Langsung ke konten utama

𝐌𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐝𝐡𝐞-𝐆𝐨𝐝𝐡𝐞: 𝐁𝐞𝐫𝐟𝐚𝐧𝐭𝐚𝐬𝐢

Oleh: LaR

Malam ini, jam 12.30  saya memilih tidur di godhe-godhe, di samping sekretariat IKPS. Sebuah tempat sederhana di Ponpes Al-Syaikh Abdul Wahid, yang mungkin bagi orang lain hanya cukup untuk duduk, berbincang, atau melepas lelah. Tetapi bagi saya, malam ini godhe-godhe terasa seperti sebuah ruang kecil yang menyimpan pintu besar menuju masa lalu.

Udara malam cukup dingin. Saya mengenakan baju kos, kemudian jaket, dan kaos kaki untuk menahan dingin yang perlahan merayap dari tanah. Tidak ada kasur yang empuk. Saya hanya beralaskan tempat sederhana, dengan sebuah bantal di kepala yang ditawarkan oleh Ustad Ziadin.

Awalnya Ustad Ziadin meminta saya tidur di dalam sekretariat. Tetapi saya menyampaikan, “Malam ini di sini saja.”

Entah mengapa, saya ingin merasakan malam ini apa adanya.

Saya ingin mendengar suara angin.
Saya ingin merasakan dinginnya malam.
Saya ingin mendengar suara santri yang berjaga.

Dan benar, dalam kesunyian malam, terdengar suara santri penjaga malam. Sesekali langkah kaki mereka memecah hening. Suara itu sederhana, tetapi justru menghadirkan sesuatu yang lama hilang: suasana pesantren.

Saya berbaring.

Mata mungkin memandang gelap, tetapi pikiran justru menyalakan cahaya.

Perlahan saya dibawa kembali ke 1993—tahun ketika pertama kali memasuki dunia pondok. Saat itu saya belum tahu seperti apa jalan panjang kehidupan yang akan saya lalui. Saya hanya seorang anak remaja yang datang membawa harapan, rasa ingin tahu, dan mungkin juga ketakutan yang belum mampu saya namai.

Hari-hari di pondok kemudian menjadi sekolah kehidupan.

Di sana saya belajar mengaji, belajar disiplin, belajar hidup bersama, belajar menghormati guru, belajar tentang persahabatan, kesederhanaan, kesabaran, dan perjuangan. Ada tawa yang masih teringat. Ada teguran guru yang dahulu terasa berat, tetapi kini justru menjadi nasihat yang paling mahal. Ada malam-malam panjang yang pernah dilalui sebagai santri.

Semuanya menjadi kepingan cerita.

Hingga akhirnya tahun 2000, saya menamatkan masa mondok.

Waktu terus berjalan. Kehidupan membawa saya ke banyak tempat, mempertemukan saya dengan banyak orang, dan memberikan pengalaman yang tidak sedikit. Tetapi ada satu hal yang saya sadari malam ini:

Pesantren ternyata tidak pernah benar-benar saya tinggalkan.

Saya mungkin meninggalkan gerbangnya, tetapi nilai-nilainya ikut berjalan bersama saya.

Ia hidup dalam ingatan.
Ia tumbuh dalam cara berpikir.
Ia berdiam dalam hati.

Malam ini, di godhe-godhe sederhana ini, saya ingin membiarkan tubuh, pikiran, dan hati menyatu kembali dengannya.

Bukan sekadar kembali bernostalgia.

Saya ingin kembali untuk menuliskan cerita yang selama ini belum tertuliskan.

Ada begitu banyak kisah sejak 1993 hingga 2000 yang masih tersimpan di ruang-ruang ingatan. Kisah tentang guru, ustad, sahabat, kamar, kelas, masjid, halaman pondok, perjuangan, kegembiraan, kesedihan, bahkan hal-hal kecil yang dahulu dianggap biasa—tetapi ternyata menjadi bagian penting dari perjalanan hidup.

Mungkin selama ini cerita itu hanya tersimpan dalam kepala.

Malam ini saya ingin mengeluarkannya perlahan, dan mulai meraba berlahan, dam berfantasi malam.

Saya ingin merangkainya menjadi kata-kata. Menyusun kembali kepingan-kepingan kenangan. Bukan untuk mengagungkan masa lalu, tetapi untuk memberikan kesaksian bahwa pernah ada sebuah masa yang begitu berarti dalam hidup saya.

Mungkin inilah saatnya merampungkan cerita itu.

Cerita tentang seorang santri yang datang pada 1993, tumbuh bersama kehidupan pesantren, lalu menamatkan masa mondok pada 2000. Cerita tentang perjalanan yang tidak berhenti ketika ijazah diterima dan kaki melangkah keluar dari pondok.

Sebab sesungguhnya, setiap orang memiliki kisah yang layak ditulis.

Dan ini adalah kisahku.

Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Jaket saya rapatkan. Kaos kaki tetap terpasang. Bantal pemberian Ustad Ziadin menjadi teman kepala yang mulai berat.

Suara santri penjaga malam masih terdengar dari kejauhan.

Saya tersenyum dalam diam.

Ternyata pulang tidak selalu berarti kembali ke sebuah rumah. Kadang pulang adalah ketika hati menemukan kembali dirinya di tempat yang pernah membentuknya.

