin juga ketakutan yang belum mampu saya namai.
Hari-hari di pondok kemudian menjadi sekolah kehidupan.
Di sana saya belajar mengaji, belajar disiplin, belajar hidup bersama, belajar menghormati guru, belajar tentang persahabatan, kesederhanaan, kesabaran, dan perjuangan. Ada tawa yang masih teringat. Ada teguran guru yang dahulu terasa berat, tetapi kini justru menjadi nasihat yang paling mahal. Ada malam-malam panjang yang pernah dilalui sebagai santri.
Semuanya menjadi kepingan cerita.
Hingga akhirnya tahun 2000, saya menamatkan masa mondok.
Waktu terus berjalan. Kehidupan membawa saya ke banyak tempat, mempertemukan saya dengan banyak orang, dan memberikan pengalaman yang tidak sedikit. Tetapi ada satu hal yang saya sadari malam ini:
Pesantren ternyata tidak pernah benar-benar saya tinggalkan.
Saya mungkin meninggalkan gerbangnya, tetapi nilai-nilainya ikut berjalan bersama saya.
Malam ini, di godhe-godhe sederhana ini, saya ingin membiarkan tubuh, pikiran, dan hati menyatu kembali dengannya.
Bukan sekadar kembali bernostalgia.
Saya ingin kembali untuk menuliskan cerita yang selama ini belum tertuliskan.
Ada begitu banyak kisah sejak 1993 hingga 2000 yang masih tersimpan di ruang-ruang ingatan. Kisah tentang guru, ustad, sahabat, kamar, kelas, masjid, halaman pondok, perjuangan, kegembiraan, kesedihan, bahkan hal-hal kecil yang dahulu dianggap biasa—tetapi ternyata menjadi bagian penting dari perjalanan hidup.
Mungkin selama ini cerita itu hanya tersimpan dalam kepala.
Malam ini saya ingin mengeluarkannya perlahan, dan mulai meraba berlahan, dam berfantasi malam.
Saya ingin merangkainya menjadi kata-kata. Menyusun kembali kepingan-kepingan kenangan. Bukan untuk mengagungkan masa lalu, tetapi untuk memberikan kesaksian bahwa pernah ada sebuah masa yang begitu berarti dalam hidup saya.
Mungkin inilah saatnya merampungkan cerita itu.
Cerita tentang seorang santri yang datang pada 1993, tumbuh bersama kehidupan pesantren, lalu menamatkan masa mondok pada 2000. Cerita tentang perjalanan yang tidak berhenti ketika ijazah diterima dan kaki melangkah keluar dari pondok.
Sebab sesungguhnya, setiap orang memiliki kisah yang layak ditulis.
Dan ini adalah kisahku.
Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Jaket saya rapatkan. Kaos kaki tetap terpasang. Bantal pemberian Ustad Ziadin menjadi teman kepala yang mulai berat.
Suara santri penjaga malam masih terdengar dari kejauhan.
Saya tersenyum dalam diam.
Ternyata pulang tidak selalu berarti kembali ke sebuah rumah. Kadang pulang adalah ketika hati menemukan kembali dirinya di tempat yang pernah membentuknya.
Malam ini saya tidur di godhe-godhe.
Namun sesungguhnya, saya sedang tidur bersama kenangan.
Saya sedang berdamai dengan waktu.
Saya sedang merampungkan sebuah cerita yang lama menunggu untuk dituliskan.
Dan ketika semuanya menyatu—tubuh, pikiran, kenangan, dan hati—ada rasa damai yang sulit dijelaskan.
Dan malam ini, saya belajar satu hal:
Kita tidak harus kembali menjadi anak-anak untuk merasakan bahagia. Kadang cukup kembali kepada tempat yang pernah mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia.


Komentar
Posting Komentar