Malam ini saya tidur di godhe-godhe.

Namun sesungguhnya, saya sedang tidur bersama kenangan.

Saya sedang berdamai dengan waktu.

Saya sedang merampungkan sebuah cerita yang lama menunggu untuk dituliskan.

Dan ketika semuanya menyatu—tubuh, pikiran, kenangan, dan hati—ada rasa damai yang sulit dijelaskan.

Inilah kisahku.
Kisah seorang santri.
Kisah tentang pesantren.
Kisah tentang masa lalu yang ternyata masih hidup di dalam dada.

Dan malam ini, saya belajar satu hal:

Kita tidak harus kembali menjadi anak-anak untuk merasakan bahagia. Kadang cukup kembali kepada tempat yang pernah mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝐌𝐞𝐫𝐚𝐦𝐮 𝐊𝐞𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧, 𝐌𝐞𝐧𝐚𝐭𝐚 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐡: 𝐒𝐲𝐮𝐤𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐫𝐞𝐭𝐚𝐫𝐢𝐚𝐭 𝐈𝐊𝐏𝐒

Bingkai Persamaan Gerak Alumni ( The Secret Of Movement Oleh : LaR Selasa, 25 Agustus 2026, pukul 20.00 WITA.  Malam terasa dingin. Hembusan angin bergerak perlahan di antara bangunan Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid. Lampu-lampu terang menerangi wajah-wajah yang datang dengan senyum dan optimisme. Di tempat sederhana itu, keluarga besar IKPS berkumpul dalam sebuah momentum yang mungkin tampak kecil, tetapi sesungguhnya menyimpan harapan besar: syukuran Sekretariat IKPS. Malam itu bukan sekadar tentang sebuah ruangan yang kini memiliki nama. Ia adalah simbol bahwa alumni sedang belajar kembali untuk menemukan formula kebersamaan—bagaimana menyatukan gagasan, merawat komunikasi, dan terus menata langkah agar IKPS semakin bermanfaat. Di tengah suasana yang hangat itu, para alumni duduk bersama. Ada yang telah lama meninggalkan bangku pondok, ada yang masih aktif mendampingi kegiatan, dan ada pula yang datang membawa semangat baru. Wajah boleh berubah dimakan usia, tetapi rasa p...

𝐏𝐨𝐧𝐩𝐞𝐬 𝐀𝐥-𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡: 𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐉𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐦𝐚𝐫𝐡𝐮𝐦 𝐊𝐇. 𝐌𝐮𝐡. 𝐒𝐲𝐚𝐡𝐫𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐒𝐚𝐥𝐞𝐡

Oleh: La Rudi S.Hum., M.Pd (Penggiat Literasi)  Liabuku, 8 November 2025. Malam itu, langit Liabuku teduh dengan cahaya yang lembut. Angin membawa aroma tanah pondok yang telah lama menyimpan jejak langkah perjuangan. Dihadapan panggung berhias nuansa hijau zamrud, terpampang wajah yang sangat kita rindukan— KH. Muhammad Syaharuddin Saleh, MA. , pendiri sekaligus pimpinan pertama Pondok Pesantren Al-Amanah Liabuku (2000–2007). Malam itu, bukan sekadar peringatan 25 tahun Milad Pondok , melainkan malam pengembalian ingatan dan penghormatan terhadap pengabdian, ilmu, dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu. Saya berdiri di podium itu—bukan hanya sebagai penulis biografi beliau, tapi sebagai saksi kecil dari kebesaran seorang guru yang telah menanamkan arti hidup dalam setiap helaan napas perjuangan. Saya memulai kata dengan empat kalimat yang merangkum seluruh perjalanan beliau: Sang Pengabdi. Sang Pembelajar. Sang Periset. Dan Sang Pelintas Waktu. Empat kata itu adalah pintu bagi...

​𝐊𝐥𝐢𝐦𝐚𝐤𝐬 𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐝𝐢 𝐀𝐥-𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥 𝐖𝐚𝐡𝐢𝐝: 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐉𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐭𝐨𝐧𝐠 𝐔𝐫𝐚𝐭 𝐍𝐚𝐝𝐢 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚𝐰𝐢

Bingkai Jemari Kawan: (Dari Kanan) Ust. Ridwan, Ust. Syarifuddin N, Pak LaR, Ust. Husain Mahfud, Ust. Riyan, 27/05/2026 ) Oleh: LaR ​ "Merasakan desah napas terakhir dari keangkuhan yang tumbang di atas tanah Bataraguru, membuat gerak jemari kawan-kawan kian mesra memeluk keheningan dan memutus rantai kesia-siaan." Fajar 1447 H: Kala Gema Takbir Mengetuk Pintu Kesadaran Langit Bataraguru perlahan membuka kelambunya yang legam, menyisakan semburat jingga yang basah oleh sisa embun pagi. Di sudut Kota Baubau, waktu seolah melambat ketika gelombang suara itu datang. * Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd .* Kalimat thayyibah itu mengalun dari pengeras suara masjid, memantul di dinding-dinding kayu Pondok Pesantren Al-Syaikh Abdul Wahid, lalu melesat bebas menembus benteng-benteng langit. Suara itu bukan sekadar penanda bahwa fajar Idul Adha 1447 Hijriah telah tiba. Bagi kawan-kawan yang berkumpul di halaman pondok pagi ini, gema takbir itu adalah sebuah ket...